
Hari ini di bandara internasional, satu keluarga bersiap-siap akan melakukan penerbangan ketanah suci.
Aya selalu menggandeng tangan mama Salamah sebab ini pertama kalinya dia akan menaiki pesawat.
"Sayang, apakah kamu takut?" tanya mama Salamah mengejek Aya.
"Mah, Aya sangat takut ketinggian," ujarnya.
"Kenapa takut, Aya? Kamu harus lihat pemandangan dari jendela, mama yakin kamu akan terpesona melihat alam yang begitu indah."
"Mah, Aya gak berani .."
"Kamu harus coba sayang .."
"Mamah, sudah dong jangan dijahili anaknya. Jika takut, jangan liat jendela ya Aya," ujar Tuan Maher.
"Iya pah," jawab Aya.
"Hehe, mamah hanya bercanda sayang. Kita bisa tutup jendelanya jika kamu takut."
"Hehe, iya mah."
Ketika akan memasuki antrian pembelian tiket, suara seseorang terdengar sangat jelas di telinga Aya.
"Ayaaaaa !!!!!" teriak Wisnu yang berlari sangat kencang karena takut jika terlambat.
"Loh, bukankah itu Wisnu temannya Rey?" tanya mama Salamah.
"Iya mah," jawab Aya yang merasa sangat senang ketika melihat Wisnu tiba-tiba ada didepannya.
"Mah, Aya samperin A'ak Wisnu sebentar ya?"lanjutnya.
"Iya sayang .."
.
"Huuufftt,, untung saja," ujar Wisnu yang tiba-tiba merasa gerogi didepan Aya.
"A'ak ngapain kesini, dan tau darimana kalo Aya disini?" tanya Aya yang benar-benar merasa sangat senang juga tidak percaya.
"Aku tadi kerumah Om Maher, dan Bibik mengatakan jika kalian akan melakukan perjalanan ke tanah suci. Kamu tahu, aku sampai harus menerobos lampu merah supaya bisa datang tepat waktu," ucap Wisnu bersemangat.
"Apa,! hahaha,, a'ak ini mencontohkan yang tidak baik ya," ujar Aya yang entah mengapa salah tingkah sendiri.
"Ehm.. Aya, aku telah mendengarnya dari Rey. Katanya kalian...?"
__ADS_1
"Iya Ak. Kami berpisah, mungkin memang ini jalan yang terbaik untuk kami," ujarnya.
"Emm, Aya?"
"Iya, Ak?"
"Benarkah kamu akan pergi ketanah suci?" tanya Wisnu.
"Insyaallah Ak. Semoga perjalanan kami lancar dan mendarat dengan selamat."
"Amiin,,,. Emmm,, Aya?"
"Iya, Ak?"
"Bisakah kamu berdoa dibawah Ka'bah agar kita berjodoh," ujar Wisnu dengan senyum tertahan.
Dibalik cadarnya, Aya ternganga tidak percaya. Aya hanya bisa tersenyum haru dibaliknya.
"Kok cuma tersenyum sih?" tanya Wisnu tidak sabar mendengar jawaban Aya.
"A'ak tau dari mana aku tersenyum?"
"Tuh, mata kamu menyipit," jawab Wisnu sembari menunjuk mata indah Aya.
"Hahahaa, a'ak ini ada ada saja. Hmm, maaf ya Ak. Semua Aya serahkan kepada mama dan papah," jawab Aya. Ia merasa jika ia sudah tidak berhak atas dirinya sendiri.
Aya menoleh tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Mamah ...?"
"Iya sayang, mama dan papa tidak akan melarang kamu. Nak Wisnu ini anak yang baik dan Soleh. Tapi bisa diceritakan, bagaimana kalian bisa saling mengenal?" tanya mama Salamah memancing malu kedua insan yang sedang terlihat seperti tikus yang habis ketahuan mencuri.
"Tante, sebenarnya Aya adalah cinta pertama aku. Kami berasal dari desa yang sama," jawab Wisnu.
"Waaahh,, kalo jodoh memang tidak kemana. Aya,, pokonya mamah dan papah tidak akan melarang kamu. Kami akan selalu mendukung keputusanmu."
"Apa yang dikatakan mama kamu benar, Aya. Kami sangat percaya dengan keputusanmu," sambung Tuan Maher.
"Emm, akan Aya fikirkan lagi nanti jika sudah pulang dari tanah suci. Ak, maaf aku belum dapat menjawab sekarang ini," ujar Aya yang terlihat masih bimbang.
