IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Puncak Ketegangan.


__ADS_3

Suana semakin menegang. Tidak ada yang berani berkutik, bahkan para tentara masih setia menunggu aba-aba dari komandan mereka.


Aya hanya bisa melirik kan matanya untuk mencari seseorang.


Seorang wanita gila, ditengah-tengah kerumunan terus memperhatikan Aya. Dia adalah Kiana Yun, yang selama menyamar menjadi Yunhi Kia.


Kiana terus memperhatikan gerak-gerik Aya. Aya sendiri belum menyadari jika dirinya telah diperhatikan oleh Kiana yang menyamar menjadi orang gila.


Aya hanya bisa berdiri mematung. Seorang kapten mulai mengajak Aya untuk berbicara.


"Saudari, apakah anda bernama Aya Humaira?" tanya seorang kapten.


"Benar!!" jawab suara misterius itu. Namun berasal dari arah Aya. Membuat orang orang mengira jika yang menjawab adalah Aya.


"Saudari Aya. Apa yang ingin anda katakan, katakan pada kami. Dimohon untuk tidak bertindak gegabah. Jika ini masalah keluarga, kita bisa bicarakan ini secara kekeluargaan."


"HAHAHAHA .....!!! suara tawa itu membuat semua orang berteriak ketakutan.


Disisi lain, Rey dan Wisnu masih berdiri dibelakang panggung. Mereka memperhatikan Aya dari jauh. Ketika ketawa, seharusnya pundak ataupun mata Aya akan bergerak. Namun, Rey dan Wisnu hanya melihat semuanya datar.


"Rey, sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Aya. Kamu lihat dari matanya kan?" tanya Wisnu yang seolah-olah mengerti arti dari tatapan keputusan asa'an Aya.


"Loe benar wis. Apa sebenarnya yang terjadi. Wisnu, kita harus mendekati dia dan berbicara," jawab Rey yang terlihat ikut cemas.


..


Aya masih mematung dan membiarkan orang dibalik layar bermain sesuka hati mereka.


Orang itu akhirnya membuka suara tentang masa kelam dimasa lalu. Bagaimana rumah sakit itu berdiri diatas penderitaan yang mereka alami.


"Rumah sakit yang telah menolong banyak nyawa ini, berdiri diatas penderitaan saya dan keluarga saya pada saat itu. Nenek saya mati dan dikubur dibawah rumah sakit ini. Rumah sakit yang megah ini adalah saksi bisu dari penderitaan saya dan keluarga saya. Orang kaya selalu dipuja, dan orang miskin selalu diinjak injak !! Saya.. datang kesini ingin merebut apa yang telah direbut oleh orang orang kaya itu. Mereka semua telah mengambil nyawa nenek saya secara tragis!! Mereka telah menodai ibu saya dan menyiksa Ayah dan paman saya secara bruntal !! Sekarang, saya datang untuk menyapa orang-orang kaya yang sangat saya hormati. Siapapun nama yang saya panggil, cepat masuk kedalam rumah sakit. Jika tidak menurut, maka saya akan langsung meledakan bom ini !!" ancam suara misterius.


Disisi lain, Rey dan Wisnu benar-benar merasa sangat curiga. Suara itu penuh dengan emosi, namun Aya sama sekali tidak menunjukan aura emosinya disana.


Rey dan Wisnu diam-diam mencoba untuk keluar dari balik panggung supaya Aya dapat melihat mereka. Benar saja, ketika Rey dan Wisnu berlari kearah pohon semak-semak yang dipotong dengan rapi, disana mata Aya langsung berbinar-binar. Aya sangat senang akhirnya matanya bisa melihat orang dia cari.


Disisi lain, suara mulai menyebutkan beberapa nama orang-orang yang terlibat dalam pembangunan rumah sakit itu.


Aya menatap Wisnu dan juga Rey. Aya mencoba berkomunikasi dengan mereka melalui ekspresi matanya.


Tapi, karena ekspresi mata Aya terlalu datar, Wisnu dan Rey tidak dapat menyimpulkan apa yang Aya maksud.


Tidak kehilangan akal. Aya akhirnya menggunakan jarinya untuk memberitahu Wisnu. Kemampuan ini dimiliki oleh Aya dan Wisnu. Ketika mereka masih kecil, mereka sering memainkan bahasa syarat menggunakan jari.


