
"Aya, makan dulu ya. Setidaknya minum susu supaya bayi kamu tidak kenapa-kenapa. Kamu boleh sakit hati, tapi kamu tidak boleh menyakiti calon anakmu," ujar bik Neneng mencoba membujuk Aya yang hanya diam.
Sudah berulang kali membujuk. Aya tidak mau memakan sebiji nasi pun. Rasanya seperti ia sudah kenyang setelah makan hati yang berulang.
"Bik, letakan saja. Nanti Aya minum jika sudah ingin," ucap Aya dengan nada sendu.
Bik neng mencoba duduk dan merangkul ponakan yang dulu ia sia-siakan.
"Aya, bibi tidak bisa berkata apa-apa. Semua keputusan ada ditangan kamu. Tapi, bibi harap kamu dapat mengambil keputusan yang dapat membuat kamu lebih baik, bukan malah keputusan yang akan membawa kamu semakin jauh kedalam jurang kehancuran. Terkadang, memaafkan memang berat. Tapi, jika memang Wisnu adalah cinta kamu, bibi harap kamu dapat melihat dengan jelas permasalahannya dan bagaimana penyelesaiannya. Lari, bukanlah pilihan yang tepat. Hmmm, ya sudah ,kamu istirahatlah dulu. Jangan lupa diminum dulu susunya. Bibik akan keluar dulu."
Melihat Aya yang masih diam tak bergeming membuat bik neng menghela nafas berat. Sungguh ia sangat prihatin dengan keadaan ponakannya, namun ia sendiri tidak bisa berbuat banyak.
Sungguh Aya sendiri masih tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Semua masih terasa segar dan menyakitkan. Sepertinya akan butuh waktu banyak untuk menghancurkan batu yang telah beku.
....
Sebuah mobil mewah terpakir didepan rumah. Dengan tidak sabar, Mora ingin sekali berlari dan memeluk saudaranya yang selama ini ia cari.
Semua orang sudah menantikan kedatangan mama Salamah dan Mora.
Wisnu yang enggan menatap Mora, memilih untuk pergi.
"Wisnu. Mau kemana. Mereka akan masuk, duduk kamu!" Perintah Abah.
"Tidak bah. Kalian saja yang berbicara dengan wanita itu," jawab Wisnu.
"Wisnu ! Ini adalah masalah kamu. Hadapi, jangan lari !!" ucap Abah merasa geram dengan sikap anaknya.
"Bro, duduklah. Aku ingin lihat, sejauh mana bertanggung jawab kamu terhadap Aya," ucap Rey membuat Wisnu melirik. Wisnu sangat paham apa yang ada di pikiran Rey.
"Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan Aya.!" bisik Wisnu kepada Rey dengan nada penuh penekanan. Rey hanya tersenyum mendengar ulasan Wisnu.
"Assalamualaikum ..." Sapa Mama Salamah dan yang lain.
"Walaikum salam, silahkan masuk buk," sapa balik Abah.
Wisnu dan Rey sama-sama menatap Mora dengan tatapan elang yang ingin mencakar-cakar langit.
Sedangkan Mora, ia tidak mengartikan apapun dari tatapan Wisnu dan Rey terhadap dirinya. Yang ia rasakan saat ini adalah rasa senang karena masih dapat melihat Rey yang ternyata saudaranya.
__ADS_1
Dengan langkah yang tak tertahan. Mora berlari ke arah Rey dan langsung memeluknya dengan erat.
Semua orang sangat terkejut dengan sikap Mora, karena Mora adalah istri Wisnu. Namun yang dia peluk malah Rey. Mama Salamah dan Paman Yonoto hanya tersenyum haru melihat itu.
"Rey,, aku sungguh sangat merindukanmu," ucap Mora.
Rey yang sangat terkejut dengan sikap Mora yang tiba-tiba langsung mendorongnya kuat. Rey tidak tahu jika Mora adalah saudara kandungnya.
Bruukk....
"Aaahhkkk ...." pekik Mora.
"Reeeyyyy !!!" teriak mama Salamah.
"Apa yang kamu lakukan, HAH !!! Aku tidak pernah menyangka jika kamu akan menjadi wanita yang menjijikan seperti ini ... Cih ! Aku sungguh sangat menyesal karena telah mencintai kamu dahulu.! Kamu, kamu adalah wanita yang menjijikkan yang pernah aku lihat !! Dasar, WANITA PELAKOR !!!" teriak Rey dengan kasar.
