IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Aku sekarat...


__ADS_3

Pagi itu, Rey telah siap dengan semua kopernya. Dia bergegas dengan cepat untuk menghindar bertemu dengan Aya. Tetapi, ketika dia membuka pintu kamarnya, Rey sungguh terkejut melihat Aya yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Rey mencoba untuk tidak terlihat terkejut.


"Kamu mau kemana, Ak? Pelayan membawa banyak koper?" tanya Aya.


"Em, aku sedang akan perjalanan bisnis ke Dubai. Kemungkinan 3 bulan baru akan pulang," jawab Rey.


"Lama sekali?" tanya Aya terlihat kecewa.


"Memangnya kenapa?" tanya Rey.


"Em, Vino mengatakan jika Minggu depan ada acara pertunjukan disekolah mereka. Mereka mengadakan pertunjukan untuk kelulusan vino. Kedua orang tuanya diwajibkan untuk datang," jelas Aya.


"Baiklah, akan aku usahakan datang," jawab Rey spontan.


"Loh, katanya a'ak akan pergi selama 3 bulan," ucap Aya.


"Kamu mengatakan jika pertunjukannya akan di adakan seminggu lagi. Apakah pertunjukannya bisa di undur sampai aku pulang!?" tanya Rey.


"Ya ngak bisa lah. Tapi, apa tidak papa jika a'ak meninggalkan perkejaan demi anak-anak?" tanya Aya memastikan.


"Jika kamu saja rela menikah dengan aku demi anak-anak, mengapa aku tidak!" sahut Rey sambil tersenyum tampan dan mengedipkan salah satu matanya.


Aya yang melihat itu langsung tertunduk sangat malu. Rey mengatakan "tidak" pada saat itu, tetapi pagi ini dia membahas tentang itu. Sungguh, Aya di buat benar-benar tidak mengerti dengan sikap Rey.


Sedangkan Rey yang melihat Aya tersipu malu, membuat hatinya senang. Sebenarnya, Rey sendiri tidak mengerti mengapa dia berkata seperti itu. Tetapi semua telah terjadi dan terucap. Hasilnya, sungguh diluar dugaan Rey. Ternyata, Aya sangat merespon ucapnya dengan ekspresi wajahnya yang menggemaskan, menurut Rey.


Aya masih setia mendalam kan tundukkan, ketika Aya merasa sudah bisa menstabilkan ekspresi wajahnya. Dia mencoba untuk menatap Rey kembali. Tetapi, seketika Aya dibuat bingung karena Rey sudah tidak ada didepannya.


"Apa dia sudah pergi!" batin Aya.


"Aaaah..! Ini terlalu memalukan Aya!" pekik Aya merutuki dirinya sendiri.


........


Akhirnya 5 hari telah berlalu dari perginya Rey, ke Dubai.


Semua berjalan dengan biasa. Selama ini Aya masih tinggal dirumah utama karena permintaan Mama Salamah dan Tuan Maher.


Anak-anak sudah mulai sering latihan siang dan malam untuk bernyanyi lagu yang akan mereka bawakan.


Hari ke-6 setelah kepergian Rey. Hari ini adalah hari Minggu jadi anak-anak libur. Senin baru acara kelulusan Vino dari TK.


Pagi itu, Aya sedang bersantai sendiri karena anak-anak di ajak jalan-jalan dengan mama Salamah dan tuan Maher. Aya sebenarnya merasa kecewa karena dirinya tidak di ajak dan ditinggal dirumah sendirian.


Tiba-tiba ada sekelompok body guard wanita datang menemui Aya.


"Selamat pagi, Nyonya?" sapa Body guard.


"Ah, iya pagi. Kalian siapa ya?" tanya Aya.


"Kami diutus untuk menjemput Nyonya," jawab Bodyguard.

__ADS_1


Aya mengerutkan keningnya," Maaf! Siapa yang mengutus kalian?" tanya Aya.


"Tuan kami Rey sekarang sedang sekarat. Dia ingin segera bertemu dengan Nyonya!" sahut Bodyguard yang menggunakan kaca mata hitam.


Aya tercengang tidak percaya. Tiba-tiba kakinya berasa gemetar mendengar jawaban Bodyguard.


"Apa! A'ak Rey sekarat!" pekik Aya terkejut.


Setelah itu, ada seorang tukang rias yang menghampiri Aya.


"Iya nyonya. Tuan kami sudah sangat sekarat. Dia ingin segera bertemu dengan Nyonya. Tetapi, sebelum itu, tuan kami ingin anda menemuinya dengan memakai baju ini," ucap Tukang rias itu menunjukkan baju pengantin yang sangat indah.


Aya yang melihat itu tidak dapat mengerti apapun. Mengapa dia harus mengenakan baju pengantin untuk menemui orang yang sudah sekarat. Tunggu! Mengapa a'ak Rey bisa sekarat? Bukankah dia saat ini ada di Dubai! Oh ya tuhan, apakah A'ak Rey telah mengalami kecelakaan!" batin Aya menduga-duga. Jantungnya berdetak sangat cepat.


