IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Celaka


__ADS_3

Pagi itu rumput basah karena semalam hujan turun dengan sangat deras. Aya dengan perlahan menginjakkan kaki di rumput untuk menjemur pakaiannya.


Wisnu yang sedari subuh memang bertamu di kediaman ustadz Jefri berniat akan kembali ke ruangannya. Namun di perjalanan, ia tak sengaja melihat Aya yang sedang menjemur baju di belakang rumah pak ustadz.


Wisnu yang merasa sangat rindu mencoba untuk menatapnya sejenak.


Namun hal yang tak diinginkan terjadi, tiba-tiba sandal yang basah dan rumput yang licin membuat Aya terpeleset.


"Aaahhkkk,,, !!" teriak Aya. Wisnu yang melihat Aya terpeleset langsung bergegas untuk menolongnya.


"Aduuhh,,, shhtttt,,, astaghfirullah halazim, sakit Banget," pekik Aya yang memegangi perutnya.


"Astaghfirullah halazim, Aya !! Kamu tidak papa!? Saya bantu ya !?" ucap Wisnu yang terlihat sangat begitu cemas.


"Ah, tidak tidak tidak !! Tolong panggilkan umi saja, maaf," jawab Aya menolak dengan keras.


Bagaimana dia bisa meminta bantuan dari seorang pria yang bukan mahramnya. Sedangkan disana ada banyak insan yang masih bisa dimintai pertolongan.


"Sudah tidak papa, biar saya bantu kamu ya!? tanya Wisnu lagi.


"Maaf, saya tidak bisa. Cepat, lebih baik panggil yang lain,, aahkk !!" pekik Aya.


"Astaghfirullah halazim, ustadzah ! Umiii,,, tolooong !!" teriak salah santri yang melihat Aya terjatuh.


Melihat sudah banyak orang datang, akhirnya Wisnu Mundur dan membiarkan para santriwati menolong Aya.


...


"Aaaaahhkkkk !!!" teriak Wisnu frustasi didalam kamarnya yang sepi hanya ada Rey disana.


"Kenapa sih loe !?"


"Percuma!! Percuma gua disini, percuma Qodiiirrrr !!?" pekik Wisnu frustasi.


"Yah elo gak usah ngejek gua juga geh,,, !!" ucap Rey sedikit tidak terima.


"Sory, gua udah biasa," jawab Wisnu tanpa menatap Rey.


"Loe kenapa sih? Ada apa!?"


"Apa loe tau,! Tadi Aya jatuh dan gua gak bisa berbuat apa-apa!! Gua memang suaminya, tapi gua gak bisa menyentuh dia !! Untuk apa semua ini Rey!? Jenggot, Kumis dan tongkat ini untuk apa !! Hanya untuk melihat Aya celaka !!!" ucap Wisnu yang benar-benar merasa sangat kesal. Sebenarnya, dia kesal melihat istrinya celaka namun ia tak dapat menolongnya.


"Hmm,,,, terus loe maunya kayak mana?" tanya Rey lembut, mencoba untuk menenangkan Wisnu.

__ADS_1


"Kita akhirin saja sekarang. Aku akan menghampiri Aya dan memaksanya untuk pulang. Sudah dua kali dia merasa keram diusia kandungannya yang baru mau 5 bulan. Bagaimana jika dia terus keram, disini jauh dari rumah sakit," ucap Wisnu yang merasa sangat putus asa.


"Tapi bagaimana jika Aya menolak?" tanya Rey.


"Aku adalah suaminya. Aku lebih berhak atas ucapannya sendiri," ucap Wisnu yang benar-benar merasa jengah dengan situasi seperti ini.


"Kita bicarakan dulu dengan pak ustad, aku sangat yakin jika dia akan mengerti kita dan mau membujuk dan menasehati Aya untuk pulang," ucap Rey memberi usul.


Wisnu terdiam, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Rey. Pikirnya


"Aku juga soalnya harus segera kembali kekantor. Sebelum aku pergi semua baik-baik saja, namun setelah aku disini selalu ada saja laporan yang membuat aku pusing," ucap Rey.


"Sory bro. Loe harus sampai sejauh ini membantu gua, thanks untuk segalanya," ucap Wisnu merasa haru memiliki sahabat yang sangat peduli dengannya.


"Karena loe wis, loe yang selalu ada buat gua. Gua hanya membalasnya saja," jawab Rey yang tak ingin tersanjung.


.....


"Aya, kamu ini kok bisa sih. Apa masih sakit?" tanya Mora merasa sangat cemas.


