
Subuh ini, semua orang didalam apartemen Aya sangat sibuk. Mereka mempersiapkan segala persiapan yang akan dibawa untuk piknik. Karena Aya sibuk mempersiapkan segala persiapan Wisnu, jadi Rey membantu untuk menyiapkan persiapan anak-anak. Untuk makanan sendiri sudah disiapkan oleh mama Salamah dari rumah utama.
Ketika sedang memakaikan syal ke leher vino, handphone Rey berdering.
"Hallo! Rey?" sapa Mora.
"Hay! Kamu sudah mendarat?" tanya Rey.
"Iya, Rey. Tadi malam aku mendarat. Pagi ini kita jadi piknik?" tanya Mora.
"Iya jadi. Ini kami sedang siap-siap," jawab Rey.
"Oke, kirim alamatnya! Nanti aku sama ayah dan Mico menyusul," ucap Mora.
"Baiklah!" Ucap Rey yang langsung menutup telponnya.
"Apakah Mico sudah datang Jepang, dad!?" tanya Vino.
"Iya sayang. Mico, Tante Mora dan kakek sudah kembali. Katanya, sih mereka akan pindah kesini dan tinggal bersama kita karena kakek buyut Vino sudah tiada," jelas Rey.
"Kita bahkan belum pernah menjenguk kakek buyut di Jepang," protes Vino.
"Maafkan Daddy sayang. Selain pekerjaan! Dady jugakan mengurus Abi kalian yang sedang sakit," jelas Rey merasa tidak enak.
"Iya, dad tidak papa," jawab Vino yang mengerti bagaimana keadaan orang tuanya.
Hanifah yang baru selesai mandi dengan buru-buru mencari bajunya.
__ADS_1
"Heeerrrgghh! Daddy, dingin!" ucap Hani sambil menggigil.
"Siap sayang! Ini Daddy sudah siapkan bajunya," ucap Rey yang langsung memakaikan baju kepada Hanifah.
"Gerhh! Kenapa air panasnya tidak hidup, dad! Jadi Hani tadi harus mandi air dingin!" ucap Hani.
"Benarkah! Jika begitu nanti biar Dady panggil orang tukang servis untuk membenarkannya," ucap Rey.
"Iya Dad! Kak, Vino tadi mandi air dingin atau air hangat!?" tanya Hani.
Vino tersenyum.
"Hehehe, aku tidak mandi Hani. Tadi aku hanya cuci muka saja," jawab Vino sambil menunjukan giginya.
"Huuuu..!!" ejek Hani.
....
Wisnu terlihat sangat cerah. Auranya lebih terang. Nampak senyum selalu ia kembangkan. Bahkan wajahnya tak terlihat nampak pucat seperti biasanya. Aya mengira, semua ini efek dari kebahagiaan Wisnu yang akan pergi berlibur.
Sambil mengepak pakaiannya, Aya melirik suaminya yang sedang menatap dirinya.
Aya sangat senang. Melihat aura bahagia yang Wisnu pancarkan.
"Abi, apakah abi senang kita akan jalan-jalan?" tanya Aya.
"Iya umi. Tentu Abi sangat senang. Oya, jangan lupa Rey suruh bawa kamera ya? Abi ingin mengambil potret yang banyak," ucap Wisnu antusias.
__ADS_1
"Alah, biasanya Abi tidak suka Poto-poto. Hehehe!" ledek Aya.
"Karena dulu Abi tampan!" jawab Wisnu yang sedikit tidak nyambung.
"Hahaha! Berarti sekarang Abi jelek donk?" tanya Aya bergurau.
"Salah ,umi! Justru karena Abi sangat tampan!" jawab Wisnu sambil menunjukan giginya.
"Iya, ya.. percaya! Pokoknya, pria tertampan dihatiku adalah Abi seorang," jawab Aya sambil menghampiri Wisnu lalu memeluknya sangat erat.
Rey yang awalnya ingin meminta minyak kayu putih untuk Hani. Tidak sengaja melihat adegan manis antara Wisnu dan Aya.
Rey memundurkan kakinya untuk menghindari penampakan yang romantis antara suami dan istri.
Meski hati Rey terasa melilit. Tetapi Rey tidak berfikir macam-macam. Dia justru sangat senang jika Aya dan Wisnu dapat seperti itu selamanya.
"Daddy!" panggil Hani menganggetkan Rey.
"Ah, iya Sayang?"
"Mana minyak kayu putihnya!?"
"Emm, Abimu sedang siap-siap. Kita tunggu sebentar ya!" ucap Rey berbohong.
"Iya, Dad!"
*****
__ADS_1
Pukul 5:30, akhirnya mobil siap melaju ke villa Leluhur milik keluarga Maherndra.
Villa yang berada didalam hutan Cemara dengan danau buatan yang cukup besar, sangat pas untuk beberapa keluarga berkumpul dan menikmati udara segar alami. Jauh dari polusi dan juga kebisingan.