
Didepan cermin kamar mandi. Rey dengan tatapan tajam menatap dirinya sendiri. Dia merutuki dirinya sendiri yang tidak dapat menjaga lisan dan juga emosinya. Ingin sekali rasanya ia meraung-raung untuk melepaskan semua beban dihatinya.
Kiana menatap suaminya dengan iba. Tapi dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia juga merasa senang karena akhirnya dia dapat memiliki Rey satu-satunya.
"Sayang,,?" sapa Kiana.
Rey menyeka mata dan mencucinya dengan air.
"Hay, kamu mau mandi?" tanya Rey basa-basi.
"Tidak, aku ingin menemani kamu saja. Emm, kak?" Dengan sangat ragu Kiana mengucapkan itu.
"Bolehkah aku memanggil kamu dengan kata itu. Jujur, aku sangat suka saat memanggil kamu dengan sebutan kak Rey," lanjutnya dengan wajah yang begitu sangat manis.
Rey tersenyum menggelengkan kepalanya, tangannya menarik pinggul Kiana sampai ke pelukannya.
Rey tidak mengatakan apapun membuat Kiana bingung dibuatnya. Kini, Kiana hanya menikmati pelukan hangat sang suami.
Didalam hati Rey, tidak tahu harus berbuat apa. Kini, ia benar-benar merasa berada didalam dilema yang sangat menguras perasaannya.
Jauh dari lubuk hatinya, dia masih tidak dapat merelakannya Aya begitu saja.
..
Malam ⁰⁷:00
Dimeja makan, Aya bersama dengan Tuan Maher dan mama Salamah menikmati makan malam dengan nikmat.
Aya dengan sangat cepat menghabiskan makanan yang tidak banyak ia ambil.
"Aya..?" sapa Tuan Maher.
"Ah, iya pah?" jawab Aya dengan gugup.
"Pelan-pelan saja makanya, nanti tersedak loh.."
"Ah, iya pah. Maaf," ujar Aya merasa tidak enak.
"Aya .. mama tahu ini pasti sangat sulit bagimu, tapi mama sendiri tidak bisa membiarkan Rey memperlakukan kamu seperti ini. Kamu sudah aku anggap seperti anakku sendiri. Kamu akan tinggal disini sampai kapanpun," ujar Mama Salamah.
"Terima kasih banyak mah, pah.. Maafkan Aya yang sudah merepotkan keluarga ini."
"Kamu bicara apa Aya. Kamu adalah anaknya Zaki, berarti kamu adalah anak saya juga. Surat perceraian kalian akan segera keluar. Setelah resmi, kamu mau melakukan apa? Apakah kamu mau kuliah atau bekerja?"
"Apakah boleh, pah?"
"Tentu boleh, kamu mau yang mana?"
"Emmm..." Aya ragu berkata.
"Katakan saja nak. Jika kamu memang mau kuliah, masalah biaya kamu tidak perlu cemas," ujar Mama Salamah.
"Bolehkah Aya menuntut ilmu di Mesir?"
"Jauh sekali sayang.. kenapa tidak di negara kita saja?" Mama Salamah merasa berat berjauhan dengan Aya.
__ADS_1
"Mah, ini demi kebaikan dia. Aya, jika memang itu mau kamu, papa hanya bisa mendukung."
"Insyaallah, Aya akan mengganti uangnya jika Aya sudah bekerja."
"Sayang apa yang kamu katakan. Kamu sudah kami anggap seperti putri kami sendiri. Hmmm,,, anggap saja ini adalah bentuk permintaan maaf dari kami dengan semua yang sudah Rey lakukan terhadap kamu. Kami sebagai orang sudah merasa sangat gagal mendidik dia." Tuan Maher.
"Mah, pah.. Aya harap kalian dapat memaafkan A'ak Rey. Tidak dapat di pungkiri, kami menikah bukan karena saling mencintai. Jadi Aya tidak dapat menyalahkan a'ak Rey sepenuhnya."
"Aya, ini bukan soal cinta atau tidak! Apakah dia tidak dapat berfikir siapa wanita yang sudah dia nikahi itu!! Dia adalah wanita yang tidak baik!! Wanita sudah hampir membunuh kita semua!" pekik tuan Maher yang sangat kesal jika mengingat kejadian itu.