Semua orang tercengang dengan sikap Rey yang sangat kasar. Paman Yonoto langsung membantu Mora yang mengeluh sakit di perutnya tanpa berkata sekecap pun kepada Rey.
"REY !!! teriak mama Salamah
PLAAAAKK ....
" Mah !! Mengapa mama membela wanita ini? Karena dia, kini Aya menjadi sangat menyedihkan. Apa mama tidak kasihan kepada Aya yang sudah mama anggap seperti putri sendiri !?" jawab Rey.
"Dia adalah saudari kamu, Rey !! Dan bapak ini adalah ayah kandung kamu !!" ungkap Mama Salamah yang tidak ingin salah faham terus berlanjut.
DUAARR ....
Bak suara petir, sungguh Rey tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
"Tidak... Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Mamah, tolong jangan bercanda yang kelewatan. Sungguh ini tidak lucu mah," ucap Rey serasa ingin tumbang.
"Anakku, maafkan ayahmu yang tidak berguna ini," ucap Paman Yonoto membuka suaranya.
"SETOOPP !! jangan panggil aku dengan sebutan itu !! Aku adalah anak dari Keluarga Maherndra! Tolong jaga ucapan anda, Tuan!" teriak Rey penuh dengan penekanan. Sungguh Rey masih belum dapat menerima kenyataan ini.
Semua orang terbengong melihat adegan drama yang ada didepan mereka. Mereka menunggu kedatangan Mora untuk meluruskan masalah yang terjadi di antara Wisnu dan Mora, namun ternyata malah ada drama yang lebih dramatis.
"REY !!!" teriak mama Salamah.
__ADS_1
"Hiks.. hiks... Mama tidak menyangka jika kamu akan sekasar ini, nak. Duduklah sayang, kita bicarakan ini dengan kepala dingin," ucap Mama Salamah mencoba membujuk Rey untuk tenang. Sungguh mama Salamah merasakan apa yang Rey rasakan.
Namun Rey malah menepis tangan mama Salamah yang ingin memegangnya.
"Hiks.. hiks.. Rey, kamu mau kemana?" tanya mama Salamah. Namun Rey tak bergeming.
Rey berjalan kedepan teras untuk mengambil udara lebih banyak di ruangan terbuka.
"Mah, biarkan Wisnu yang berbicara dengan Rey. Mungkin dia masih sangat terkejut dengan berita ini," ucap Wisnu yang ingin membantu.
"Iya Nak, Wisnu. Tolong kamu bujuk dia. Masalahnya tidak semudah itu. Sungguh keluarganya memiliki masalah yang sangat rumit dimasa lalunya," ucap Mama Salamah berharap jika Rey mau mendengarkan Wisnu.
Wisnu mengangguk mengerti. Sebelum pergi, Wisnu melirik Mora yang sedang menangis sesegukan diperlukan ayahnya.
"Mora, aku harap kamu dapat jelaskan kepada Aya. Buat dia supaya mengerti," ucap Wisnu dengan tatapan tajam kearah Mora, dan Mora hanya mengangguk tanda mengerti.
..
Wisnu menghampiri Rey yang terlihat sangat gusar.
"Bro, ikut gua yuk. Ada tempat yang cocok untuk menenangkan diri," ucap Wisnu menggandeng tangan Rey untuk ikut dengannya.
Dengan malas. Rey mengikuti langkah Wisnu yang akan mengajaknya entah kemana.
Ternyata itu adalah tempat hamparan padi yang lebat subur. Warna hijau berpadu dengan jingga senja membuat hati kedua pria yang sedang tercabik-cabik merasa sedikit damai.
Wisnu mengeluarkan sebungkus rokok yang ia beli ketika mereka berjalan.
Rey mendudut satu dan disusul dengan Wisnu.
Cetek ..." Nyala api
Sssssppp.." menghisap
"Huuuuffft...." membuang asap.
Dua pria kini dengan sendu menghisap dan membuang asap rokok yang mereka pegang.
Tanpa kata, seolah Wisnu dan Rey berbicara lewat angin. Kedua sahabat hanya bisa saling melempar senyum karena merasa konyol dengan nasib mereka. Tak ada yang terucap, namun mereka saling menguatkan lewat rangkulan yang begitu sangat hangat.
__ADS_1