IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Teka-teki


__ADS_3

Pagi itu, tubuh Aya merah-merah karena semalam dia harus menahan dingin. Aya hanya bisa menggaruknya dengan perlahan. Para napi yang melihat tangan dan wajah Aya penuh dengan biduran merasa sangat kasihan sekaligus merasa bersalah.


"Hay, ini aku punya minyak kayu putih. Mungkin bisa mengurangi rasa gatalmu," ujar ketua geng napi.


Aya yang mendapatkan prilaku baik dari sesama teman satu selnya merasa heran.


"Emm, tidak usah Teh, tidak aku tidak papa kok," ujar Aya. Aya tahu, barang seperti itu akan sangat sulit didapatkan didalam penjara ini. Aya tidak ingin orang lain akan susah karena dirinya.


"Kamu tenang saja, kami tidak memerlukan barang ini," ujar ketua napi.


"Tapi teh?"


"Mau atau tidak!? Jika tidak akan saya ..."


"Iya teh mau. Aku mau, terima kasih banyak ya teh. Ternyata, kalian semua sangat baik. Semoga Allah selalu melindungi kalian."


Para napi hanya tersenyum mendapatkan doa dari Aya. Karena kelembutan, keramahan dan kebaikan Aya membuat para napi lainya merasa luluh dan tidak ingin lagi ada niat untuk menyakitinya. Mungkin semua karena doa-doa yang selalu Aya panjatkan. Aya selalu berdoa supaya terhindar dari orang-orang zholim dan orang ingin berniat untuk menjahatinya.


...


Disebuah vila ditengah hutan, Yunhi dan beberapa anak buahnya sedang melakukan strategi untuk menghancurkan rumah sakit itu. Ketika sedang berembuk, tiba-tiba handphone Yunhi berdering.


"Halo paman?"


"Yunhi, lebih baik undur dulu niat kalian dan sekarang kita pergi bersama. Paman akan menunggu kalian di bandara?"


"Tidak paman. Jika paman ingin pergi, Yunhi doakan paman supaya paman selamat sampai tujuan."


"Ayolah Yunhi, paman tidak ingin kalian mendapatkan masalah besar. Balas dendam bisa kita pikirkan nanti lagi," bujuk paman.


lebih"Paman, aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk menuntaskan balas dendam ini. Kita sudah cukup lama membiarkan mereka hidup lama lagi."


"Ah sudahlah, terserah kalian saja. Paman sudah peringatkan, pergilah sebelum semuanya terlambat."


"Paman, jaga diri paman baik-baik saja. Jika Yunhi tidak selamat, tolong gunakan harta kami dengan sebaik mungkin. Semua harta telah kita dapatkan dengan cara yang tidak mudah selama ini."


"Maafkan paman yang tidak bisa membantu kalian, maafkan paman yang memilih berlari dari tanggung jawab kita. Paman tidak memiliki pilihan karena sekarang paman telah memiliki istri yang akan segera melahirkan."


"Kami doakan supaya Tante bisa melahirkan dengan selamat. Ya sudah, paman hati-hati dijalan."


"Selamat tinggal Yunhi, jaga diri kalian baik baik ."


Panggilan terputus, kini Yunhi mengambil nafas dalam-dalam dan bertekad akan terus menuntaskan balas dendam yang selama ini ia pendam.


....


Pagi Paman Tri dan anak buahnya mendatangi rumah sakit jiwa dimana Yunhi Kia berada.


"Pagi pak .." sapa perawat.


"Pagi, aku ingin menjenguk pasien bernama Yunhi Kia?"


Mendengar nama itu, tiba-tiba seorang perawat terlihat sangat gugup.


"Dia sudah tidak ada disini pak. Ada saudaranya yang membawanya."

__ADS_1


"Siapa?"


"Saya tidak tahu, pak."


"Aku ingin melihat rekaman disaat kita saudaranya menjemput Yunhi!"


