IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Pondok sederhana


__ADS_3

Pagi ini sedikit mendung. Cuaca yang syahdu membekukan hati seorang istri yang bersiap akan mengasingkan diri dari suaminya.


"Aya, jaga diri baik-baik. Jika terjadi apa-apa, segara hubungi kami ya?" ucap Abah.


"Iya Aya, kami sangat berharap jika kamu dapat menenangkan diri dan mengambil keputusan yang tepat. Kami akan terima semua keputusan kamu kelak," ujar si ibu.


"Aya, Bibik sungguh sangat menyayangi kamu. Pulanglah jika memang kamu ingin pulang. Kami akan menerima kamu dengan tangan terbuka," ucap Bik Neneng.


"Iya Aya, kami sangat menyayangi kamu. Jaga diri baik-baik ya. Insyaallah kami juga akan sering-sering berkunjung jika ada waktu," lanjut si paman.


Aya hanya diam dan air mata adalah jawaban dari semua ucapan dari orang yang menyayanginya. Sungguh ini sangat berat baginya, namun ia harus melakukannya.


Seorang bapak datang kearah Aya.


"Nak, sungguh maafkan putri saya. Semua ini adalah salah saya sebagai orang tua yang tidak dapat menjaganya dengan baik," ucap Paman Yonoto.


"Paman, ini bukan lagi tentang soal teh Mora. Ini tentang aku dan a'ak Wisnu. Rumah tangga harusnya di landasi oleh kejujuran, dan a'ak Wisnu telah jauh membohongi saya. Ini bukanlah hal mudah, tapi saya sedang mencoba memperbaiki diri saya," ucap si Aya.


"Kamu anak yang baik Aya. Semoga tuhan memberi kamu ketegaran dan ketabahan yang lebih," ucap Paman Yonoto.


"Amiin.."


"Aya, saya akan ikut denganmu," ucap Mora.


Aya langsung menoleh ke arah Mora ketika mendengar itu. Sungguh Aya tidak tahu soal Mora yang ingin ikut dengannya.


"Mengapa?" tanya Mora.


"Jika kamu tidak dapat melihat suamimu, maka aku juga. Selain itu, aku juga ingin bertobat dan mengikuti jejak kamu. Bukan untuk menjadi seorang bidadari seperti kamu, aku hanya ingin membenahi diri yang selama ini telah jauh dari ajaran-Nya," ucap Mora.


Aya terdiam. Semua itu adalah hak Mora jika ia ingin bertobat. Namun, bersama dengan dia "Apakah aku dapat berteman baik dengannya"


Aya mengambil nafas dalam-dalam.


"Semua adalah hak kamu. Aku tidak dapat menghalangi seseorang yang ingin bertobat," ucap Aya.


"Terima kasih Aya?"


"Untuk apa?"


"Karena kamu mengizinkan aku ikut dengan kamu."

__ADS_1


"Bukankah sudah aku katakan. Semua itu adalah hak kamu. Aku sama sekali tidak memiliki hak untuk menghalangi kamu yang ingin menuntut ilmu dan memperbaiki diri."


Mora hanya tertunduk malu. Sungguh ia sangat malu karena telah melukai wanita sebaik Aya "jika waktu dapat diputar. Sungguh aku tak ingin membuat rumah tangga sahabatku Wisnu hancur karena aku. Namun nasi telah menjadi sampah serampah. Aku akan berusaha untuk memulihkan hubungan Wisnu dan Aya"


"Aya, bolehkah aku mengunjungi kamu sesekali?" tanya Wisnu yang sedari tadi hanya diam mendudukkan kepalanya.


"Maaf Ak, keputusan aku sudah bulat. Tunggu sampai aku melahirkan. Setelah aku melahirkan, baru aku akan memberikan keputusan aku," tegas Aya.


Kini, Wisnu hanya dapat meneteskan air melihat istrinya pergi.


Aya di antar oleh mama Salamah.


Sedangkan Mora dan paman Yonoto berada didalam mobil Rey.


Mereka sengaja untuk satu mobil untuk membicarakan soal hubungan kekeluargaan mereka. Rey ingin tahu banyak cerita tentang keluarganya yang selama ini tidak ia ketahui.


..


Bak anak kecil, kini Wisnu berlari kedalam kamarnya sembari sesegukan. Sakit sangat ia rasakan. Tak perlu Aya menghukumnya seperti ini. Aya mengetahui kebohongannya saja rasanya ia ingin mati. Namun apa mau dikata. Kini ia harus menelan kepahitan yang ia tanam.


