IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Kenyataan pahit


__ADS_3

Axelin dengan aura geram berjalan sambil menghentakkan kaki untuk masuk kedalam rumah orang tuanya. Namun, baru sampai gerbang dia dihentikan oleh penjaga.


"Maaf nona, anda ingin bertemu dengan siapa?" tanya penjaga.


"Apa maksud bapak!? Apa, bapak ini penjaga baru dirumah orang tua saya?" tanya Axelin dengan kesal..


"Maaf nona. Namun majikan saya tidak memiliki anak perempuan, apa lagi yang seperti anda," jawab penjaga.


"Apa! Seperti saya? maksud bapak apa ya!"


"Maksudnya saya, anak perempuan secantik anda, hehe," jawab penjaga bergurau.


Axelin yang awalnya kesal langsung tersenyum mendengar penjelasan penjaga. Tapi, dia kembali heran karena mengingat ucapan penjaga yang mengatakan bahwa pemilik rumah tak ada memiliki anak perempuan.


Ketika akan bertanya lagi, sebuah mobil keluar dari gerbang. Axelin minggir karena gerbang telah dibuka dan mobil akan lewat.


Axelin tertegun tak percaya dengan apa yang dia lihat. Seorang pria asing keluar dari dalam rumahnya, dan orang itu sangat mirip dengan Qodir. Kumis dan jenggot tipis. Hanya saja, wajahnya sedikit gelap dan rambutnya sedikit kriting atau ikal.


Axelin menutup mulutnya rapat-rapat untuk menutupi keterkejutannya.


Mobil itu berhenti dan menatap Axelin tersenyum.


"Maaf nona, anda siapa ya? Saya akan keluar, jadi tidak dapat menerima tamu," ucap pria itu yang sudah terlihat sangat dewasa dan cukup umur.


Apa! Tamu? Apakah aku akan menjadi tamu di rumahku sendiri?" gumam Axelin.


"Ah, hahaha. Apa maksud Adan Tuan, saya adalah anak dari pemilik rumah ini," jawab Axelin dengan yakin. Dia mengambil langkah untuk masuk, tetapi dihalangi oleh satpam.


"Maaf nona. Tuan ini adalah anak dari pemilik rumah ini," ucap penjaga.


Jantung Axelin serasa ingin keluar dari tempatnya. Bagaimana bisa kedua orang tuanya tidak mengatakan jika rumah lama mereka telah dijual.


"Apa! Jadi, kedua orang tua saya sudah tidak tinggal disini?" tanya Aya.


"Apakah anda tidak tahu? Kami sudah membeli rumah dari dua tahun yang lalu," jawab si pria itu.


PRANK !


Axelin tak sengaja menabrak pot besar yang ada di belakangnya ketika ia mundur. Saking terkejutnya, Axelin tak dapat berkata-kata. Axelin sudah tak memikirkan pot bunga mahal yang ia jatuhkan. Ia mengambil langkah menjauh dan berlari dari mantan rumah kedua orangtuanya.


Sambil terus mengeluarkan air mata, Axelin terus berlari tak tahu kemana arah.


Didalam mobil. Supir berkata,"Bagaimana, Tuan Qodir?"


Ternyata, nama orang itupun Qodir Jaelani. Memang ada keturunan Arab diwajahnya. Membuat Axelin tertegun diawal.


Qodir melihat jam ditangannya.


"Kita sudah terlambat. Lanjut saja," jawabnya.


Arah yang berlawanan, membuat Qodir tidak dapat melihat Axelin kembali. Sungguh, jauh dari lubuk hatinya, dia sangat merasa penasaran dengan Axelin.


"Siapa dia?" batinnya Qodir bertanya-tanya.


...


Axelin menutupi wajahnya dengan hijab segi panjang yang dia pakai. Di sebuah bahu jalan, Axelin terduduk dan terdiam. Dia dengan gemetar berulang kali menelfon kedua orang tuanya yang sudah membawa kabur uangnya begitu saja. Bahkan, mereka menjual rumah tanpa sepengetahuan dan memberi tahu Axelin.

