
Malam ini Wisnu terlihat sangat manja kepada Aya. Dia bahkan enggan untuk tidak memeluknya. Semakin lama semakin erat membuat Aya sesak. Wisnu benar-benar merasa sangat bersalah. Ia sangat takut jika sampai Aya tahu dan dia akan pergi meninggalkan dirinya.
"Abi, kamu kenapa? Jangan terlalu erat, nanti dedeknya kecepit," ucap Aya dengan lembut.
Wisnu malah semakin mendalam kan kepalanya di bahu Aya.
" Tidak papa sayang. Aku hanya sangat merindukan dirimu."
"Hmm, Abi ada apa? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Aya yang entah mengapa bertanya seperti itu.
"Tidak ada. Abi hanya sangat takut jika kehilangan umi. Aku sungguh sangat mencintai kamu Aya. Sungguh."
Aya benar-benar sangat senang dengan sikap manis suaminya. Aya menjadi tidak sabar untuk menunggu anak mereka lahir untuk melengkapi kebahagiaan mereka.
....
Pagi hari seperti biasa. Wisnu akan bersiap-siap untuk pergi tugas. Aya kali ini membungkus bekal untuk suaminya.
"Abi, pulangnya nanti tolong sekalian ambil pesanan aku ya. Aku pesan kue ditempat langganan aku," ucap Aya.
"Iya sayang, abi berangkat dulu ya. Umi jangan terlalu lelah. Assalamualaikum."
"Iya Abi, walaikum salam.. hati-hati Abi."
Wisnu keluar dari pintu apartemen dan ternyata Mora sudah berdiri didepan pintunya untuk menyambut Wisnu.
"Wisnu, aku buatkan ini untuk kamu. Bawa ya," sapa Mora memberikan kotak nasi.
Takut jika ada yang melihat, Wisnu langsung mengambilnya dan hanya tersenyum lalu pergi.
Tapi Wisnu langsung mengirim pesan ke Mora yang terlihat murung karena sikap cuek Wisnu.
"Terima kasih Mora. Maaf, aku tadi hanya takut istriku melihat kita" pesan dari Wisnu. Mora hanya tersenyum.
.
Mora berniat akan membuang sampah, dan ternyata bertepatan dengan Aya juga yang akan membuang sampah.
"Hay ..!?" sapa Mora yang sedikit terkejut, ternyata istri Wisnu adalah Winata bercadar.
"Ah, assalamualaikum teh. Teteh baru, ya?" jawab Aya dan bertanya.
"Ah ngak kok, aku udah lama tinggal disini. Emang jarang pulang aja akhir-akhir ini," ucap Mora.
"Oh begitu. Alhamdulillah, ternyata aku memiliki tetangga. Sempat jenuh aku teh berada di rumah sendirian tidak ada teman," ucap Aya ramah mengajak Mora berteman.
"Haha, aku juga senang karena akhirnya kini memiliki tetangga. Oya, siapa nama anda?" tanya Mora.
"Aya Humaira, teh. Panggil Aya saja."
Mora membuka kacamatanya dan mengajak jabatan kepada Aya.
"Aku Mora Finanda. Panggil aja Mora."
Seketika, wajah Aya langsung berubah.
"Dia, dia adalah wanita yang pernah mobilnya ditabrak oleh a'ak Rey pada waktu itu. Apakah ini hanya kebetulan," batin Aya.
"Hay, kok kamu terlihat bengong?" tanya Mora yang tidak tahu jika Aya adalah mantan istri Rey. Karena yang Mora tahu Rey hanyalah suami dari wanita gila itu.
"Ah, iy teh Mora. Salam kenal ya. Semoga aku dapat menjadi tetangga yang baik untuk teh Mora," ucap Aya.
"Ya ampun, dia ini baik sekali. Tuturanya juga lembut banget. Pantas saja jika Wisnu tergila-gila olehnya," batin Mora.
__ADS_1
"Ah, iya mbk Aya. Sama-sama, semoga saya juga dapat membantu mbk Aya." jawab Mora.
Kini mereka jalan bersama untuk kembali kerumah.
Sambil ngobrol layaknya teman akrab.
"Teh, mampir kerumah aku?"
"Boleh?" tanya Mora ragu
"Ya boleh atuh. Hayuk maen, aku juga buat kue risoles. Teh Mora mau nyoba?"
"Kalo dipaksa, aku ngk nolak," jawab Mora tersenyum.
Ketika masuk. Mora terkagum-kagum dengan foto mesra Aya dan Wisnu saat pernikahan. Meski dekor sederhana. Namun wajah bagus mereka terlihat serasi dan mewah.
Ada rasa iri. Namun bukan kepada hubungan Aya kepada Wisnu. Mora hanya iri pada takdirnya, jika tidak ada penghianatan dari sibule, maka dia pasti akan menjadi wanita yang bahagia juga.
Melihat foto mesra mereka dimana-mana, membuat hati Mora tersentuh.
"Aku janji, setelah anak ini lahir, aku akan pergi dan membiarkan kalian hidup bahagia bersama. Aya, maafkan aku yang telah merebut suamimu. Aku janji, aku akan pergi jauh setelah anak ini lahir."
"Teh, ayok silahkan dicicip," ucap Aya membuyarkan lamunan Mora.
"Ah iya, terimakasih ya. Emm, kamu cantik banget kalo ngk pakai cadar," puji Mora.
"Hahaha, teh Mora bisa aja. Alhamdulillah teh, hakekatnya semua wanita itu cantik, yang membedakan adalah hatinya dan prilakunya. Tetapi tanda kutip ya Teh, saya juga masih buruk hati dan prilakunya," ucap Aya merendah.
