IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Sahabat


__ADS_3

Dalam gedung lantai paling pucuk. Rey menatap pemandangan kota sambil tangannya memegang kotak kecil yang berisi kue dari Aya dengan sangat erat.


Rey tersenyum kecut. Ia menatap isi kue itu adalah selai kesukaannya, yaitu selai nanas.


"Aya, apa semua arti dari perhatianmu ini? Apakah kamu benar-benar hanya menganggap aku sebagai kakak saja!? Wisnu, maafkan aku. Karena nyatanya aku masih mencintai mantan istriku! yang bukan lain adalah istrimu saat ini. Kenapa, kenapa sangat sulit untuk membuang perasaan ini. 5 tahun! Sudah 5 tahun berlalu aku memendam semua ini sendiri. Aaaahh!, aku benar-benar frustasi dengan semua keadaan ini. Aku harus bagaimana! Disisi lain Aya adalah istri sahabatku, disisi lain dia adalah mantan istriku yang masih sangat aku cintai. Apakah mungkin aku merebut Aya dari sahabatku sendiri!" Rey bergumam memikirkan nasib cintanya tak berbuah manis.


Rey akhirnya memutuskan untuk memakan habis kue gulung yang Aya buat. Sembari menahan air mata, ia memakan kue itu penuh dengan keharuan.


Pukul 6 sore, Rey bergegas untuk kembali. Ketika akan keluar kantor, Rey tak sengaja melihat Axelin yang sedang duduk santai.


"Axelin!?" sapa Rey.


"Ah, kak Rey."


"Kamu ngapain disini? Kenapa kamu tidak pulang?"


"Hehehe, aku nungguin kak Rey. Kita pulang bareng ya?" ucap Axelin dengan nada manjanya.


Rey mengerutkan keningnya.


"Dari tadi kamu duduk disini cuma untuk menunggu aku!?" tanya Rey.


"Hehehe, iya kak."


"Hmm, ya sudah ayok. Tetapi lain kali sebaiknya kamu pulang duluan saja! Karena aku tidak pasti akan pulang jam berapa selanjutnya," ucap Rey.


"Emm, iya kak nggak papa," jawab Axelin.


"Gak papa apanya!?"


"Ya gak papa, aku akan menunggu kakak sampai pulang," jawab Axelin tanpa ragu.


"Jika aku pulang tengah malam?"


"Ya nggak papa juga, akan aku tunggu," Jawabnya.


"Mengapa kamu nggak pulang duluan saja?" tanya Rey.


Axelin sejenak terdiam dan merutuki dirinya sendiri yang terlalu bar-bar kepada Rey.


"Ya tuhan, apa yang sudah aku ucapkan tadi!" batin Axelin merasa sangat malu.


"Ah, iya kak. Jika kakak merasa keberatan, aku akan pulang naik taksi saja lain waktu," ucap Axelin bingung harus berkata apa.


"Bukannya aku keberatan Axelin. Selain aku tidak pasti akan pulang cepat, aku juga tidak pasti akan pulang ke apartemen Aya. Bisa saja aku pulang ke rumah aku," jelas Rey.


"Ah, iya kak," jawab Axelin yang benar-benar sudah tak bisa berkata apa-apa.


Diperjalanan, Rey hanya terdiam membisu membuat Axelin benar-benar merasa tidak enak.


Sedangkan Rey, dia sebenarnya tidak masalah dengan sikap Axelin. Hanya saja, dia masih terus kepikiran tentang Aya dan sahabatnya.

__ADS_1


****


"Terima kasih banyak kak atas tumpangnya," ucap Axelin yang langsung bergegas untuk jalan duluan.


"Axelin, tunggu!" panggil Rey.


"Ah, iya kak?"


"Kamu jangan salah faham. Aku tidak masalah jika kita pulang bersama. Hanya saja, ,,"


"Iya kak, aku paham kok. Maaf karena aku sudah membuat kak Rey merasa tidak nyaman," jawab Axelin memotong ucapan Rey. Setelah mengatakan itu, Axelin langsung berlari menjauh sambil menahan air matanya.


Rey hanya bisa menatap Axelin dengan pasrah.


"Axelin, ini yang terbaik untuk kita. Aku harap, kamu dapat mencari pria yang lebih baik dari pada aku," batin Rey.


Rey berjalan dengan perlahan menunju apartemen Aya.


Gara-gara kejadian Aya yang hampir terjatuh, membuat Rey merasa sedikit canggung.


"Aku hanya akan mengambil Vino lalu pulang," batin Rey di dalam lift.


...


"Assalamualaikum ,,," sapa Rey.


"Walaikum salam.. Daddy!" sahut Vino dan Hani yang langsung memeluk Rey.


"Uh, anak-anak Daddy lagi ngapain?" tanya Rey.


