
Pagi 5:30, Aya bersemangat untuk memasak. Suara klontang klenteng membuat Wisnu yang berada dari dalam mimpi tersadar. Ia beranjak dan terkejut melihat jam sudah menunjukkan setengah enam.
Wisnu menghampiri istrinya yang terlihat sangat bersemangat memasak. Namun ada yang menjanggal, antara marah dan bersemangat berbeda tipis kelihatanya.
"Umi, kenapa tidak membangunkan Abi untuk sholat subuh?" tanya Wisnu.
"Ya sudah Abi sholat aja dulu. Masih ada waktu," jawab Aya yang masih fokus memasak.
"Umi udah sholat?"
"Udah," jawab Aya singkat.
Wisnu masih tidak mencurigai sikap Aya yang terlihat jutek. Dia langsung mandi dan melakukan sholat subuh.
Sarapan sudah siap. Wisnu langsung menuju meja makan dan meminum teh hangat yang dibuatkan oleh Aya.
Aya masih diam saja tidak bergeming, membuat Wisnu merasa aneh.
"Umi, ada apa sih? Kenapa kok dari tadi cemberut aja?" tanya Wisnu.
"Ngk papa. Biasalah, hormon wanita hamil naik-turun," jawab Aya.
Wisnu hanya mengangguk mengerti dan setuju.
"Hmm, jika begitu apa yang harus Abi lakukan supaya umi tidak cemberut lagi?" tanya Wisnu dengan serius.
"Abi... Harusnya lelaki itu paham apa yang harus dilakukan. Tidak perlu harus bertanya! Inisiatif dong, biii..."
Ini adalah pertama kalinya istrinya marah tidak jelas padanya. Membuat Wisnu merasa sangat gemas. Wisnu masih mengira jika itu adalah hormon wanita hamil.
"Hmm ya sudah, iya.. iya.. Abi minta maaf ya. Ya sudah, Abi berangkat dulu. Umi hati-hati dirumah. Emuach, assalamualaikum umi sayaaang.."
"Walaikum salam!" sahut Aya yang masih memasang wajah musam.
"Hay anak Abi. Jaga umi baik-baik ya, jangan nakal dan harus baik kepada umi, emuach, Abi berangkat kerja dulu ya sayang." Wisnu berpamitan kepada calon anaknya.
Sesaat hati Aya merasa sangat senang karena sikap Wisnu yang lembut.
"Abi, hati-hati ya dijalan.. pulanglah tepat waktu," ucap Aya yang mulai terlihat manis.
"Nah, begitukan enak dilihatnya. Ya sudah, Abi berangkat dulu ya."
"Iya Bi ..."
..
Setelah suami berangkat kerja. Aya mencoba untuk membereskan tempat tidur. Aya terkejut melihat ternyata Wisnu meninggalkan handphonenya.
"Ah, sepertinya Abi lupa."
Ketika akan menyimpannya, handphone Wisnu lagi-lagi bergetar.
__ADS_1
Aya mencoba untuk melihat, ternyata nomor yang sama. Meski semalam Aya sudah menghapus pesan itu. Namun Aya masih ingat dengan nomor yang tidak dikenal itu.
Aya mencoba membuka isi pesan.
Seketika tubuh Aya bergetar hebat sampai rasanya ia ingin tumbang. Jantungnya terasa diremas-remas sangat kuat. Aya terbelalak melihat isi pesan dari nomor misterius itu.
"Wisnu, nanti ketika pulang kerja tolong belikan aku Susi ibu hamil ya. Sepertinya aku harus meminum susu supaya anak kita lebih kuat dan sehat" isi pesan Mora.
Deru nafas Aya mulai tidak beraturan. Air mata mengalir tanpa permisi. Sesak mulai menyelimuti hatinya. Kaki tangan bergetar. Ingin rasanya ia berteriak namun tidak bisa.
Aya terlihat nampak bingung harus berbuat apa. Ia butuh seseorang untuk menguatkan dirinya. Sungguh rasanya sangat sakit membuat Aya tidak harus bagaimana.
Aya teringat jika ia sudah memiliki teman. Sambil terisak-isak, Aya datang kerumah Mora untuk menangkan hatinya.
Air mata Aya masih mengalir deras begitu saja.
Ting.. tong.. Aya memencet tombol apartemen Mora, namun tidak ada sahutan. Mora mencoba untuk membuka pintu dan ternyata tidak dikunci.
Dengan ragu Aya masuk kedalam apartemen Mora.
