IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
MaduKu


__ADS_3

Rey dengan tatapan kesal berjalan meninggalkan rumahnya. Entah mengapa pernyataan dari Aya bisa membuatnya begitu sangat marah.


"Cih, Apa perlu sebuah cinta kujelaskan. Aku pikir dia wanita penurut, nyatanya dia berani mengucapkan hal koyol seperti itu! Aku harus lebih waspada pada wanita seperti dia. Aku tidak tahu apa yang ada didalam benaknya," gumam Rey sembari jalan menuju rumah Yunhi.


Didalam rumahnya, Yunhi sedang menanti kedatangan suaminya.


"Sayang, lihatlah. Istri kamu mengantarkan kue dan sub ini. Ternyata dia pintar masak ya, ini enak sekali loh," ucap Yunhi dengan girang.


Menatap wajah istrinya bahagia, rasa kesuh dalam hati Rey kini mulai memudar.


"Benarkah, kapan dia kesini?" tanya Rey.


"kata bibik tadi sore dia datang kesini dan membawakan makanan ini."


"Emm, apakah boleh aku mencicipinya?"


"Tentu boleh sayang, sini aku suapin. Aaakkk!!"


"Ammm.... Em, ini memang enak sayang. Kita makan yuk, setelah itu baru kita ..."


"Sayaaang, mulai deh. Oya, bagaimana dengan mbak Aya? Dia tidak tidak papakan kamu ada tidur disini malam ini?"


"Emm, aku tidak perlu bertanya," jawab Rey singkat sembari memakan sub iga yang telah dipanaskan.


"Kak, kamu jangan kasar kasar dengannya. Kasihan loh ..."


"Tidak sayang, kamu makan dulu ya," ucap Rey yang tidak ingin membahas tentang Aya.


...


Didalam rumah sakit, seorang pria mencoba untuk menggerakkan tangannya. Beberapa selang ditubuhnya telah membantunya untuk bertahan hidup selama seminggu ini.


"Ayaaa ,,,, Aya ,,,," suara lirih keluar dari bibir Wisnu.


Pak Hasim yang mendengar anaknya telah siuman langsung mencoba untuk mendekat.


"Nak, kamu sudah siuaman?" tanya Pak Hasim.


"Dimana aku pah?" tanya Wisnu yang terlihat sangat lemah.


"Kamu dirumah sakit nak, kamu sedang mengalami kecelakaan," jelas pak Hasim.


Wisnu tiba-tiba teringat sesuatu.


"Pah, bagaimana dengan ustad Abah?" tanya Wisnu.


"Beliau sudah tiada nak."


"Apa!! Shhhtttt," Wisnu memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.


"Wisnu, kamu jangan berfikir yang macam-macam dulu ya. Ajal seseorang tidak ada yang tahu."


"Lalu, bagaimana dengan Aya, pah?"


"Dari yang papah dengar, dia sudah menikah."


"Apa !!! Menikah? Kapan dan dengan siapa pah!?" tanya Wisnu yang sangat terkejut.


"Papah tidak tahu, dia datang dari rumah sakit sudah bersama dengan suaminya. Sepertinya mereka orang kota."

__ADS_1


Wisnu yang baru sadar dari tidur panjangnya hanya bisa diam membisu untuk mencerna apa yang telah ia dengar.


Beberapa kali pengecekan, Wisnu hanya diam membisu dan tidak menjawab semua pernyataan dari dokter membuat para dokter putus asa dan mengizinkan Wisnu untuk pulang.


Saat ini, tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada kehilangan seorang pujaan hati yang selalu dinanti.


\*\*\*\*\*\*


Aya kembali pada sebuah buku harian yang selalu menemaninya.


Tak ada lagi air mata, kini sebuah gundah dalam hatinya telah ia curahkan dalam beberapa garis tinta yang tertulis.


Aya berjalan menaiki balkon lantai dua untuk sekedar melihat-lihat kesunyian malam.


Semakin dalam, rasa tidak rela mencuak dalam hati Aya. Ia tidak dapat membiarkan suaminya terbelenggu jauh dalam sebuah kedzaliman.


Dengan langkah kaki yang berlari cepat. Aya mencoba untuk menemui suaminya. Entah mengapa, Aya benar-benar tidak ridho jika suaminya sampai melakukan hal itu kepada madunya.


Ting ... Ting ... Aya dengan tidak sabar menekan bel beberapa kali.


Rey dan Yunhi yang sedang berpeluk kasih sembari menikmati beberapa buahan dibuat gusar dengan suara bel yang terus-menerus berbunyi.


"Siapa malam-malam begini yang ingin bertamu?" tanya Rey.


"Tidak tahu sayang, coba kamu lihat. Soalnya Bibik izin pulang malam ini."


"Baiklah, kamu tunggu sini ya."


"Iya sayang."


Perlahan Rey membuka pintu. Ia sedikit terkejut melihat Aya yang sudah berdiri dengan tatapan tajam untuk menyambutnya.


"Ada apa?" tanya Rey.


"Kita pulang Ak!?"


"Tidak bisa, aku tidak akan pergi meninggalkan Yunhi!!"


"Ak, kamu tidak bisa bersamanya. Pernikahan kalian tidak sah, Ak! Menikah beda keyakinan dengan alasan cinta,!? Apakah A'ak tidak dapat berfikir yang lain selain alasan cinta!!?" Hardik Aya yang meledak.


Ketika Rey akan menjawab Aya, tiba-tiba Yunhi datang dan melemparkan senyum kearah Aya.


