
Aya menatap beberapa bahan yang sudah ia siapkan untuk membuat kue tart dan juga sup iga. Didapur apa yang Aya inginkan semuanya lengkap membuatnya merasa tidak dipersulit.
Dengan perlahan Aya memulai kegiatannya dengan senyum dan semangat. Semua Aya lakukan supaya dirinya tidak lagi merasa kacau ketika mengingat jika dirinya sesaat lagi akan dimadu.
Suara hentakan kaki membuat tangan Aya berhenti.
"Siapa ya?"
Aya mencoba untuk berjalan kearah suara langkah kaki.
Diruang tamu, ternyata ada seorang ibu-ibu berparas elok dengan hijab style'nya.
"Assalamualaikum, maaf, anda siapa ya?" tanya Aya sopan.
Mendengar ada suara yang menyambutnya, ibu-ibu itu membalikan badanya.
Sebuah senyum Aya dapatkan dan meninggalkan kesan hangat baginya.
"Kamu Ayakan?" tanya ibu-ibu itu.
"Iya buk, saya Aya. Saya adalah istri dari pemilik rumah ini," jawab Aya tersenyum dari balik cadarnya.
"Bukan anak pemilik rumah ini. Tapi kamu adalah istri dari anakku," jawab ibu-ibu itu.
Aya yang baru mengetahui jika yang berbicara dengannya adalah ibu mertuanya langsung berlari kecil dan mencium tangan ibu mertuanya.
"Maaf buk, maaf Aya tadi belum tahu jika ibu adalah ..." terhenti.
"Sudah, tidak papa. Mama sangat senang karena kamu adalah pilihan anakku. Ah, aku benar-benar tidak percaya jika dia akan memilih wanita Solehah sepertimu," ucap Mama Salamah dengan perasaan yang sangat bahagia.
"Alhamdulillah Bu, semua sudah takdirnya," ucap Aya sembari menundukkan pandangannya.
"Emm, panggil aku mamah mulai saat ini. Mama Salamah, ok?"
"Ah, iya mah," jawab Aya dengan canggung.
"Oya, dimana Rey?" tanya mama Salamah.
"Emm ,,," Aya ragu untuk menjawab.
"Hmm, apa dia sedang kerja. Dia memang suka begitu Aya. Dia bahkan tidak ada waktu untuk menemani mamanya shoping karena selalu sibuk dengan pekerjaannya. Tapi mama bangga padanya, rumah ini adalah bukti dari kerja kerasnya," ucap Mama Salamah.
"Ah iya mah, alhamdulillah."
"Oya, kamu tadi sedang apa?"
"Aya sedang akan membuat kue tart dan juga sub iga mah," jawab Aya antusias.
"Waah, bolehkah mamah bantu?"
"Boleh mah, boleh. Ayo mah, kita kedapur."
Didalam dapur, dua wanita Solehah terlihat sangat akrab. Senyum Aya selalu mengembang mendengarkan kisah suaminya yang mertuanya ceritakan.
..
Menjelang sore hari Mama Salamah meminta izin untuk kembali.
"Sayang, mama pulang dulu ya? Kamu sering-sering main kerumah mamah. Mama akan tunggu kedatangan kamu dan Rey. Ok?"
"Iya mah, insyaallah."
"Assalamualaikum ..."
"Walaikum salam ..."
Aya mengelus dada tanda rasa lega. Ia tidak akan bisa berbohong jika mertuanya akan menunggu kepulangan suaminya. Apa yang harus dikatakan, jika suaminya saat ini akan menikahi wanita lain.
..
Malam ini Aya sudah siap dengan dengan rantang dan kue ditangannya.
Ia menata hati dan pikirannya untuk menemui suami dan madunya.
"Bismillah, Aya, kamu pasti bisa, semangaaaat!!"
__ADS_1
Aya menatap gerbang yang tertutup. Aya menekan bel beberapa kali sampai akhirnya seorang pelayan datang menghampiri Aya.
"Maaf, anda siapa ya?" tanya si pelayan.
"Ah, saya datang untuk memberikan selamat kepada pernikahan Rey, Teh," ucap Aya.
Pelayan itu menatap tajam kearah Aya dari kaki sampai kepala.
"Maaf, Tuan Rey dan Nyonya Yunhi tidak menikah dirumah. Mereka menikah di Gereja," jawab di pelayan.