***


Singkat cerita, kini mereka telah sampai di sebuah pesantren sederhana yang jauh dari perkotaan. Aya sengaja mengambil pesantren ini supaya ia bisa lebih menyatu dengan alam dan kesederhanaan.


"Insyaallah mah. Terima kasih atas perhatian mama selama ini. Semoga Aya dapat mengambil keputusan yang tepat untuk kedepannya."


"Iya sayang. Apapun keputusan kamu, mama akan selalu mendukungmu. Semangat putri mama !!"


"Semangat, hehee," sahut Aya yang mulai bisa tersenyum.


"Nah, begitu dong tersenyum. Jangan terlalu sedih, kasihan anak kamu. Kamu harus tenang supaya janin kamu berkembang dengan baik, ya?"


"Siap mama. Ya sudah, Aya masuk dulu ya?" ucap Aya.


"Iya sayang."


Ketika Aya sudah memasuki pondok terpencil, mobil Rey baru sampai.


Rey berpesan pada Mora.


"Mora, aku harap kamu benar-benar dapat belajar dari kesalahan. Perbaiki diri dan jangan bikin ulah," ucap Rey.

__ADS_1


"Iya Rey aku mengerti. Oya, aku titip ayah ya?"


"Pasti, kamu tenang saja. Ayah akan ikut dengan aku," jawab Rey.


"Terima kasih Rey. Ayah, jaga diri baik-baik ya. Mora akan belajar memperbaiki diri. Semoga Aya dapat memaafkan aku."


"Iya nak. Ayah sangat bangga denganmu. Mengakui kesalahan dan mau bertanggung jawab."


"Iya ayah. Mora akan sekuat tenaga membujuk Aya supaya dia mau menerima Wisnu kembali," ucap Mora.


"Jika Aya tidak jangan di paksa," cetus Rey tidak sadar membuat Mora menoleh.


"Apa maksud kamu Rey!?" tanya Mora terkejut. Mora masih belum mengetahui jika Aya adalah mantan istri saudaranya.


"Ah, tidak papa. Lupakan," sahut Rey gugup.


..


Singkat cerita, kini mama Salamah duduk kursi depan bersama dengan Rey. Karena lelah, mama Salamah meminta Paman Yonoto untuk membawa mobilnya.


Rey meminta ayahnya untuk menepati rumahnya yang ada di kompleks. Beruntung rumah itu belum laku sehingga dapat Rey berikan untuk ayahnya. Sedangkan Rey sendiri memutuskan untuk tetap tinggal dirumah utama.


..


Dirumah utama, tuan Maher sudah menunggu kepulangan Rey dan mama Salamah. Tuan Maher sudah tahu sedikit tentang keadaan Aya dan juga Rey yang sudah menemukan keluarganya.


"Mah, bagaimana dengan Aya?" tanya Tuan Maher.


"Mama sangat tidak tega melihatnya, Pah. Kini Aya mengasingkan dirinya sendiri kesebuah pondok pesantren. Mana pondoknya sangat terpencil. Mama sudah menawarinya pondok yang bagus, modern, dan juga berkelas namun Aya menolak," ucap Mama Salamah.


"Yah, untuk menenangkan diri memang enaknya di pondok yang klasik yang menyatu dengan alam dan lebih bermasyarakat," jawab tuan Maher.


"Tapi bagaimana jika tidur mereka tidak nyenyak. Bagaimana jika makanan yang mereka asup kurang untuk perkembangan janin mereka. Katanya di pondok sederhana hanya menggunakan kasur lantai, makanannya juga hanya seadanya," sahut Rey.


"Insyaallah, jika mereka ikhlas, mereka akan betah. Biasanya doa-doa yang ustad berikan untuk santrinya akan membawa keberkahan tersendiri."


Rey terdiam dan berfikir.


Tetap saja akan tidak nyaman tidur dibawah. Rey membayangkan dirinya tidur tanpa AC saja pasti tidak akan nyenyak, apalagi tidur ngampar dibawah. "Mau mengirim kasur busa juga tidak boleh. hmmm,, malang sekali nasib Aya dan Mora," gumam Rey.


Kini, Rey sudah menganggap Aya dan Mora sama-sama adiknya. Rey juga berharap, jika Aya yang sudah ia anggap adiknya dapat kembali kepada sahabatnya Wisnu.

__ADS_1


Rey sadar.


Melihat hancurnya Wisnu, hatinya pun ikut hancur. Cinta di antara Wisnu dan Aya sangatlah besar. Rey dapat menyimpulkan ini karena, sikap Aya yang tidak ingin langsung meminta berpisah dari Wisnu.


__ADS_2