"Mbak, masuk yuk. Tidak enak marah-marah didepan pintu. Kak, ajak mbk Aya masuk ya," ucap Yunhi sembari menggandeng tangan Aya untuk masuk kedalam rumahnya.


Kini, mereka semua saling berhadapan untuk meluruskan kesalah kaprahan yang sedang terjadi.


"Jadi, maksud mbak Aya ini apa ya?" tanya Yunhi.


"Jelas dia iri dengan hubungan kita," sahut Rey dengan kesal.


"Demi Allah saya sama sekali tidak iri atau cemburu dengan kalian. Tapi teruntuk saudariku Yunhi, maafkan atas kelancangan saya karena telah membuat kegaduhan dirumah anda. Kedatangan saya kemari adalah untuk meluruskan jalan salah yang telah suamiku ambil. Bukan masalah jika kalian ingin melakukan pernikahan, namun berbeda agama dan hanya dilandaskan kata cinta, kalian melakukan pernikahan dengan dua keyakinan!?"


Brak .... !!! Rey menggebrak meja dengan sangat kuat membuat Aya dan Yunhi yang mendengarnya merasa terkejut.


"Apakah ini balasan kamu terhadap apa yang sudah aku lakukan! Apa hak kamu mengikut campuri urusanku. Bukankah sudah kukatakan perjanjian diantara kita? Apa perlu aku mengingatkannya lagi!?" Decak Rey dengan tinggi.


Mendengar suaminya meninggikan suaranya, Aya mencoba untuk menarik nafas dalam-dalam.


"Ak, maafkan aku. Namun, jika memang harus terjadi. Talak saja aku, Ak," ucap Aya penuh dengan tekat.

__ADS_1


"Cih, dasar wanita tidak tahu berterima kasih!! Aku telah sudi menikahi wanita seperti kamu karena rasa simpatiku terhadap ayah kamu yang kini telah tiada. Jika aku tahu jika ayahmu itu akan mati, sampai langit ketujuh terbelah pun aku tidak akan pernah Sudi menikah dengan wanita sepertimu !!" Kesabaran Rey benar benar tidak dapat lagi ia tahan.


Aya hanya bisa berlinang air mata. Ia benar-benar merasa sangat hina didepan suaminya kini. Aya tak dapat berkata-kata apapun mengingat jika memang pernikahan mereka berlandaskan dengan sebuah persyaratan yang akan memberatkan dirinya. Namun Aya tidak pernah menduga jika akhirnya akan begini.


Yunhi yang melihat situasi sudah mulai memanas mencoba untuk menenangkan Aya dan Rey.


"Mbak Aya dan kak Rey. Aku sudah mengambil keputusan kuat, ajari aku bagaimana menjalankan ibadah yang kalian jalani. Aku siap," ucap Yunhi dengan santai dan senyum yang selalu ia kembangkan.


Rey dan Aya menatap Yunhi tidak percaya. Semudah itukah!?


"Sayang, apa kamu yakin?" tanya Rey memastikan.


"Demi bersamamu kak, apapun itu," jawab Yunhi sembari memegang erat tangan Rey.


Yunhi berjalan kesamping Aya.


"Mbk, ajari aku untuk bisa menjadi kuat sepertimu, ya?" ucap Yunhi memeluk Aya dengan hangat.


Aya benar-benar tidak percaya. Ia membalas pelukan saudarinya.


"Alhamdulillah, insyaallah. Insyaallah aku akan membimbingmu untuk lebih mengenal asma Allah."


"Sekarang sudah, jangan ada lagi pertikaian diantara kita. Aku, kak Rey dan mbak Aya, kita adalah satu keluarga. Namun Yunhi mohon dengan mbak Aya, tolong simpan rahasia ini ya. Aku dan kak Rey tidak ingin jika orang orang tahu jika kami telah menikah," ucap Yunhi.


"Memang kenapa?"


"Usiaku masih 18 tahun, jika aku menjanda maka aku tidak akan dirugikan. Hehehehe," gurau Yunhi.


"Apakah kamu berniat menikah hanya untuk menjanda!?" tanya Rey mengintimidasi.


"Kaaa, kamu ini seperti tidak tahu aku aja deh."


"Sini, duduk disamping aku," titah Rey. Dengan cepat Yunhi pindah kesisi Rey.


"Kamu ini nakal ya, gemes deh aku," ucap Rey sembari mencubit hidung Yunhi.


"Aah kak, sakit!!" Pekik Yunhi.


Aya yang melihat keharmonisan Yunhi dan Rey merasakan ikut bahagia. Aya tidak percaya, jika madunya ternyata wanita yang sangat manis dan baik hati.


Terlihat begitu banyak kedamain dimata dan ucapan yang tercurah dari lisannya.


"Mbak Aya. Ayok kita masuk kekamar. Malam ini aku akan tidur dengan mbak Aya," ucap Yunhi yang langsung menyeret tangan Aya.


Rey seperti ingin mengatakan sesuatu, namun Yunhi tidak menghiraukannya.


"Dasar wanita. Hemm, memiliki dua istri namun malam ini aku masih harus tidur dengan guling. Baiklah, aku kabulkan permintaan kalian," gumam Rey merasa senang melihat kedua istrinya yang berdamai.


..


..


..


..


Cerita ini hanyalah fiksi belakang. Tidak untuk menyingung siapapun dan agama apapun. Mohon maaf jika terdapat beberapa kata yang kurang berkenan. 🙏🙏


..

__ADS_1


Jangan lupa dukungnya dan menangkan hadiahnya 💓💓


__ADS_2