"Belum ini, Daddy sholat dulu ya? Setelah itu baru kita pulang," ucap Rey menatap Vino.


"Kita tidak pulang, Dad. Besok kita akan piknik bersama dengan Abi," jawab Vino.


Rey terdiam. Dia baru sadar jika besok Wisnu meminta untuk piknik.


"Aak, sudah pulang?" sapa Aya.


"Ah, iya. Aku mau sholat dulu," jawab Rey yang langsung melepas jasnya dan meletakan tasnya di sofa.


Entah reflek atau apa, tiba-tiba Aya menyahut tas dan Jas Rey sebagai mana istri melayani suaminya. Rey sedikit terkejut dengan sikap Aya.


"Ak, tas sama jasnya aku taruh di cantolan ya? Supaya tidak dimainin anak-anak," ucap Aya.


"Ah, iya Aya. Maaf merepotkan," ucap Rey.


"Tidak papa, Ak. Udah kaya sama siapa saja," jawab Aya tersenyum.


Semenjak Wisnu sakit dan Aya hanya didalam rumah, dia jarang menggunakan cadarnya. Hanya jika akan keluar saja baru Aya akan menggunakan cadarnya.


***

__ADS_1


Setelah sholat magrib Rey menemui Wisnu. Sedangkan Aya sedang menyiapkan makan malam untuk mereka.


Vino dan Hani sedang mengaji atau tadarusan. Sudah biasa mereka lakukan selepas sholat magrib.


Rey menatap Wisnu yang sedang membuka sebuah album.


"Lihat apa'an?" tanya Rey.


"Oh, hay bro! Tumben pulang petang?" tanya Wisnu.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rey yang mengalihkan pertanyaan Wisnu.


"Alhamdulillah, baik. Ahk!" pekik Wisnu tiba-tiba setelah mengatakan jika dirinya baik-baik saja.


"Bro,! Loe tidak papa!?" tanya Rey khawatir.


"Huuust!" Wisnu memberi kode supaya Rey tidak berisik.


Rey menatap hidung dan telinga Wisnu mengeluarkan darah.


Dia dengan cepat mencari tisu dan mengelapnya.


Terlihat Rey sangat cemas dengan keadaan Wisnu.


"Loe pokoknya besok ikut gua berobat ke Singapura!" ucap Rey memaksa.


"Ngk bro! Gua besok mau piknik," jawab Wisnu dengan sangat lemas.


Rey mengepal kedua tangannya dengan sangat erat.


"Mau loe itu apa sih!? Apa loe berharap jika loe bakal mati!? Loe kenapa, Wis! Loe kenapa seperti berharap banget pingin mati!?" bentak Rey kesal.


"Pelan kan suaramu, Rey! Hmm ,,,, sudah dua tahun terkahir aku berobat kesana-kesini. Lihatlah, bahkan aku sudah tidak memiliki rambut karena harus kemo beberapa kali? Tetapi apa hasilnya? Memang sudah jalannya seperti ini, bro! Aku tidak papa. Cuma masalah mimisan itu sudah biasa," ucap Wisnu mencoba untuk meyakinkan Rey jika dirinya baik-baik saja.


"Gua gak percaya loe baik-baik saja. Besok pokonya loe harus ikut gua ke Singapura, titik!" ucap Rey dengan tegas.


"Buat apa, Rey?"


"Loe masih tanya buat apa! Loe semakin parah Wisnuu! Setidaknya, berusahalah demi aku, demi Aya, demi anak-anak!" Rey terlihat sangat memohon agar Wisnu bersedia dibawa berobat.


Wisnu tersenyum haru melihat betapa perduli nya sahabatnya kepada dirinya.


"Bro, besok gua ingin kita piknik dulu. Setelah pulang dari piknik, baru kita melakukan pengobatan seperti yang loe mau. Orang tua gua juga akan ikut piknik bersama. Yah, itung-itung kita liburan keluarga," ucap Wisnu.


Rey nampak berfikir.


"Apa loe yakin bisa berpergian?" tanya Rey memastikan.


"Ayolah, Rey! Gua sudah didalam kamar ini selama dua full sama sekali tak pernah keluar! Gua ingin menghirup udara segar," ucap Wisnu.


"Baiklah, gua akan telpon dokter untuk ikut bersama kita besok," ucap Rey yang langsung menekan handphonenya untuk menelvon dokter yang menangani Wisnu.

__ADS_1


Wisnu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Biaya pengobatan Wisnu selama ini tidaklah murah. Jika tidak ada Rey, Wisnu dan keluarganya mungkin tidak dapat membayangkan bagaimana nasib Wisnu.


Karena semua biayanya Rey yang mengatur, jadi Wisnu hanya bisa pasrah dan menerima semua niat baik sang sahabat.


__ADS_2