"Sudah tidak papa kok teh. Yah, nama juga musibah. Sebenarnya aku ya sudah pelan-pelan dan hati-hati," jawab Aya.


"Yah kenapa gak nyuruh anak santri lainnya aja. Kamu kan tahu diluar becek!"


"Tatapannya sangat mirip, dari dia khawatir dan cemas semuanya sangat mirip. Astaghfirullah halazim, ya Allah.." batin Aya tak ingin membayangkan pria lain.


"Hmm, ya sudah kamu istirahat saja dulu. Aku akan buatkan susu untuk kamu," ucap Mora.


"Terimakasih banyak, teh."


Selang beberapa menit.


"Ini susunya Aya, di minum dulu."


"Terima kasih ya?"


"Hmm..."


"Oya, dimana umi?" tanya Aya.


"Sedang ngisi pengajian ibu-ibu di mushola. Kamu istirahat aja, gak usah ikut."


"Tapi aku gak enak. Minggu ini giliran aku yang ngisi acara," ucap Aya.

__ADS_1


"Sudah tidak papa. Aku sudah nyuruh umi untuk ngajak anak baru itu," jawab Mora terlihat senyum puas.


"Apa !! Axelin ? Teh Mora nyuruh Axelin untuk ngisi pengajian!?" tanya Aya terkejut.


"Aku sudah memberinya materi, harusnya dia bisa. Sekalian untuk belajar," ucap Mora.


"Tidak bisa teh, aku akan menemaninya. Dia itu belum pandai membaca huruf Hijaiyah, harusnya teh Mora jangan memberi dia tugas yang berat, jika dia tertekan dan tidak betah bagaimana !!" ucap Aya terlihat marah dengan sikap Mora.


"Aya, kamu mau kemana! Baiklah, baik. Aku akan mencari santri lain untuk menggantikan Mora berdakwah. Kamu disini dulu istirahat, jangan kemana-kemana, Oke!?" ucap Mora menahan Aya.


"Hmm,,, baiklah tapi janji jangan biarkan dia kesulitan lagi di pondok ini," tegas Aya memperingati Mora.


"Iya iya ..." jawab Mora kesal karena Aya membela murid baru yang kurang ajar, menurutnya.


....


Namun ternyata Mora telat. Axelin dengan tampang orang bodoh berdiam diri saja.


Kertas penyambutan semua bertuliskan bahasa arab, membuat Axelin mati kutu di buatnya.


Meski Mora kasihan, namun ia merasa puas karena berhasil mengerjai Axelin.


Ketika para ibu-ibu mulai berbisik-bisik karena Axelin hanya diam saja. Qodir datang dengan membawa laptopnya.


Sambil tersenyum, Qodir mengedipkan mata untuk menyemangati Axelin.


Ternyata isinya adalah kata penyambutan dengan bahasa Indonesia, bahkan isi materi dakwahnya juga terlihat sangat ringan untuk dibawa. Hanya membahas tentang bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk mendidik anaknya.


Axelin yang selama ini mendapatkan didikan yang kurang baik, tanpa malu mencontohkan dirinya sendiri yang telah gagal menjadi anak karena didikan yang kurang baik sedari awal.


Mora yang melihat Qodir sangat perhatian dengan Axelin merasa tidak suka. Karena Qodir adalah pria incarannya. Tanpa Mora sadari, sebenarnya Qodir adalah Rey si kakak kandungannya.


"Iiiihh, Qodir ngapain sih perhatian banget sama bocah itu. Hmm, sabar anakku. Kita akan berhasil menjadikan Qodir supaya jadi bagian dari keluarga kita," gumam Mora.


"Bagian bagaimana!?" tanya Qodir yang tiba-tiba ada di belakang Mora.


"Astaghfirullah halazim.. Ah, Qodir kamu ternyata. Bikin kaget saja," ucap Mora terlihat malu-malu.


Rey yang melihat adiknya mulai lagi kegenitan hanya bisa mengumpat.


"Nah,, nah,, nah anak ini. Benar-benar minta dikencang dan di kurung. Tunggu saja, besok aku menyeretnya untuk pulang kerumah," batin Rey yang langsung meninggalkan Mora begitu saja.


Mora yang melihat Qodir pergi begitu saja merasa sangat kesal.

__ADS_1


"Iiiiihhh... Tunggu saja, aku akan mendapatkan kamu!" umpat Mora penuh tekad untuk menaklukkan Qodir yang bukan lain adalah kakaknya sendiri.


__ADS_2