"Assalamualaikum,, teh..? teh, Mora ini aku Aya,," panggil Aya.
Namun tidak ada sahutan, tapi Aya mendengar ada suara keran hidup. Akhirnya Aya memutuskan untuk masuk.
"Teh Moraaa.. ini aku Aya, teh Mora sedang mandi ya!?" panggil Aya lagi.
Dari kamar mandi, Mora mendengar suara Aya dan menjawab.
"Iya teh.." jawab Aya.
Aya duduk di sofa sambil memegang handphone Wisnu yang masih ada ditangannya.
Ia terus menangis. Namun rasa penasaran terus menyelimuti hatinya. Ingin rasanya Aya menelfon nomor itu untuk bertanya. Apa maksud dari isi pesan itu.
"Bismilah.. aku harus tegas dan tegar. Aku harus mencoba mencari tahu kebenarannya," batin Aya dengan penuh tekat.
Ia mencoba menakan nomor itu dan memanggilnya. Namun, hal aneh terjadi. Tiba-tiba suara handphone Mora yang sedang dicas berbunyi ketika nada sambung di handphone Wisnu mulai tersambung.
Aya terbelalak tidak percaya. Walau ragu, ia sangat penasaran untuk melihat handphone Mora yang terus berdering.
Namun Aya merasa dirinya sudah lancang dan akhirnya mengurungkan niatnya untuk melihat handphone Mora.
Aya memutuskan panggilan ke nomor baru itu. Namun hati Aya benar-benar sangat penasaran. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menelfon nomor baru itu lagi.
Lagi dan lagi handphone Mora berdering.
Kali ini Aya benar-benar ternganga tidak percaya. Untuk memastikan, Aya mulai mendekati handphone Mora dan melihat siapa yang memanggil Handphone Mora.
Panggilan
Wisnu
__ADS_1
BUGH.. PRAANNKK ..!!! Aya menjatuhkan handphone Wisnu yang ada ditangannya dan menutup mulutnya tidak percaya.
Rasa penasaran terus menyelimuti hatinya. Aya mencoba untuk melihat-lihat handphone Mora yang ternyata tidak dikunci.
"Ahk..!!" Aya memegangi jantungnya yang benar-benar akan meledak. Aya melihat rekaman dimana Wisnu mengesahkan Mora.
"Hiks....hiks....hiks..." Aya memutuskan lari dari apartemen Mora dan keluar entah kemana.
Sungguh ia tidak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi diantara hubungan dia dan Wisnu.
Mora yang baru selesai mandi mencoba melihat Aya.
"Hay Aya.. lama menunggu ak....ya. loh, dimana Aya." Mora tidak melihat keberadaan Aya.
"Aya, kamu dimana!?" Cari Mora.
"Apa dia sudah pulang? Ah, seharusnya aku mandi lebih cepat jika ada tamu," gerutu Mora.
Ketika akan kembali kekamar untuk ganti baju. Kakinya tidak sengaja menginjak sebuah benda.
"Handphone, handphone siapa ini?" Mora bertanya-tanya.
Handphone itu kacanya pecah, tapi tidak mati. Mora menghidupkan dan terkejut.
"Apa !! Ini adalah handphone Wisnu.?"
"ASTAGA !!!! apakah sudah ketahuan !!? Oh, ya tuhan.... kenapa cepat sekali ketahuannya!!?" tukas Mora yang terlihat bingung harus bagaimana. Jantungnya berdebar sangat kencang. Dia ingin menelfon Wisnu namun handphone ada ditangan dia.
Mora langsung ganti baju dan memutuskan untuk bicara dengan Aya.
Ting tong.. Ting tong.. Mora terus menekan tombol apartemen Aya.
"Aya !!! Ini aku Mora !! Aku bisa jelaskan semuanya Aya !! Buka pintunya !!!" teriak Mora. Namun tidak ada sahutan membuat Mora sangat cemas.
Mora memutuskan untuk datang ketempat kerja Wisnu dan memberi tahunya.
..
Di Polsek, Wisnu sangat terkejut mendengar penjelasan Mora.
"Apa !!! Aya sudah tahu hubungan kita !!! Astaga Mora !! Bagaimana ini bisa terjadi..!!!"
"Aku juga tidak tahu Wisnu. Lebih baik sekarang kamu pulang dan jelaskan semuanya.!" ucap Mora yang juga terlihat sangat panik.
..
..
..
Jangan lupa follow Author
__ADS_1
like, komen dan Vote 🙏🙏🥰