
Hari ini keluarga Axelin bersiap untuk menemui keluarga Rey.
Duduk disebuah meja makan. Axelin terlihat sangat anggun. Penampilan berubah total. Ia tak lagi seperti anak yang pembangkang. Axelin sangat pasrah ketika sebuah obrolan orang dewasa membahas tentang perjodohan.
Rey berjalan menuruni anak tangga sambil menggendong Vino. Meski sudah beranak satu, namun tidak mengurangi ketampanannya.
Kaos putih dengan celana chinos panjang membuat penampilan Rey terlihat seperti papa muda yang sangat tampan. Otot ditangannya yang membentuk tidak terlalu besar membuat kombinasi yang sangat pas dengan parasnya.
Axelin terperangah tidak percaya melihat pria yang berjalan menghampiri mereka.
Semua orang mengira bahwa Axelin telah jatuh hati pada pandangan pertama. Tapi tidak ada yang tahu dengan apa yang Axelin rasakan.
"Oh ya tuhan. Bukankah dia om-om yang waktu itu," batinnya dengan gugup mengingat ketika di supermarket.
"Hay, selamat om, Tante?" sapa Rey.
"Malam tuan Rey. Haha, senang bisa bertemu dengan anda," ucap papahnya Axelin.
Axelin masih terbengong-bengong tidak percaya.
"Malam Nona Axelin.?"
"Ah, malam Om. UPS!" Axelin langsung menutup mulutnya.
"Maksudnya saya, kak Rey," lanjutnya dengan gugup.
Semua orang tersenyum canggung melihat tingkah Axelin.
"Saya belum setua itu, nona." jawab Rey dengan tatapan dingin.
Kini Rey benar-benar terlihat seperti Tuan muda yang tegas. Tidak ada senyum ataupun keramahan.
"Maafkan saya, kak?"
"Em, Rey. Jangan terlalu dingin begitu geh. Kalian adalah calon suami istri."
"Aku menolak perjodohan ini," ucap Rey tanpa ragu.
"Loh! Apa maksudnya ini!?" tanya ibunya Axelin.
Sedangkan Axelin merasakan jantungnya sangat sakit mendengar penolakan Rey mentah-mentah.
"Berapa usia kamu?" tanya Rey dengan tatapan menghadap anaknya. Rey tak menatap siapapun selain anaknya.
"Saya baru 18tahun kak, bulan depan masuk 19tahun," jawab Axelina.
"Apa mama tidak bisa mencarikan aku jodoh yang lebih dewasa? Wanita yang dapat menjaga anakku!?"
"Emm, Tuan Rey. Putri kami Axelin lulusan pondok pesantren. Dia pasti sangat bisa menjadi istri yang Soleh dan ibu yang baik," ujar Ibunya Axelina mencoba merayu Rey.
"Hmm, lulusan pondok ya?" tanya Rey seolah-olah tidak perduli.
"Rey, sebaiknya kalian kenalan saja dulu. Tak kenal maka tak sayang. Begitulah kata pepatah," ujar Tuan Maher membuka suara.
"Ah, iya benar sekali sayang. Kamu keluar dulu ya sama Axelin. Kenalan dulu, biar vino sama mamah," ujar Mama Salamah merebut vino secara paksa.
Rey dalam hati tersenyum melihat wajah Axelin yang ketakutan. Entah apa yang Axelin takutin, tapi Rey merasa sangat puas.
Didalam mobil, Axelin dengan ragu mengatakan" Maafkan aku, kak?"
"Di maafkan."
"Apa kamu masih marah?"
"Berapa lama mondok!?" tanya Wisnu mengalihkan pembicaraan.
"Hanya beberapa bulan saja."
"Kenapa mau dijodohkan dengan om-om?"
"Perusahaan papa membutuhkan asupan dana." jawab Axelin terus terang.
__ADS_1
"Ouh, karena uang ya?"
"Ya begitulah."
"Kamukan seorang model. Pasti uang kamu banyak?" tanya Rey membuat Axelin gugup.
"Kakak tau dari mana jika saya adalah seorang model!?"
"Apa kamu pikir saya akan sembarangan memilih calon istri! Kamu adalah seorang model dewasa, pemabuk di usia kamu yang muda, perokok, sudah beberapa kali bergulat dengan hidung belang. Tidak cukupkah uang kamu untuk membantu keuangan ayah kamu!?" tanya Rey dengan blak-blakkan.
