
Setelah mendapatkan telfon dari kampung, tangan Aya bergetar hebat karena rasa tidak percaya.
"Inalillahi ya Allah..," ucap Aya yang tidak kuasa menahan air matanya.
Mama Salamah yang mendengar suara pekikan Aya langsung menuju kamarnya.
"Sayang, ada apa?" tanya mama Salamah yang cemas melihat Aya tiba-tiba menangis sesegukan.
"Nenek, ia telah meninggal mah," ujar Aya yang tak kuasa menahan sedihnya.
"Inalillahi wa innailaihi roji'un.. yang sabar ya sayang, kita doakan saja supaya nenek kamu diterima disisinya. Hidup mati sudah ada yang ngatur, kita yang ditinggalkan harus tabah dan sabar," ucap Mama Salamah mencoba untuk menghibur Aya.
"Hik.. hik.. hik... Aya tidak dapat melihat wajah nenek untuk yang terakhir kalinya," ucap Aya yang tak bisa berbuat banyak karena mereka masih berada di Arab.
"Sayang, lebih kita sekarang segera menyelesaikan tugas kita disini supaya kita bisa lekas kembali. Ya?" Mama Salamah masih terus mencoba untuk menenangkan Aya.
"Hiks,,hiks,, iya mah" ujar Aya yang mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
..
Dibawah Ka'bah, Aya mendoakan supaya almarhum neneknya diterima disisi-Nya. Neneknya adalah satu-satunya keluarga yang sangat menyayanginya yang tersisa, namun kini ia telah pergi jua untuk meninggalkan dirinya.
..
Baru 3 hari di Arab, mereka memutuskan untuk langsung kembali. Mereka membatalkan acara jalan-jalan yang sudah dijadwalkan. Rencana mereka akan seminggu di Arab. Namun dengan musibah ini, mereka memutuskan untuk kembali dengan cepat.
Ketika sedang berkemas, mama Salamah menghampiri Aya yang masih terlihat sendu.
"Sayang..?"
"Iya, mah?"
"Apa kamu masih memikirkan nenekmu?"
"Hemm,, Aya hanya merasa semuanya terjadi begitu cepat, mah. Aya selalu kehilangan orang Aya sayangi dan cintai dalam keadaan dimana Aya masih sangat belum siap kehilangan mereka," ujarnya.
"Sayang, hidup dan mati itu memang rahasia yang maha kuasa, kita tidak dapat memilih kapan manusia itu harus mati. Tambahkanlah hatimu sayang, kamu harus tetap tegar dan menjalankan hidup kita dengan tabah."
"Iya, mah. Terima kasih banyak karena kalian telah menerima Aya sebagai bagian dari keluarga mamah dan papah. Aya tidak tahu, apa yang harus Aya lakukan tanpa kalian."
"Semua sudah takdir sayang. Kamu berada disini pun itu sudah takdir dari yang maha kuasa. Sekarang, kamu juga harus memikirkan takdirmu dan Wisnu untuk kelanjutannya," ujar mama Salamah mencoba untuk mengingatkan Aya tentang Wisnu yang ingin melamarnya.
"Mamaaaah," rengek Aya malu-malu.
"Ini cincinnya. Jika kamu sudah dapat menerima dia, pakailah cincinnya ini. Niat dia sangat baik sayang. Mama dan papa akan selalu mendukungmu."
Aya menatap cincin indah itu dengan perasaan haru. Aya tidak percaya, jika saat ini dia Wisnu berada dimana kemungkinan besar mereka akan dapat bersatu.
"Mah, boleh Aya pakai cincinnya?"
"Tentu boleh sayang, boleh sekali.. pakailah.."
Dengan hati yang berdebar-debar, Aya memakai cincin itu dengan perlahan. Tetesan air mata haru tak dapat Aya bendung lagi.
Mama Salamah dengan lembut menghapus air mata Aya dengan lembut.
"Semoga kamu dapat bahagia dengannya sayang."
"Amin, terima kasih mah atas segala." Aya memeluk mama Salamah dengan sangat erat.
Tok.. tok...
"Mamaaah,, Aya,,, sudah siap belum?" tanya Tuan Maher dari pintu.
"Iya paaahh!! Sudah, sebentar .." Mama Salamah langsung mengambil koper Aya dan membawanya keluar.
__ADS_1
"Ayok sayang, papa sudah memanggil. Kita harus cepat biar gak ketinggalan pesawat," ujar mama Salamah.
"Iya, mah."
...
Kini hati Aya sudah mantap untuk menerima seorang pria untuk dijadikannya sebagai imam didalam rumah tangganya.
Meski ia berfikir ini terlalu cepat, namun tak dapat dipungkiri jika sebenarnya lebih cepat lebih baik.
