
Acara resepsi masih berjalan meriah. Beberapa undangan bahkan meminta izin untuk berfoto dengan Aya. Sikap ramah tamah Aya membuat para tamu sangat menyukai dirinya.
Rey mengizinkan Aya untuk berbincang-bincang dengan beberapa tamu undangan, yang tidak lain adalah teman-teman sosialitanya mama Salamah.
Disamping mama Salamah, Aya bagaikan putri yang selalu mendapatkan pujian mewah. Mama Salamah tidak henti-hentinya menjunjung tinggi nama Aya didepan semua teman-temannya. Membuat sepasang mata elang terbakar oleh api cemburu.
Ketika Yunhi ingin pergi meninggalkan acara, tidak sengaja dia menabrak seseorang yang datang dari arah berlawanan. Yang tidak bukan lain adalah, Wisnu.
BUUGGHH....
Dua mata kini saling menatap. Wisnu menatap lekat wanita yang telah menabraknya dan membuat bajunya kotor dengan air jus yang ia bawa.
Melihat Wisnu yang menatap dirinya lekat-lekat membuat Yunhi mencoba membenarkan maskernya.
"Maaf, Tuan. Maaf tadi saya tidak sengaja. Saya akan membersihkan ini," ucap Yunhi dengan gugup. Yunhi yang menyamar sebagai pelayan, jelas Wisnu tidak dapat mengenali Yunhi. Ditambah jika Yunhi memakai masker dan mempermak wajahnya supaya tidak terlihat seperti Yunhi.
"Tidak papa mbk," ucap Wisnu sembari membantu Yunhi memungut serpihan beling yang tercecer. Ketika saat akan selesai, mata Wisnu tidak sengaja melihat cincin yang digunakan oleh Yunhi. Jelas Wisnu dapat mengenali cincin itu, karena dialah yang memilihkan cincin itu ketika Rey dan Yunhi akan menikah.
Ketika Wisnu ingin berbicara, Yunhi dengan cepat pergi meninggalkan Wisnu yang masih terlihat bingung.
"Apakah dia!? Ah, mungkin saja bukan. Cincin itu tidak hanya ada satu. Bisa saja dia orang yang berbeda," batin Wisnu yang tidak ingin ambil pusing.
Baju yang basah membuat Wisnu merasa tidak nyaman. Wisnu berfikir jika dia akan meminjam baju Rey dahulu.
Wisnu melihat Rey yang sedang berjalan menjauhi kerumunan.
"Bro!!" sapa Wisnu.
Mendengar ada yang memanggilnya, Rey mencoba menoleh.
"Ah, Wisnu. Ada apa bro? Loh, baju Lu kenapa?" tanya Rey.
"Tadi tidak sengaja tabrakan dengan pelayanan. Gua pinjam baju Lu dulu ya, risih gua pakek baju basah gini."
"Astaga, nanti gua pecat pembantu itu. Apa dia tidak punya mata!!" umpat Rey kesal.
"Sudahlah Bro tidak papa. Jangan berlebihan, mungkin karena banyak tamu dia buru buru. Oya, elu mau kemana? Acara belum selesai," tanya Wisnu.
"Emm, Aya masih mau ganti baju dan gua mau bicara dengan papah dan paman. Ini soal Vidio yang tadi, kami mau cari tahu siapa orang yang sudah menyebarkan Vidio itu," jelas Rey.
"Oh iya, itu kok bisa gitu sih Rey. Gua aja kaget loh pas liat tu Vidio. Amatir Banget," ucap Wisnu dengan ekspresi tidak percaya.
"Udah paman gua jelasin, bukan dia pelakunya. Ya sudah, Lu masuk kekamar gua aja. Gua udah ditungguin, nih."
"Thanks bro. Gua gak minjam ya, tapi gua mau minta baju Lu," ucap Wisnu sembari bergurau.
"Pilih aja mana yang lu mau. Jika peluru bawa semua," jawab Rey membalas gurauan Wisnu.
__ADS_1
"Ah siap bos," jawab Wisnu dengan antusias.
Rey menepuk pundak Wisnu dan berlalu meninggalkannya. Meskipun Wisnu masih merasa kesal kepada sahabatnya, tapi Wisnu tidak dapat berlarut-larut dalam kekecewaannya. Wisnu tahu, niat Rey sangatlah mulia. Dia berniat untuk menyatukan Wisnu dan Aya. Namun bukan itu yang Wisnu harapkan dari, Rey. Wisnu berharap, Rey dapat menyayangi Aya dan mencintai Aya sepenuh jiwa raganya sebagimana dia mencintai Aya.
..
Wisnu berjalan dengan buru-buru kelantai dua menuju kamar Rey. Karena buru-buru, Wisnu tidak sengaja masuk kamar yang digunakan oleh Aya untuk bermake-up.
Aya yang sedang menatap kearah jendela dengan tersenyum membalikan tubuhnya, Aya mengira jika yang datang adalah mbk tukang rias yang sedang ia tunggu.
Namun, begitu terkejutnya Aya ketika melihat yang datang adalah Wisnu.
"Aya ..."
"Ak, Wisnu.."
"Ah, maaf Aya. Aku salah kamar, aku tadi ingin masuk kekamar Rey," ucap Wisnu canggung, dan dia berniat untuk keluar saat itu juga.
"Tunggu Ak," ucap Aya menghentikan Wisnu.
Wisnu yang merasa ditahan, mencoba untuk mengurungkan niatnya.
"Iya, ada apa?" tanya Wisnu dengan mata yang mulai memerah. Bagiamana tidak, sejujurnya Wisnu sangat tidak sanggup jika harus berhadapan dengan seseorang yang sangat ia cintai. Namun kini, ia telah berbalut baju pengantin selaras dengan sahabatnya.
