IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Perang saudara 2


__ADS_3

Yunhi yang melihat Kiana, tidak percaya dengan tindakannya. Ia mengepal tangannya dengan sangat kuat.


"Saudariku, hanya demi dia kamu sampai melakukan ini." Yunhi harus menelan pahit takdirnya karena mendapatkan penghianatan dari saudari kembarnya sendiri.


..


Sebuah kaki menuruni anak tangga, Yunhi dengan perlahan melangkahkan kakinya. Kiana yang melihat mata saudarinya tidak kuasa untuk tidak merasa sakit hati. Kiana sendiri tidak tahu apa yang telah dia lakukan. Demi cintanya, ia sampai rela melakukan ini kepada saudarinya sendiri.


Para tentara yang sudah melihat target, langsung memperketat kesiapannya untuk membidik target.


Dengan masih menggunakan perban yang ada di seluruh muka, Yunhi dengan perlahan mendekati Kiana.


Kini, dua mata saling menatap. Kiana sungguh tak sanggup untuk berhadapan dengan Yunhi.


Namun, Yunhi membalas kesedihan Kiana dengan senyum manisnya.


"Hay saudariku. Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Yunhi dengan santai.


"Yunhi, aku datang untuk membawa kedamaian. Aku mohon, kita lupakan semua dendam ini. Nenek, Ayah dan ibu pasti kini telah bahagia di syurga sana. Paman juga sudah berbahagia karena dia kini akan memiliki anak, dan aku ...


Aku juga telah ba.. bahagia dengannya," ujar Kiana dengan suara yang begitu sangat berat. Terlihat jika ia sedang menahan sakit yang sangat luar biasa dalam hatinya.


Namun hal yang tidak diduga, Yunhi malah menodongkan pistol kearah Kiana sembari menunjukkan senyum manis yang ia punya.


"Aku turut bahagia untuk kebahagiaan kalian. Tapi aku harus apa,? Di dunia ini aku tidak memiliki kebahagiaan. Satu-satunya kebahagiaan aku adalah kamu, tapi kamu malah memilih mereka yang sudah merebut kebahagian kita yang sempurna. Kiana, bunuhlah aku! Aku ingin bahagia menyusul ibu dan ayah. Aku sudah tidak ada harapan untuk terus melanjutkan hidup ini. Aku doakan semoga kamu bahagia dengan pria yang kamu cintai." Yunhi tersenyum." Baiklah, aku hitung sampai tiga. Jika kamu tidak menembak aku maka aku akan menembak kamu," lanjutnya dengan senyum manis yang sangat sulit di artikan.


Disisi lain, Rey yang melihat kejadian itu dari teropong histeris ingin mencoba untuk melepaskan cengkraman tentara yang masih setia memegangnya.


"Shhiitt !!! Dia benar-benar wanita gilaak!!! Kenapa wanita gila bisa keluar dari rumah sakit jiwa, harusnya mati dan membusuk di rumah sakit jiwa!! Lepaskan !! Lepaskan aku !!!" umpat Rey yang masih terus berusaha.


"Tuan, mohon kerjasamanya. Rekan kami tidak akan membiarkan wanita itu mencelakai siapapun," bujuk tentara itu mencoba untuk menenangkan Rey.

__ADS_1


..


Kiana tidak percaya dengan respon bodoh yang telah dipilih oleh saudarinya.


"Yunhi !! Apa yang kamu lakukan ,, aku akan membuang pistol ini tapi aku mohon, kita bicarakan ini baik-baik ya?"bujuk Kiana yang langsung membuang pistol yang ada ditangannya.


Namun Yunhi memang benar-benar sudah sakit jiwa luar dan dalam. Dia sama sekali enggan untuk mendengarkan ucapan dari saudarinya. Dia langsung menghitung ...


"Satu .... Dua ..... Ti ...."


DHOOORR !!!!!


Senyum Yunhi kini memudar ketika melihat Kiana melindungi dirinya.