"Mengapa a'ak bisa sekarat! Apakah dia kecelakaan? Jika memang sekarat! Kita pergi sekarang!" ucap Aya dengan sangat panik. bahkan, air kini telah mengalir membasahi pipinya.


"Tunggu nyonya! Anda di wajibkan untuk menggunakan gaun indah ini..Tuan kami yang meminta," ucap Bodyguard menghadang Aya.


"Hiks..hiks... Tetapi a'ak Rey sedang sekarat! Saya harus segera ada disampingnya!" sahut Aya dengan kesal. Entah apa yang pikirkan, yang jelas Aya tidak ingin kehilangan momen bersama dengan Rey ketika saat-saat terkahirnya.


"Maka dari itu, anda harus ikut bersama kami untuk menggunakan baju ini. Hanya ada waktu 20 menit dari sekarang. Jika kita tidak cepat, kemungkinan anda tidak akan bisa bertemu dengan Tuan kami," jelas Tukang rias.


Aya benar-benar tidak dapat mencerna apa yang terjadi. Demi menyingkat waktu. Akhirnya Aya bersedia untuk dirias dan menggunakan baju pengantin.


"Apakah! Apakah a'ak Rey ingin mempersunting aku disaat-saat terkahirnya. Hiks..hiks... Apakah aku juga akan kehilangan dia? Apakah Tuhan memang tidak ingin aku bersatu dengan salah satu pria yang aku cintai. Ya Allah, engkau telah mengambil A'ak Wisnu dan sekarang engkau juga akan mengambil a'ak Rey. Ini sungguh menyakitkan, hiks...hiks..." Aya menangis dalam hati. Aya tidak berani menangis langsung karena takut riasan tipisnya memudar.


Akhirnya, 15 menit mereka telah siap. Aya memperhatikan dirinya begitu sangat cantik dengan gaun pengantin. Tapi apa gunanya gaun cantik ini jika hanya untuk menyaksikan orang kita cintai pergi. batin Ay.


"Kita sudah siap!" teriak tukang rias dari dalam kamar Aya untuk memberi kode kepada Body guard yang berjaga didepan pintu.


Di dalam perjalanan. Aya sama sekali tidak diizinkan menangis. Bahkan, dengan tiba-tiba seorang bodyguard wanita memakaikan penutup mata untuk Aya.


"Loh! Apa-apaan ini? Mengapa mata saya ditutup?" tanya Aya.


" Tuan kami sedang sangat sekarat, Nyonya. Dia tidak ingin anda melihat keadaanya yang sangat menyedihkan. Makanya, dia ingin anda untuk menutup mata," jelas bodyguard wanita itu.


"Hiks..hiks.., tetapi aku ingin melihat wajahnya untuk yang terakhir kali!" ucap Aya yang kini tidak dapat menahan air matanya. Jantungnya sungguh sangat berdegup kencang. Kaki dan tangan gemetar hebat. Sungguh Aya rasanya tidak sanggup untuk kehilangan cintanya untuk yang kedua kalinya.


..


Setelah beberapa menit berkendara. Akhirnya mereka telah sampai kesebuah gedung yang sudah dihias dengan sangat cantik, megah dan mewah.


Jadi, sebenarnya Rey memutuskan untuk membatalkan perjalanan bisnisnya ke Dubai dan diam-diam mempersiapkan acara pernikahan untuk dirinya dan Aya.


Semua orang berdiri diam untuk menyambut Aya yang terlihat sangat lemas dengan mata yang masih tertutup.


Aya tak henti-hentinya menangis sambil berjalan. Di bawah tuntunan Body guard wanita. Akhirnya Aya di dudukan disebuah kursi.


"Nyonya, tuan kami sudah ada didepan anda. Dia sudah sangat sekarat. Katakanlah apa yang ingin anda katakan?" Bisik Body guard ditelinga nya.


Ketika Aya ingin membuka penutup matanya. Bodyguard langsung menegurnya.


"Nyonya, anda dilarang untuk membuka mata. Tuan kami tidak ingin!" ucap Bodyguard memperingati Aya.

__ADS_1


"Hiks..hiks.. A'ak apa yang terjadi dengan mu? Apakah kamu mengalami kecelakaan ketika pulang dari Dubai? A'ak, mengapa cepat sekali kamu menyusul A'ak Wisnu. A'ak, hiks..hiks... Malang sekali nasib aku..uuu..uuu, harus ditinggalkan dengan cintaku untuk yang kedua kalinya. A'ak, aku sangat mencintai kamu sebagaimana aku mencintai a'ak Wisnu. Maafkan aku yang memiliki perasaan seperti, aku juga tidak tahu mengapa aku bisa mencintai dua pria sekaligus. Kalian adalah sahabat baik, seharusnya aku tidak boleh seperti ini. A'ak, andai Allah mengizinkan. Aku ingin kita menghabisi waktu bersama untuk menjaga anak-anak kita. A'ak, apakah kamu mendengar aku?" Semua orang masih diam hening mendengar pengakuan dari Aya.


