
Sudah waktunya mengaji. Sore itu santri laki-laki akan di ajar oleh Wisnu. Santri Winata akan di ajar oleh Aya.
Materi yang akan di ajarkan berbeda. Wisnu akan mengajarkan tentang pria, hal-hal yang menyangkut tentang pria. Seperti mimpi basah misalnya, ini wajib anak-anak ketahui supaya mereka bisa mengendalikan diri dan bagaimana menyingkapi mimpi basah dan apa yang harus dilakukan.
Sedangkan Aya akan mengajarkan tentang haid/ datang bulan untuk para wanita dan juga hal-hal lain tentang kewanitaan.
Mengingat ini adalah kelas untuk anak-anak yang mulai tumbuh menjadi remaja. Kedua hal itu sangat penting untuk disampaikan.
Untuk kelas yang lebih tinggi/santri dewasa, ada guru sendiri yang mengajar mereka.
"Qodir, tolong ambilkan buku materi yang sudah saya siapkan ruangan guru," ucap Wisnu memerintah Rey.
"Siap pak .."
Rey dengan gesit mengambil salah satu buku materi Wisnu.
Disisi lain, Mora juga akan mengambil buku materi untuk Aya.
Kedua bersaudara ini tidak sengaja bertemu didalam ruang guru.
Rey yang melihat adiknya merasa sangat senang juga Terharu melihat perut adiknya yang mulai membesar.
Sungguh Rey ingin menyapanya dan memeluknya. Namun ia harus tahan dan pura-pura tidak mengenal.
Tatapan Rey yang sangat intens membuat Mora heran di buatnya.
"Maaf, apakah anda tidak papa?" tanya Mora membuyarkan lamunan Rey.
"Ah, tidak neng. Tidak papa. Emm, sudah berapa bulan kandungannya?" tanya Rey.
Mora Tersenyum dan menjawab," sudah 4 bulan jalan kak." jawab Mora m
Rey sangat senang melihat adiknya baik-baik saja.
Ketika akan keluar, tidak sengaja mereka bertubrukan dan menjatuhkan buru materi mereka.
Dengan cepat mereka memungut kertas materi mereka. Tidak sengaja, mereka bersentuhan dan berkontak fisik. Rey yang tahu itu adiknya merasa biasa saja, namun berbeda dengan Mora. Terlihat wajah Mora langsung memerah bak kepiting rebus.
"Iihh, kenapa anak ini. Kenapa wajah dia memerah. Jangan bilang kalo dia suka abangnya sendiri," batin Rey menatap heran ke Mora.
"Maaf kak, saya duluan," ucap Mora menundukkan kepalanya sembari malu-malu meninggalkan Rey.
Rey mengumpat sendiri. Sungguh dia ingin sekali menjitak kepala adiknya yang kegenitan itu.
...
"Pak, ini kertas materinya, saya permisi dulu," ucap Rey yang langsung pergi untuk kekamar mandi.
Namun, setelah di dilihat ternyata materi yang Rey ambil salah.
"Kayak mana sih Rey ini. Inikan materi untuk santri wanita," umpat Wisnu yang langsung berdiri untuk menukarnya.
__ADS_1
..
"Aya, ini materinya. Saya mau membantu anak anak didapur ya," ucap Mora yang langsung pergi.
"Terima kasih ya teh."
"Sama-sama."
Namun ketika Aya lihat, ternyata materinya tertukar.
Aya memutuskan untuk mengambilnya sendiri.
..
Dua mata kini saling menatap. Di ujung kelas laki dan di ujung kelas wanita, kini kedua mata saling menatap. Wisnu merasa sangat senang akhirnya dapat melihat istri yang sangat ia rindukan. Wisnu mencoba untuk membenarkan kumisnya supaya tidak ketahuan.
Mereka berjalan saling mendekat.
"Assalamualaikum, Maaf ak, seperti materi kita tertukar," sapa Aya menunduk dan tidak menaruh curiga.
"Walaikum salam, ustadzah. Benar sekali, materi kita tertukar," jawab Wisnu sedikit gugup. Alat perubah suara yang Rey beli cukup bagus.
Ketika angin berhembus, aroma khas Wisnu sampai ke hidung Aya membuat Aya merasakan sesuatu di hatinya.
"Wangi ini, astaghfirullah halazim ya Allah. Aku tidak boleh seperti ini kepada pria lain," batin Aya yang langsung pergi ketika materi sudah di tukar.
