
Didepan rumah utama, kebetulan mobil Rey dan mobil mama Salamah berhenti bersama.
Aya yang melihat mobil suaminya datang dengan cepat keluar dari mobil. Aya mengambangkan senyum dari balik cadarnya sampai senyum itu memudar ketika ia melihat Kiana keluar dari dalam mobil Rey.
Kiana dan Rey bergandengan berjalan menuju kearah Aya dan mama Salamah. Mama Salamah menampakan wajah tidak sukanya ketika melihat Kiana bersama Rey.
"Mau apa wanita siluman itu!" batin Mama Salamah.
Rey menyambut tangan mama Salamah dan menciumnya.
"Assalamualaikum, mah?" sapa Rey.
"Walaikum salam."
"Mah..?" Kiana ingin mencium tangan Mama Salamah namun mama Salamah menolak.
"Tidak perlu! Aya, ayo kita masuk kedalam. Rey, kamu duduk saja diruang tamu. Saya akan panggilkan suamiku," ujar Mama Salamah dengan cetus.
Aya hanya bisa manut mengikuti langkah mama Salamah. Sedangkan Rey hanya bisa menghela nafas berat.
"Kamu yang sabar ya. Semoga saja dengan adanya anak ini mama dan papa dapat menerima kita," ujar Rey mencoba menenangkan Kiana.
"Aku tidak papa kok, Rey. Aku terima sikap mereka. Semua memang salahku."
"Ya sudah, ayo kita masuk."
..
Tuan Maher sudah duduk di kursi tamu untuk menyambut anaknya. Namun, wajah tuan Maher tidak seramah sandiwara musuh kepada lawannya.
Tuan Maher dengan terang-terangan seperti menolak kedatangan Rey dan Kiana.
"Pah ..?" Rey ingin mencium tangan papahnya.
"Tidak perlu. Langsung saja." Tolak Tuan Maher.
Rey dan Kiana memilih duduk bersebrangan dengan tuan Maher. Aya dan mama Salamah duduk di balik tuang tamu. Tuan Maher tidak mengizinkan Aya duduk didepan bersama mereka sebelum keputusan tepat dibuat.
"Katakanlah..!?" Tuan Maher enggan untuk berbasa-basi.
"Pah, kedatangan saya kesini untuk menjemput Aya, dan maafkan Rey karena tidak bisa memilih diantara Kiana dan Aya. Selain itu, kini Kiana sedang mengandung anakku yang membuat aku tidak bisa menalaknya."
"Jika begitu, talak dia setelah melahirkan!"
__ADS_1
"Pah !! Kenapa papa bisa sejahat itu kepada kami !!??"
"Lalu kenapa kamu bisa sejahat itu kepada papa, mama dan juga Aya!!?"
"Pah, situasinya saat itu sangatlah mendesak. Rey belum bisa menerima kehadiran Aya!"
"Jika begitu, situasinya pun sama. Papa tidak bisa menerima kehadiran wanita ini didalam keluarga kita!! Papa juga tidak bisa menerima kebohongan besar yang telah kamu sembunyikan dari kami selama ini. Sebagai orang tua, aku tidak rela jika putriku kau perlakukan tidak adil !!"
"Pah, kita harus tanyakan dulu kepada Aya!?"
"Untuk apa!?"
"Ya kita tanyakan kepadanya, apakah dia mau ikut bersamaku atau tidak? Kita tanyakan apa yang dia inginkan!?"
"Aya ..!!?" Panggil tuan Maher.
Aya yang sedari tadi mendengar argumen anak dan ayah, dengan ragu-ragu berjalan menemui mereka.
"Aya, papah mau tanya kepadamu. Apakah kamu mau kembali bersama pria ini!?"
"Aya, aku janji, aku janji akan berbuat adil kepada kalian. Kiana sedang mengandung saat ini.!?"
Aya sungguh sangat ragu.
"Apa maksud kamu Aya!? Jelas aku mempertankan hubungan ini karena kamu adalah istriku.! Dan apakah cinta itu perlu selagi aku berbuat adil terhadap kalian!?"
"Cih, alasan macam itu!?" gumam Tuan Maher menertawai sikap putranya sendiri.
