
Kini mobil Rey dan Wisnu sudah terparkir didepan rumah orang tua Wisnu.
Mendengar ada mobil datang, Ibu dan ayah Wisnu keluar untuk menyambut.
"Assalamualaikum, Abah, ibu.." sapa Wisnu.
"Walaikum salam... astaghfirullah halazim, ada apa dengan wajah kamu Ak?" tanya ibu.
"Emm, tadi ada penjahat yang mencoba untuk merampok kami bu," jawab Wisnu berbohong.
"Cih .." Rey memasang wajah sinis. Padahal dia tidaklah masalah jika Wisnu mengatakan yang sebenarnya.
"Ya Allah. Tapi apa kenapa cuma kamu yang dipukul Ak?" tanya si ibu.
"Apa Tante berharap saya juga dipukul?" tanya Rey yang merasa tersinggung.
"Ah, sudah-sudah yang penting kalian sekarang baik-baik saja. Wisnu, itu si Aya kenapa? Dari tadi murung didalam kamar tidak mau bicara, tidak mau makan. Ada apa sebenarnya ini?" tanya si Abah.
Mendengar istrinya sangat menyedihkan. Wisnu langsung berlari kekamarnya untuk menemui Aya tanpa menjawab abahnya.
Sedangkan Rey mencoba memberi tahu soal Wisnu yang sudah berhianat dan memadu Aya. Sungguh Rey sangat puas ketika menceritakan kebusukan Wisnu kepada kedua orang tuanya yang terlihat sangat menahan amarah.
.
Wisnu perlahan masuk kedalam kamarnya. Terlihat istrinya yang sedang duduk melamun. Sungguh ini adalah penampakan paling menyedihkan yang pernah Wisnu lihat. Wisnu sadar, dia telah menyakiti Aya sangat dalam.
Wisnu masuk perlahan dan menutup pintu dan menguncinya.
Perlahan kakinya melangkah mendekati Aya.
"Umi, assalamualaikum.,?" sapa Wisnu yang tidak tahu harus memulai darimana.
Aya masih diam saja. Namun air mata menjawab kehadiran Wisnu.
"Aya, aku dapat jelaskan semuanya. Aku menikahi dia hanya karena mau menolongnya. Dia hamil di luar nikah dan pacarnya pergi tidak mau tanggung jawab. Mora mau bunuh diri depan mata aku, jelas aku ingin menyelamatkannya. Tapi dia bertekad tetap mau bunuh diri jika tidak yang mau menikahi dirinya. Saat itu genggam tanganku sudah tidak kuat, Mora sudah akan jatuh dari atap gedung. Aku... ak..." Wisnu terdiam ketika mata Aya menatap tajam kearah dirinya.
Aya bangkit dan berdiri. Aya mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Perlahan kakinya mendekat ke arah Wisnu.
PLAAAAKK !!! satu tamparan keras melayang dan jatuh ke pipi Wisnu yang sudah babak belur.
"Apa.. apa itu asalan kamu bi? Heh..!? APA ITU ASALAN ABI TEGA MENGKHIANATI PERNIKAHAN KITA !!!!????" teriak Aya.
Wisnu masih terdiam. Dia ingin memegang Aya dan memeluknya. Namun Aya menepisnya.
__ADS_1
"Sakiiit biiii,,, sakiiiiiittt ... hatiku sakit ketika mengetahui kamu menikahi wanita lain !! Dan dia adalah tetangga kita.. hiks...hiks... Dimana hati kamu bi, dimana perasaan kamu, dimana pikiran kamu bisa tega melakukan itu !!"
"Aya, aku hanya menolong dia..!!"
"Teruuuss.... Apa jika ada 10 wanita yang mau bunuh karena hamil diluar nikah, Abi akan tanggung jawab dan menikahi mereka !! Iya biiii !!!! Jawaab !!!!"
"Aya ...."
"Hiks...hiks... Aku sungguh sangat lelah Bi. Sungguh sangat-sangat lelah."
"Umi, aku mohon jangan katakan itu. Aku akan menceraikan Mora jika memang umi keberatankan dengan jika aku mau menolong dia. Aku sama sekali tidak mencintai dia umii.. aku hanya terpaksa karena dia mengancam akan bunuh diri. Dosa miii, dosa jika Abi diam saja jika ada orang mau bunuh diri depan kita, terus kita diam saja."
"Tapi apa harus menikahinya !!! Apa tidak ada cara lain !! Bunyikan saja beberapa dalil padanya, biar dia paham jika bunuh diri dosa.!!?"
"Sudah mi, tapi dia tetap tidak perduli."
"Jika dia saja tidak perduli pada dirinya sendiri, kenapa abi sangat perduli dengannya !!?" teriak Aya.
"Umi, bagiamana bisa umi bicara seperti itu?"
"Kenapa !! Aku tidak boleh marah.. aku tidak boleh sakit hati ... Aku tidak boleh memaki... HAH !!? Abi mau aku hanya diam jika disakiti, Abi mau aku mati mengenaskan karena terlalu dalam sakit hati. JAHAT,!! jahat kamu biii..
