
Extra Part Rey dan Aya
Sebuah kamar biasa tiba-tiba menjelma menjadi kamar yang sangat indah nan menakjubkan. Gerak jari mencoba untuk memegang pipi yang memerah merona.
Sudah sejak lama. Pada akhirnya, kini Aya kembali kepada tulang rusuknya yang pertama.
Ini adalah malam pengantin yang tidak pernah Aya bayangkan sebelumnya. Malam pengantin bersama dengan mantan suaminya sendiri.
Sebuah pandangan tertunduk karena malu. Aya benar-benar masih tidak dapat percaya bahwa nyatanya kini ia telah menyandang status istri Rey Maher lagi.
"Aya, maafkan aku?" ucap Rey sambil menundukkan kepalanya.
Mendengar apa yang Rey katakan membuat Aya terkejut. Ia lalu menaikkan pandangan dan menatap Rey yang tertunduk seperti merasa sangat bersalah.
"Ak, maaf untuk apa? A'ak tidak salah apa-apa!" jawab Aya yang memegang kedua tangan Rey untuk menguatkannya.
Rey benar-benar rapuh dan tak berdaya sampai ia meneteskan air mata.
Aya yang faham bagaimana perasaan Rey saat ini. Mencoba untuk mengelap air mata Rey dengan kedua tangannya sendiri.
Aya tersenyum dan berinisiatif untuk memeluk suaminya.
Tetapi, semakin Aya memaksakan dirinya, semakin tidak kuat juga untuk dirinya. Pada akhirnya, dua insan kini malah saling menangis dimalam pengantin mereka.
..
Meski Rey sangat mencintai Aya. Tetapi bahkan dia tidak bisa menyentuh istrinya sendiri yang sudah sah secara agama dan hukum. Semua ini karena, rasa bersalah mereka kepada Wisnu.
Bayang-bayang Wisnu masih sangat melekat pada diri mereka. Mereka akhirnya terjebak dalam belenggu yang seharusnya tidak mereka fikirkan.
Seharusnya, mereka cukup bertakwa dan mengikhlaskan yang mati dan cukup mengirimkan doa untuknya. Tetapi, nyatanya kedua insan ini masih sangat menghargai Wisnu dengan begitu dalam sampai mereka rasanya tidak sanggup untuk berhubungan intim layaknya suami dan istri.
"Aya, aku tidak papa. Kita tidak perlu melakukan itu," ucap Rey yang masih membalas pelukan Aya.
"Tapi ak! Semua itu adalah kewajiban aku," sahut Aya yang masih berada dalam belenggu bimbang.
"Aku ikhlas Aya. Sungguh, aku tidak papa jika kita tidak melakukan itu. Aku janji, aku tidak akan pernah memintanya," ucap Rey.
Mendengar itu, Aya tambah tidak karuan merasakan perasaannya yang kacau.
Ini tidak bisa didiamkan. Hal semacam ini harus dicari jalan keluarnya. Aya merasa, dirinya tidak bisa terus-menurus berada dalam belenggu sebuah bayangan terhadap mantan suaminya yang telah tiada.
__ADS_1
"A'ak, bagaimana jika kita besok pergi ke makam a'ak Wisnu. Kita harus meminta maaf padanya dan meminta restunya. Mungkin, dengan cara itu kita dalam menjalani rumah tangga kita dengan semestinya," ucap Aya dengan lembut membuat Rey sangat haru dibuatnya.
Rey tidak percaya jika Aya berinisiatif untuk membangun sebuah hubungan yang layak untuk rumah tangga mereka. Meski Rey tidak mengharapkan banyak tentang hubungan untuk intim dirumah tangganya. Tetapi, siapa yang tahu kedepannya karena dia adalah lelaki normal.
"Terimakasih banyak, Aya. Terima kasih banyak karena kamu sudah sudi menerima aku sebagai suamimu lahir dan batin," ucap Rey yang semakin mengeratkan pelukannya sampai membuat Aya tidak bisa bernafas.
"Aaahh.. A'ak! Aku tidak bisa bernafas!" pekik Aya.
"Oh, maaf Aya. Maafkan aku! Sungguh, aku tidak sengaja. Aku tadi hanya sedang bersemangat!" ucap Rey yang merasa bersalah.
Aya hanya tersenyum. Demi anak-anak, dia akan melakukan apapun termasuk menikah lagi dengan mantan suaminya.
Meski Aya sendiri mengakui jika dirinya juga mencintai Rey. Tetapi Aya tidak pernah terfikirkan untuk menikah lagi.
Malam ini terasa sangat panjang bagi Rey dan Aya. Mereka sama-sama sangat kesulitan untuk memejamkan mata mereka.