__ADS_1


"Hiks... Kenapa mereka jahat sekali denganku! Kenapa!? Bukankah aku ini anak papah? Harusnya papah sedikit berbelas kasih kepadaku dan membelaku. Huaa aaa,, malang sekali nasib aku!"


Setelah puas meratapi nasibnya. Kini Axelin bangkit dan berniat akan membekas prilaku kedua orang tuanya yang selalu semena-mene dengannya.


"Baiklah, aku akan bangkit! Aku akan menjadikan diriku sukses! Setelah itu, aku akan mencari mereka dan menunjukan kepada mereka bahwa aku bisa menjadi sukses. Papah, tunggu saja. Aku akan menagih semua hutangmu kepadaku! Aku rela menjadi pelac*r hanya demi papah! Aku rela jauh berada di negeri orang untuk bekerja dan tak pernah pulang, semua supaya aku dapat membantu perekonomian papah! Cih, sekarang, tidak akan ada belas dan kasih! Aku akan berdiri sendiri di kakiku sendiri.!" Dengan penuh tekat, mata Axelin seolah-olah berapi-api. Kini, dia tidak ada lagi memikirkan tentang hubungan anak dan Ayah. Dengan semua penghianatan sang ayah kepadanya. Cukup untuk Axelin selalu mengalah dan menjadi boneka untuk kedua orang tuanya.


*****


Rey dengan perlahan mengemudikan mobilnya karena Hanifah dan Vino sedang asyik bermain dengan kucing baru mereka.


Punya Hanifa berwarna putih bersih dan milik vino berwarna Hitam pekat. Bulu yang sangat lebat dan halus membuat kedua bocah itu merasa gemas di buatnya.


"Kak, Vino. Kita namakan siapa ya mereka?" tanya Hani.


"Milikku warna Hitam, jadi jelas kuberi nama Black," jawab Vino.


"Ah, punya aku putih! Jadi akan beri nama Pink," jawab Hani antusias.


Vino menepuk jidatnya dengan kasar.


"Terserah kau saja mau diberi nama siapa," sahut Vino yang malas berdebat.


Rey yang selalu menatap anak-anak di kursi belakang tidak tahu jika ada seseorang yang akan menyebrang jalan.


"Dad, Awas!" teriak Vino.


Shiiiiiiiiiiittttt!" Suara rem mendadak.


Axelin yang sangat kaget hanya bisa terpaku sambil menutup kedua matanya.


"Aaahhkkk!" teriaknya.


"Axelin!"


"Kak, Rey?"


"Kamu ngapain disini!?"


"Aku, Emm. Aku, mau cari kontrakan, kak," jawab Axelin gugup.


"Masuk kedalam yuk? Kita bicara didalam mobil?" sahut Rey yang seolah mengerti jika Axelin sedang tidak baik-baik saja.


Axelin hanya bisa pasrah dan mengangguk.


"Iya kak."


"Tapi kamu tidak papakan?"


"Ngk, kak. Aku tidak papa."


Ketika masuk dalam mobil. Axelin sedikit terkejut ketika melihat dua anak kecil yang duduk di kursi belakang.


"Loh, Vino! Kamu disini?" sapa Axelin.


"Memang kenapa?" tanya Vino cuek.


"Ah, tidak papa. Oya, ini siapa?" tanya Axelin mencoba untuk seramah mungkin.

__ADS_1


"Hay, Aunty. Aku adalah Hanifah, usia aku baru 5 tahun," jawab Hani dengan sopan.


"Hani!? Apa kamu anak dari ustadzah Aya?" tanya Axelin terkejut.


Hanifah dan Vino mengerutkan kening mereka.


"Aunty, umi bukan ustadzah. Dia adalah seorang desainer," jawab Hani dengan polosnya.