Pengawas itu terlihat sangat ragu dan bingung harus berkata apa.


"Maaf pak, ini bersifat privasi saya tidak dapat melakukannya jika tidak ada surat perintah," jawab pengawas dengan gugup.


"Apa perlu aku menunjukan bintangku!" ujar paman Tri.


Pengawas itu sangat ragu,


"Apakah bapak dapat menjamin keselamatan saya?"


"Kamu tenang saja. Aku akan menjamin keamanan untukmu."


Mendengar ujaran jendral Tri membuat pengawas itu akhirnya mau untuk menunjukan rekaman itu.


Dari rekaman, terlihat orang berjas hitam dengan badan tegap menjemput Yunhi. Orang itu sangat pintar untuk menyembunyikan wajahnya dari kamera seolah-olah dia sudah paham setiap titik letak kamera itu.


Paman Tri menghembus nafas dengan kasar. Karena dari rekaman itu dia tidak dapat menemukan petunjuk apapun.


...


Sebuah kaki turun dari mobil dan menatap sebuah clup mewah di Singapura. Beberapa detektif langsung masuk untuk mencari informasi.


Setelah mengorek-ngorek informasi. Deteksi itu keluar dan menghubungi bos mereka.


Panggilan terputus.


Didalam kos-kosan sederhana Wisnu menatap geram dengan informasi yang dia dengar.


"Rey, bagiamana? Apakah sekarang kamu percaya jika istri kamu sangatlah berbahaya!?" ujar Wisnu menatap Rey yang sedang mengencangkan segala otot-otot.


Ceritanya ...


Ketika Aya masih dirumah sakit, ketika Wisnu menjelaskan sesuatu tentang kehidupan Aya, seketika saat itu juga Rey berfikir keras untuk percaya dengan ucapan Wisnu dan Aya.


Akhirnya, mereka membuat rencana semua ini. Mereka juga sengaja membiarkan Aya masuk penjara dan mengikuti segala proses supaya Yunhi dan kembaranya tidak menyadari jika sesungguhnya Rey ingin menyelidiki tentang mereka.


Jadi, Rey dan Wisnu diam-diam mencoba menyelidiki semua tentang apa hidup yang sudah Kiana ceritakan.


"Wisnu, kita sekarang kerumah sakit jiwa dimana wanita bernama Yunhi Kia itu hidup. Kurang ngajar !!! Selama ini ternyata wanita siluman itu telah memperdaya aku !!!" geram Rey dengan perasaan yang tidak dapat diartikan.


Wisnu dan Rey langsung bergegas menuju kerumah sakit jiwa. Ketika akan keluar memasuki gerbang, Rey melihat mobil pamannya Tri yang akan keluar dari rumah sakit jiwa itu.


Rey mencoba untuk menghalangi mobil pamannya dan menemuinya.


"Paman,, apa yang paman lakukan disini!?" tanya Rey dengan tatapan curiga.


"Rey.. Emm ..." Paman Tri ragu untuk menceritakan kepada soal ini kepada Rey, karena tuan Maherndra berpesan supaya hal ini menjadi rahasia.


"Paman, apakah paman juga sedang menyelidiki tentang Yunhi!?" tanya Rey membuat paman Tri terkejut karena Rey mengetahui tentang niatnya.

__ADS_1


Akhirnya, paman Tri mengajak Rey untuk membicarakan semua ini dirumah utama.


Diruang kerja, Tuan Maherndra menjelaskan semua kepada Rey tentang masa lalu kelam bagaimana berdirinya rumah sakit itu.


FLASHBACK...


Malam itu tuan Maher mendapatkan telfon dari salah satu pekerja yang sangat baik hati dan amanah dalam bekerja, bahwa malam di TKP sedang ada kekerasan yang sedang dilakukan oleh para pekerja lainya.


