
Siang pukul 2:00 WIB. Mobil yang Rey dan Pamannya Tri bawa telah memasuki kawasan rumah sakit jiwa. Rey sangat tercengang ketika pamannya membawanya kemari. Rey fikir, anak itu berada dirumah sakit umum. Namun nyatanya, selama ini gadis itu telah berada dirumah sakit jiwa.
"Paman, apakah paman yakin gadis itu ada disini?" tanya Rey.
"Menurut semua informasi, memang mengarah kesini Rey. Kita akan liat nanti didalam."
Rey dan paman dengan perlahan memerhatikan semua penghuni setia rumah sakit jiwa itu.
Sampai akhirnya, mereka bertemu dengan seorang pengurus.
Seorang pengurus, setelah mendengarkan penjelasan Rey dan paman Tri, langsung mengangguk mengerti dan membawa paman Tri dan Rey kesatu tempat.
Pengurus menunjuk kearah wanita yang penampilannya bahkan tidak dapat dikenali. Wajahnya selalu dicoret-coret dengan lipstik. Jika dilarang, maka wanita itu akan mengamuk. Rambutnya pun selalu acak akan Sampai menutupi wajahnya, namun jika dibenarkan wanita itu juga akan ngamuk. Jadi petugas hanya bisa membiarkan wanita itu seperti itu.
Dengan tatapan kosong, sembari memeluk boneka, wanita hanya diam hampa. Tidak bergerak dan bergeming. Begitu jelas pengurus, wanita itu sangat sensitif dengan suara-suara yang menyerupai tembakan. Apapun itu.
"Pak, siapa penanggung jawab wanita itu?" tanya Paman Tri.
"Maaf pak, tapi selama ini kami tidak tahu. Tidak ada yang pernah menjenguk gadis itu selama ini. Tapi, kami selalu mendapatkan kiriman uang setiap bulan untuk Yunhi, tanpa alamat," jelas pengurus.
"Apa, namanya Yunhi?" tanya Rey terkejut.
"Iya pak. Oya, ini adalah berkas lengkap tentang gadis itu," ucap pengurus sembari memberikan sebuah kertas didalam map.
"Terima kasih banyak pak untuk bantuanya. Jika begitu, kami permisi dulu," ucap paman Tri.
Didalam mobil, Rey dengan serius melihat data lengkap tentang gadis itu.
"Nama Yunhi kia. Umurnya 25 tahun. Hemm, sama denganku usianya."
"Sepertinya iya Rey."
"Sudah 5 tahun dia berada dirumah sakit itu. Berarti sebelumnya dia tinggal dengan siapa?"
"Kita harus cari tahu secepatnya. Bisa jadi, orang dibalik Yunhi itulah dalang dari semua ini," ucap paman Tri sedikit geram.
..
Dirumah sakit jiwa, Yunhi gila beranjak dari tempat duduknya dan berjalan perlahan dengan senyum manis yang sangat mirip dengan Yunhi asli. Ketika memasuki kamarnya dan menutupnya dengan rapat. Terdengar suara tawa Yunhi yang sangat mengerikan. Entah apa yang telah di tertawai oleh Yunhi gila. Tapi, namanya orang gila begitu, suka ketawa tidak jelas.
..
Di rumah, ternyata Yunhi sudah ada dirumah Rey bersama dengan Aya.
Kebiasaan mereka, mereka lebih suka mengobrol diatas balkon.
__ADS_1
"Yunhi,?" panggil Aya pelan sembari membawa dua botol minuman.
Seperti biasa, Yunhi akan menjawabnya dengan senyum manisnya. "Iya mbk?"
"Ini minumannya ..."
"Terima kasih mbk Aya," jawab Yunhi.
Aya mengambil nafas dalam-dalam. Dia memberanikan untuk bertanya kepada sesuatu Yunhi.
"Yunhi?"
"Iya mbk Aya. Mbk Aya ini kenapa, tanyakan saja apa yang ingin mbk Aya tanyakan!" ucap Yunhi.
"Boleh aku tahu, apa alasan kamu tidak ingin memberi tahu semua orang tentang hubungan kamu dengan A'ak Rey?" tanya Aya dengan ragu-ragu.
"Belum saatnya mbk."
"Apa alasannya? Bukankah aku sudah merelakan kalian?"
"Belum saatnya saja mbk," jawab Yunhi lagi-lagi dengan singkat.
"Yunhi, aku tahu kamu dan kak Rey saling mencintai. Tetapi, menutupi hubungan kalian dan melibatkan aku didalamnya. Aku merasa kurang nyaman! Aku tidak bisa terus-terusan berbohong dengan mertuaku!"
