
Siang itu Aya dan Axelin baru pulang dari pasar. Perut yang sudah mulai membuncit membuatnya sedikit kelelahan.
Aya langsung menuju kamarnya dan membiarkan Axelin juga beristirahat.
Aya menatap alat pijat dan juga bantal ibu hamil yang dikirim dari suaminya.
Aya tersenyum dan meneteskan air mata haru.
Tak ingin larut dalam kesedihan. Aya mencoba memejamkan matanya untuk istirahat sejenak.
Aya memiliki kamar sendiri, itu adalah kamar khusus dari ustadz yang diberikan untuk Aya.
..
Mora menatap Axelin dengan tatapan musuh. Karena dirinya, ia tidak pilih oleh Aya untuk diajaknya kepasar.
Ketika Axelin sedang bersantai, Mora dengan kasar memberinya beberapa buku yang harus dipelajari dan dihafali oleh Axelin.
"Heh, ini buku untuk kamu. Kamu itu anak baru harusnya sering tanya-tanya, bukannya malah lehai-lehai !!" sindir Mora.
"Memang apa yang harus aku tanya?" tanya Axelin dengan sungguh-sungguh. Namun dipikiran Mora, Axelin sedang bergurau/mengejeknya.
"Kamu ini ya !! Di bilangin malah ngeledek. Kamu udah ketinggalan pelajaran jauh. Apa kamu sudah hafal semua surat-surat pendek?" tanya Mora dengan tegas.
Axelin hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya allaaah.. kamu tidak hafal satupun surat pendek!! Paling umum seperti An-Nas?" tanya Mora terkejut.
Axelin hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya Allah, kamu tidak tahu apa-apa dan masih bertanya kepadaku apa yang harus ditanya!!??" omel Mora.
"Aku datang kesini untuk belajar, bukan untuk mendengarkan omelan anda!" jawab Axelin yang mulai kesal.
"Ini anak gak ada sopan-sopan ya sama yang lebih tua. Panggil saya kakak!!"
"Apakah itu tidak terlalu muda. Sepertinya saya harus memanggil anda, Tante" jawab Axelin dengan senyuman puas.
Mora berdecak kesal mendengar ucapan Axelin yang sudah sangat jauh mengejeknya. Ketika akan mengeluarkan jurus singanya, seorang santriwati datang.
"Assalamualaikum, Teh Mora di panggil sama umi."
"Ah, iya saya akan segera datang."
" Kamu, cepat hafalin 3 surah pendek. Nanti saya akan datang lagi," ucap Mora penuh dengan penekanan.
Axelin yang tiba-tiba langsung disuruh menghafal ingin bertanya, namun Mora sudah pergi meninggalkan dirinya.
"Bagaimana aku bisa menghafalnya, bagaimana ini cara membacanya," gumam Axelin merasa bingung.
__ADS_1
Dia ingin bertanya dengan santri lain, tetapi Axelin tidak nyaman dengan tatapan mereka. Karena selain awal kedatangannya yang memakai baju seksi, khasus ia menjarah makanan juga berdampak tidak baik untuknya. Semua orang sudah mengecap dirinya tidak baik, hanya Aya yang masih bersikap sangat baik dan perduli dengan dirinya.
Axelin berjalan untuk menemui Aya, tapi dilihatnya Aya sedang beristirahat membuat Axelin mengurung niatnya.
Axelin yang bingung harus apa memutuskan untuk menenangkan diri di belakang pondok, tepatnya di bawah pohon mangga besar.
Axelin mengeluarkan satu batang rokok dan ingin menghisapnya untuk menengkan dirinya.
"Heh, menyebalkan!! Bagaimana bisa mereka bersikap seperti itu kepada anak baru,!" umpat Axelin kesal.
"apakah salahku jika aku tidak dapat mengaji!?" lanjutnya.
Disisi lain, Rey yang mendapatkan laporan dari sekertarisnya diam-diam ingin mencoba melihat laporan yang masuk. Dengan membawa laptopnya, ia mengindap-ngindap kebelakang pondok.
Tapi sungguh terkejutnya Rey ketika melihat seorang santriwati yang sedang merokok di bawah pohon.
"Astaga !! Hay, kamu sedang apa !!" tegur Rey.
"Apa anda tidak lihat, paman!" jawab Axelin santai.
"What !! Paman!? Apa wajah aku sudah setua itu !?" tanya Rey yang lansung meraba-raba wajah tampannya.
Axelin memutarkan kedua bola dengan malas.
"Kumis dan jenggot palsu kamu sangat cocok,!" tukas Axelin yang langsung pergi meninggalkan Rey.
Rey diam membeku ketika ada seseorang yang mengetahui jika kumis dan jenggotnya palsu.
"Hey..hey.. tunggu !!" ucap Rey yang menarik tangan Axelin.
