IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Mengetahui Kebenaran


__ADS_3

Malam ini, untuk pertama kalinya Rey dan Aya tidur bersama dalam satu ranjang. Canggug, jangan ditanya lagi. Karena tidak enak dengan Mama Salamah yang menginap, Rey terpaksa tidur dikamar bersama dengan istrinya.


Melihat kerikuhan, Rey. Aya menocba untuk beranjak dari rebahannya dan berniat untuk tidur di sofa.


"Mau kemana?" tanya Rey.


"Emm, aku pikir a'ak tidak nyaman jika kita tidur bersama," jawab Aya.


Rey sedikit berfikir.


"Tidak, tidurlah dengan benar. Mau bagaimana pun kamu juga adalah istriku. Aku tidak bisa tidur karena memikirkan banyak hal," jawab Rey.


Mendengar tuturan, Rey. Aya akhirnya kembali ke posisinya diawal.


"Ak, yang sabar ya. Semoga saja pelakunya segera tertangkap," ucap Aya mencoba memberi semangat.


"Aku hanya tidak mengerti. Siapa orang yang tega berbuat seperti itu kepadaku. Selama ini, aku merasa tidak memiliki musuh," ucap Rey curhat.


"Ak, terkadang dalam hidup, kita tidak sadar telah melakukan kesalahan kecil. Hal kecil menurut kita, namun mungkin bisa besar untuk orang lain. Coba a'ak ingat ingat kembali. Apakah a'ak pernah mengatai orang?" tanya Aya.


"Selama ini aku selalu sibuk dengan pelajaran dan usahaku. Temanku satu-satunya hanyalah Wisnu. Apakah mungkin Wisnu yang melakukan ini?" ucap Rey menduga-duga.


"Ah, tidak mungkin ak. A'ak Wisnu adalah pria yang baik. Dia tidak tega meski hanya membunuh seekor semut, apalagi meledakan bom dan meracuni tiga wanita bercadar itu," ucap Aya dengan yakin.


Mendengar jawaban Aya membuat Rey mengerutkan keningnya.


"Aya, bagaimana kamu bisa tahu tentang Wisnu?" tanya Rey mengintimidasi Aya sembari menatap tajam kearah, Aya.


Aya yang baru sadar telah keceplosan hanya bisa pasrah untuk menjelaskan semuanya.


"Emm, Ak. Tapi a'ak jangan marah ya. Sebenarnya, aku dan a'ak Wisnu adalah tetangga," jawab Aya sembari memejamkan matanya.


Rey ternganga tidak percaya. Dengan sekejap, Rey dapat menyimpulkan sesuatu.


"Apakah,,, apakah wanita yang dimaksud Wisnu adalah kamu!?" tanya Rey yang merasa jantungnya seperti dicubit.


"I...iya Ak," jawab Aya dengan suara berat.


Rey langsung beranjak dari kasurnya dan menjauhi Aya. Rey berdiri keatas balkon dan menatap bintang nan rembulan.


Tidak terasa air mata menetes begitu saja. Kali ini, Rey tidak tahu harus berkata apa.


"Hik,,hik,, bagaimana,,, bagaimana bisa seperti ini.. shhhhhttttttt,,," Rey menjambak rambutnya dengan kasar.


Wanita yang sangat dimuliakan oleh sahabatnya adalah istri yang telah ia sia-siakan.

__ADS_1


Wanita yang sangat dicintai sahabatnya adalah istri yang telah ia lukai hatinya.


Wanita yang sangat diharapkan sahabatnya adalah istri yang telah ia acuhkan.


Bagaimana bisa, bagaimana bisa Rey menyakiti Aya sedemikan rupa, sedangkan sahabatnya sekarang pasti sedang berduka karena mengetahui jika wanita yang dia dambakan telah Rey nikahi. Di tambah, Rey telah terang-terangan mengakui jika ia telah masa bodo dengan perasaan Aya yang telah ia madu.


Rey menangis sesenggukan meratapi kebodohannya.


"Seharusnya aku menyadarinya pada malam itu. Hik,,hik,, bodoh!! Bodoh!!" umpat Rey sembari memukulkan tangannya ke pembatas balkon.


Aya yang melihat kesedihan Rey mencoba untuk mendekatinya.


"Ak,,?" panggil Aya lirih.


"Kenapa Aya, kenapa kamu tidak mengatakannya pada saat itu?" tanya Rey dengan menundukkan kepalanya. Entah mengapa, entah mengapa kini ia sangat merasa bersalah kepada Aya.


"Disaat a'ak Wisnu diam dan tidak mengatakan yang sebenarnya. Aku mengerti jika ia ingin menyembunyikannya darimu ak."


"Hah, sekarang bagaimana. Mau diletakkan dimana muka aku dihadapan Wisnu, Aya !!! Bagaimana aku bisa menjelaskan ke dia. Kamu adalah wanita yang dia cintai, dan aku malah menyakiti hatimu sedemikan rupa. Aku, aku harus bagaimana, hik,,hik,,," tangis pilu Rey yang begitu sangat menyedihkan.


Aya tidak menyangka, jika Rey dapat menangis hanya karena sebuah persahabatan. Aya bisa menyimpulkan, betapa berartinya Wisnu didalam hidup Rey.


