IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Mengikhlaskan-Mu...


__ADS_3

6 Bulan telah berlalu...


Sebuah tatapan tertuju pada langit malam yang germelap. Sambil memegang segelas white cofee, Aya termenung dalam lamunannya.


Disebuah pagar balkon mini masih terdapat pot kecil yang sangat cantik dengan tanaman Pinus kecil berbentuk hati.


Aya menatapnya dengan penuh kenangan. Itu adalah tanaman pertama yang suaminya hadiahkan untuk dirinya.


Didalamnya ada kenangan manis. Dimana Aya marah-marah tidak jelas karena Wisnu telah membeli tanaman yang sangat kecil, bahkan pada saat itu belum terlihat jelas apa bentuknya.


Wisnu menyakinkan Aya, jika ada sesuatu di dalam pot itu yang akan menjadi sesuatu yang sangat berarti baginya.


Sampai beberapa bulan Aya masih meragukan pot itu. Jika melihat itu, Aya selalu mengomel pada Wisnu. Mengapa tidak beli mawar, atau anggrek saja!


Tetapi, setelah beberapa bulan. Aya yang selalu sibuk dengan pekerjaan sebagai desainer. Tidak menyadari jika pot kecil itu telah timbul sebuah Pinus kecil yang berbentuk hati.


Aya tersadar dari lamunannya. Kini, apa yang diucapkan Wisnu telah kenyataan. Drama pot kecil itu kini menjadi kenangan paling manis bagi Aya.


Aya memejamkan matanya. Berharap sang suami hadir dalam lamunannya dan memeluknya dimalam yang mulai semakin larut dan sejuk.


Ketika sedang jauh dalam penghayatan. Tiba-tiba Aya merasakan angin yang semakin menuntut kencang. Ketika Aya membuka mata, ia melihat bintang terang kini tertutup oleh awan hitam yang sangat pekat.


Aya akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam dan menutup pintu balkon. Aya juga tak lupa membawa masuk pot kecil pemberian dari sang suami.


Aya memasuki kamarnya yang penuh kenangan segala rasa dengan sang suami.


Ia memeluk pot kecil itu lalu terlelap dalam kesedihan yang terpendam.


Ketika Aya memejamkan mata, dia selalu dimimpikan oleh kecelakaan Wisnu. Aya selalu dimimpikan bagaimana Wisnu berdarah-darah. Aya dimimpikan bagaimana Wisnu yang harus di botak untuk kemoterapi.


Ketika dalam mode terisak karena mimpi yang begitu sangat dalam. Tiba-tiba Mora datang mimpinya dan mengingatkan dirinya, jika dirinya sama seperti abahnya yang tidak secara langsung telah membunuh pasangannya.


"Hahaha! Aya, kamu adalah pembunuh! Kamu adalah pembunuh!" Begitulah Mora bersuara dalam mimpi Aya.


PRANK!


"Aaaahhhkkk!"


Suara pot terjatuh dan teriakan Aya.


Tubuh Aya berkeringat deras dimalam yang dingin. Jantungnya terasa memburu ketika mengingat bayang-bayang itu.


Aya melihat pot yang telah berserakan. Aya tidak sadar jika dibawah alam sadarnya, dia telah melemparkan pot itu hingga pecah berserakan dilantai.


"Astaghfirullah halazim! Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan!" ucap Aya terlihat sangat gusar, panik dan perasaan lain yang tidak dapat dijelaskan.


"Hiks..hiks..., Abah! Apakah benar Aya adalah pembunuhnya? Apakah yang dikatakan Mora benar? Apakah semua ini gara-gara Aya? Hiks...hiks...!" Aya terisak sambil memunguti pecahan pot itu.

__ADS_1


Hani yang mendengar suara gluduk langsung terjingkat dan berlari kedalam kamar Ibunya.


"Umii...umii...!" teriak Hani.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Aya yang langsung membuka pintu kamar.


"Umi, Hani ingin tidur dengan umi. Hani sangat takut, suara gemuruh geluduk itu sangat menakutkan!" ucap Hani yang nampak ketakutan.


Aya tersenyum dan menggendong Hani untuk masuk kedalam kamarnya. Kamar Aya sangat berantakan dengan pot yang pecah, sehingga Aya tak ingin Hani melihatnya.


Aya menidurkan Hani diatas ranjang kasurnya yang penuh dengan boneka pemberian dari Vino.


Aya tak banyak berbicara dan ber-dongeng. Aya hanya melantunkan sholawat nabi untuk menenangkan Hani.


"Umi!?" panggil Hani lirih.


"Iya sayang. Kenapa belum tidur? Kan sudah umi temani!" tanya Aya.


"Umi, tadi Hani mimpi Abi!" ucap Hani.


"Mimpi! Mimpi sayang?" tanya Aya.