Jari Aya menunjukan makna. " Mobil hitam arah jarum jam 3 barat." Begitulah arti dari jari-jari Aya.


Ketika selesai memberi kode. Suara itu akhirnya menyebutkan nama Tuan Maherndra. Total ada 6 anggota orang kaya yang terlibat dalam pembangunan itu.


Tidak ada pilihan, semua nama yang dipanggil harus mengikuti arahan suara. Bahkan Aya juga harus mengikuti arahan suara untuk segera masuk kedalam rumah sakit.


Wisnu yang mengerti, langsung berlari meninggalkan Rey. "Rey, aku sudah paham. Aku akan mengajak Paman Tri, kamu disini dan terus pantau Aya. Jangan sampai dia kenapa napa," ujar Wisnu panik. Dia langsung meninggalkan Rey yang bingung karena Rey tidak tahu arti dari kode Aya.


Wisnu tidak gegabah. Dia mencoba berjalan santai supaya musuh tidak menyadari jika mereka telah terkonfirmasi oleh Wisnu.

__ADS_1


Didalam rumah sakit. Suara itu mengarahkan supaya rumah ini dikosongkan sekarang juga. Semua orang benar-benar tidak dapat berkutik. Karena, suara itu juga telah memberi tahu jika bom tidak hanya ada ditubuhnya. Tapi juga di seluruh rumah sakit. Entah itu benar atau tidak, tapi semua orang kini sangat ketakutan.


Dibantu beberapa tentara. Semua orang dievakuasi keluar. Bahkan ibu-ibu yang akan melahirkan terpaksa harus didorong keluar supaya tetap selamat, lebih baik melahirkan diluar dari pada didalam rumah sakit yang sebentar lagi akan roboh.


Semua orang kaya hanya bisa menggetarkan kaki mereka termasuk Tuan Maherndra. Mereka berdiri disamping istri-istri mereka. Suara itu memang meminta mereka untuk membawa istri-istri mereka.


Aya menatap tidak percaya. Karena ternyata Kiana telah ingkar. Dia berjanji tidak akan membawa mertuanya, tapi sekarang. Aya hanya bisa menatap kelu melihat mertuanya yang terlihat begitu menyedihkan.


..


Disisi lain. Wisnu dan Paman Tri diam-diam keluar dari lingkungan rumah sakit untuk mencari sesuatu.


"Pak, kearah sana," ujar Wisnu yang langsung berlari ketika melihat mobil hitam yang dimaksud oleh Aya.


Akhirnya, Wisnu dan Paman Tri dapat meringkus mobil boks hitam itu dengan keahlian mereka.


Didalam mobil hanya ada dua orang hacker yang sedang memantau Aya.


Disisi lain, Kiana yang merasa koneksinya terputus dengan anak buahnya, langsung meremas kuat tangannya dan menghidupkan Bom yang ada ditubuh Aya. Bom itu hanya berdurasi 3 menit membuat semua orang yang mendengar suara perdetikan itu berlari kocar-kacir. Tentara tidak dapat melumpuhkan Aya karena terlalu padat pasien yang harus dievakuasi.


Aya yang mendapatkan perintah dari Kiana tidak dapat berkutik. Dia ingin sekali lari dan menjauhi semua orang. Tapi dia tidak bisa, karena dibawah ancam Kiana.


Rey yang melihat keadaan tidak terkendali langsung berlari kearah Aya. Aya sangat kaget melihat suaminya malah mendekati dirinya. Sambil menangis hiteris, Aya meminta Rey untuk pergi.


" Aaaaak,, a'ak ngapain disini hik...hik... Lari aaaak, bom ini mau meledak !!!" teriak Aya.


Namun Rey tidak bergeming. 2 menit tersisa, Rey mencoba untuk melepaskan bom itu dari tubuh Aya.


Menggunakan gunting yang seharusnya dia gunakan untuk memotong pita, akhirnya bom yang melekat pada tubuh Aya bisa segera dilepas.


Tertinggal 1 menit lagi.


Rey langsung berlari keluar kearah lapangan berniat untuk membuang bom itu supaya meledak ditempat yang terbuka.


Semua orang yang melihat Rey membawa bom serempak untuk memberikan jalan.


Sampai akhirnya..


BGHOOOOOOMMMMMMM !!!!!!