Mendengar kata gereja, tubuh Aya tiba-tiba terkulai lemas. Ia tidak tahu harus berfikir bagaimana.
"Ah, jika begitu aku titip kue dan sub ini teh. Salam untuk mereka," ucap Aya memberikan rantang itu pada pelayan.
Aya berlari kecil kembali kerumahnya. Ia tidak dapat mengerti, cobaan apa lagi yang sedang ia hadapi.
Semua pertanyaan kini tersirat dalam benaknya.
"Hik, hik, hik, apakah suamiku menjadi murtad hanya demi menikahi seorang wanita. Astaghfirullah, ya Allah... Cobaan apa lagi ini, astaghfirullah halazim ..." Aya meremas kuat jantungnya yang kini benar-benar terasa sangat linu.
Suara adzan magrib berkumandang dari handphone'nya Aya.
Untuk menenangkan hati dan fikiran, Aya memutuskan untuk menunaikan kewajibannya.
"Ya Allah, tidakkah ada cobaan lain selain ini? Maafkan hamba yang berkeluh kesah seperti ini, namun hamba sakit, ini rasanya begitu sangat sakit ya tuhan. Bagaimana bisa hamba menjalani sebuah hubungan dengan seseorang yang jelas-jelas telah murtad darimu. Hik,hik,hik .. bagaimana hamba harus menyikapinya, bagiamana tuhan yang maha kasih lagi maha penyayang? Berilah petunjukmu, hamba mohon, hik,hik, ...."
...
Sebuah mobil klasik memasuki gerbang utama di kediaman Yunhi, istri kedua dari Rey Maher.
Rey bersama dengan istri barunya terlihat sangat bahagia dan romantis. Rey dengan gagah membopong Yunhi memasuki pintu utama yang besar.
Rey meletakan Yunhi keatas kasur besar milik mereka.
"Terima kasih ya sayang," ucap Yunhi dengan manjanya.
"Sama-sama sayang, kamu mau mandi dulu?" tanya Rey.
"Aku mandi dulu, kamu pulangah dan ambil baju salin kakak," ucap Yunhi sembari melepaskan beberapa aksesoris di rambutnya.
"Emm baiklah, aku akan ambil bajuku sebentar. Kamu tidak papakan aku tinggal sejenak?"
Rey memeluk istrinya dari belakang.
"Emm, apakah kamu tidak cemburu?"
"Yang seharusnya cemburu adalah istri pertama kamu sayang," jawab Yunhi dengan senyum manisnya.
"Aku sama sekali tidak mengenalnya, kami juga tidak saling mencintai, jadi aku yakin jika dia tidak akan masalah meski aku menikah seribu kali," ucap Rey.
"Owh, jadi kamu ingin menikah sampai seribu kali!!?" tanya Yunhi dengan serius.
"Hehe, ngk kok sayang. Aku hanya mem-upamakan perasaan wanita ninja itu. Jika kamu, aku sangat yakin tidak akan membiarkan aku berpaling darimu, karena kamu sangat mencintai aku, yakan?"
"Kamu benar sayang, aku tidak akan membiarkan kamu berpaling dariku. Kamu adalah milikku, aku bisa berbagi hanya kepada istri pertamamu," ucap Yunhi sembari memeluk suaminya dalam-dalam.
"Terima kasih sayang, karena kamu tidak pergi meski aku telah mempersuting wanita lain."
"Aku dapat melihatnya kak, dia adalah wanita yang sangat baik."
"Benarkah.!? Aku malah mencoba untuk menjaga jarak dengannya. Apa kamu tidak melihat diberita? Wanita bercadar itu adalah kelompok teror*s yang menakutkan."
"Huuusst, kok kamu berkata begitu sih?.aku aja yang bukan dari Agam kakak tidak berfikir begitu," jawab Yunhi yang merasa kurang nyaman dengan pernyataan Rey.
"Entahlah, mungkin karena aku belum mengenalnya saja."
"Jika begitu, coba kakak dekati dia dan ajaklah dia untuk berbicara dari hati kehati. Yunhi yakin jika ia adalah wanita yang baik."
"Kamu memang yang terbaik sayang. Terima kasih ..."
"Ya sudah pulanglah, aku akan tunggu kamu untuk makan malam."
"Emuach, aku pulang sebentar ya," ucap Rey sembari mengecup kening Yunhi.
..
