IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Si biang kerok


__ADS_3

Bibik Gia dengan cepat berlari menyusuri anak tangga untuk memberikan informasi penting kepada Yunhi.


"Non ... Tok ... Tok ..." panggil Bibik Gia dengan tidak sabaran.


Yunhi yang sedang menikmati hidupnya sendiri, mengumpat kesal mendengar ibu tirinya mengganggunya.


CEKLEK ...


"Ada, apa!?" tanya Yunhi sorot mata yang ingin memakan hidup-hidup Bibik Gia.


"Apakah kamu sudah melihat berita!?" tanya Bibik Gia.


"Katakan dengan jelas, dasar wanita jal*ng !!?" bentak Yunhi yang malas untuk berbasa-basi.


"Di kantornya nak Rey terjadi ledakan," ucap Bibik Gia, mampu memporak porandakan hati Yunhi yang sedang merasakan kedamaian.


"Apa !!!" pekik Yunhi yang langsung berlari mematikan gramofon dan menyalakan TV.


Benar saja. Diberita telah ramai membahas tentang ledakan yang tejadi di parkiran kantor Rey.


Yunhi mengenggam gelas di tangannya sampai gelas itu pecah berkeping-keping.


Darah segar mengalir dari tangannya. Tapi, seperti biasa Yunhi seperti orang yang mati rasa. Ia sama sekali tidak bergeming.


Rasa marah kini menyelimuti jiwanya. Dengan gerak geram, Yunhi mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang. Sedangkan Bibik Gia, dengan gemetar membersihkan serpihan gelas yang telah pecah dan terhambur kemana-mana.


"Halo !?" suara dari balik handphone menjawab panggil Yunhi.


"Aku peringatkan kepada Paman! Jangan berani-beraninya paman menyentuh suamiku!!! atau paman akan berhadapan denganku," ancam Yunhi dengan suara penuh penekanan.


"Hahaha,, aku tidak akan melukai suamimu jika kamu segera menuntaskan dendam kelurga kita. Apa kamu lupa, bagaimana kedua orang tua kamu mati.?" ucap si paman mencoba untuk mengingatkan tugasnya untuk membalaskan dendamnya kepada keluarga Rey.


"Paman tenang saja. Keluarga Maherndra akan hancur. Tapi aku mohon, jangan sentuh suamiku. Aku tidak akan pernah melibatkan suamiku dalam dendam keluarga kita. Aku memiliki rencana besar. Kedepan, hanya akan ada aku dan Rey, suamiku." ucap Yunhi dengan senyum getirnya.


"Dasar anak bodoh. Jika Rey tahu tentang kamu, apakah dia akan menerima kamu!?" ucap si paman mencoba untuk membuat Yunhi sadar dari cinta butanya.


"Apakah sekarang paman meragukan Aku. Selagi paman tutup mulut, semua akan berjalan dengan semestinya. Sekali lagi, jika paman berani beraninya mengancam nyawa suamiku, paman akan tahu akibatnya," ancam Yunhi.


Yunhi menutup panggilan dan menatap tajam kearah Bibik Gia. Bibik Gia yang mendapatkan tatapan tajam dari Yunhi hanya bisa menundukkan kepalanya.


Ketika Yunhi berjalan kearah Bibik Gia, tiba-tiba dia mendengar suara mobil Rey memasuki gerbang rumahnya.


Dari atas balkon, Yunhi tersenyum senang melihat suaminya telah kembali dengan selamat.


Jiwa iblis yang membara dalam hatinya, seketika memudar ketika melihat Rey selamat.

__ADS_1


Dengan senyum manja, Yunhi berlari dengan sangat cepat. Dia tidak sabar ingin segera bertemu dengan suami tercintanya.


Rey dan mama Salamah turun dari mobil. Ketika mereka bersiap akan memasuki rumah. Suara teriakan membuat langkah mereka terhenti.


"Kak, kak Rey !!!" teriak Yunhi sembari berlari kearah Rey.


Rey tersenyum dan menyambut Yunhi.


Air mata Yunhi mengalir begitu saja ketika ia melihat wajah suaminya.


"Hik,hik, apakah kakak tidak papa. Aku tadi melihat berita diberita. Hik,,hik,, syukur kakak tidak kenapa-napa," ucap Yunhi yang langsung memeluk Rey.


Mama Salamah menatap curiga kearah Yunhi. Mama Salamah seperti mencurigai sesuatu dari sikap Yunhi yang selalu berlebihan kepada Rey.


"Yunhi, aku tidak papa. Tidak ada yang perlu dicemaskan," ucap Rey membalas pelukan Yunhi.


"Eehmmm,," Mama Salamah sengaja membuat suara.


"Ah, mamah,," sapa Yunhi yang langsung memeluk mama Salamah.


Mama Salamah yang mendapatkan respon baik dari Yunhi mencoba untuk memahami sesuatu. Sampai akhirnya, Rey melihat tangan Istrinya berdarah.


"Yunhi, ada apa dengan tangan kamu!?" tanya Rey terlihat sangat cemas.