Hati Axelin terasa di cubit tanpa ampun. Masa lalu kelam ingin ia kubur. Namun, sepertinya jejak digital tidak akan pernah hilang.
"Jika anda menolak dijodohkan, saya tidak masalah. Mungkin saya akan kembali lagi kedunia itu demi ayah saya," ucap Axelin tanpa ragu. Axelin tak malu mengakui perjalanan hidupnya yang menyedihkan.
Rey menatap tajam kearah Axelin.
"Aku akan menjadi pendonor di perusahaan ayah kamu. Tapi kamu tidak perlu menikah denganku. Belajarlah, kuliah lah diluar negeri. Aku yang akan membiayai kuliah kamu," kata Rey dengan nada ketegasan.
Axelin terdiam dan terpaku. Sepertinya Axelin ingat sesuatu.
Wajah Rey terlihat sangat familiar jika di perhatikan lebih dekat.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu!"? tanya Rey merasa sangat risih.
"Paman Qodir! Kamukah itu!?" tanya Axelin merasa sangat terkejut. Ia merutuki dirinya sendiri karena tidak dapat mengenali Rey.
Axelin pernah mencabut kumis palsu Rey. Meski masih ada jenggot, namun Axelin kini dapat memastikan.
"Tidak ku percaya, daya tanggap kamu kurang bagus," ejek Rey.
Axelin yang merasa tidak percaya, hati senang menyelimuti jiwanya. Tanpa ragu, Axelin memeluk Rey yang sedang menyetir.
"Ahk! Kamu sedang apa, aku sedang menyetir!!" bentak Rey.
"Aaa paman Qodir, aku sangat merindukanmu!" ucap Axelin dengan gemas.
"What! Plis jangan panggil aku seperti itu lagi, oke!?"
"Aku benar-benar tidak percaya jika ternyata kamu adalah anak dari tuan Maherndra. Tapi, iiiiiiiihh, kenapa kamu bohong padaku! Aku benar-benar berfikir jika anak dari Maherndra ada pria si buruk rupa. Ah, jika aku tahu itu kamu paman Qodir, aku akan dengan suka rela berpartisipasi," ujar Axelin merasa sangat senang.
Namun Rey hanya menatap jalan tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
Axelin merasa salah tingkah sendiri.
"Apa aku telah berlebihan?"
"Maafkan aku, bukan aku bermaksud-..." lanjutnya terpotong.
"Aku yang meminta maaf, Axelin. Bukannya kamu tidak baik. Aku tahu kamu anak yang baik. Bukan juga tentang masa lalu kamu. Karena aku sendiri memiliki masa lalu yang kurang baik. Tapi ini soal komitment. Maaf, aku gak bisa menerima perjodohan ini," jelas Rey dengan berat hati.
Axelin terdiam. Sungguh ia sangat menyukai Qodir, yang ternyata dia adalah anak tuan Maherndra. Meski usianya jauh lebih tua. Tapi Axelin merasa sangat nyaman dengan kedewasaan Rey.
Suasana didalam mobil mulai canggung, Axelin tidak tahu lagi harus berkata apa. Akan sangat memalukan jika dia bertanya "mengapa" karena itu bukanlah haknya. Axelin menduga, jika Rey memiliki wanita lain dihatinya.
"Apakah Mora wanita kamu?" tanya Axelin tiba-tiba.
Mendengar itu. Rey tertawa terbahak bahak
"Hahahaha...hahahhaa...! Mana ada Mora kekasih aku. Ada ada saja," ucap Rey menggelengkan kepalanya.
"Tapi, waktu Mora berkata akan mengejar kamu. Disaat kamu keluar, Mora juga ikut keluar. Apakah kalian sudah memiliki hubungan?"
Rey masih menahan tawa dengan semua tuturan Axelin.
"Kamu tahu. ketika Mora tahu jika Qodir adalah aku, dia melemparkan sepatu tingginya tepat di keningku. Bahkan sampai harus dijahit,hahaha."
Axelin masih tidak mengerti.
"Mengapa?"
"Karena aku adalah kakak kandungnya," jawab Rey menahan tawa mengingat hal itu.