__ADS_1
Rey berjalan menuju rumahnya mengingat jarak yang tidak jauh. Hanya berjarak beberapa langkah, kini kaki Rey telah sampai didepan pintu gerbang.
Rey menatap rumahnya yang gelap gulita.
"Kenapa rumah bisa gelap seperti ini? Apakah aku lupa membayar tagihan, sepertinya tidak! Apakah Aya yang tidak mengerti cara menghidupkan lampu rumah!?" gumam Rey sembari berjalan perlahan menuju rumahnya.
Rey masuk kedalam rumah yang juga gelap gulita. Rey menghidupkan senter dari handphonenya untuk menerangi ruangan.
Rey berjalan untuk menghidupkan saklar rumah. Setelah rumah terang benderang, Rey berjalan menuju kamar untuk mencari sosok wanita yang telah ia nikahi.
Tok.. tok .. tok.. "Aya ...?" Rey mengetuk pintu kamarnya.
Tidak ada jawaban membuat Rey nekat untuk membukanya sendiri.
Tatapan Rey tertuju pada sosok yang sedang terbaring diatas kasur sembari memeluk sebuah kitab kecilnya.
Rey perlahan mendekati sebuah mimik wajah yang sama sekali tidak pernah ia lihat.
Masih berbalut cadar, Rey menatap intens mata yang terpejam. Terlihat sebuah lembab dikantong mata Aya.
"Apak dia habis menangis? Apakah dia menangisi aku? Apakah dia tidak rela jika aku menikah lagi?" Semua pertanyaan terbesit dalam benak Rey.
Aya yang merasa ada sesuatu yang memperhatikannya mencoba untuk sadar dari mimpinya.
Dua mata kini saling menatap, entah mengapa Rey masih ingin terjaga untuk menatap mata bening Aya.
"Ak ..?" panggil Aya membuyarkan lamunan Rey.
"Ah, hay. Emm maaf," ucap Rey sembari beranjak dari sisinya yang terlalu dekat dengan wajah Aya.
Rey dan Aya duduk dipinggir dipan.
"Aya, maafkan aku?"
"Aku ikhlas Ak, namun mengapa? Mengapa kamu harus memilih wanita yang berbeda keyakinan dengan kita? Apakah sekarang A'ak sudah menjadi murtad!?" tanya Aya dengan sedikit meninggikan suaranya.
Sadar karena telah meninggikan suara, Aya kembali menunduk.
"Maaf Ak, bukannya Saya lancang, saya hanya tidak tahu harus bagaimana jika A'ak telah murtad."
Rey tersenyum sembari beranjak untuk menyusun baju yang akan dia bawa.
"Saya tidak murtad, hanya saja kami menikah dengan dua agama. Cinta kami tidak memandang agama. Kami sudah sepakat akan tetap menjalani keyakinan kami."
"Astaghfirullah halazim, Ak !!! Apakah pernikahan itu sah? Aku tidak setuju dengan hal ini Ak!! Dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 221, Allah telah berfirman:
Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.
Apakah A'ak mengerti?"
Mendengar pernyataan Aya, membuat tangan Rey terhenti untuk menyusun pakaiannya.
Rey menatap tajam kearah Aya yang sedang menunggu jawabannya.
Sesaat Rey menatap tajam Aya sebelum ia Kembali menyusun pakaiannya dengan asal dan dengan kasar menutup kopernya.
Sembari melangkah kepintu kamar, Rey berkata, "Ikuti saja perintahku dan jangan banyak bertanya. Jangan coba-coba untuk membantahnya. Urusi saja urusan kamu, Aku akan pergi, jaga dirimu baik-baik," ucap Rey meninggalkan Aya yang sedang ternganga mendengar tuturanya.
Aya hanya bisa mengelus dadanya. Ia tidak dapat mengerti dengan sikap Rey.
Aya sungguh tidak dapat membiarkan suaminya melakukan dosa besar seperti ini. Agama bukanlah sebuah lelucon.
Aya masih terima ketika Rey membuat sebuah lelucon dalam sebuah pernikahan. Namun, untuk yang satu ini Aya tidak dapat menerima lelucon baru Rey.
,
.
.
.
..
Cerita ini hanyalah fiksi belakang. Tidak untuk menyingung siapapun dan agama apapun. Mohon maaf jika terdapat beberapa kata yang kurang berkenan. 🙏🙏
__ADS_1
..
Jangan lupa dukungnya dan menangkan hadiahnya 💓💓