
Axelin menyendiri dan terdiam ditempat biasanya yaitu, dibawah pohon mangga besar yang berada dibelakang pondok. Dia mengambil bungkus rokok yang ia sembunyikan.
"Ah, sial! Axelin berdecak karena ternyata rokok yang ia sembunyikan basah karena terkena hujan semalam.
Axelin melamun. Meratapi nasibnya. Jauh dari lubuk hatinya, dia ingin menjadi dirinya seperti yang dahulu, sebelum ibunya meninggal. Dia sangat dicintai dan sangat dijaga.
"Huuff,,! Axelin membuang nafas kasar. Sebentar lagi dia akan di jodohkan oleh kedua orang tuanya. Meski hidup dia telah rusak. Tapi Axelin ingin kehidupan selanjutnya berubah. Dia ingin menjadi mencari seorang pria yang dapat membimbingnya.
"Hmm,, bagaimana tampang anak keluarga Maherndra? Sangat sulit mencari artikel tentang dirinya. Apa aku siap menikah dengan om-om, yang aku tahu dia adalah pria dewasa. Apakah remaja seperti diriku akan dia hargai. Cih, apa yang aku pikirkan. Siapa aku, sehingga meminta dia menghargai aku." Axelin menggerutu membayangkan nasibnya.
"Memang siapa yang tidak menghargai kamu?"
Axelin terkejut dan bangkit dari duduknya. Ia bernafas lega karena itu ternyata Qodir.
"Hay, kamu ternyata. Oya, makasih ya."
"Untuk apa?"
"Karena loe, gua tadi bisa membungkam mulut tu nenek lampir, hahaha!" tawa Axelin puas.
Apa dia sedang menertawai Mora?
"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian seperti musuh disini?"
"Dia dulu yang membuat masalah," ucap Axelin nada tidak suka.
"Aku dengar, katanya kamu akan dijodohkan dengan Keluarga Maherndra?" tanya Rey yang sedari tadi nguping omelan Axelin. Rey merasa penasaran, sehingga memutuskan ingin bertanya.
"Ah, lupakan. Aku malas membahas semua itu," ujarnya sambil berekspresi malas.
"Aku tahu banyak tentang keluarga Maherndra," ucap Rey dengan tatapan puas.
Axelin terkejut namun ia mencoba untuk santai.
"Benarkah? Apa kamu tahu tentang anaknya itu? Aku sangat yakin jika dia adalah pria jelek dengan perut buncit. Jika tidak, mengapa dia harus di jodohkan untuk mendapatkan jodoh."
Rey yang mendengar jika dirinya dikatai jelek dan perut buncit merasakan hawa panas menyelimuti dadanya.
"Yah, kamu benar. Dia adalah perut buncit dengan wajah yang hitam dan jerawat memenuhi tubuhnya. Setiap bulan harus kontrol Karena penyakit kulit yang tak kunjung sembuh," ucap Rey dengan mantap. "Heh, aku yakin kamu tambah tidak akan sudi jodohkan" pikir Rey puas.
Namun Axelin malah tersenyum puas.
"Bagus, setelah menikah tinggal beri sianida dan aku akan mewarisi hartanya. Hahaha!" wajah licik Axelin terlihat sangat menggemaskan di mata Rey. Namun, ketika ia mengingat akan diberi sianida. Rasanya ia ingin sekali menunjukan wajah tampannya dihadapan Axelin.
"Hey bocah! Apa kamu dia akan mau denganmu. Kamu hanyalah anak bau kencur yang sudah tidak murni lagi," cetus Rey yang tanpa sadar telah menancapkan samurai di hati Axelin.
Axelin terdiam dan memalingkan pandangannya. Tak ingin Qodir menatap wajah sendunya.
"Aku akan sangat bersyukur jika dia menolak aku mentah-mentah," ucap Axelin yang langsung meninggalkan Rey berdiri sendiri.
"Sepertinya memang harus begitu. Kamu layak bahagia Axelin. Berjodoh dengan aku tidak akan baik untuk kamu," pikirnya.
"Ah, aku akan menelfon mama. Apa sih maksudnya mau menjodohkan aku segala," lanjutnya dengan kesal.
.....
Axelin berjalan-jalan untuk mencari teman. Namun, melihat tatapan mereka terhadap dirinya, membuat Axelin mengurungkan niat.
"Sendiri lebih baik," batinnya.
__ADS_1
Ketika ia masuk kamar, tiba-tiba Mora dengan cepat menutup pintu dan menguncinya.
Axelin tidak perduli dengan tindakan Mora yang tiba-tiba.