"Benar apa kata papah kamu, Aya. Harusnya Rey dapat melihat siapa wanita itu.. tetapi dia malah memilih wanita itu dari pada kamu yang jelas jelas sudah berkorban banyak untuk keluarga ini.."
"Aya, anggap saja jika kamu dan Rey bukanlah jodoh yang tepat. Kita ambil hikmahnya saja. Berkat perjodohan mendadak itu, kini kamu berada disini dan menjadi salah satu putri kami," ujar tuan Maher.
"Terima kasih banyak mah, pah.. semoga kebaikan kalian dibalas oleh Allah SWT dengan Rahmat dan berkah yang melimpah."
"Amiin...."
....
Pagi menjelang siang pukul 10:30
Singkat cerita, satu Minggu telah berlalu. Seorang pengacara datang kerumah utama untuk mengantarkan surat perpisahan Aya dan Rey.
Dimeja tamu, dengan hati yang mantap dan penuh ketegaran Aya menandatangani surat perpisahan itu.
..
Berbeda ditempat lain, Rey dengan geram meremas surat perpisahan itu dengan sangat kuat.
"Papah benar-benar keterlaluan!! Dia sangat tega membuat anaknya bercerai dari istrinya!!" umpat Rey kesal sambil menuduh Papahnya.
"Hey, kamu ngapain? Apa ini?" Lanjutnya dan membuka kertas yang sudah kusut itu.
"Ternyata surat cerainya telah keluar, syukurlah.. akhirnya, aku dapat bernafas dengan lega," senyum Kiana terlihat sangat puas.
"Sayang, mungkin memang Aya bukan jodohmu. Kita doakan saja supaya dia mendapatkan orang yang tepat untuknya."
"Apakah aku bukan orang yang tepat?" tanya Rey dengan kekonyolannya.
"Emm, bukannya kalian tidak tepat, tetapi kamu adalah jodohku, sayang. Buktinya, kini sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah dari anak yang sedang aku kandung."
Rey hanya bisa menghela nafas berat dan dengan terpaksa menandatangani surat perceraian itu.
"Aya, maafkan aku.. semoga kamu bahagia dengan pria lain. Hufft,," batin Rey dengan rasa tidak rela.
...
Di kantor, Rey dengan geram melihat data yang ada ditangannya.
"Apa ini !!?" tanya Rey dengan geram kepada sekertarisnya.
"Maaf Tuan, Tuan sendiri yang telah menandatangani surat perjanjian antara perusahaan kita dan kepada perusahaan Tuan Maherndra dibatalkan."
"Apa !! Kapan aku menandatanganinya !!?" pekik Rey tidak percaya.
__ADS_1
"Dua hari yang lalu, Tuan" ujar Sekertaris dengan raut wajah yang ketakutan.
"Apa!! Kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa!! Kenapa kamu membiarkan kerjasamanya dibatalkan!! Shiiitt ,,, jika begini kita bisa bangkrut jika tidak ada investor lain.!" umpat Rey uring-uringan.
"Berapa persen papah membatalkan investasinya!?" lanjutnya.
"80% Tuan ..."
"Whaaaat !!! Papah benar-benar keterlaluan.. apa dia ingin anaknya bangkrut, apa dia ingin melihat anaknya terjatuh.. tidak dapat dipercaya!!"
"Keluarlah !! Cari investor lain secepat mungkin!!" lanjutnya.
"Baik Tuan .."
Rey menelvon Tuan Mahendra namun tidak juga lekas di angkat membuat Rey merasa lebih frustasi..
Baru saja dia kehilangan istri pertamanya, dan kini ia harus menghadapi perusahaan yang akan bangkrut sebentar lagi, jika ia tidak segera bertindak cepat.
...
Kini, Rey sudah berada dirumah utama untuk mencari papahnya. Tuan Mahendra yang sedang sibuk diruang kerjanya di kejutkan dengan kemunculan Rey yang tiba-tiba.
BRAAK !! Suara pintu dibuka secara paksa.
"Astaga ... Rey !! Apakah kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu! Dimana sopan santunmu!!?" decak Tuan Maher.