Semua orang berteriak histeris,


"AAAAAAAHHHHHHKKKKKK !!!!!!!" bertahan sampai beberapa menit.


Terdengar suara seorang ibu memanggil anaknya.


"Reeeeeyyy !!!!! Naaaaaakkkk... Hik... Hik... !!!!!" teriak mama Salamah.


Bom itu meledak dan Rey tidak muncul. Membuat hati siapapun bergetar hebat melihat kejadian itu.


"Aaaaaaaaaaakkkkkkk !!!!!" teriak Aya terdengar sangat memilukan.


Beberapa tentara langsung berlari untuk meringkus Aya. Tapi, belum Aya dipegang oleh tentara. Sebuah peluru menancap di pundak bagian kanan.

__ADS_1


Doooor !!!" Suara tembakan itu membuat semua orang menutup telinga mereka.


Aya yang mengeluarkan banyak darah, tidak dapat menahan kesadarannya dan akhirnya ia terkulai tak berdaya.


Rey yang baru keluar dari selokan menggeram dengan amarah yang memuncak.


"Wooooooyyyy !!!!!!" teriak Rey membuat semua mata mengarah padanya. Mama Salamah dan tuan Maher tersenyum senang karena akhirnya anaknya selamat dan baik-baik saja.


Tanpa memperdulikan ibunya yang ingin memeluknya. Rey langsung menuju ke beberapa tentara yang berada didekat Aya.


Rey langsung menunju tentara tentara itu dengan membabi buta. Rey mengira tentara itu telah menembak istrinya.


Wisnu dan Paman Tri yang melihat Aya yang tak berdaya langsung mencoba untuk membantu.


Sedangkan Wisnu tidak memikirkan apapun. Dia langsung membopong Aya untuk dibawa keruang operasi.


"Rey !! Cepat bawa dokter !!!" teriak Wisnu menyadarkan Rey.


Rey melihat Wisnu telah membopong Aya, langsung berlari ke kerumunan untuk mencari seorang dokter.


"Woy !! Kenapa kalian diam saja !! Apa kalian tidak melihat istri saya telah tertembak !!!" teriak Rey.


Namun, semua orang hanya diam tidak mengerti. Aya adalah teror*s, mengapa mereka harus menyelamatkan Aya.


"Kenapa kalian masih diam !!!! Cepat tolong istri saya !!!" bentak Rey yang tidak memiliki waktu untuk menjelaskan.


Setelah Paman Tri mengamankan beberapa anak buahnya. Dia menghampiri beberapa dokter.


"Jika kalian tidak mau mengobati dia. Maka kalian akan dipenjara. Kami membutuhkan dia selamat untuk diinterogasi," jelas Paman Tri membuat beberapa Dokter langsung mengerti.


Rey tidak percaya.


"Paman, apakah aku harus menjelaskannya, supaya mereka mau melaksanakan perintah aku!? Aku akan memberi mereka uang pensiun setelah ini," gumam Rey geram.


"Rey, belajarlah untuk tenang," jawab Paman Tri.


Mama Salamah dan tuan Maher mendekat kearah Rey.


Tanpa permisi, mama Salamah langsung menampar anaknya.


"Apa kamu masih menganggap dia istri kamu !!!?" tanya mama Salamah dengan geram.


"Kak, kami bisa jelaskan semua nanti. Tenagkanlah diri kakak. Sebaiknya semuanya harus dibubarkan sekarang juga," ucap Paman Tri yang langsung pergi untuk kembali memantau keadaan.


Sedangkan Rey, tanpa menjawab ibunya langsung pergi untuk menemui Wisnu.


Disaat akan mendekati sahabatnya yang sedang tertunduk didepan ruang operasi. Tiba-tiba Rey mendapatkan telfon.


Ketika mendapatkan kabar jika Yunhi telah mengalami kecelakaan dan sekarang kritis, tanpa pikir panjang Rey langsung meninggalkan Wisnu yang sedang menunggu Aya dioperasi.


Setelah terkonfirmasi jika rumah sakit aman dari Bom. Semua para pasien yang sudah keluar akhirnya mau untuk kembali masuk kedalam rumah sakit. Untuk berjaga-jaga, beberapa tentara masih siap siaga untuk menjaga rumah sakit itu.


Sedangkan Tuan Maher dan beberapa rekan kerjanya langsung mengadakan rapat untuk membahas tentang kejadian 20 tahun yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2