"Aku akan selalu menunggumu, Aya. Oya, bawa ini ya. Jika kamu menerima aku, pakailah ini dan sebut namaku dalam doamu," Wisnu mengeluarkan sebuah cincin yang terlihat tidak asing dimata Aya.
Cincin itu terlihat sangat mirip seperti cincin mainan yang dulu sangat Aya ingin pakai ketika masih kecil, namun Wisnu malah merusaknya karena tidak sengaja menjatuhkannya dan menginjaknya.
"Cincin ini asli loh," ujar Wisnu membuyarkan lamunan Aya.
__ADS_1
Aya menutup wajahnya karena ia sangat malu ketahuan jika sedang membayangkan cincin mainan itu.
"Tante, Om, waktu SD Aya adalah anak yang tomboi, tetapi dia selalu ingin mendapatkan cincin berbentuk mahkota supaya terlihat seperti putri. Setelah dia memenangkan lotre dan mendapatkan cincinnya, saya malah tidak sengaja menjatuhkan dan menginjaknya. Dari situ, Aya selalu enggan untuk berteman dengan saya lagi. Sampai saya lulus SD dan ikut kakek sekolah kekota. Sampai detik ini, saya selalu terfikirkan bagiamana caranya untuk mengganti cincin itu," jelas Wisnu yang mengingat masa lalu.
Aya yang merasa sangat malu mengingat masa kecilnya bersama dengan Wisnu langsung memeluk mama Salamah untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah tertutup cadar. Entah mengapa, Aya sangat malu jika mengingat masa-masa itu.
Mama Salamah sangat gemas dengan tingkah Aya yang begitu sangat manis. Mama Salamah membayangkan jika gurauan ini adalah tentang Rey dan Aya. Tapi sayang, itu hanyalah mimpi.
"Uuuhh, kalian tenyata so sweet sekali. Aya, terima tidak cincinnya ini?" tanya mama Salamah.
"Emm, terserah mama saja."
"Loh, kok terserah mama sih?"
"Emm,, ya sudah Tante tolong jaga cincin ini ya. Jika Aya sudah mau memakainya, baru berikan kepadanya," ujar Wisnu.
"Ah, nak Wisnu kami berangkat dulu ya. Mamah, Aya ayo kita berangkat," sahut Tuan Maher.
"Ak, aku berangkat dulu ya, Assalamualaikum.."
"Walaikum salam ... Semoga selamat sampai tujuan .."
"Amiin ..."
"Nak Wisnu, jika Aya sudah mau memakai cincinnya, tante akan langsung mengabari kamu," bisik mama Salamah sebelum akhirnya pergi menyusul Aya dan suaminya.
"Hahaha, siap Tante .." jawab Wisnu sembari memberi hormat tegap grak.
Mama Salamah tersenyum genit melihat ke macoan Wisnu yang menggunakan seragam kepolisiannya.
Wisnu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia mengembangkan senyum bahagia meski Aya masih belum memastikan akan menerimanya atau tidak. Setidaknya, ia tidak akan menyesal karena sudah mencobanya.
....
Sebuah tangan dengan kasar meletakan pena yang ada ditangannya. Rey memijat kepalanya yang terasa begitu sangat penat.
Rey membuka laci dan mengambil sebuah foto pernikahan. Itu adalah foto dirinya bersama dengan Aya.
Rey tersenyum kecut menerima kenyataan jika dia harus benar-benar melepaskan wanita Solehah sepertinya.
"Aya, jika ada kesempatan, ijinkan aku membahagiakanmu. Tapi apa dayaku, kini kau benar-benar jauh dari jangkauanku." Rey tersenyum mengingat bagaimana foto itu di ambil. Posisi berdiri sembari mencium pipi Aya, itu adalah posisi dimana Mama Salamah dengan semangat mengarahkan mereka untuk berpose seperti itu.
"Aku akan selalu mengingatmu di hatiku. Bahagialah bersamannya. Jika kamu tidak bahagia, maka aku siap untuk membahagiakanmu kembali," gumam Rey semakin meracau karena rasa pedih yang tak dapat ia hindari.
Kiana yang ingin membawakan jus segar keruang kerja Rey tidak sengaja mendengar semua celotehan Rey yang masih merindukan Aya.
__ADS_1
Aura kesal menyelimuti hatinya, namun kini Kiana tidak ingin ambil pusing. Karena sejatinya, ia tetap menjadi satu-satunya disisi Rey saat ini.