"Pah !! Apa yang papa lakukan? Kenapa papa mencabut semua saham papa? Apakah papa ingin melihat Rey bangkrut!!?" hentak Rey.
"Bukankah kamu sendiri yang sudah menandatangani surat perjanjian itu dibatalkan?"
"Pah, saat itu aku sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Pah, kenapa sih papa tega banget membuat hubungan Rey berantakan seperti ini dengan Aya!?"
"Awalnya papa hanya ingin melihat, sejauh mana kamu mempertahankan Aya. Tapi papa tidak percaya, lisanmu dengan mudahnya menalak Aya begitu saja. Talak tiga lagi, kamu benar-benar membuat papah malu, Rey !!"
"Pah, saat itu Rey sedang emosi, Rey tidak sadar dengan apa yang sudah Rey ucapkan. Maafkan Rey, pah!?"
"Kamu ini, apa-apa tidak sadar.. tanda tangan tidak sadar, menalak istrimu tidak sadar!! Semenjak kenal wanita itu kamu jadi kehilangan akal sehatmu."
"Pah, ayolah.. bukankah papaa sendiri yang mengatakan jika Kiana dan keluarganya sudah mendapatkan prilaku yang tidak pantas. Wajar saja jika mereka kembali untuk membalas dendam. Lagi pula, Kiana sudah berubah pah.."
"Apa kamu tahu, papa sudah memberikan uang yang begitu sangat banyak untuk mereka. Mereka orang miskin yang begitu sangat tamak!! Tanah itu bukanlah tanah mereka, tetapi mereka seperti menganggap itu tanah mereka. Harusnya mereka hidup damai dengan uang yang papa berikan, tetapi mereka dengan rakusnya selalu ingin balas dendam. Selama ini mereka selalu membuat onar dan selalu meneror kita, apakah kamu lupa Rey!!"
Rey terdiam dan termenung. Apa yang dikatakan papahnya sebenarnya ada benarnya. Karena cinta ia sampai lupa bagiamana keluarganya mengalami kesulitan karena ulah Kiana dan juga kembarannya. Namun, entah mengapa dia masih saja tidak bisa pergi meninggalkan Kiana. Dia sungguh sangat mencintai Kiana.
"Maafkan Rey, pah.? Maaf jika Rey sudah mengecewakan papah. Tapi Rey sangat mencintai dia pah. Rey akan berusaha untuk menjadi suami yang baik. Rey tidak ingin gagal lagi dalam berumah tangga. Kiana adalah harapan Rey saat ini, dia sedang mengandung anakku Pah, dan Rey tidak ingin anakku menderita. Aku akan bekerja sekeras mungkin supaya anakku tidak menjadi gelandangan sebagimana ibunya dulu alami."
Rey dengan langkah putus asa mencoba untuk keluar dari ruangan Tuan Maher. Namun, tuan Maher sedikit tersentuh dengan ucapan anaknya.
"Rey.." panggil Tuan Maher. "Papah akan memberi kamu kesempatan. Papah akan kembali berinvestasi di perusahaanmu, namun hubungan kita hanya sekedar klien kerja, tidak lebih. Hmm,, Tuan Rey yang terhormat, semoga anda bahagia," ujar Tuan Maher sembari membukakan pintu untuk Rey.
Rey mengepalkan kedua tangannya dan menatap Tuan Maher dengan rasa tidak percaya. Sebegitu bencinya Keluarga ini kepada Kiana membuat mereka menendang anaknya sendiri. Namun Rey sudah lelah berdebat, dan memutuskan untuk segera pergi dari rumah besar itu.
Aya yang awalnya ingin mengantarkan minum untuk tuan Maher segera bersembunyi ketika Rey akan keluar.
Aya bernafas lega karena Rey tidak melihat dirinya.
__ADS_1
Aya tertunduk tidak percaya.
"Ak, apakah sebegitu cintanya kamu terhadap Kiana, sampai kamu berani menantang keluargamu sendiri. Bukanya aku berburuk sangka terhadap Kiana, namun entah mengapa aku merasa jika mereka bukanlah orang baik.. semoga kamu selalu berada di lindungan Allah SWT."