"Ak, bisa tolong jelaskan," tanya Aya mencoba untuk memberanikan diri.
"Bisa dijelaskan, mengapa A'ak tidak datang pada saat itu. Jika A'ak datang, mungkin saja hal ini tidak akan terjadi," ucap Aya dengan mata yang berkaca-kaca. Sejujurnya, sungguh Aya sangat malu untuk menanyakan hal tersebut kepada Wisnu. Sebagai istri pria lain, tidak sepatutnya Aya mengucapkan hal seperti itu, sama halnya, jika dia telah menyesali pernikahannya dan tidak menerima takdir yang telah tertulis untuknya.
"Apakah kamu menyesali pernikahanmu?" tanya Wisnu dengan nada bergurau.
"Ah, Emm,, bukan begitu Ak," jawab Aya merasa canggung.
Wisnu tersenyum dan membuka wik rambut palsunya. Karena mengikuti pelatihan, jelas rambut Wisnu di papras habis. Karena tidak percaya diri dengan rambut botak, Wisnu menggunakan wik untuk menutupi kepala botaknya.
Aya tercengang melihat bekas luka jahitan yang cukup panjang di kepala Wisnu.
"Ak, kenapa itu?" tanya Aya.
"Maafkan aku karena tidak dapat kembali pada saat itu. Malam itu, aku mengalami kecelakaan yang cukup parah. Aku koma selama 7 hari," jawab Wisnu.
Mendengar itu, hati Aya tiba-tiba merasa sangat sakit. Jelas dia menyalahkan dirinya sendiri. Karena dia, Wisnu harus mengalami hal yang sangat menyakiti kan.
"Astaghfirullah, mengapa paman tidak mengatakan jika a'ak koma pada saat itu!?"
"Abah sebenarnya ingin mengatakan kepada mu, tetapi ketika dia mendengar jika kamu telah di nikahi oleh orang kota, Abah mengurungkan niatnya," jelas Wisnu.
"Maafkan aku, Ak. Maaf," ucap Aya menundukkan kepalanya dengan sangat dalam.
__ADS_1
"Aya, aku sudah tidak papa. Kamu hidup yang bahagia ya dengan Rey. Dia sebenarnya pria yang baik, hanya mungkin dia masih dalam fase tidak setabil. Apa kamu tahu Aya. Pria bodoh itu tadi mengatakan hal konyol padaku."
"Apa itu, Ak?"
"Dia mengatakan, jika dia ingin kita menikah. Acara ini adalah untuk kita katanya. Dia ingin menalak kamu dan memanggil seorang penghulu untuk kita. Bukankah dia pria yang konyol," ucap Wisnu dengan nada bergurau.
Mendengar suaminya ingin menalaknya, jelas hati Aya merasa sangat sakit. Selama ini, dia diam supaya suaminya dapat menerima dirinya sebagai istri yang utuh.
Melihat kesenduan Aya membuat Wisnu mengerti.
"Aya, kamu tenang saja. Rey tidaklah benar-benar ingin mentalak kamu. Dia hanya merasa terkejut dan merasa bersalah ketika mengetahui jika kamu adalah teman baikku. Aya, berjanjilah. Berjanjilah jika kamu akan hidup bahagia dengan pedoman yang selama ini kamu pelajari. Jangan lupa selalu beristigfar dan jangan tinggalkan sholat malam. Aku pamit," ucap Wisnu dengan nada narik turun. Sungguh sejujurnya ini juga sangat menyakitkan bagi Wisnu. Namun ia harus sadar kenyataan, jika wanita yang ia cintai kini adalah istri dari sahabatnya.
Disisi lain, dibalik pintu Rey mendengar segalanya. Rey yang awalnya ingin memberikan kunci kamarnya kepada Wisnu, tidak sengaja melihat adegan dimana istrinya dan sahabatnya sedang berbincang.
Rey sangat tidak percaya. Dia sungguh sangat beruntung mendapatkan sahabat seperti Wisnu. Meskipun dia telah berbuat tidak baik, tapi Wisnu masih menjaga nama baiknya didepan Aya.
Melihat Wisnu akan keluar, Rey langsung segera menuju kamarnya dan membuka pintunya. Setelah pintu terbuka, Rey langsung segera pergi dari tempat itu.
.
Aya menatap Wisnu dengan lekat lekat, dan ia tersenyum.
"Terima kasih banyak, ak. Semoga Allah selalu melindungi mu," ucap Aya.
"Amiin, untukmu juga Aya. Assalamualaikum," ucap Wisnu berpamitan.
"Walaikum salam."
Ketika Wisnu akan keluar, dia menghentikan langkahnya dan berkata tanpa menoleh.
"Aya, jika ada masalah. Aku selalu ada untukmu sebagai kakak bagimu," ucap Wisnu lalu segera keluar dari kamar Aya.
"Terima kasih, Ak," ucap Aya dengan sangat lirih.
..
Wisnu dengan senyum lega masuk kedalam kamar Rey. Mengingat ucapan Rey, Wisnu tersenyum dan mengambil koper. Wisnu berniat membawa semua baju Rey. Karena Rey telah menawarinya, jadi Wisnu tidak ingin membuang kesempatan.
Walaupun Wisnu tahu jika Rey hanya bergurau, tapi karena rasa kesal Wisnu kepada Rey, dia akhirnya membalas Rey dengan membawa semua baju cadangan Rey yang ada dirumah utama.
Dengan senyum puas, kini Wisnu keluar dengan membawa koper besar ditangannya.
..
..
..
__ADS_1
FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN DAN VOTE 💞💞💞🙏🙏🙏🥰🥰🥰🎉🎉🎉🎉💓💓💓💓