"Sudahlah, ak. Aku sangat yakin jika a'ak Wisnu dapat mengerti. Kita menikah karena sebuah perjodohan yang mendadak. Mengapa dia diam saja ketika a'ak menikah lagi, itu karena a'ak Wisnu sangat mengerti jika aku sangat menghargai pernikahan kita. Dia tidak ingin merusak rumah seseorang. Dan, yang pasti dia sangat percaya dengan a'ak, bahwa dapat menjadi suami yang baik untuk aku."


Mendengar tuturan Aya membuat Rey semakin dalam merutuki dirinya sendiri yang terlalu bodoh.


"Aya, maafkan aku. Sungguh maafkan aku. Jika memang kalian saling mencintai, aku rela melepaskanmu. Kamu dapat menikah dengan Wisnu, pria yang kamu cintai," ujar Rey. Namun entah mengapa, setelah mengatakan itu hati Rey terasa sangat berat. Ada sebuah ketidakrelaan jika Aya pergi dari sisinya.


Disisi lain, Aya yang mendengar ucapan Rey merasa tidak percaya. Bagaimana bisa Rey dengan mudahnya mengatakan hal itu.


Aya melepaskan pelukan suaminya. Aya menatap tidak percaya kewajah Rey. Air mata Aya mengalir tanpa permisi. Sungguh kata-kata Rey sangat menyakiti hatinya.


"Ak, aku berdiri disini karena aku sangat berhargai pernikahan kita. Mau seberapa besar kamu menyakiti aku, aku tidak akan mundur ak. Kamu adalah suamiku yang Allah takdirkan untuk menjadi imamku. Mau sebesar apapun cinta kami, tetapi jika Allah tidak mengizinkan aku dan ak Wisnu untuk bersama, maka itu tidak akan terjadi. Apakah a'ak masih tidak dapat mengerti!?"


"Bagaimana aku bisa mengerti, Aya !!! Kamu adalah wanita yang dicintai sahabatku. Bagaimana aku bisa menyentuh seorang wanita yang selama ini sahabatku idamkan!! Apa yang harus aku mengerti, Aya!! Apa kamu pikir semudah itu, dia bukan hanya sahabat bagiku. Dia sudah aku anggap seperti kakak bagiku, dia sudah seperti saudara bagiku. Bagaimana aku bisa,,, !!!" teriak Rey yang semakin frustasi.


Suara teriakan Rey memecahkan keheningan, membuat Mama Salamah dan Yunhi yang tidur bersama terbangun.


"Mama, apa yang sedang terjadi antara mbk Aya dan kak Rey?" tanya Yunhi.


"Mama juga tidak tahu. Ayo kita coba lihat," ucap Mama Salamah yang langsung beranjak dari tempat tidurnya.


Tok... Tok...


"Rey, Aya !!! Apa yang sedang terjadi, nak? Ada apa dengan kalian!?" panggil Mama Salamah terlihat sangat khawatir.

__ADS_1


Mendengar suara mamanya. Rey dan Aya mencoba untuk merilekskan ekspresi mereka.


"Ada mamah, ak. Apa yang harus kita katakan," ucap Aya yang merasa tidak enak.


"Apa suaraku tadi sangat keras,?" tanya Rey yang terlihat sangat bodoh saat ini.


"Iya, Ak ,,," jawab Aya dengan jujur.


Ceklek ...


"Iya, mah. Ada apa?" tanya Rey yang hanya mengeluarkan kepalanya.


"Apa yang terjadi sayang? Apa kalian sedang berkelahi!?" tanya mama Salamah sembari celinguk'an ingin melihat keadaan Aya.


"Ah tidak mah," jawab Rey.


"Lalu,?"


"Emm, punya Aya sangat sempit mah. Jadi Rey sangat kesal," jawab Rey dengan muka yang memerah.


Mendengar jawaban anaknya, tentu membuat Mama Salamah tersenyum mengejek kearah anaknya.


"Haha, sayang. Kamu harus sabar dan pelan-pelan, jangan terburu-buru. Ya sudah, mama mau lanjut tidur lagi. Kali ini mama akan menggunakan handset supaya- ..."


"Mah, ayolah. Jangan mengejek Rey," ucap Rey yang benar-benar seperti kepiting rebus.


Mama Salamah yang melihat wajah anaknya yang sangat menggemaskan, langsung kabur dan menggandeng Yunhi untuk segera pergi.


Sekilas, Yunhi terlihat memasangkan wajah sendu kearah Rey membuat Rey merasa bersalah kepada Yunhi. Tapi Rey tidak memiliki ide untuk mencari alasan lain, jadi terpaksa ia berkata demikian.


..


Aya yang sedang rebahan tidak tahan untuk tertawa.


Suara cekikikan Aya sampai ketelinga Rey.


"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Rey merasa sangat malu.


"Hehe, tidak ak. Ak, lebih baik kita lupakan semua ya. Aku adalah istri a'ak sekarang, dan selamanya akan begitu," ucap Aya dengan serius.


Rey berfikir sejenak.


"Baiklah, aku berjanji akan berusaha untuk menjadi suami yang adil untuk kalian," jawab Rey yang mencoba untuk membuktikan sesuatu kepada sahabatnya.


Rey ingin membuktikan, jika ia bisa menjaga Aya dengan baik. Namun, sebelum mendapatkan restu dari Wisnu secara langsung, Rey berjanji tidak akan menyentuh Aya.

__ADS_1


Aya tidak mempersalahkan niat dari suaminya. Aya mencoba untuk memaklumkan perasaan Rey saat ini. Kenyataan ini pastilah sangat berat untuk Rey.


__ADS_2