IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Drama rumah Utama


__ADS_3

Ketika rasa mulai ingin menangis karena putus asa. Tiba-tiba sorot mobil menyilaukan mata Aya.


Rey turun dari mobilnya dan menghampiri Aya yang sedang menutup mata karena silau.


"Aya, kenapa belum pulang dan malah berdiri disini?" tanya Rey.


Aya membuka matanya dan tersenyum sangat manis.


"A'ak! Syukurlah a'ak disini? Apakah a'ak mau menjemput aku?" tanya Aya merasa senang.


"Tidak!" jawab Rey.


Aya mengerutkan keningnya mendengar jawaban Rey.


"Aku pikir a'ak mau menjemput aku?"


"Aku kebetulan lewat mau pulang. Terus aku melihat kamu berdiri disini seperti orang bodoh. Jadi aku menepi!" jawab Rey dengan lancar.


Ckh! Aya berdecak kesal.


"A'ak mengatai aku bodoh!" tanya Aya dengan raut wajah gemas dimata Rey.


"Aku mengatakan seperti. Seperti bukan berarti iya kan?" jelas Rey.


"Ah, sudah lah! Itu loh ak, mobil aku bannya kempes. Mana 4 4-nya lagi!" gerutu Aya.


"Ya sudah cepat naik mobil. Hari sudah akan gelap. Adzan magrib sudah dari tadi berkumandang!" ucap Rey.


"Iya, Ak!" sahut Aya yang langsung naik kedalam mobil.


Karena Rey membawa supir. Jadi dia duduk bersandingan dengan Aya di kursi belakang.


"Ak, apakah kita akan terlambat?" tanya Aya merasa bersalah.


"Ini adalah acara aku! Acara tidak akan dimulai sebelum aku datang," jelas Rey sambil membuang muka kearah jendela.


Aya hanya mengangguk mengerti.


"Iya juga ya. Hehehe, syukurlah jika begitu," ucap Aya yang bernafas lega.


"Kenapa kamu bisa pulang terlambat?" tanya Rey.


"Tadi sempat ada masalah Ak," jawab Aya.


"Masalah apa?" tanya Rey yang mulai ingin Aya untuk menjelaskannya dengan jelas.


"Ak, apakah kamu dengan Axelin ada hubungan?" tanya Aya.


"Axelin!? Aku dan Axelin tidak ada hubungan apa-apa! Apakah dia membuat masalah denganmu?" tanya Rey.


"Ah, tidak Ak!" jawab Aya yang tak ingin menjelaskan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Aya menyimpulkan, jika sepertinya cinta Axelin bertepuk sebelah tangan.


"Jika dia membuat masalah. Katakan saja padaku!" ucap Rey dengan tegas tanpa menatap Aya.


Aya sekilas melirik Rey. Lalu dia bergumam,"Apakah A'ak Rey masih mencinta Kiana? Mengingat betapa terpuruknya dia pada saat Kiana pergi!" batin Aya menduga-duga.

__ADS_1


Rey semakin membuang mukanya ketika ia sadar Aya menatap dirinya.


"Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa dia sedang cemburu dengan Axelin?" batin Rey yang telah salah faham dengan arti tatapan Aya yang meliriknya.


Akhirnya mobil sampai kerumah utama. Nampak mama Salamah dan tuan Maher telah siap. Sedangkan anak-anak nampak melipat tangan mereka karena kesal menunggu umi mereka yang sangat terlambat.


"Assalamualaikum. Maaf anak-anak umi! Umi telah terlambat!" sapa Aya yang langsung menghampiri Hani dan Vino.


"Umi, mengapa umi bisa terlambat? Kami sudah menelepon umi tetapi umi tidak menjawabnya?" tanya Hani dengan kesal.


"Maaf sayang. Tadi ada kendala. Ban mobil umi kempes," jelas Aya merasa sangat bersalah.


"Sudah-sudah. Hani dan vino cepat pakai baju kalian. Aya dan Rey, cepat kalian shalat magrib dan bersiap. Kami akan duluan untuk menyambut tamu," ucap Tuan Maher.


"Baik, kakek! jawab anak-anak.


"Baik, pah!" jawab Aya dan Rey.


Mama Salamah hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Aya dan Rey dan juga anak- anak.


"Hmm, sangat senang jika mereka adalah satu keluarga," gumam Mama Salamah lirih, namun bisa dengar oleh Tuan Maher.


"Bukankah kita memang keluarga?" sahut tuan Maher.


"Huuusstt, jangan keras-keras papah! Hmm, kita memang satu keluarga. Tetapi, apa tidak lebih baik jika Aya dan Rey bersatu demi anak-anak. Meski kita sudah menganggap Aya anak kita. Tetapi sejatinya dia adalah mantan istri Rey, pah! Apa kata orang jika demi anak-anak mereka selalu berjalan bersamaan tetapi tidak ada ikatan. Mama selalu di beri masukan oleh teman-temannya mamah supaya kita menjodohkan lagi Rey dan Aya. Semua demi anak-anak, pah!" jelas Mama Salamah.


Tuan Maher menghela nafas berat. Sambil mengenakan sabuk pengaman didalam mobil. Tuan Maher berfikir.


"Mah, kita harus belajar dari masa lalu. Jika memang ingin menyatukan mereka. Kita harus sabar dan bicarakan ini baik-baik. Kita tahu apa yang sedang Aya rasakan saat ini. Dia telah kehilangan suami yang sangat ia cintai. Meski papah sangat tahu, bahwa anak kita Rey, ia masih sangat mencintai Aya."