"Eh anak ingusan. Aku apa hubunganmu dengan Qodir!?" tanya Mora tiba-tiba.
Melihat wajah serius Mora, membuat Axelin menduga-duga sesuatu.
"Kami adalah pasangan kekasih," jawabnya dengan mantap.
"Apa! Jadi kalian!?"
" Ya seperti apa yang dipikirkan kamu, Tan te!"
"Aku akan mengadukan kalian kepada umi. Di pondok ini mana boleh pacar-pacaran!"
"Bagus, maka kami akan segera dinikahkan," jawabnya membuat Mora semakin panas.
"Iiiihh, kamu ini menyebalkan sekali ya!"
"Tante, urus saja kandungan mu. Kasihan dia, memiliki ibu yang kegenitan," ujarnya sambil mengambil posisi rebahan.
Mendengar hinaan Axelin membuat Mora bak gunung yang akan memuntahkan larvanya.
Namun ia terhenti karena sebuah kesadaran menyelimuti hatinya.
"Dia benar. Mana ada wanita seperti aku akan diterima. Tapi, apakah tidak ada kesempatan untuk aku? Kesempatan untuk dicintai?"
****
Dengan berani, Wisnu menghadap ustadz Jefri. Wisnu dengan nada perlahan mengakui siapa dirinya. Dia membuka satu persatu peralatan yang ia gunakan untuk memanglingkan wajahnya.
Setelah mendengarkan segalanya. Ustadz Jefri tidak marah sama sekali. Ia justru mendukung Wisnu yang berusaha untuk berbaikan dengannya.
"Iya ustadz, terima kasih banyak karena sudi membantu saya. Sungguh saya sangat mencintai istri saya."
"Kita berdoa sama-sama supaya Aya dapat kembali mencairkan hatinya. Namun, jika ia masih menolak bagaimana?"
"Insyaallah saya akan menerimanya jika memang berpisah dariku adalah keinginannya."
****
Malam ini, Aya duduk menghadap ustad Jefri, sahabat dari abahnya. Hanya ada mereka berdua diruang tamu. Umi dan Mora mendengarkan dari dapur.
"Aya, bagaimana dengan keputusanmu?" tanya ustadz.
"Saya belum ada keputusan ustad," jawab Aya ragu.
"Kemungkinan besar bagaimana?"
"Saya juga belum dapat memastikan ustad. Masalahnya terlalu dalam, saya masih sulit untuk memaafkan. Rasanya saya ingin menyerah saja," ucap Aya.
Wisnu yang mendengar itu merasa tidak tahan dan langsung meninggalkan rumah ustad. Dia dan Rey diam-diam menguping, tapi tidak sangka jawaban Aya sangat mudah menolaknya.
"Huusst, mau kemana!?" bisik Rey.
"Aku akan mengemasi barang-barang ku Rey. Sudah tidak ada harapan lagi," ucap Wisnu dengan segala keputusasaan.
***
__ADS_1
"Aya, saya akan menceritakan sebuah aib. Bukan maksud saya untuk menghina atau menjelekan seseorang. Namun, mungkin dengan cerita ini, kamu dapat mengambil hikmahnya," ucap ustadz.
"Pada saat itu, ibu dan Abah kamu terlihat sangat bahagia. Sudah 5 bulan mereka menikah, namun belum juga di karuniai anak. Di desa ini dahulu ada seorang anak juragan kaya. Dia sangat tertarik dengan ibumu. Sampai suatu ketika, saya dan Abah kamu melihat sebuah kejadian dimana ibu kamu tidur dengan pria itu.
Abah kamu sungguh sangat marah dan kecewa. Ibu kamu menangis dan berkata jika dia telah dijebak. Namun berita itu telah sampai ketelinga warga. Mereka mengira jika ibu kamu memang benar berselingkuh.
Abah kamu tidak atau belum mengambil keputusan apapun. Padahal para tetua sudah memperingati haram bagi dayyuts(pria yang tak memiliki cemburu pada istri) masuk syurga.
Namun Abah kamu tetap diam. Dia mengirim ibu kamu pulang kerumah ibunya, sedangkan dirinya berdiam diri di pondok ini.
Satu bulan berlalu, ibu kamu dinyatakan hamil. Berita itu membuat Abah kamu sangat kecewa. Dia berfikir jika benar ibu kamu telah berselingkuh. Namun saya terus mencoba untuk menenangkannya. Sampai 3 bulan berlalu, sebuah bukti kami temukan.
Kami tidak sengaja mendengar ucapan si anak juragan itu mengaku pada temannya jika dia telah menjebak ibu kamu.
