
Di rumah sakit Yunhi bersiap-siap untuk pulang. Rey mencoba untuk membantunya, bahkan Mama Salamah hadir untuk menemaninya.
"Pelan-pelan sayang,", ujar Rey.
"Terima kasih banyak kak," jawab Yunhi dengan senyumnya.
Mama Salamah sangat senang dengan keromantisan Yunhi dan juga Rey. Mama Salamah tidak menyangka jika akhirnya akan begini. Menantu yang ia damba dambakan kini malah membuat nama baiknya hancur di kalangan teman-temannya. Mama Salamah kini benar-benar tidak dapat mengampuni Aya. Ia berharap jika Aya akan segera dihukum mati secepat mungkin.
..
Setelah sampai dirumah Yunhi, Rey langsung membopong istrinya untuk masuk kedalam kamar. Bibik Gia tidak terlihat dimana pun membuat Mama Salamah bergerak hati untuk membuatkan makan siang untuk Yunhi.
Setelah sampai kamar, dengan perlahan Rey merebahkan Yunhi dengan lembut.
"Sayang, apakah ini masih sakit?" tanya Rey sembari mengelus perbedaan yang menyelimuti wajah Yunhi.
"Tidak sayang, jika kamu selalu berada disampingku," jawab Yunhi.
"Aku akan selalu berada disampingmu. Memang aku akan kemana lagi," gurau Rey.
"Kamu tahu kak, aku sangat takut jika kamu pergi meninggalkan aku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku hidup tanpamu," ujar Yunhi.
__ADS_1
"Hanya maut yang dapat memisahkan kita."
"Bahkan maut pun tidak akan bisa," jawab Yunhi dengan tatapan tajamnya.
Rey memalingkan wajahnya dan mengambil sesuatu dari kantong bajunya.
Mata Yunhi berbinar-binar ketika melihat sebuah kalung indah memancarkan kesilauanya.
"Apa kamu suka?" tanya Rey.
Yunhi hanya bisa mengangguk cepat.
"Iya sayang, aku suka banget. Terima kasih banyak ya," ujar Yunhi yang langsung memeluk suaminya.
"Iya sayang .."
Sebuah mata menatap tajam kearah laptopnya. Kiana sangat kesal dengan akting saudarinya yang sangat berlebihan kepada suaminya.
"Dasar wanita gila itu, sejak kapan dia berubah menjadi semanis itu. Cih," umpat Kiana kesal.
Ketika sedang uring-uringan, Bibik Gia datang untuk memberikan informasi.
__ADS_1
"Kiana, Aya sudah mengakui jika dia adalah pelakunya. Kemungkinan, dia akan mendapatkan hukuman mati," jelas Bibik Gia dengan raut wajah yang nampak tidak senang.
"Hahahaaaa,, bagus. Sekarang kamu boleh pergi. Hemm, aku ingin merayakan kebahagiaanku saat ini jadi ingin berbaik hati denganmu. Pergilah sejauh mungkin. Jika sampai aku melihat kamu dan anak harammu itu, aku tidak segan-segan akan membunuh kalian. Kamu telah berselingkuh dengan ayahku dan menghianati ibuku. Apakah hal macam itu patut untuk dimaafkan!? Aku sudah berbaik hati untuk tidak membunuhmu selama ini," tukas Kiana.
Mendengar jika dirinya terus-menerus dituduh sebagai pelakor, membuat Bibik Gia merasa tidak terima.
"Kiana, aku sama sekali tidak tahu jika saat itu mas Bram sudah memiliki istri. Dia datang ketika aku sedang memerlukan pertolongan, anakku sakit parah dan tidak ada pilihan lain. Dia akan mau membantuku jika aku bersedia menikah dengannya. Aku sungguh tidak tahu Kiana!!" jelas Bibik Gia dengan perasaan yang berdebar-debar.
"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu. Pergi dan jangan kembali atau aku akan menghabisi mu dan putrimu." Kiana menatap tajam ke Bibik Gia.
Bibik Gia hanya bisa menundukkan kepalanya dan terdiam. Ini adalah kesempatan dia untuk dapat pergi dari wanita gila yang ada didepannya.
Tanpa banyak kata lagi, akhirnya Bibik Gia dapat bernafas dengan lega. Namun, baru 3 kali kakinya melangkah suara tembak terdengar nyaring.
DOR !!!!" Kiana dengan santai menembak kepala Bibik Gia dengan santainya.
Seorang wanita yang bersembunyi di balik pohon sangat terkejut melihat ibunya terbunuh dengan cara yang begitu sangat kejam.
Dia adalah Mora. Wanita yang mobilnya tertabrak tempo hari adalah Mora, anak dari Bibik Gia. Semua rencana sebenarnya sudah direncanakan dari sejak dulu. Namun, Mora tiba-tiba hilang karena dia tidak sanggup harus menyakiti Rey. Maka dari itu, karena kesalahan Mora Bibik Gia selama ini harus menjadi babu Kiana untuk dijadikan tawanan supaya Mora kembali muncul.
Sebuah kecelakaan yang tidak terduga membuat Mora harus bertemu kembali dengan Kiana. Mora awalnya sangat terkejut ketika saat mengetahui jika Rey ternyata sudah berhubungan baik dengan Kiana. Namun dia tidak dapat berkutik karena ibunya sedang menjadi tawanan Kiana.
__ADS_1
Mora yang merasa sangat takut, langsung pergi dan meninggalkan ibunya yang telah tiada. Mora tidak tahu apa yang harus dia lakukan, namun untuk bertahan hidup dia harus segera pergi dan menjauhi Kiana. Jika tidak, maka nyawa dia pun tidak akan selamat.