IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
TERKEJUT.


__ADS_3

Pagi ini semua orang bersiap untuk pergi kerumah utama. Mereka akan melakukan persiapan resepsi dirumah utama. Yunhi yang seharusnya mendaftarkan diri untuk kuliah, menunda keinginannya dan memilih untuk ikut dengan Aya dan Rey.


Didalam mobil, terjadilah perbincangan ringan...


"Aya sayang, apakah kamu sudah setuju?" tanya mama Salamah membuat Aya mengerutkan keningnya.


"Mah, Rey belum bicara soal itu kepada, Aya," jawab Rey sembari menyetir.


"Kamu ini bagaimana sih, Rey" cetus mama Salamah.


"Memangnya ada apa, mah?" tanya Aya.


"itu loh Aya ... Maukah kamu melepaskan cadarmu ketika acara berlangsung?" tanya mama Salamah ragu-ragu.


Melihat keseriusan mertuanya, Aya meraih tangan mertuanya dan tersenyum lembut.


"Mah, selagi suami Aya yang mengizinkan, Aya ikhlas. Ini hanya soal cadar, yah walaupun pasti akan sangat canggung untuk Aya, tetapi selagi itu berada di samping suamiku, aku tidak papa," jawab Aya.


"Alhamdulillah, syukurlah jika kamu setuju."


"Mbak, Aya. Boleh gak aku liat wajah mbk sekarang?" tanya Yunhi yang juga penasaran.


"Wah, Yunhi juga penasaran ya? Lebih baik nanti saja ya. Mama juga waktu itu di tawarin, mau lihat wajah Aya atau tidak, tetapi mama bilang nanti biar buat kejutan," jawab Mama Salamah.


"Tapi, mah... Yunhi penasaran loh?"


"Tidak papa, jika a'ak Rey mengizinkan. Aku akan membukanya."


"Aku tidak memiliki hak untuk itu Aya. Kamu lebih berhak atas dirimu sendiri," jawab Rey.


Mendengar sahutan suaminya. Kini Aya mencoba untuk memberanikan diri. Perlahan, tangan Aya membuka cadarnya dari bagian kanan.


Mama Salamah dan Yunhi menunggu dengan antusias.


Sampai akhirnya, wajah yang membuat mereka penasaran terpampang dengan jelas di mata mereka.


"Masya Allah, kamu cantik sekali sayang," ucap Mama Salamah yang merasa takjub.


Yunhi yang melihat wajah Aya tiba-tiba merasa sangat panas. Yunhi mengira, Aya selalu memakai cadar karena wajahnya pasti jelek sehingga membuat Aya tidak percaya diri dan menggunakan cadar.


"Iya, mbak Aya cantik. Sayang sekali, wajah secantik itu selalu terbungkus," ucap Yunhi dengan senyum manisnya.


Rey yang penasaran, mencoba melihat wajah istrinya dari kaca spion. Sama seperti pemikiran Yunhi, Rey mengira jika istrinya adalah si buruk rupa yang selalu menutupinya dengan cadar. Nyatanya, wajahnya bagaikan mawar yang baru mekar.


Warna putih kemerah-merahan sangat alami. Bisa dilihat jika Aya sama sekali tidak menggunakan lipstik dan bedak. Semua benar-benar sangat murni.


"BRAAAAKKKK !!!! Shiiiiiiitt !!!!"


Karena fokus menatap Aya dari spion, Rey sampai lupa jalanan, daratan, lautan.


Semua orang dalam mobil tertegun syok melihat kecelakaan yang Rey timbulkan.

__ADS_1


Mobil mewah yang berhenti membuat Rey tidak sengaja menabraknya. Ternyata lampu merah.


Seorang wanita seksi keluar dari mobilnya dan melihat body mobil belakang hancur karena kecerobohan Rey.


"Aduh sayang. Kamu ini bagaimana sih membawa mobilnya!!" ucap mama Salamah terlihat cemas.


"Maaf, mah" jawab Rey yang mencoba untuk turun.


"Kalian tunggu sini ya," ucap Rey kembali dan turun dari mobil.


.


"Nona, maafkan saya?" ucap Rey dari belakang wanita itu.


Wanita itu memutarkan tubuhnya dan menatap kearah Rey. Wanita itu terlihat sangat tercengang dan membuka kaca matanya.


"Rey, kamu Rey kan??" tanya si wanita itu.


"Mora, kamu Mora?" tanya Rey yang juga terkejut.


Tanpa basa-basi, Mora memeluk Rey dengan sangat erat.


Mora adalah teman SMP, Rey. Mereka pernah terjalin dalam cinta monyet pada masanya.


"Ah, ya tuhan. Aku sangat merindukanmu," ucap Mora masih memeluk Rey. Rey yang merasa sudah memiliki dua istri, mencoba untuk melepaskan pelukan Mora dengan lembut.


Semua wanita yang ada didalam mobil sangat terkejut dengan respon wanita yang ada didepan mereka. Terutama Aya dan Yunhi. Aya masih mencoba untuk mengontrol dirinya, namun Yunhi tidak. Dia dengan panas menghampiri wanita yang sudah berani beraninya memeluk suaminya.


