IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Teror ...


__ADS_3

Didalam kamarnya, sebuah kaki melangkah kesebuah meja dan menyalakan gramofon atau piring muter-muter untuk mendengarkan musik klasik yang sangat damai di telinganya.


Kaki indah itu melangkah kembali dan membuka sebuah lemari. Ia menyibakkan beberapa baju gantung sampai akhirnya, ia menekan tombol tersembunyi.


Pintu dibalik baju-baju yang menggantung itu terbuka dan menunjukan isinya.


Beberapa minuman anggur mahal tersusun rapi dibarisan berjajar.


Sebuah jari dengan anggun memilih minuman mana yang ingin ia teguk. Sampai akhirnya, jarinya terhenti di minuman anggur bermerek Wine Krug 1928. Minuman ini seharga U$. 17.625 atau setara dengan Rp.295jt.


Dengan senyum manisnya, Yunhi menuangkan minuman itu kedalam gelas berleher jenjang.


Ia mengambil gaya memutar-mutar sembari memegang wine ditangannya.


Matanya memejam menikmati alunan suara musik klasik yang ia dengar.


Sampai akhirnya.


"HAHAHAHAHA,,, HAHAHAHAA,,!!!!" Suara tawa Yunhi menggelegar dengan sangat kuat, membuat bulu guduk siapapun merinding jika mendengarnya. Kepuasan batinnya seolah-olah sedang mencuak.


....


"APAKAH ITU ULAH KAMU !! APAKAH MEREKA KELOMPOKMU!!! APAKAH KAMU YANG MELAKUKAN SEMUA INI!!!?" teriak Rey membuat Aya terjingkat kaget.


"Aak, apa yang-...."


"KATAKAN !!!!"teriak Rey kembali.


"Apakah kamu berniat ingin membunuh aku!! Dibalik cadar najismu itu, apakah kamu yang sudah merencanakan semua tindakan menjijikan itu !!!" bentak Rey kembali.


Mendengar semua tuduhan dari suaminya yang bruntal, membuat Aya sangat sulit untuk bernafas dan menjelaskan segalanya.


"Ak, dengarkan aku dulu. Aku tidak kenal mereka. Mereka datang hanya meminta sumbangan," jelas Aya dengan suara yang bergetar.


"Apa aku dapat percaya padamu!!?" tanya Rey penuh dengan penekanan.


"Aak bisa tanya dengan penjaga kompleks ini," ucap Aya dengan sangat yakin.


"Cih, kamu tidak akan bisa keluar dari kamar ini sebelum aku menemukan bukti yang kuat. Jika sampai, terbukti kamulah dalang dari semua ini. Bersiaplah untuk menyusul ibu dan bapakmu," ancam Rey.


Rey keluar dari kamar dan menguncinya.


Aya tersungkur gemetar tak tahan dengan semua tuduhan suaminya. Meski iya merasa sakit hati, namun ia bersyukur karena suaminya selamat dari kecelakaan maut itu. Aya tidak dapat membayangkan, bagaimana jika suaminya ikut meledak didalam mobil misterius itu.


Rasa syukur Aya panjatkan. Ia tak apa dengan semua tuduhan sang suami. Yang terpenting, suaminya kini telah selamat.


....

__ADS_1


Rey yang mendengar jika kelompok bercadar itu telah tertangkap, langsung menuju kekantor polisi.


Dari informasi yang Rey dengar dari penjaga kompleks. Memang beberapa wanita bercadar itu datang untuk meminta sumbangan. Namun, penjaga sudah yakin jika didalam mobil mereka aman dan tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.


Sesampainya di kantor polisi. Rey langsung berlari menuju ruang interogasi, dimana tiga wanita bercadar sedang dalam proses pemeriksaan.


Dengan gegabah, Rey langsung masuk dan menggertak ketiga wanita itu.


"Siapa dalang dari semua ini !!!" bentak Rey tanpa basa-basi.


"Tu..tuan. Kami telah diancam oleh seseorang. Setelah kami pulang dari kompleks, tiba-tiba kami dihadang oleh beberapa orang. Mereka menyuruh kami untuk memakirkan mobil kami disamping mobil anda. Setelah itu kamu disuruh pergi secepat mungkin. Kami tidak tahu, siapa orang-orang itu," jelas salah satu wanita bercadar dengan air mata penyesalan. Ia memohon untuk diampuni. Namun, setelah mengatakan itu, tiba-tiba ke-tiga wanita itu kejang kejang sampai akhirnya tergeletak dengan mulut yang berbusa dan mata, hidungnya mengeluarkan darah.


Jelas kejadian ini membuat semua yang ada di ruangan interogasi tercengang. Semua orang langsung panik dan mencoba untuk membawa mereka kerumah sakit untuk dilakukan pertolongan. Entah selamat atau tidak. Namun, satu yang Rey dapat simpulkan. Istrinya tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ledakan itu.