"A'ak? Kuatkanlah dirimu. Aku sudah mengakui jika aku juga mencintai kamu, bertahanlah dan hiduplah denganku..hiks...hiks.... A'ak, mengapa kamu diam saja, apakah kamu sudah tiada? Mengapa disini sunyi sekali?" tanya Aya yang mulai penasaran. Dia melepaskan tangannya yang sedari meremas kuat gaun pengantinnya. Perlahan, Aya membuka penutup matanya untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi dengan Rey.


DOOOOOR!" sebuah petasan kejutan mengagetkan Aya.


Semua orang tersenyum kepada Aya. Rey berdiri didepan dengan senyum tampannya. Rey tidak terlihat sekarat, bahkan dia terlihat sangat segar dan sehat.


Aya masih menunjukan ekspresi tidak percaya. Tidak ada senyum diwajahnya. Dada Aya memburu ketika dia sadar jika dirinya telah dibohongi.


Aya berdiri dan menghampiri Rey. Ketika Rey akan bicara.


PLAK!


Aya menampar Rey dengan sangat kuat. Sungguh Aya tidak percaya jika begini cara Rey menjebak dirinya hanya untuk mengakui perasaannya.


Semua orang tercengang kaget. Mereka tidak menduga jika respon Aya akan seburuk itu.


Setelah menampar, Aya tidak mengatakan apapun dan langsung pergi meninggalkan semua orang. Para bodyguard awalnya ingin menahan Aya. Tetapi Rey menyuruh mereka untuk membiarkannya dan Rey pun berlari untuk mengejar Aya.


"Aya tunggu!" teriak Rey.


Di depan gedung. Aya terhenti. Aya membalikan badan untuk menatap Rey. Aya memancarkan tatapan kekecewaan kepada Rey.


Rey bernafas berat merasa menyesal. Namun, Rey pikir inilah caranya supaya Aya mau mengakui perasaannya sendiri.


Rey berlari untuk mendekati Aya.


"Aya, maafkan aku?" ucap Rey.


"Mengapa kamu melakukan ini? Apa kamu pikir ini lucu. Kamu tahu bagaimana rasanya ingin mati ketika mendengar kamu sekarat. Apa kamu tahu bagaimana perasaan aku ketika mendengar jika kamu akan pergi menyusul a'ak Wisnu. Apa kamu.... Apakah kamu tahu... Hiks...hiks..." Aya tertahan karena tak sanggup lagi untuk bicara.


Mendengar itu, Rey malah tersenyum tipis. Aya marah bukan karena dirinya mengakui perasaannya didepan semua orang. Tetapi Aya marah karena dia sangat takut kehilangan dirinya.


"Apa kamu sangat takut jika aku pergi?" tanya Rey yang malah mengajak bercanda.


"Hiks...hiks...." Aya hanya bisa menutup wajahnya sambil sesegukan. Sungguh Aya tidak dapat membayangkan jika yang terjadi memanglah Rey yang sedang sekarat.


Meski Aya kecewa dengan becandaan Rey. Tetapi dia sangat bersyukur karena ini hanyalah candaan. Aya benar-benar tak dapat membayangkan jika Rey benar-benar sekarat.


Rey langsung mengambil langkah berjongkok dan mengeluarkan sebuah cincin manis dari kotak merah.


"Aya, aku memang sedang sekarat. Aku sangat sekarat sampai rasanya hatiku mati rasa. Aku sekarat karena memendam cinta ini. Aku sekarat dalam penantian ini. Aya, maukah kamu menolong aku untuk lepas dari ke sekaratan ini? Aya, maukah kamu menemani aku untuk menghabiskan sisa hidup ini bersama. Maukah kamu membangun istana yang pernah kita bertiga(Aya,Rey,Wisnu) bangun supaya lebih megah dan lebih besar. Aya, bersediakah kamu menikah denganku?" ucap Rey yang sangat berharap jika Aya masih mau menerima dirinya.


Aya membuka wajahnya dari telapak tangan yang menutupinya. Aya menahan senyum harunya lalu ia mengangguk.


Semua orang yang melihat dari kejauhan akhirnya bertepuk tangan dengan riuh. Mereka pun ikut senang. Terlihat, jika Tuan Qodir dan Mora saling memandang malu-malu. Sepertinya, ada sesuatu diantara mereka ketika sedang membantu Rey untuk mempersiapkan acara itu.


Akhirnya. Ijab dan qobul pun terlaksana.


"Saya terima nikahnya Aya Humaira bin Zaki Mubarak dengan mas kawin berupa uang 5 milyar dibayar Tunai!"


Sah...

__ADS_1


SAAAAAAAHHH!"


__ADS_2