"Hanya filing papa saja, mah!" jelas Tuan Maher.


Mama Salamah hanya terdiam dan tersenyum samar-samar.


"Jika benar Rey masih mencintai Aya. Ah, aku akan membantu anakku untuk bersatu dengan Aya," batin Mama Salamah merasa sangat senang.


...


Beberapa menit. Aya dan Rey telah siap. Mereka berjalan menuju kamar anak-anak.


Tatapan mereka saling bertemu. Entah apa yang ada dibenak Aya. Sedangkan Rey, dia sangat jelas mengagumi Aya yang terlihat sangat senada dengan dirinya.


"A'ak! Tuh kan, jika dikecilkan sedikit, bajunya sangat pas!" ucap Aya merasa sangat puas dengan karyanya sendiri.


"Terima kasih Aya. Kamu juga sangat cantik," ucap Rey.


Aya adalah wanita pada umumnya. Jika dipuji, pasti akan merasa sesuatu yang dalam dirinya. Senang, mungkin itu yang Aya rasakan.


"Umiii...! Ini bagaimana!?" teriak Hani dari dalam kamar.


"Daddy, bukankah bagusnya begini!" teriak Vino juga.


Aya dan Rey langsung masuk kedalam kamar. ketika Aya akan membuka pintu, tidak sengaja Rey juga reflek akan membuka pintu. Dua tangan kini saling timpah tindih.


"Ah, maaf Aya!" ucap Rey yang langsung menarik tangannya.

__ADS_1


Aya tak menjawab apapun. Ia hanya merasa sangat canggung saat ini.


"Hani, ada apa sayang?" tanya Aya.


"Umi, ini jilbabnya mau di gimanakan?" tanya Hani.


Aya tersenyum dan membantu anaknya untuk membenarkan hijab putrinya. Karena masih anak-anak, Aya mencoba untuk melilitkan hijabnya di leher Hani supaya terlihat rapi. Finis, Aya juga meletakan mahkota di kepala Hani.


"Ah, anak umi sangat cantik seperti putri!" ucap Aya merasa puas.


"Terima kasih banyak, umi!" ucap Hani yang juga merasa puas dengan dirinya sendiri.


"Dad, rambut aku di biarkan begini saja ya?" tanya vino dengan rambut belah tengahnya ala-ala Korea.


Rey tersenyum dan mendekati Vino.


"Kita harus terlihat formal sayang!" ucap Rey yang langsung mengambil minyak rambut untuk anak-anak dan membenarkan rambut Vino supaya terlihat rapih.


Vino hanya pasrah meski dia tidak suka.


Setelah selesai. Anak-anak memutuskan untuk keluar dan mereka berniat untuk Selfi.


Aya melihat dasi Rey kurang benar. Ketika Aya ingin memberi tahu Rey, tiba-tiba Rey mengambil ponselnya yang bergetar.


" Aya, duluan. Aku angkat telfon sebentar!" ucap Rey.


Tetapi entah mengapa, Aya masih enggan untuk keluar kamar duluan. Ia memutuskan untuk berdiri dibelakang Rey menunggunya untuk memberi tahu jika dasinya melenceng.


Anak-anak masih asyik berselfi didepan kamar mereka yang pintunya masih terbuka.


Rey yang merasa jika dirinya adalah orang terakhir dikamar. Langsung berputar balik untuk menyusul yang lain. Tetapi tanpa diduga. Rey tidak tahu jika Aya ternyata berdiri di belakangnya. Alhasil, Rey kehilangan keseimbangan dan terjatuh menimpa Aya yang terjatuh di atas kasur Vino.


Kejadiannya sangat cepat sehingga Aya tak dapat menghindar.


Jantung Aya dan Rey sama-sama berdetak sangat kuat. Ketika kecupan yang tidak sengaja mereka lakukan.


Dengan gugup, Rey langsung berdiri.


"Maafkan aku, Aya! Maaf! Sungguh aku aku tidak tahu jika, jika kamu ada dibelakang aku. Bukankah aku sudah menyuruh kamu untuk duluan!?" ucap Rey yang terlihat sangat gugup sambil membenarkan dasi dan jasnya.


Sedangkan Aya bangkit dan diam. Aya tak mengatakan apa-apa lalu keluar begitu saja meninggalkan Rey sendiri.


Rey decak merutuki dirinya sendiri.


"Anak-anak, kalian masih disini. Ayo kita masuk kedalam mobil," ucap Aya yang langsung menggandeng Hani.


Sedangkan Vino. Dia menyebarkan foto hasil jepretan selfinya dengan Hani ke media sosialnya. Tanpa Vino sadari, ternyata disalah satu foto mereka ada gambar dimana kedua orang tua mereka sedang timpah tindih diatas kasur. Bahkan, di foto sangat jelas jika mereka sedang berci*man. Tanpa vino pilih-pilih, dia langsung mengapload hasil jepretannya dengan Hani.


Sepertinya, jika orang melihat, mereka akan langsung salah faham jika Aya dan Rey sedang melakukan perbuatan mes*m bersama.


Setelah mengapload fotonya. Vino memanggil Rey yang berdiri diam didalam kamarnya yang tidak tertutup.


"Dad! Daddy sudah belum telfonannya?" tanya Vino membuyarkan lamunan Rey.


"Ah, iya sayang sudah. Ayo kita berangkat! Maaf kalian menunggu lama," ucap Rey yang langsung menggandeng tangan Vino.

__ADS_1


__ADS_2