Axelin tersenyum.


"Iya, mungkin sekarang dia telah menjadi seorang ibu yang sukses. Tetapi, dulu dia adalah guru saya di sebuah pondok," jelas Axelin.


"Apakah anda pernah mondok?" tanya Vino.


"Iya Vino, di sanalah aku bertemu dengan ustadzah Aya dan juga seorang pria yang sangat baik. Kalian tahu, dia tidak tampan, dia berkumis dan berjenggot, tetapi dia telah membuat hatiku merasa lebih baik," ucap Axelin yang mendapatkan tatapan tajam dari Rey. Namun, Axelin malah menjawab tatapan itu dengan mengedipkan salah satu matanya, membuat Vino yang berdecak kesal.


"Saya hanya bertanya pernah atau tidak. Saya tidak bertanya tentang cerita anda," jawab Vino dengan cetus.


"Vino!?" Rey mencoba untuk menegur.


"Aunty, kak vino ini kalau bicara memang begitu. Tetapi!" Hanifah mendekati kuping Axelin dan berbisik," Dia masih ngompol, ckckck." Hanifah terkekeh setelah membisikan itu.


Axelin menahan tawanya sambil melirik Vino yang sudah memasang wajah singa.


"Apa yang kalian bisikan tidak penting!" cetus Vino.


"Emang kak Vino tahu apa yang aku bisikan ke aunty ini?" tanya Hanifah.


"Bahkan sebelum kamu mengucapkannya, Aku sudah tahu apa yang ingin kamu katakan!" jawab Vino memasang wajah kesal.


Semua orang sangat terkejut termasuk Rey.


"Apakah aku memiliki anak yang sakti?boleh juga,"batin Rey yang masih fokus menyetir.


"Oh, ya tuhan. Aku harus berhati-hati. Vino! Apa dia tahu jika aku tidak benar-benar menghapus fotonya?" batin Axelin merasa sangat takut.


"Waah, benarkah kak!? Coba, sekarang tebak aku sedang memikirkan apa!?" tanya Hani menantang Vino.


Vino hanya memutarkan kedua bola matanya dengan malas.


"Kaaak, ayo coba tebak!" Hani memaksa.


"Keahlian ini bukan untuk dijadikan ajang pameran, Hani!" ucap Vino yang mulai menekan suaranya. Jika begini, jangan kan Hani, bahkan Rey sendiri enggan untuk bicara.


Axelin yang melihat wajah Hani murung, langsung mencoba untuk menghiburnya.


"Wah, Hani. Aku baru sadar jika kalian memiliki kucing selucu ini,?" ucap Axelin.


Hani tersenyum." Iya aunty, Daddy yang membelikan ini," jawab Hani membuat hati Axelin seketika tercubit.


"Apa, Daddy? Apakah ustadzah Aya adalah istri dari Kak Rey? Oh, iya aku ingat. Mereka adalah kakak beradik. Yah, meski aku belum faham sih bagiamana ceritanya ustadzah Aya bisa menjadi anak angkat Tante Salamah. Hmm," Axelin kembali tersenyum setelah berargumen dengan dirinya sendiri.


"Umi adalah ibuku setelah mommy. Mereka Takan tergantikan!" ucap Vino tiba-tiba membuat Axelin terkejut dan Rey adalah orang paling tertampar disini.


"Oh, ya tuhan. Apakah dia benar-benar anak yang bisa membaca pikiran orang?" batin Axelin dengan jantung yang berdetak sangat kencang.


"Yes, Daddy, Abi dan umi adalah orang tua kami," sahut Hanifah dengan antusias.

__ADS_1


Rey hanya tersenyum mendengar tuturan Hani dan vino. Sedangkan Axelin, dia harus menelan kenyataan pahit. Lagi dan lagi, seolah-olah kode, dia telah tertolak secara terang-terangan dan sindiran.


.....


__ADS_2