"Ah mana ada wanita sesolehah kamu buruk hati. Biasanya wanita cadar adalah wanita baik-baik."
"Alhamdulillah jika pandangan teh Mora begitu. Namun kita tidak boleh menilai seseorang dari kesingnya saja. Bercadar bukan berarti baik teh, namun yang baik akan sadar akan dosanya. Saya juga masih banyak dosa teh, saya hanya sedang mencoba untuk sadar diri akan dosa-dosa saya."
"Masya Allah. Kamu sungguh wanita baik Aya. Aku ingin deh belajar agama lebih jauh denganmu. Siapa tahu aku dapat meluruskan hidupku yang kacau ini," ucap Mora.
Keramahan Aya membuat mereka terlihat seperti teman berbad-abad meski baru sehari berkenalan.
Sampai siang hari, Mora memutuskan untuk pulang.
Mora menghubungi Wisnu jika dia dan Aya sudah berteman. Bahkan Mora memuji Aya lewat pesan singkat untuk Wisnu.
Namun, bukaannya senang Wisnu malah terlihat gusar dan juga khawatir.
Wisnu khawatir Aya curiga dan pergi meninggalkan dirinya. Wisnu langsung menghapus pesan dari Mora. bahkan Wisnu enggan untuk menyimpan nomor Mora.
..
Sampai akhirnya sore hari, Wisnu pulang dan sekalian mampu untuk mengambil pesanan kue Aya.
"Assalamualaikum. Mbak aku mau mengambil pesanan atas nama Aya," ucap Wisnu.
"Oh, iya pak sebentar. Saya ambilkan dulu," jawab si pelayan.
Wisnu melihat-lihat kue yang lain. Lalu ia terpikirkan oleh Mora.
"Hmm, apa aku beli satu lagi ya untuk Mora? Meski ini hanya pernikahan yang tidak serius, setidaknya aku harus tetap adil sedemikan rupa."
"Pak, ini kuenya."
"Ah mbk, aku yang mini satu lagi ya."
"Ah iya, yang warna apa pak?"
"Yang pink aja mbk, satu."
__ADS_1
"Oh, iya pak."
Wisnu pulang dengan dua kantong kue. Sebenarnya dia merasa tidak nyaman harus memberi perhatian lebih kepada Mora. Namun mau bagaimana lagi.
Mbak pelayanan yang sudah akrab dengan Aya mencoba untuk mengirimkan pesan.
"Mbak Aya. Suami mbk udah ambil kuenya. Bahkan dia menambah kue satu lagi. Suami mbk baik banget ya." Isi pesan sang pelayan toko kue.
Aya membuka handphonenya dan melihat pesan itu dengan tersenyum senang.
Entah kehamilan Aya ini hanya tertuju pada suaminya. Ia selalu ingin diperhatikan dan juga diberi surprise. Namun Aya hanya bisa diam karena ia malu.
Aya menunggu dengan hati yang sudah tak sabar.
"Assalamualaikum .." Suara Wisnu akhirnya terdengar.
"Walaikum salam, Abi..." Aya langsung mencium tangannya dan mengambil kentong yang di bawa oleh Wisnu.
Namun senyumnya memudar ketika hanya ada satu kue yang sudah ia pesan. Ingin sekali ia bertanya, namun bibir Aya terasa kelu.
"Umi, Abi mandi dulu ya. Oya, buatkan kopi hitam ya? Kayaknya enak makan kue sama minum kopi," ucap Wisnu.
"Ah, iya Bi. Akan umi buatkan."
Aya akhirnya melupakan tentang kue tambahan yang temannya bilang. Aya mencoba untuk berfikir positif.
.
Singkat cerita. Setelah makan malam akhirnya kini mereka memutuskan untuk beristirahat. Wisnu yang terlihat sangat lelah langsung tumbang dan hanyut dalam mimpinya.
Sedangkan Aya masih belum bisa tidur. Ia selalu merasa lapar meski sudah makan banyak.
Aya memutuskan untuk memakan sisa kue yang masih ada.
Ketika akan beranjak. Ia melihat handphone suminya menyala, seperti ada notifikasi masuk.
Aya mencoba untuk melihat. Ternyata pesan dari nomor baru.
Merasa memiliki kewajiban. Akhirnya Aya iseng-iseng untuk membukanya dan berniat membalas jika suaminya telah tidur.
Namun seketika jantung Aya bak tersambar petir ketika melihat isi pesan dari nomor baru itu.
"Wisnu, terima kasih banyak ya kuenya. Rasanya enak, aku suka."
Aya meremas jantungnya yang terasa sangat linu.
"Astaghfirullah halazim. Aku gak boleh berburuk sangka. Mungkin saja ini adalah teman prianya," gumam Aya mencoba untuk menenangkan diri sendiri.
...
...
..
...
"woroworo"
(***mohon maaf apabila banyak reader yang kecewa dengan penghianatan Wisnu. Author disini sedang mengikuti event yang harus bertemakan "BERBAGI CINTA" , sedangkan yang saling mencintai adalah milik Aya dan Wisnu. mohon dukungannya supaya Author dapat menang dalam event/lomba ini. bukan tak ada ide untuk membuat Aya bahagia. namun memang jalur ceritanya begitu untuk sementara. Sebenarnya Author sudah memikirkan akhir yang bahagia untuk Aya. jadi simak terus Ceritanya dan jangan lupa dukung Author supaya memenangkan lomba.
Tanpa kalian apalah aku. tapi tanpa aku kalian gak akan baca cerita yang aku buat 🤭😁🙏. yuk saling menghargai 🤗)
JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR 💓
__ADS_1
LIKE, KOMEN DAN VOTE 😍😍***