Jam menunjukan 2 dini hari, tetapi kedua insan itu hanya memejamkan dengan risau. Mereka tidak benar-benar tertidur.
Karena Aya mulai jengah, akhirnya dia coba bangkit dan melakukan sholat Sunnah tahajud.
"Aya, mau kemana?" tanya Rey menegur Aya membuat Aya terkejut.
"A'ak tidak tidur?" tanya Aya.
"Emm, aku ingin sholat Sunnah saja. A'ak mau ikut?" tanya Aya.
"Boleh!" sahut Rey antusias.
Aya tersenyum dan menggandeng tangan Rey untuk sama-sama mengambil air wudhu.
Malam itu, akhirnya mereka habiskan untuk sholat Sunnah bersama. 12 rakaat dan satu witir. Di lanjut dengan 1000 wiritan.
Malam yang panjang bagi mereka berasa nikmat, ketika Meraka habiskan untuk bermunajat kepada-Nya.
Satu yang mereka minta, yaitu kelegowoan/ ketenangan hati untuk menjalankan rumah tangga mereka dengan penuh nikmat tanpa ada rasa belenggu dan bersalah lagi.
*****
Pagi itu, semua orang sudah siap di meja makan. Tuan Maher dan mama Salamah tersenyum-senyum melihat kedatangan Rey dan juga Aya.
"Ehm, pengantin baru kesiangan," goda mama Salamah.
__ADS_1
Rey dan Aya hanya tersenyum malu. Bukan karena apa. mereka kesiangan karena setelah sholat subuh, rasa ngantuk merasuki jiwa mereka sehingga mereka ketiduran di sajadah masing-masing.
"Maaf mah, Aya tadi pagi tidak membantu membuat sarapan," ucap Aya merasa tidak enak.
"Tidak papa sayang. Sudah ada Bibik juga. Yang penting kalian harus hati-hati supaya bisa memberikan adik buat vino dan Hani," goda mama Salamah membuat wajah Aya langsung memerah bak kepiting rebus.
Sedang Rey hanya tersenyum canggung.
"Hmm ... Mamah tidak boleh begitu. Jangan terus-terusan menggoda mereka, kan jadi malu tuh anaknya sampai pipinya merah," ujar Tuan Maher berniat membela tetapi malah membuat Aya semakin dalam rasa malunya.
"Umiiii...... Daddiiiiiii.. assalamualaikum, selamat pagi!" sapa Hani dan Vino.
"Walaikum salam sayang. Kalian sudah sarapan?" tanya Aya.
"Sudah, kita harus segera kesekolah umi. Hari inikan acara kelulusan Kak Vino!" ucap Hani mengingatkan Aya.
"Astaghfirullah halazim. Maaf sayang, umi kelupaan. Tapi kalian sudah siap semua kan?", tanya Aya merasa tidak enak.
"Sudah umi. Bibik sudah mempersiapkan semuanya," sahut Vino.
Aya bernafas lega. Dia benar-benar merasa sangat bersalah karena bisa melupakan hari penting anaknya.
"Baik, umi ambil tas dulu ya," ucap Aya bergegas.
"Em, Aya! Tolong ambilkan dompet dan kunci mobil sekalian ya," ucap Rey menghentikan langkah Aya.
"Iya, Ak!" jawab Aya tersenyum.
Aya dengan buru-buru mengambil tasnya dan juga dompet Rey. Aya di buat bingung dimana Rey meletakan Kunci mobilnya. Karena tidak menemukannya. Akhirnya Aya memutuskan untuk bertanya kepada Rey.
Ketika berjalan, Aya tidak sengaja menjatuhkan dompet Rey yang dia mainkan. Ketika akan mengambilnya, Aya sangat terkejut ketika melihat ada foto pernikahannya dahulu dengan Rey.
Aya tersenyum dan merasa sangat senang, karena Rey benar-benar telah sangat mencintai dirinya.
"Terimakasih banyak untuk kalian. Kalian adalah dua sahabat yang sangat saya cintai," batin Aya memeluk dompet Rey dengan sangat erat.
Aya langsung bergegas mengingat hari semakin panas.
"A'ak, aku tadi cari kunci mobilnya kemana-kemana tapi gak ketemu," ucap Aya.
Mendengar itu, Rey yang sedang memakan roti langsung mengambil gerak untuk memeriksakannya di saku celananya.
__ADS_1
"Oh, maaf Aya. Hehehe,, ternyata sudah aku kantongi," jawab Rey tersenyum.
Melihat senyum Rey, membuat hati Aya di pagi hari itu benar-benar meleleh tidak karuan.