Setelah mendengar itu. Abah kamu langsung pergi untuk menjemput ibu kamu. Rasa sesal menyelimuti hatinya. Selama itu dia telah meragukan pengakuan ibumu dan menggantungkannya sampai berbulan-bulan.
Setelah sampai rumah ibumu. Abah kamu sangat sedih melihat kondisi ibu yang sangat memprihatikan. Tubuhnya sangat kurus dia juga dinyatakan terkena mag kronis karena tidak ingin makan. Semua terjadi karena ibu kamu sangat terpukul karena suaminya tidak mempercayainya.
Abah kamu sampai bersujud untuk meminta maaf. Ibu akhirnya menerima Abah kamu dan mereka hidup bersama. Namun, penyakit ibumu tetap ada. Sampai kamu dilahirkan, ibu kamu akhirnya meninggal dunia.
Sungguh ayah kamu selalu memendam rasa bersalah. Andai dia percaya dengan ibumu. Maka dia tidak akan kehilangan cintanya. Itulah sebabnya mengapa Abah kamu tidak mau menikah lagi.
Dari kejadian ini. Saya dapat melihat jika kamu sangat persis dengan Abah kamu. Menggantungkan hubungan berniat untuk mencari jalan keluar. Namun, terlalu lama juga tidak baik Aya. Sebelum semua terlambat, pikirkanlah."
"Hiks...hiks... Jadi begitu ceritanya. Haaaa aaaa aaa, abaaaahh maafkan Aya hiks..hiks... , Ibuuu uuuu uuuu...." Tangis pilu Aya membuat hati siapapun merasakan kesedihannya juga.
Mora dan Umi memeluk Aya mencoba untuk menegarkannya.
"Aya, suamimu ada disini. Kejarlah sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan kamu," ucap ustad membuat Aya tercengang.
"Iya, Usman adalah suami kamu," lanjutnya membuat jantung Aya langsung merasa dicubit. Aya tidak menyangka jika selama ini suaminya memang sangat dekat dengannya.
Aya keluar dan berniat akan menghampiri Wisnu. Namun, Wisnu sudah bersiap-siap akan meninggalkan pondok. Wisnu sendiri sudah tak ingin berlama-lama karena ia mengira jika dirinya benar-benar sudah di tolak.
Menggunakan sepeda motor jadul, Wisnu dengan perasaan hancur keluar dari gerbang.
Aya yang melihat montor Wisnu akan keluar gerbang, langsung berlari untuk mengejarnya.
"Aaaaaaakkk! Aaa'aak !" teriak Aya.
"Aaaaaaaaakkk !!" teriak Aya merasa putus asa didepan gerbang karena Wisnu sudah menjauh. Namun karena angin mengarah kemana Wisnu pergi, Rey mendengar teriakan Aya.
"Bro, setop !! Itu Aya memanggil," ucap Rey membuat Wisnu mengehentikan montornya dan melihat kebelakang.
Benar saja. Aya melambaikan tangannya sambil tersenyum haru.
Wisnu yang melihat istrinya memanggilnya merasa sangat senang. Tanpa lihat kiri kanan dia memutarkan montornya.
BRAAAKK !!!! Karena buru-buru, Wisnu tidak memperhatikan jika ada mobil pick up membawa sembako akan masuk ke desa juga.
Rey selamat karena dia sempat lompat. Namun, Wisnu yang tidak sadar ada mobil didepannya tertabrak dan terpental. Bahkan luka lama di kepalanya kembali mengeluarkan darah yang begitu sangat banyak.
"TIIIIDAAAAAAAAAAKKKKKKKKK !!!!" teriak Aya sangat melengking.
"Wisnu! Brooo, sadar Brooo.. Hay, hiks...hiks... bro bertahanlah!!" Rey dengan air mata tertahan mencoba untuk menyobek kain untuk menutup lukanya.
Aya berlari sangat kuat untuk menghampiri suaminya. Ia tak memikirkan perutnya yang membesar.
"A'ak !! A'ak ini aku Aya a'ak, sadarlaaaah Ak..! Hiks...hiks... Siapapun cepat tolong ini a'ak Wisnunya aaa aaaaa aaaaa... Cepat !
__ADS_1
"Uhuk..uhuk.." Wisnu terbatuk dan mengeluarkan begitu banyak darah segar dari mulutnya. Dia tersenyum dan akhirnya badanya mulai terkulai lemas di pangkuan Aya.
"Aaaaaaahhhkk, tidak tidak tidaaaaaaaaaaak !!"