"Tidak !! Mama tidak akan setuju jika Aya kembali denganmu jika kamu tidak menceraikan wanita itu.!! Kamu pikir, adil dalam berumah tangga apa itu seperti apa? Adil dalam berumah tangga adalah, jika kamu mencintai istri yang satu, maka kamu juga harus mencintai istri kedua. Tapi apa yang sudah kamu lakukan!? Kamu hanya mencintai wanita itu dan mencampakkan Aya !! Mama tidak ambil fikir jika kamu akan melakukan hal seperti ini, Rey!! Mama sangat kecewa denganmu!!"
"Lalu apa yang harus Rey lakukan Mah!!! Kiana sedang hamil!! Rey tidak mungkin menceraikan dia !!!" Teriak Rey frustasi.
"Tinggalkan dia, tinggallah bersama kami dirumah utama," ucap Tuan Maher.
Rey menggelengkan kepalanya.
"Pah, apa yang papa lakukan!? Papa menyuruhku untuk menelantarkan istriku yang sedang hamil anakku!?"
"Ini adalah konsekuensinya. Bukankah kamu pasti sudah menduga apa yang akan terjadi jika sampai kami tahu tentang kebusukanmu!? Kamu mengancam Aya untuk diam, dan kamu sendiri bersenang-senang dengan istrimu diatas penderitaan Aya. Papa sudah putuskan. Minggu depan tanda tangani surat perceraian antara kamu dan Aya!"
"Baik!! Baiklah.. !!! Aya, kamu saya talaaak !! Talak Tigaaaa.....!!! Papah, sudahkah kamu puas sekarang !!!!" teriak Rey dengan emosi yang sudah mencapai puncak, dengan mata memerah dan urat yang mengeras, Rey dengan lancar melantangkan ucapnya untuk mentalak Aya.
Tanpa sadar, Aya langsung meneteskan air mata. Sungguh ia seperti tersambar petir di siang bolong.
__ADS_1
Awalnya, dia ingin memberikan kesempatan kepada Rey. Namun, sebelum ia berkata, Rey sudah mengatakan ucapan yang disaksikan banyak orang.
Talak 3, adalah talak yang paling mengerikan. Aya tidak bisa ambil fikir, mengapa Rey bisa berkata seperti itu.
Sungguh Aya sudah tidak tahan untuk berdiri disana. Dengan langkah kaki yang dipercepat, Aya berlari meninggalkan ruangan itu.
Rey yang baru sadar dengan ucapannya, merasa sangat menyesal dan berniat untuk menyusul Aya.
"Setop !! Jangan coba-coba untuk mendekati putriku!! Bukankah kamu sudah mengatakan jika kamu menalak dia! Talak tiga lagi.!? Mama benar-benar sangat kecewa denganmu, Rey!!"
"Mah, aku tadi tidak sengaja.. mah,, maaaahh!!" Rey berteriak melihat mama Salamah sudah tidak ingin mendengarkan dirinya.
"Tidak perlu menunggu Minggu depan. Besok papa akan mengirimkan surat perpisahan kalian. Selamat atas kehamilan istrimu tercintamu. Tapi maaf, dia bukan bagaian dari keluarga Maher ..." Tuan Maherndra pun pergi meninggalkan Rey dan Kiana.
Rey tersungkur tidak percaya, kini semua telah usai. Dia harus merelakan Aya lepas dari genggamnya. Rey tidak tahu, mengapa dia sungguh berat untuk melepaskan Aya begitu saja.
"Aya, hik,,hik,,hik,,, aku sungguh sangat mencintaimu ..." Namun, semua itu sekarang sudah tidak ada gunanya. Mau seribu kali dia menyatakan cintai kepada Aya, dia dan Aya tidak akan bisa bersatu kembali.
Rey merutuki dirinya yang tidak bisa mengontrol ucapannya. Namun mau bagaimana lagi.
Kiana yang sedari tadi diam, kini beranjak untuk menghampiri, Rey.
"Sayang, kita pulang ya? Ada aku disini. Tidak masalah jika mereka tidak menerima aku, cukup ada kamu aku sudah senang," ucap Kiana.
Rey menyeka air matanya dan menatap Kiana.
"Maaf karena kamu harus melihat aku seperti ini?"
"Tidak papa Rey.. aku mengerti.."
Kini, Rey dan Kiana keluar dari rumah besar itu dengan perasaan mereka masing-masing.
Yang jelas, perasaan Rey saat ini terlihat sangat hancur berkeping-keping.
Sedangkan Kiana, tidak tahu apakah sebenarnya dia ikut prihatin atau malah tertawa diatas derita Rey.. yang jelas, dia adalah pemenangnya saat ini.
..
..
..
..
__ADS_1
FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN DAN VOTE 💞