Kejadian ini benar-benar menguras energi Rey. Ia masih tidak dapat mengerti, apa yang diinginkan oleh musuhnya, dan siapa sebenarnya musuhnya yang sampai berani menerornya Samapi sejauh ini.


..


Tuan Maher dan adiknya yang seorang tentara, Tri Dianto. Mereka bergegas untuk menemui Rey didalam kantor polisi.


"Rey, bagaimana nak?" tanya Tuan Maher.


"Mereka, mereka telah mati, pah," jawab Rey dengan keadaan yang sangat terpukul.


"Apa, kenapa bisa?" tanya Paman Tri.


"Mereka keracunan," jawab Rey.


"Ayok, Rey."


"Iya, paman."


...


Di rumah utama, mama Salamah langsung berlari ketika melihat putranya datang. Ia memeluk anaknya dengan sangat erat.


"Ya Allah nak, syukurlah kamu bisa selamat. Allah masih melindungi kamu, mama tidak membayangkan bagaimana jika kamu tidak lari saat itu. Huaaa aaaa aaaa,, mama takut sesuatu terjadi denganmu, nak ..."


"Sudahlah, mah. Rey tidak papa. Rey masih hidup dan berdiri disini," jawab Rey mencoba untuk menenangkan ibunya.


"Kita masuk kedalam," ucap Tuan Maher.


"Iya nak, ayo kita masuk kedalam dulu."


Diruang keluarga, Tuan Maher menganggap serius ancaman dari musuh yang selama ini tidak ia ketahui.


Saat itu, sebuah vaksin diberi obat terlarang dan sekarang mereka mengincar nyawa anaknya.

__ADS_1


Tuan Maher telah menyelidiki segalanya. Namun, semua musuh musuhnya bersih dari semua teror yang Tuan Maher dan keluarganya terima.


"Kak, aku akan membantu kalian untuk memecahkan kasus ini. Aku dapat izin cuti selama 3 minggu. Semoga saja dalam waktu itu kita bisa menemukan orang dibalik semua ini," ucap Tri.


"Hmm, berhati-hatilah. Sepertinya musuh kita ini sangat handal. Rey, apa kamu memiliki musuh gila selama ini?" tanya Tuan Maher.


"Tidak pah. Dari awal membangun usaha, Rey tidak pernah memiliki musuh. Rey selalu menjaga pertemanan dengan pesaing sekaligus," jawab Rey dengan yakin.


"Kapan acara resepsi kamu, Rey?" tanya Paman Tri.


"2 hari lagi, paman."


"Kemungkinan mereka akan masuk dalam acara resepsi kalian. Kita harus mencoba untuk memasang jebakan," ucap Paman Tri.


"Apa kamu yakin, Tri?" tanya tuan Maher.


"Kemungkinan besar, kak."


"Jika begitu, aku akan memperketat pengawasan dan penjagaan. Hanya tamu undangan yang boleh masuk. Aku tidak ingin mengambil resiko." ucap Taun Maher terlihat cemas.


"Rey, kamu pulanglah. Kasian Aya, dia pasti sangat khawatir dengan keadaan kamu," ucap tuan Maher.


"Mamah ikut ya, nak?" ucap mama Salamah yang sangat takut jika terjadi apa-apa pada anaknya dijalan.


"Mah, Rey tidak papa. Mama jangan khawatir ya," ucap Rey mencoba untuk membujuk.


"Bagaimana mama bisa tenang. Kamu itu hampir saja mati karena bom sayang. Kenapa kalian tidak tinggal dirumah ini saja, sih!!" tukas mama Salamah merasa campur aduk. Antara khawatir, cemas dan kesal.


Rey terdiam. Dia sebenarnya juga kini khawatir dengan keadaan Aya. Tapi, jika ia memberikan Aya tinggal dirumah utama, maka Yunhi pasti akan sedih dan iri. Rey tidak bisa berbuat tidak adil kepada kedua istrinya.


"Maaf mah, tapi Rey tidak bisa. Mama tahukan, Rey sudah mandiri sebelum menikah. Rey nyaman seperti, mah."


"Baiklah, jika begitu, mamah yang akan menginap dirumah kamu."


"Iya, mah. Nanti jika setelah resepsi pernikahan ya. Besok Rey akan datang dengan Aya kesini untuk mempersiapkan semuanya."


"Sudahlah, mah. Anak kita ini sudah memiliki keluarga sendiri. Biarkan mereka mandiri," ucap Tuan Maher.


"Tapi masalahnya, pah. Rey dalam bahaya!!"


Di dunia ini, memang tidak ada yang dapat menandingi ucapan sang ibu.


Dengan keputusan berat, akhirnya Rey mengizinkan mamanya malan ini ikut kerumahnya. Rey hanya berharap, semoga Aya tidak mengadukan sikap kasarnya kepadanya.


...


...

__ADS_1


...


Jangan lupa hari ini Vote ya ,,, 🤗


__ADS_2