IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Rela Deminya.


__ADS_3

Ruang interogasi, Aya mendapatkan tekanan untuk memberitahu siapa saja yang terlibat dalam khasus ini.


Diruang interogasi, Aya masih kekeh jika pelaku aslinya adalah Kiana yun dan Yunhi Kia. Aya menceritakan semua kronologi bagaimana dia bisa sampai membawa bom kerumah sakit.


Namun, di ruang interogasi lain kedua pria yang ikut tertangkap mengaku hal berbeda. Mereka mengaku jika Aya adalah bos mereka. Semua ini telah direncanakan oleh Aya.


Entah darimana siapa yang mengajari, kedua orang menjelaskan motiv balas dendam Aya yaitu,


pertama: Karena ayahnya meninggal dirumah sakit itu. Aya menganggap jika dokter telah lalai memberi penanganan.


Kedua : karena tuan Maher telah memaksa Aya untuk menikah dengan anaknya dan anaknya malah menikahi tetangga setelah mereka satu Minggu menikah.


"Lalu, bisa anda jelaskan dengan motiv yang sudah dikatakan disaat kejadian.?"


Kedua orang itu menjawab dari ruangan yang berbeda. Karena disaat interogasi, satu orang satu ruangan.


"Itu hanyalah ...." Belum selesai bicara, Paman Tri masuk untuk mengintrogasi salah satu dari mereka. Tidak lupa Paman Tri juga menyuruh orang lain untuk keluar.


Tanpa basa-basi, paman Tri langsung menanyakan." Siapa orang dibalik kalian. Jangan buang-buang waktuku. Jika kalian mengatakan yang sebenarnya, aku akan mengurangi hukuman kalian!"


Tangan hacker itu gemetar ketika menghadap Paman Tri. Merasa tidak ada pilihan, tiba-tiba kedua hacker itu dari ruangan yang berbeda memakan pil yang ada disaku mereka.


Jelas tindakan mereka membuat semua orang yang berada disana panik.


Pil itu sungguh sangat mematikan. Mereka lebih memilih mati daripada harus mengatakan yang sebenarnya. Bukan karena alasan, Yunhi telah memberikan mereka uang yang begitu sangat banyak untuk menjamin kehidupan keluarga mereka.

__ADS_1


Paman Tri langsung meninggalkan hacker yang sudah mati, dan dia berjalan menuju ruangan Aya. Terlihat jika Aya masih terus mengelak untuk mangaku. Aya masih terus mengatakan apa yang harus dia katakan, tapi tidak ada yang percaya dengan ucapannya.


Aya sedikit lega ketika melihat paman Tri memasuki ruangan yang ia singgahi.


Paman Tri meminta untuk diberikan waktu untuk mengintrogasi Aya.


Semua orang menunduk dan meninggalkan Aya dan paman Tri untuk berbincang.


"Paman, apakah paman dapat percaya denganku?" tanya Aya dengan mata yang tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata.


Paman Tri mematikan perekam suara supaya obrolan mereka tidak didengar oleh siapapun.


"Aya, saya sangat percaya kepadamu. Saya tahu jika kamu bukanlah pelaku yang sesungguhnya. Tapi satu permintaan saya. Tolong kamu dapat berkerjasama dengan kami untuk menangkap pelaku yang sesungguhnya. Caranya adalah, untuk sementara kamu akui saja dulu kesalahan kamu dan ikuti segala prosedurnya. Mungkin ini akan sedikit menyiksamu, tapi aku akan sebisa mungkin untuk menjagamu didalam sini. Jika kamu dibebaskan sekarang, maka pelaku sesungguhnya akan akan langsung melarikan diri. Kita harus memancing mereka untuk masuk kedalam jerat kita," ujar paman Tri.


"Paman, walaupun nyawaku menjadi taruhannya, aku rela melakukan apapun supaya pelaku yang sesungguhnya dapat tertangkap. Paman, satu pintaku, tolong paman jaga A'ak Rey. Dia dalam tidak baik-baik saja didekat Yunhi," ujar Aya.


"Dari awal kami memang sudah mencurigai wanita itu, hanya saja kami tidak bisa bertindak tanpa bukti. Aku harap, kamu dapat menyembunyikan ini dari Rey. Biar saya yang akan bertindak untuk mengumpulkan segala bukti. Takutnya, jika Rey tahu dia akan bertindak ceroboh dan malah mengacaukan segalanya."


"Iya paman. Aya mengerti, terima kasih banyak karena paman telah percaya padaku. Sekarang, meskipun aku harus mati aku rela," ucap Aya dengan perasaan yang tidak dapat dijelaskan.


"Kamu tenang saja, kamu tidak akan mati begitu saja. Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik. Assalamualaikum.."


"Walaikum salam ..."


Setelah paman Tri pergi, akhirnya Aya mengakui jika semua itu adalah perbuatannya dan membuat dia harus mendekam di penjara untuk menunggu waktu sidang.

__ADS_1


Dipenjara, Aya disatukan dengan beberapa tawanan dengan kasus yang berat. Seperti pembunuhan dan juga bandar narkoba.


Para wanita bengis itu menatap Aya dengan tatapan ingin memakannya hidup-hidup.


Ketika para wanita bengis itu ingin mendekati Aya, tiba-tiba Wisnu datang untuk menyapa Aya membuat para wanita bengis itu mundur Kembali.


"A'ak Wisnu?"


"Aya, mengapa kamu mengakui semua kesalahan yang tidak kamu lakukan!?" tanya Wisnu merasa tidak percaya.


"Ak, ini demi kebaikan bersama. Selama aku disini, tolong a'ak jaga a'ak Rey. Bisa saja dia dalam bahaya," ujar Aya terlihat memohon membuat rasa cemburu menyelimuti hati Wisnu.


"Akan aku lakukan semampu aku, Aya. Jaga diri baik-baik ya. Aku akan sering sering mengunjungimu," ucap Wisnu dengan hati yang begitu berat.


"Aku akan baik-baik saja, Ak. Terima kasih banyak untuk segalanya. A'ak selalu yang terbaik."


Wisnu hanya bisa tersenyum dan mengapa semua penghuni Yanga dan didalam bersama dengan Aya.


"Hay kalian semua !! Jika sampai kalian menyentuh dia meski hanya seujung kuku, aku jamin kalian menyesal seumur hidup kalian. Apa kalian mengerti!! Bertemanlah dengannya, dan jadilah manusia yang baik," tukas Wisnu mengancam semua para napi yang berada satu sel dengan Aya.


Aya hanya bisa tersenyum mendengar Wisnu menggertak. Selama ini Wisnu terlihat sangat lembut, jadi ketika dia marah dimata Aya itu sangat lucu karena wajah Wisnu tidak ada seram seramnya.


..


Kini, Aya hanya bisa duduk dipojok sembari wiritan. Dia berharap, semoga cahaya kedamain datang setelah badai ini. Sungguh Aya tidak dapat percaya apa yang barusan terjadi. Dalam sekejap mata, kini kehidupan dia bisa berubah drastis seperti ini. Sungguh ini adalah kuasa Allah yang sama sekali diluar kendali manusia. Aya hanya bisa menunggu keajaiban menyapanya.

__ADS_1


__ADS_2