Hiks..hiks... Aku wanita lemah Bi, mana bisa aku melihat pria yang aku cintai menikahi wanita lain...?"
Aya menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Beda biii.. jelas beda.. sangat sangat berbeda !!! Aku sama a'ak Rey tidak saling mencintai, pernikahan kami hanya sebatas perjanjian di atas kertas hitam putih. Aku tidak dapat menghalangi dia untuk menikahi wanita yang dia cintai... Untuk rasa hormat aku karena dia sudah sudi menikahi aku yang bukan siapa-siapa didepan Almarhum Abah, aku berusaha untuk menjadi istri yang baik untuknya. Semua yang aku abdikan untuk a'ak Rey hanya sebuah rasa berterima kasih karena dia, Abah pergi dengan hati yang tenang. Tapi bukan berarti aku tidak sakit abiiiii... Aku menangis ketika a'ak Rey menikahi wanita lain, tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa karena aku bukan wanita yang dicintai.....!!!! Tapi ada apa denganmu Abi??? Kamu mengatakan selamanya akan setia mencinta dan menyayangi aku. Tapi apa sekarang ini !!!??"
Wisnu hanya tertunduk terdiam mendengar semua ulasan Aya yang terdengar sangat menyedihkan. Semua ucapan Aya adalah kebenaran, membuat Wisnu tidak dapat berkutik.
Abah, ibu dan Rey sengaja menguping dari balik pintu. Rey yang mendengar ucapan Aya merasa ikut bersalah jika mengingat masa-masa itu. Tidak hanya Wisnu, kini Rey juga benar-benar tertampar oleh kenangan buruk yang ia berikan untuk Aya.
"Umi, aku akan menceraikan Mora sekarang juga. Tapi aku mohon, percayalah.. cintaku, sayangku, semuanya hanya untukmu Aya. Tidak ada perasaan secuil pun di hatiku untuk wanita lain."
PLAAAKK !! Aya lagi-lagi menampar wajah Wisnu dengan geram.
"Sungguh mudah lidahmu berucap Bi. Keluarlah... Aku ingin sendiri... Pernikahan bukanlah mainan Bi. Harus Abi bisa berfikir jauh sebelum melakukan itu.."
"TERUS AKU HARUS BAGAIMANAA !!!! AKU HARUS BAGAIMANA,,,, KATAAKAN !!!!!??" teriak Wisnu frustasi.
Mendengar Wisnu berteriak, Abah langsung membuka pintu dengan kunci cadangan karena takut hal yang tidak diinginkan terjadi.
"Wisnu, keluar dulu nak.."
__ADS_1
"LEPAS ABAH.. LEPASKAN WISNUU !!!" teriak Wisnu yang menolak untuk keluar. Wisnu terus menatap Aya dengan tajam. Memohon untuk menjawab pertanyaannya.
"Wisnu.. broo tenang dulu. kita bicarakan ini diluar..!" ucap Rey yang membantu menyeret Wisnu.
"LEPAAAASSS ... JAWAB AKU AYA, JAWAAAB.. AKU HARUS BAGAIMANA AYA.. AYAAAAA !!!!" berontak Wisnu.
Namun Abah dan Rey tidak ingin kalah. Akhirnya Wisnu bisa dibawa keluar.
"Aya, kamu tidak papa nak.?" tanya ibu.
"Aya ingin sendiri dulu buk, maaf."
"Iya, ibu faham. Ibu keluar dulu. Jika ada apa-apa panggil saja."
"Iya Bu, terima kasih."
"Oya Aya. Ibu harap, kamu dapat mengambil keputusan dengan kepala dingin. Tenangkan dirimu, ibu tidak akan memaksa kamu bertahan jika kamu memang tidak dapat lagi menerima Wisnu. Semua adalah salah ibu, ibu yang tidak dapat mendidik Wisnu dengan benar," ucap ibu lalu keluar dari kamar Aya.
Aya hanya menjawab dengan memejamkan mata. Sungguh Aya sudah tidak sanggup lagi untuk berkata meski hanya satu kecap.
Semua otot dalam tubuhnya serasa lemah tak berfungsi. Aya tumbang dan menangis pilu sembari memeluk guling. Meratapi apa yang harus ia lakukan.
Memaafkan adalah hal yang menyakitkan. Namun, melepaskan adalah hal tak pernah ia harapan.
Kini merenung seorang diri. Berfikir apa yang harus dilakukan. Antara kaidah dan perasaan, tentu tak sembarang ambil keputusan.
Aya terpejam,
berharap ada keajaiban,
memimpikan mereka yang pergi jauh, untuk bersandar menumpah segala rasa beban.
Abah.. ibu... Aku rindu...
..
..
..
...
πJANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR π
__ADS_1
πLIKE, KOMEN DAN VOTE π₯Ίππ