Mendengar semua ujaran Aya, bukannya menjawab Yunhi malah hanya tersenyum dan beranjak dari tempat duduknya.
...
Rey dan Paman Tri datang kerumah utama. Disana tuan Maher telah menunggu kedatangan mereka.
"Rey, Tri,, kemarilah cepat," panggil tuan Maher.
Rey dan Tri mengikuti tuan Maher berjalan ke ruang kerjanya.
Mereka dibuat bingung sebuah lukisan abstrak yang tuan Maher tunjukan. Tidak dapat diartikan artikan apa sebenarnya makna dari tulisan itu.
"Papah, apa maksudnya ini?" tanya Rey heran.
"Papah juga tidak tahu nak. Ada seseorang yang mengirimkan ini. Tidak ada pesan dan alamat. Papa tidak tahu siapa yang sudah mengirimkan lukisan ini."
Paman Tri masih terus memperhatikan lukisan itu. Sebagai pengamat yang baik, paman Tri tidak ingin menyia-nyiakan keahliannya.
"Kak, aku dapat menyimpulkan sedikit. Disini, terlihat sebuah kehancuran yang sangat parah, bintik bintik ini bisa diartikan itu adalah serpihan kehancuran. Gambar ini hanya menunjukan kesedihan dan kepedihan. Apa sebenarnya yang orang itu inginkan dari kita kak?"
"Apa kamu yakin Tri?"
__ADS_1
"Sejauh aku memperhatikan, hanya itu yang dapat aku simpulkan."
Tuan Maher terus mencoba mengingat-ingat apa yang harus dia ingat. Tapi nihil, dia sama sekali tidak dapat mengingat apapun yang mengarah kepada lukisan itu.
"Oya, tiga hari lagi adalah hari peringatan berdirinya rumah sakit yang ke 20tahun. Tri, kakak minta kamu perketat keamanan. Jangan sampai ada teror yang mendekat. Hanya tamu yang diundang yang dapat memasuki kawasan rumah sakit. Tutup rapat disekitar rumah sakit dengan bala tentara."
"Baik, kak."
"Jika begitu, Rey pamit pulang dulu pah," sahut Rey.
"Iya Rey. Kamu harus menjaga Aya dengan ketat. Kita tidak tahu, musuh itu bisa saja mengancam nyawanya. Kita harus lebih waspada," ujar Tuan Maher.
"Baik, pah."
"Paman, aku pulang duluan ya?"
"Hati-hati Rey."
"Assalamualaikum .."
"Walaikum salam ..."
...
Didalam mobil, entah mengapa Rey tiba-tiba merasa sangat khawatir dengan keadaan Aya. Ucapan tuan Maher mampu membuat Rey gelisah.
Rey dengan cepat melajukan mobilnya. Ketika sedang fokus menyetir, tiba-tiba ada sebuah mobil dari arah berlawanan menghadap mobil Rey. Terlihat jika mobil itu dengan sengaja ingin menabrak mobilnya dengan mobil Rey.
5 detik sebelum mobil itu sampai menyentuh mobil Rey. Dengan cepat Rey membanting setir masuk kedalam komplek. Rey langsung mengerem dan mengambil nafas dalam-dalam. Rey tidak percaya, jika akan ada orang gila yang ingin mencelakainya seperti itu.
Seorang penjaga kompleks yang melihat mobil Rey berhenti mendadak, mencoba untuk melihat.
Tok.. tok... Pak penjaga mengetuk kaca mobil Rey.
Rey yang sedang dalam fase tidak baik, sangat terkejut ketika mendengar ada yang mengetuk pintu mobilnya.
Setelah melihat pak satpam, Rey mengelus dadanya.
"Ada yang dapat saya bantu pak?" tanya pak satpam.
"Oh, tidak pak. Saya tadi sedang menerima telfon," jawab Rey berbohong.
Pak satpam hanya mengangguk mengerti dan membiarkan mobil Rey memasuki kawasan komplek.
Sesampainya dirumah. Rey langsung mencari keberadaan Aya. Akhirnya, Rey dapat melihat istrinya yang sedang memasak untuk makan malam.
__ADS_1
Entah rasa khawatir itu darimana. Rey berlari menghampiri Aya. Rey langsung menarik tangan Aya dan memeluk Aya dengan sangat erat.
Aya sangat terkejut dengan sikap Rey yang tiba-tiba, tapi dia hanya diam dan membalas pelukan suaminya. Aya hanya mengira, jika suaminya sedang membutuhkan kekuatan untuk menghadapi masalah yang sedang terjadi di keluarganya.