Mama Salamah yang mendengar tuturan Rey mencoba untuk melihat tangan Yunhi untuk memastikan. Benar saja, ternyata tangan Yunhi berdarah, dan beberapa pecahan beling halus masih menancap ditangan Yunhi.


"Emm, ini tadi,, tadi saat Yunhi melihat kabar berita jika kak Rey mengalami insiden mengerikan, Yunhi tidak sengaja menjatuhkan gelas. Ketika Yunhi ingin membersihkannya, Yunhi tidak sengaja terpeleset dan menekan beberapa pecahan gelasnya," tutur Yunhi menjelaskan.


"Oh ya ampun. Karena terlalu khawatir dengan Rey, kamu sampai celaka seperti ini," ucap Mama Salamah terharu.


"Kak Rey sudah Yunhi anggap seperti kakak sendiri, mah. Yunhi tidak bisa membayangkan, harus kehilangan orang kita sayang lagi. Yunhi sudah kehilangan ibu dan ayah, dan kak Rey adalah keluarga satu-satunya Yunhi disini," jawab Yunhi memasang wajah yang sangat polos.


"Uuuh, manisnya. Ya sudah, kita masuk ya. Malam ini kamu nginap saja disini. Mama juga akan menginap," ucap Mama Salamah.


"Iya, mah," jawab Yunhi sembari tersenyum.


Rey benar-benar sangat salut dengan istri keduanya. Sifatnya sangat penyayang dan lembut. Rey berjanji, sampai kapanpun tidak akan meninggalkan wanita yang sangat ia cintai.


Ketika mama Salamah mengobati luka Yunhi. Rey mencoba untuk menemui Aya.


Rey sedikit ragu, ia merasa bersalah karena telah menuduh istrinya tanpa bukti yang jelas.


Rey perlahan membuka pintu. Dengan langkah ragu, ia melangkahkan kakinya memasuki kamar dimana ia mengurung istrinya.


Rey menatap pilu melihat istrinya tertidur dibawah bersandarkan kasur.

__ADS_1


Rey menatap mata istrinya yang membengkak. Rasa menyesal sangat membekas dalam hatinya.


Perlahan Rey mencoba untuk memindahkan Aya keatas kasur. Namun, sentuhan Rey membuat Aya tersadar.


"A'ak ...?" panggil Aya.


Rey sedikit terkejut, namun ia tetap melakukan kegiatan untuk memindahkan Aya ke atas kasur.


Setelah Aya terbaring dengan benar. Rey dengan mata penuh bersalah mencoba untuk meminta maaf kepada Aya.


"Aya, maafkan aku yang telah menuduhmu tanpa bukti," ucap Rey.


Melihat suaminya yang sudah membaik, Aya tersenyum dan meraih tangan Rey.


"Ak, a'ak tidak perlu merasa bersalah. Aku dapat mengertinya. Hanya saja, aku berharap untuk lain kali a'ak dapat mengontrol emosi a'ak," jawab Aya sembari tersenyum hangat dari balik cadarnya.


"Terima kasih, Aya. Oya, mama ada dibawah," ucap Rey membuat Aya terkejut.


"Apa, mamah ada dibawah. Ak, aku sore tadi memasak karena kamu mengatakan akan pulang kerumah Yunhi. Bagaimana dengan makan malamnya," ucap Aya terlihat panik.


"Kamu jangan cemas. Tadi dijalan aku dan mama membeli makanan. Kita akan makan bersama-sama dibawah," ucap Rey.


"Oh, maaf ya Ak. Harusnya aku-..."


"Sudah tidak papa. Kamu turun saja duluan. Aku mau membersihkan diri dulu."


"Baik Ak. a'ak jangan lupa sholat isya, ya?"


"Iya ...."


..


Aya perlahan menuruni anak tangga. Aya sedikit terkejut melihat mama Salamah yang sedang bergurau dengan Yunhi.


Ada sebuah perasaan yang mengganjal. Namun Aya berfikir, mungkin Yunhi juga pasti sedang menghawatirkan keadaan suaminya saat ini.


"Assalamualaikum, mah," sapa Aya.


"Walaikum salam. Aya, sini sayang," sahut mama Salamah.


Aya duduk disamping mertuanya. Mama Salamah dapat melihat dengan jelas mata Aya yang membengkak. Aya pasti telah menguras air matanya sampai matanya terlihat sangat lembab.


"Ya ampun sayang. Mata kamu bisa sampai seperti ini," tanya mama Salamah.


"Ah, iya mah. Ini karena Aya melihat berita di TV," jawab Aya.

__ADS_1


"Hmm, mama juga tidak menyangka jika Rey akan mendapatkan teror sebesar ini. Kamu tidak perlu cemas sayang. Paman kamu si Tri dan suami kamu akan berusaha untuk mencari siapa pelaku yang sesungguhnya," ucap Mama Salamah menahan geram.


Yunhi hanya tersenyum tipis tipis mendengar apa yang dikatakan oleh mama Salamah. Sekilas, Yunhi tidak sadar jika Aya juga telah memperhatikan dirinya.


__ADS_2