__ADS_1
"What !! Apa aku tidak salah dengar. Hahahaha, jadi selama ini dia memusuhi aku hanya karena untuk merebutkan kakaknya. Loe benar benar kebangetan." Axelin ikut tertawa mengetahui hal itu.
Melihat Axelin tertawa, membuat Rey senang.
"Jadi, sekarang kita mau kemana?" tanya Rey.
"Pulang saja yuk?"
"Gak mau makan?"
"Ngk deh. Hmm, aku sangat berterima kasih denganmu, kak. Aku janji akan belajar dengan sungguh-sungguh. Aku janji akan menjadi wanita yang lebih baik kedepannya."
"Terima kasih karena kamu sudah mau terima keputusan aku. Aku sudah menganggap kamu seperti adik aku sendiri," ucap Rey.
Entah mengapa hati Axelin merasa sangat sakit mendengar itu. Ia sangat berharap jika hubungannya bersama Qodir dapat sampai kejenjang yang serius.
Namun sepertinya takdir berkata lain.
..
Mobil Rey sudah terparkir didepan rumahnya. Ketika masuk rumah, Axelin sangat terkejut ketika mengetahui jika ustadzah Aya ada disana juga.
"Ustadzah, anda disini?" sapa Axelin yang tak dapat mencerna segalanya. Seketika, ia berfikir jika Rey telah menikahi guru yang sangat ia cintai.
"Assalamualaikum, Axelin. Alhamdulillah, kamu terlihat sangat cantik," puji Aya sambil menggendong bayinya.
"Alhamdulillah, ustazah. Semua ini berkat anda."
"Kalian sudah saling kenal?" tanya mama Salamah.
"Iya Tante. Ustazah Aya adalah guru saya di pondok."
"Ooow, jadi mbk ini adalah yang sudah menerima anak saya. Karena menggunakan cadar, saya jadi kurang faham. Maaf ya ustazah," kata ibunya Axelin.
"Ow, alhamdulillah jika begitu. Gak nyangka jika calon menantu saya ternyata sudah sangat dekat dengan putri saya."
"Loh, ustadzah Aya adalah putri Tante?"
"Iya Axelin. Aya ini adalah putri saya. "
"Semuanya. Ada yang aku jelaskan pada kalian," ucap Rey yang membuyarkan obrolan ringan semua orang.
..
Semua orang mendengar dengan seksama penjelasan dari Rey. Kedua orang tua Axelin tidak keberatan jika Rey menolak putri mereka, asalkan Rey menepati janji akan menjadi pendonor di perusahaannya.
Mereka juga sangat berterima kasih karena Rey mau menyekolahkan putrinya.
Setelah semua orang pulang. Tuan Maherndra menatap Rey dengan tajam.
"Apa maksudnya ini, Rey!?" bentak Tuan Maher.
"Aku tidak akan menikah dengan siapapun sebelum sahabatku bangun. Jika pun aku menikah. Aku memilih sendiri pasangan untuk menjadi ibu dari anakku!?" jawab Rey yang tak kalah geram.
Rey sudah mengatakan dari awal jika dirinya menolak untuk jodohkan. Namun Tuan Maher dan mama Salamah yang tidak tahu apa-apa tentang Axelin, tetap kekeh untuk mempertemukan mereka.
Mama Salamah dan Aya hanya bisa terdiam mendengar keributan antara bapak dan anak.
"Aya, kita masuk kekamar saja yuk. Kasihan Hanifah. Dia harus mendengar sesuatu yang baik, bukan malah mendengarkan kakek dan oomnya bertengkar," ucap Mama Salamah yang sebenernya berniat untuk kabur.
Aya hanya mengangguk.
Sebenarnya Aya ingin tinggal di apartemen. Namun mama Salamah menolak karena mengurus pertama tidak mudah. Apalagi tidak Wisnu.
....
Disis lain, dirumah Rey yang berada di komplek. Ayah dan adiknya dengan sibuk mendiamkan Jekli untuk diam. Kedua orang ini tidak ada yang berpengalaman mengasuh bayi.
"Ayah, bagaimana ini. Jekli tetap gak mau diam!" keluh Mora.
Namun Ayah Yonoto malah sibuk menatap ponselnya. Bukan untuk bersenang-senang, dia sedang mencari baby sister yang benar-benar ampuh mengasuh bayi.
__ADS_1