IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Hasil Sidang


__ADS_3

3 hari setelah kejadian menegangkan itu, hari ini semua orang terlihat tegang untuk menyaksikan sebuah sidang yang akan menyatakan bersalah tidaknya Aya dimata hukum.


Dua narapidana, Yunhi dan Aya kini duduk bersandingan untuk menerima vonis pak ketua hakim.


Nampak Rey mendorong kursi roda, dan yang duduk disana adalah Kiana.


Rey sangat bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan untuk Kiana melanjutkan hidup dan bertobat.


Kini, Kiana ingin bersaksi untuk menolong Aya. Kiana akan memberi kesaksian jika Aya memanglah tidak bersalah.


Tuan Maher dan mama Salamah sudah duduk paling depan untuk menyambut kebebasan menantu kesayangan mereka yang malang.


Tuan Maher dan mama Salamah masih enggan untuk menerima Kiana sebagai menantu mereka. Bahkan mereka sama sekali tidak pernah menjenguk Kiana disaat kritis.


Tuan Maher lebih menyibukkan diri untuk mencari pengacara handal untuk membebaskan Aya dan membersihkan namanya yang telah hitam dimata para rakyat.


Yunhi terlihat begitu sangat santai dan hanya selalu menebarkan senyum tanpa dosa.


Aya hanya bisa duduk merinding disamping Yunhi. Ternyata, saudara Kiana auranya lebih menyeramkan daripada Kiana sendiri.


Sidang dimulai. Pengacara dengan sibuk memulai argumen mereka untuk membantu para klien mereka.


"Saudara Aya, apakah benar anda telah diancam pada saat kejadian?"


"Benar."


"Apakah sebelum itu, anda telah mengalami kecelakaan dan diculik ketika akan meminta bantuan?"


"Betul."


"Apakah orang yang telah mengancam anda adalah wanita yang ada disebelah anda yang bernama Yunhi Kia?"

__ADS_1


"Saya tidak tahu pasti, karena mereka adalah wanita kembar. Saya tidak tahu mana yang bernama Kiana dan mana yang bernama Yunhi. Satu yang pasti, wanita kembar ini sangatlah berbahaya."


Kiana maju untuk memberikan kesaksiannya. Dia dengan yakin bersumpah bahwa kesaksiannya adalah kebenarannya.


Kiana menceritakan. Cerita kelam dimasa lalu yang membuat Saudari kembaranya menjadi tidak waras dan harus mendekam dirumah sakit jiwa selama bertahun-tahun.


"Semua kejadian gila itu adalah ide dari saudara saya. Saya telah diancam juga dengannya. Jika saya tidak menuruti kemauannya, maka dia akan membunuh suami dan mertua saya. Saudari kembar saya dengan menggila mengancam saya. Sungguh saya telah berusaha untuk menyadarkannya sampai saya merelakan nyawa untuk menyelamatkan semua orang. Ini adalah bukti bahwa saya telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyadarkannya." Kiana menunjukkan luka tembaknya.


"Namun, apakah orang yang telah kehilangan kewarasannya akan mendengarkan ucapan saya," lanjut Kiana.


Disisi lain, pengacara dari pihak dari Yunhi maju untuk menyatakan jika kliennya memang sedang mengalami sakit jiwa sejak lama.


Pengacara itu menyerahkan beberapa berkas tentang bukti bahwa kliennya telah mengalami sakit jiwa sejak 10 tahun terakhir. Bahkan pengacara itu membawa seorang dokter yang menangani kasus Yunhi. Dokter juga memberikan surat resmi bahwa Yunhi adalah pasien pindahan dari rumah sakit dari luar kota.


Setelah beberapa argumen diperdebatkan. Akhirnya hakim memutuskan jika Aya memang tidak bersalah dan melepaskan Kiana karena bukti nyata telah menyelamatkan banyak jiwa. Sedangkan Yunhi, dia tidak tidak akan dipidana karena memang bukti kuat menyatakan jika dia telah mengalami gangguan jiwa sejak lama.


Yang bertanggung jawab tentang semua ini seharusnya adalah paman Yunhi yang telah mengeluarkan Yunhi dari rumah sakit jiwa dan memberikannya berkeliaran sendirian. Namun, kini pamannya si kembar telah pergi dan entah kemana.


"Bagaimana... Bagaimana bisa seperti ini... Tidak!! Ini,,,, Mereka,, mereka pasti telah merencanakan semua ini ... Aku yakin ....!!" gumam Aya yang langsung menatap Yunhi yang sedari tadi menatapnya dengan senyum aneh.


Yunhi kini dibawa oleh beberapa suster untuk kembali kerumah sakit jiwa.


Kiana, dia dengan raut sedihnya harus merelakan saudarinya memasuki rumah sakit jiwa kembali.


Aya masih diambang rasa tidak percaya. Dia telah bersabar menunggu keadilan didalam penjara, berharap pelaku segera ditangkap dan dihukum dengan adil. Namun, nyatanya kini apa...? Dia memang bebas, namun pelaku sesungguhnya juga bebas bersamanya.


Aya dikagetkan dengan kedatangan mama Salamah dan Tuan Maher yang menghampirinya.


"Sayang, selamat ya.. akhirnya kamu dapat bebas juga. Kita pulang bersama yuk?" sapa Mama Salamah.


"Terima kasih mama dan papah sudah mau datang kesini."

__ADS_1


"Sudah tugas kami sebagai orang tua untuk mendampingi anaknya. Kita akan pulang kerumah utama," ujar Tuan Maher.


Aya tersenyum dan mengikuti langkah mereka.


Ketika memutarkan tubuh, mereka melihat Rey dan Kiana yang menunggu sebrang kursi.


Tuan Maher sebenarnya ingin mengajukan banding dan menuntut supaya anak kembar itu mendapatkan hukuman. Namun, ia juga memikirkan kelanjutannya. Jika usut di usut maka dia dan para kliennya dan juga nama baik rumah sakit akan tercemar karena masa lalu kelam berdirinya rumah sakit itu.


Kiana memang hanya bersaksi bahwa trauma yang mereka alami karena ulah para pekerja itu. Kiana tidak menyebutkan tentang orang-orang kaya yang berdiri dibalik layar.


Namun, jika tuan Maher mengusut lebih lanjut, maka dia dan beberapa Kliennya juga akan terkena.


Yang terpenting bagi Tuan Maher saat ini adalah, nama Aya bersih dan dapat bebas dari hukum penjara.


Aya yang melihat suaminya, entah mengapa rasa rindu itu ada. Dia berjalan dan mengambil tangan suaminya dan menciumnya.


"Terima kasih, Ak?" ucap Aya.


"Sama-sama.. terima kasih juga karena telah kamu sabar menunggu. Aku sangat senang, akhirnya kita bisa bersama-sama lagi. Ayok, kita pulang?" ajak Rey menggandeng tangan Aya dan juga bersiap akan mendorong kursi roda Kiana. Seperti biasanya, Kiana hanya tersenyum manis didepan Aya.


Ketika akan pergi, Tuan Maherndra menghentikan langkah mereka.


"Tunggu !!!"


..


..


..


..

__ADS_1


FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN DAN VOTE 💞


__ADS_2