"Aeeittss apa sih loh! Jangan mentang-mentang sudah tua bisa seenaknya ya sama gua !!" Axelin marah.
"Em, iya maaf. Tapi tunggu, kamu tahu dari mana jika kumis aku palsu !!?" tanya Rey rehan.
Tanpa basa-basi Axelin langsung mencabut paksa kumis Rey.
JEBRET !!!..tarik paksa
AAWWW!! menjerit
HAAP !! tutup mulut
"Kumis ini terlihat bagus dan mahal, hanya saja jangan menggunakan lemnya terlalu banyak, akan terlihat sangat jelas jika ini adalah palsu," ucap Axelin yang langsung reflek membuang kumis palsu Rey membuat Rey membelalakkan matanya.
Axelin yang tidak sadar sama kekakuannya langsung pergi begitu saja.
Sedangkan sambil mengumpat Rey mencari kumisnya di sebuah semak-semak.
"Dasar anak kurang ngajar !! Semoga saja dia tidak mengatakan apa-apa pada siapapun," batin Rey merasa was-was.
__ADS_1
"Tapi bagaimana bisa ada seorang santri merokok disini? Wanita lagi !! Apa dia wanita jadi-jadian!?" batin Rey.
Setelah mendapatkan kumisnya, Rey langsung mengurungkan niatnya untuk melihat laporan. Dia langsung kembali ke ruangan Wisnu.
Terlihat Wisnu sedang membuat materi untuk mengisi pelajaran sore nanti.
Rey langsung mendekati Wisnu dan membisikan sesuatu.
Wisnu mendengar jika ada seseorang yang tahu jika kumis mereka palsu langsung tercengang.
"Lalu kita harus bagaimana?" bisik Wisnu.
"Kita harus memberi dia penjelasan. Jika tidak, kita pulang saja!?"
"Bagaimana bisa pulang, kita baru beberapa jam disini! Setidaknya tunggu sampai satu bulan baru bisa pergi," bisik Wisnu merasa tidak tenang.
"Baiklah, aku akan mencoba untuk ngomong sama dia. Semoga dia mau mengerti niat kita."
"Emang dia siapa sih!? Hebat banget bisa tahu kumis dan jenggot kita palsu. Padahal ini udah terlihat nyata loh?" bisik Wisnu lagi.
"Aku juga gak tahu. Ya sudah, aku cari dia sebelum dia ngomong sama yang lain," ucap Rey bergegas.
Setelah Rey berkeliling pondok. Akhirnya dia dapat melihat Axelin yang sedang membaca iqro seorang diri.
Terlihat Axelin hanya membolak-balik iqro itu karena memang dia samasekali tidak hafal huruf-huruf Hijaiyah. Selama ini orang tuanya tidak pernah mengarahkannya untuk mengenal ilmu agama. Mereka selalu sibuk untuk menjadi anaknya seorang pelac*r. Bagaimana tidak, ibu tiri Axelin tidak perduli dengan foto-foto seksi Axelin yang bahkan hampir bug*l yang penting duitnya besar. Hanya karena ingin bersatu dengan calon besan kaya, mereka memaksa Axelin untuk mondok dan pintar ilmu agama dalam waktu singkat.
Rey mendekati Axelin dan mencoba untuk menjelaskan yang padahal Axelin sendiri tidak perlu penjelasan karena memang dia tidak ingin ikut campur urusan orang.
"Saya akan jelaskan padamu," ucap Rey tiba-tiba.
"Tidak perlu,"jawab Axelin singkat tanpa menoleh ke wajah Rey.
"Ini anak sombong banget sih!" umpat Rey.
"Tapi kamu bisa janji, jangan beri tahu siapa pun soalnya," ucap Rey terlihat memerintah.
"Baiklah, aku tidak akan mengatakan kepada siapapun. Tapi ada syaratnya," ucap Axelin tersenyum. Ini adalah pertama kali Axelin mengembangkan senyumnya di pondok.
"Apa ?"
"Ajari aku untuk membaca ini," ucap Axelin sembari menunjukan iqro.
Rey sedikit terkejut.
"Kamu tidak hafal huruf-huruf dasar ini?" tanya Rey terkejut.
Axelin menggelengkan kepalanya tanpa malu. Justru ia malah terlihat sangat bersemangat.
Melihat kegigihan Axelin, membuat Rey merasa tersentuh dan mau mengajari Axelin.
__ADS_1
"Ah, terima kasih paman Qodir. Syukur masih ada orang baik disini," ucap Axelin dengan girang.
Rey yang mendengar dirinya panggil paman Qodir langsung merasa panas. Namun, ia mencoba menahan diri dan menerima sikap kurang ajar Axelin. Semua demi si kumis palsu supaya tidak ketahuan.