Ketika tuan Maher datang, ternyata ada beberapa rekan kerjanya sedang asyik menonton penyiksaan yang sedang dialami oleh keluarga Yunhi.


Tuan Maher langsung turun dari mobil dan menghampiri teman-temannya yang sedang menonton dari kejauhan.


"Hay, !! Apa yang kalian lakukan!! Mengapa kalian membiarkan para pekerja itu menyiksa mereka!?" tanya tuan Maher dengan menahan marah.


"Tuan Maher yang terhormat. Kami melakukan ini supaya mereka lekas pergi dan tidak lagi membuat kita kesulitan," ujar salah satu rekan.


"Apa begini caranya. Mengapa kalian tidak memberikan mereka uang yang banyak supaya mereka mau pergi dari sana!!?"


"Tuan Maher, mereka hanyalah gelandang yang tidak tahu diri. Orang seperti mereka jangan terlalu dibaiki, akan ngelunjak kedepannya," ujar salah satu rekan dengan tengilnya.


Tuan Maher tidak percaya. Dia ingin pergi dan menolong keluarganya Aya. Pada saat itu, tuan Maher tidak tahu jika ada anak perempuan kembar diantara mereka, karena Yunhi dan Kiana bersembunyi.


Ketika Tuan Maher akan pergi, dia di halangi oleh rekan-rekannya.


"Tuan Maher, kami harap anda tidak gegabah dan ikut campur atau anda akan terlibat dalam khasus ini. Lebih baik sekarang kita semua pulang saja dan lupakan semua kejadian ini," ujar salah satu rekan memperingati Tuan Maher.


Setelah mendengar peringatan dari temannya, tuan Maher terdiam dan termenung. Demi nama baik keluarganya, tuan Maher akhirnya mengurungkan niatnya untuk menampakkan wajahnya dihadapan para gelandangan itu.


Namun, tuan Maher tidaklah sejahat itu. Dia menitipkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit kepada salah satu pekerja yang telah menghubunginya.


"Saya minta kepadamu, tolong berikan yang ini kepada mereka. Saya percaya kepadamu," ujar Tuan Maher.


"Baik pak, saya akan memberikan amanah ini kepada mereka. Sungguh saya juga sangat prihatin dengan nasib mereka," ujar pekerja itu.


Setelah mendengar itu, tuan Maher merasa lega dan pergi dari sana.


..


Malam itu dengan keadaan yang tidak menentu arahnya, keluarga Yunhi terseok-seok berjalan untuk meninggalkan tempat itu.


Seorang pekerja itu ternyata orang yang benar-benar sangat beramanah. Dia berlari dan menyusul keluarga Yunhi untuk memberikan sejumlah uang yang cukup besar.


"Hay tunggu !!!" sapa pekerja mencoba untuk menghentikan keluarga Yunhi.


Melihat seragam yang digunakan pekerja itu membuat keluarga Yunhi ketakutan.


"Kalian jangan takut, saya memang bekerja disana tetapi saya bukan salah satu dari mereka. Saya disini untuk memberikan uang ini kepada kalian, pergilah dan jangan kembali. Uang ini sangat banyak, semoga cukup untuk memulai hidup kalian supaya lebih layak," ujar si pekerja lalu pergi meninggalkan keluarga Yunhi.


Dari uang itu, akhirnya Yunhi dan keluarganya dapat memulai hidup baru mereka. Wajah mereka terlihat sangat bahagia. Mereka mendoakan pekerja itu dan berjanji akan membalas Budi di suatu hari nanti.


Ternyata, tuan Maher tidaklah benar benar pergi dari tempat itu. Diam-diam dia mengikuti keluarga gelandang itu yang ternyata memiliki anak perempuan kembar.


Akhirnya, tuan Maher dapat bernafas lega karena tanggungjawabnya telah dituntaskan.


Tuan Maher akhirnya dapat pergi tanpa beban dan perasaan bersalah yang mendalam.

__ADS_1


...........


__ADS_2