"Kata Abi. Dia sudah bahagia! Apa umi tahu, abi terlihat sangat tampan. Bajunya sangat wangi dan wajahnya tidak pucat lagi. Hani diajak jalan-jalan sama Abi. Tempatnya indaaaah sekali! Hani suka disana. Hani mengatakan pada Abi, jika Hani ingin ikut Abi. Tetapi, kata Abi. Hani harus menjaga Umi. Abi juga berpesan, Umi tidak boleh sedih lagi karena Abi sudah bahagia dan tenang Disana. Terus Hani jawab, umi sudah tidak sedih lagi, umi selalu tersenyum dan tak pernah menangisi lagi," ucap Hani dengan polosnya.


Aya yang mendengar itu tak dapat menahan air matanya.


Aya tersenyum pada Hani.


"Iya sayang. Apa yang kamu katakan benar. Umi sudah tidak sedih lagi," jawab Aya berbohong, karena dibelakang Hani! Aya adalah wanita yang sangat rapuh dan jatuh dalam belenggu kepedihan yang sangat dalam.


*******


Pagi itu, suara bel tak berhenti berbunyi. Aya yang sedang memasak untuk Hani langsung beranjak untuk melihat siapa tamu.


"Assalamualaikum, kak Aya!?" sapa Axelin.


"Walaikum salam, Axelin! Ada apa, tumben pagi-pagi sekali?" tanya Aya.


"Hehe, iya kak. Aku mau minta tolong sama kak Aya?"


"Emm, minta tolong apa ya?"


"Begini, nanti malam adalah acara ulang tahun perusahaan kak Rey. Bisa kak Aya buatkan aku gaun yang cantik?" tanya Axelin antusias.


Aya mengerutkan keningnya.


"Loh, kok mendadak sekali Axelin!?" tanya Aya terkejut. Karena dia juga harus menyelesaikan baju yang akan dipakai untuk keluarga besar.

__ADS_1


"Hehe, iya kak Aya. Awalnya aku ingin mencari sendiri. Tetapi, setelah aku cari-cari! Aku tidak menemukan yang cocok!" Jelas Axelin.


"Memang kamu mau cari yang seperti apa?" tanya Aya.


Dengan malu-malu. Axelin membisikan sesuatu kepada Aya.


"Warna dan model yang cocok sama kak, Rey!" jelas Axelin.


Aya terdiam sesaat. Aya baru tahu, jika ternyata Axelin selama ini masih sangat menyukai Rey.


Aya menatap Axelin yang terlihat sangat memohon.


"Kamu bisa ikut denganku ke butik jika kamu mau ingin melihat-lihat!" ucap Aya.


"Sudah kak, tetapi aku ingin seperti baju yang akan dipakai oleh keluarga kak Rey! Aku sempat melihat baju mereka. Uuuhh! Bagus banget!" jawab Axelin antusias.


"Tapi, itu adalah baju keluarga Axelin. Bahan dan coraknya berbeda karena mama salamah tidak ingin ada yang menyamainya!" jawab Aya.


"Emm, yang mirip-mirip aja gak papa kak!" jawab Axelin.


"Baiklah, kamu mau model yang seperti apa?" tanya Aya.


"Modelnya dibuat mirip dengan baju yang akan digunakan oleh kak Mora ya?" jawab Axelin.


Aya mengerutkan keningnya.


"Kamu tahu darimana jika baju yang akan digunakan untuk Mora?" tanya Aya mengintimidasi Axelin.


"Kan aku sudah katakan. Kemarin aku habis dari butik kak Aya. Kebetulan, saat itu kak Mora juga ada disana untuk mengambil baju dia," jawab Aya.


Aya hanya mengangguk mengerti.


"Baiklah, aku akan buatkan sesegera mungkin. Karena disain-nya hampir sama, jadi tidak akan terlalu sulit," jawab Aya meyakinkan Axelin.


"Wah! Terima kasih banyak ya kak Aya! Baiklah, nanti sore akan aku ambil!" ucap Axelin terlihat sangat senang.


*****


Setelah Aya mengantarkan Hani kerumah utama. Dia langsung menuju ke butik untuk membuatkan satu gaun untuk Axelin.


"Mah, aku titip Hani sebentar ya. Setelah pulang dari butik, aku akan menjemput Hani!" ucap Aya.


"Tidak usah pulang sayang. Kita bersiap dari rumah utama saja!" ucap mama Salamah.


"Baiklah mah. Assalamualaikum!" jawab Aya yang langsung pergi.


Aya melajukan mobilnya dengan perlahan. Berkat Kiana, akhirnya Aya bisa membawa mobilnya sendiri. Aya terkadang tersenyum sendiri. Meski Kiana dulu sangat jahat kepadanya. Tetapi berkat dia, Aya dapat membawa mobil.

__ADS_1


__ADS_2