"Kalian disini dulu ya. Aku akan membantu kak Rey," ucap Yunhi dengan senyum, namun Aya dapat melihat ada rasa cemburu dari mata Yunhi.


Yunhi dengan geram berjalan kearah Rey dan Mora.


"Maaf, ini uang pasti cukup untuk membiayai mobilmu yang telah dirusak oleh kak Rey. Kami sedang terburu-buru, maaf atas kejadian ini," ucap Yunhi mensekak Mora.


Mora menggelengkan kepalanya tidak percaya. Seribu pernyataan tertanam dalam benaknya.


"Rey!?" ucap Mora meminta penjelasan.


"Mora, maaf atas kejadian ini. Kami memang sedang terburu-buru, terimalah uang ini," ucap Rey dengan perasaan berat.


Mora tidak dapat berkata-kata apa. Dia hanya menerima uang yang dipaksa diletakan di telapak tangannya oleh Yunhi.


Dengan rasa hormat yang mendalam, Rey membukukan badanya untuk meminta maaf dan langsung menuju kedalam mobilnya. Yunhi mengikuti jejak suaminya untuk kembali kedalam mobil.


Sebelum masuk, Yunhi melirik kearah Mora yang masih menatap dirinya. Samar-samar, Yunhi melemparkan senyum sinisnya. Mora yang mendapatkan tatapan macam itu, langsung memakai kaca matanya dan berjalan angkuh kembali kedalam mobilnya.


"Bagaimana nak, apakah masalahnya sudah beres?" tanya mama Salamah.


"Mamah tenang saja. Dengan uang, semua bisa terselesaikan," jawab Yunhi.


"Huft syukurlah, kamu makanya Rey, jika menyetir hati-hati. Mama tahu, istri kamu ini cantik, tapi jangan sampai lupa jika kamu sedang menyetir," ejek mama Salamah.

__ADS_1


"Iya mah," jawab Rey singkat. Rey masih terus menatap mobil Mora yang ada didepan mereka.


Yunhi mengepalkan tangannya, rasa cemburu menyelimuti hatinya. Ingin sekali dia menanyakan apa hubungannya dengan wanita itu. Namun Yunhi harus menahannya.


"Sayang, memang siapa sih wanita itu. Asal main peluk peluk saja," ucap Mama Salamah kesal.


"Dia teman SMP aku, mah," jawab Rey singkat.


Lampu sudah hijau menandakan kendaraan kendaraan sudah bisa mulai melaju.


"Oh, teman SMP. Emm, kamu tidak pernah ada hubungan kan dengan wanita itu?" tanya mama Salamah.


"Rey sedang menyetir, mah," jawab Rey membuat seisi mobil terasa sangat canggung.


Akhirnya, semua orang terdiam sampai mereka sampai kerumah utama.


Ketika mereka sampai, ternyata rumah itu sudah ramai dengan orang orang yang sedang memasang dekor.


Tanpa kata kata, Rey meninggalkan para wanita yang ada didalam mobil.


Rey langsung berjalan untuk menemui paman dan juga papanya.


Aya yang melihat suaminya seperti, entah harus berfikir seperti apa. Sedangkan Yunhi, senyum iblis selalu ia kembangkan. Seolah-olah berkata, tidak akan ada bisa merebut suaminya.


"Yuk, kita masuk. Mama sudah tidak sabar melihatnya," ucap Mama Salamah antusias.


"Iya mah," sahut Aya dan Yunhi. Ketika berjalan, Yunhi menggandeng tangan Aya. Aya yang mengerti perasaan madunya, hanya bisa membalasnya dengan senyum.


..


Di pinggir kolam renang. Paman Tri dan tuan Maher sedang berbincang-bincang sembari menunggu kedatangan Rey.


"Assalamualaikum ..." sapa Rey.


"Walaikum salam, baru sampai?" tanya Tuan Maher.


"Iya, Pah. Tadi ada kecelakaan kecil dijalan," sahut Rey.


"Apakah ada korban jiwa?" ejek paman Tri.


"Ternyata itu mobil Mora, paman" jawab Rey membuat paman Tri tersenyum mengejek.


"Cie, yang barusan ketemu cinta monyetnya," ejek paman Tri membuat Rey membungkam mulut ember itu.


Yunhi yang sedari penasaran, sengaja menguping pembicaraan Rey dengan Pamannya.


"Hahaha, kak tolong aku ... Anakmu bisa membunuhku," ucap Paman yang tidak bernafas karena lehernya ditekan oleh sikut Rey.


"Rey sudahlah nak. Kalian ini hanya bisa bermain-main saja," ucap Tuan Maher mencoba melarai keduanya.


"Paman mengesalkan, pah. Rey sudah punya istri, jika istri tahu bagaimana," jawab Rey dengan kesal.

__ADS_1


Mendengar jawab anaknya, tentu membuat tuan Maher senang. Tuan Maher fikir, Rey sangat mencintai Aya sehingga tidak ingin membuatnya merasa cemburu.


__ADS_2