Kini, Kiana tumbang dengan terus mengeluarkan banyak darah. Para tentara langsung bertindak cepat ketika melihat Yunhi lengah. Para tentara langsung menangkap Yunhi dan memborgolnya.


"Tidaaaaaaaaakkkkk !!!! Kianaaaaaaaaaa !!!!!!" teriak Yunhi yang sangat syok melihat saudarinya sudah memejamkan matanya.


Rey yang menyadari jika yang tertembak adalah istrinya ternganga tidak percaya. Ia menarik nafas dengan sangat berat sampai rasanya ia ingin ikut mati bersama dengan istrinya. Rey berlari sekuat tenaga untuk sampai ke sisi Istrinya yang sudah tidak bergerak.


Seorang dokter langsung dikerahkan untuk memberi pertolongan untuk Kiana.


....


Di kantor polisi. Disana ternyata mama Salamah sedang menjenguk Aya. Mama Salamah awalnya ingin kerumah Kiana, namun setelah sampai sana dia tidak menemukan Rey dan Kiana, jadi mama Salamah memutuskan untuk menjenguk Aya sembari untuk meminta maaf.


Mama Salamah sangat prihatin ketika melihat keadaan Aya yang sangat menyedihkan. Biduran yang Aya alami terus menyebar keseluruh tubuh. Dia mendapatkan hukuman untuk membersihkan kamar mandi karena diduga menjadi biang kerok dari kericuhan yang terjadi ketika mereka melakukan apel bersama di lapangan.


"Mama ?" Aya tidak percaya jika mamanya datang untuk menjenguknya.


Mama Salamah langsung meminta maaf dan menjelaskan semua kesalah fahaman yang sudah dia terima. Bahkan, mama Salamah sempat mendukung hubungan Yunhi dan Rey.

__ADS_1


"Mah, Aya tidak papa. Yang penting sekarang, kita harus bersatu untuk mencari kebenarannya," ujar Aya yang dapat mengerti.


Ketika sedang berbincang-bincang, Wisnu datang untuk memberikan informasi kepada Aya dan Mama Salamah.


Mendengar jika Yunhi sudah tertangkap, membuat Mama Salamah dan Aya merasa senang. Namun, senyum Aya memudar ketika Wisnu menjelaskan jika Kiana kritis karena terkena tembak untuk menyelamatkan Yunhi.


Aya, dia memang ingin pelukannya tertangkap. Namun, mendengar aksi heroik dari Kiana membuat hati nurani Aya merasa iba.


Mama Salamah langsung meminta izin untuk kembali kerumah sakit. Dia ingin memastikan jika rumah sakit miliknya masih berdiri kokoh.


..


Setelah kepergian Mama Salamah. Wisnu menatap Aya dengan iba. Dia heran, " Aya, mengapa alergi kamu kambuh,? Bukankah aku sudah memberikan kamu selimut? Apakah para napi lain yang sudah membuat kamu menjadi seperti ini!?" tanya Wisnu merasa sangat iba dan juga kesal.


"Ak, aku tidak papa. Salah faham selalu ada dimana-mana," ujar Aya.


Wisnu menatap tajam kearah Aya. Wisnu mencoba untuk memberanikan diri untuk menyatakan apa yang ingin ia nyatakan.


"Aya ... Bisakah kamu mundur. Bisakah kamu melepaskan diri dari, Rey?" tanya Wisnu dengan penuh harapan.


Namun, belum juga akan menjawab seorang polisi lain datang untuk menjemput Aya.


"Bro, waktu dia sudah habis. Gua bawa dulu ya," ujar polisi itu.


Sebenarnya Wisnu bisa saja menahan dan meminta sedikit waktu. Namun Wisnu tertahan ketika melihat raut wajah Aya yang terlihat kurang nyaman dengan pernyataannya.


"Ah, iya bro. Aya, aku akan datang untuk membawakan obat untukmu."


"Terima kasih, Ak?"


"Sama-sama ...."

__ADS_1


__ADS_2