Wisnu menatap istrinya yang menjauh. Melihat Istrinya sangat menjaga pandangannya, membuat Wisnu merasa senang.
Apalagi ketika melihat perut istrinya yang mulai membesar, sungguh Wisnu merasa campur aduk. Andai dan andai selalu Wisnu pikirkan. Jika musibah tidak datang, maka kini ia pasti ada berada di samping Aya untuk menemaninya.
Malam ini, seperti biasa Aya akan memantau para santri. Aya senang melihat Axelin tidur dengan nyenyak.
Aya kembali duduk dan menatap bintang. Aya memikirkan Usman yang bukan lain adalah suaminya sendiri.
"Aromanya sangat mirip dengan a'ak Wisnu. Astaghfirullah ya Allah, apa sudah aku pikirkan,"gumam Aya merasa sangat galau.
Sungguh iya kini merasa sangat rindu dengan sang suami. Namun, karena lidahnya sendiri ia tidak dapat melihat suaminya sampai anaknya lahir.
Ada rasa gundah, namun Aya tak ingin larut dalam kesunyian. Ia kembali kamarnya untuk beristirahat.
Wisnu menatap istrinya dari kejauhan. Segala perasaannya pun tercampur aduk. Namun tak dapat berkutik. Hanya dapat melihat dari jauh dan diam.
"maafkan aku Aya. sungguh maafkan aku. Aku mohon. izinkan aku untuk dan beri aku kesempatan," batin Wisnu dengan sendu.
....
Pagi itu, semua santri sedang gotong royong untuk membabat rumput dan juga membersihkan pondok.
Santri wanita bertugas memasak dan pria bertugas membersihkan.
Wisnu dan Rey menatap Mora dan Aya dari kejauhan. Pandangan mereka tidak lepas dari wanita yang mereka pantau.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka, Mora dan Aya akan sedekat ini," bisik Rey.
"Aya adalah wanita baik dan pemaaf," jawab Wisnu dengan sendu.
"Tapi aku tidak tahu, apakah dia dapat memaafkan aku," lanjutnya.
"Sabar bro, gua yakin dia akan memaafkan loe."
"Amiin, semoga saja."
Mora yang sadar sedang di perhatikan, salah tingkah sendiri membuat Aya heran.
"Teh, kamu itu kenapa?" tanya Aya.
"Aya, lihatlah di ujung sana. Dari tadi dua pria berkumis itu menatap kita," jawab Mora bisik-bisik.
"Astaghfirullah, teh. Kita ini masih istri a'ak Wisnu. Jaga pandangan kita," ucap Aya menasehati.
"Aya, yang istrinya Wisnu itu cuma kamu. Aku ini bukan siapa-siapa," jawab Mora rendah.
" Teh, gak baik bicara seperti itu. Hmmmm.." Aya menggelengkan kepalanya.
"Aya, apa kamu sudah memaafkan Wisnu? Apa kamu sudah mau balikan sama dia?" tanya Mora antusias.
"Aku masih belum tahu, teh."
"Kamu ini, apa lagi sih Aya yang membuat kamu masih bertahan dengan keraguan kamu,?"
"Dua kali teh, dua kali aku dalam posisi ini. Rasanya masih sangat sulit," jawab Aya.
"Apa, dua kali!? Maksud kamu?"
"Sebenarnya, a'ak Rey adalah mantan suamiku dan Kiana adalah maduku," jawab Aya dengan sendu.
"APA !!!" Teriak
"Huusst ,," Aya menyuruhnya diam.
Mora yang baru mengetahui berita besar ini ternganga tidak percaya, sampai rasanya sangat sulitnya untuk menerimanya.
Dari jauh, Rey dan Wisnu yang masih mereka dibuat bertanya-tanya.
"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa tiba-tiba terlihat sangat serius?" tanya Rey.
"Entahlah, semoga bukan hal-hal yang dapat merugikan aku," jawab Wisnu.
..
Mora masih diam tak bergeming. Sungguh pernyataan dari Aya membuatnya sangat syok.
Mora langsung menghindar dan menyibukkan diri. Sungguh ia tak tahan jika terus berada didepan Aya. Ia sangat sedih dan terharu dengan nasib Aya yang sangat malang. Sadar dengan perbuatannya, membuat Mora benar-benar merasa sangat bersalah.
__ADS_1
Mendengar hal itu, membuat Mora semakin yakin untuk mundur dan membiarkan Wisnu bersama Aya bahagia.
Mora sangat-sangat berharap jika Aya mau kembali dengan Wisnu dan memaafkan dirinya.