..
Singkat cerita, kini Aya sudah berada dikuburkan sang nenek bersama dengan Wisnu.
Aya berdoa dan menaburkan bunga segar kemakam neneknya yang masih basah.
"Nek, maafkan Aya yang tidak menemani nenek disaat-saat terakhir nenek. Semoga nenek tenang disana dan bahagia bersama dengan ibu, abah, kakek. Aya akan selalu mendoakan kalian." Aya terlihat tegar untuk mengucapkan selamat perpisahan.
"Nenek, kakek, Abah, ibu, disini Saya ingin meminta restu untuk meminang Aya untuk saya jadikan istri. Abah, Abah tenang saja, saya janji akan membahagiakan Aya dengan penuh kasih dan sayang," ujar Wisnu membuat Aya tersenyum tidak percaya.
"Ak, apakah tidak terlalu cepat?" tanya Aya.
"Aya, memang apalagi yang kita tunggu?" tanya Wisnu kembali.
Aya hanya tersenyum tak bergeming.
"Aya...?" panggil seseorang dari belakang.
"Bibik, paman?" Aya terkejut.
"Keluarga kita kini hanya tinggal kita. Bibik dan paman minta maaf atas semua sikap buruk kami terhadap kamu selama ini," ucap Bibik dengan tulus.
Aya memeluk bibik'nya untuk melepaskan rindu yang mendalam. Sungguh ini adalah hal yang paling membahagiakan. Bibik dan pamannya selama ini selalu memusuhinya hanya karena kakak mereka meninggalkan ketika melahirkan Aya.
"Hik..hik..hik... Iya bik, Aya juga minta maaf bila Aya selama ini telah banyak berbuat salah," ucap Aya menangis harus dipelukan sang Bibik.
..
Kini Aya dan Wisnu berada dirumah almarhum sang nenek.
Tanpa basa-basi Wisnu langsung meminta restu untuk menikahi Aya.
Sebelumnya, Aya sudah menceritakan semuanya kepada bibi dan pamannya apa yang sudah terjadi dengan rumah tangganya dengan Rey Maher.
"Aya, semoga kamu bahagia dengan Wisnu. Yang lalu biarlah berlalu. Bibik doakan semoga kamu dapat menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah bersama dengan Wisnu."
"Amiin,, terima kasih banyak Bik atas doanya. Insyallah Aya akan sering sering main ke desa jika ada kesempatan," ujar Aya.
"Iya, neng. Ya sudah nanti keburu malam. Hati-hati dijalan ya."
"Iya bik. Paman, Aya pamit dulu, assalamualaikum.."
"Walaikum salam ..."
Ketika sudah mengantongi restu, kini Wisnu dan Aya kembali kerumah utama. Segala persiapan akan dilaksanakan dirumah utama.
Wisnu sengaja tidak membawa Aya kerumahnya, karena Wisnu berniat akan membawa kedua orang tuanya untuk melamar Aya.
Didalam mobil mereka hanya saling diam. Posisi duduk, Aya berada di kursi belakang. Aya hanya fokus menatap jendela sembari melamun. Sesekali Wisnu menatap Aya dari kaca spion, Wisnu merasa seperti ada sesuatu dengan wajah sendu Aya.
"Aya, jika memang kamu masih ragu dengan hubungan kita, aku tidak akan memaksa," ucap Wisnu tiba-tiba.
"Apa maksud kamu, ak?" tanya Aya yang terkejut.
"Jika kamu belum siap, aku tidak papa," lanjutnya.
__ADS_1
"Ak, bukannya aku tidak siap. Hanya saja, apakah Abah a'ak dapat menerima aku? Secara Aya seorang janda saat ini," jawabnya.
"Ooww jadi kamu dari tadi melamun karena memikirkan itu? Kamu tenang saja Aya, Abah sama umi sudah merestui hubungan kita. A'ak sudah membicarakan soal ini kepada mereka," ujar Wisnu.
"Benarkah, Ak?"
"Iya, Aya.. sekarang lebih baik istirahat saja, nanti jika sudah sampai akan a'ak bangunkan."
"Iya, Ak. Aku juga sedikit lelah karena habis pulang dari Arab langsung otw kampung. Ini tidak papa jika aku tinggal istirahat?"
"Iya Aya, tidak papa," jawab Wisnu dengan senyumnya.
.
Singkat cerita, kini mereka telah sampai dirumah utama.
Aya dan Wisnu turun dari mobil.
"Kalian sudah pulang?" sapa Mama salamah dan Tuan Maher. Mereka tidak ikut karena Tuan maher ada urusan mendadak.
"Ah, iya Tante. Oya, saya langsung pamit pulang ya? ini kunci mobilnya, om. Terima kasih, om" ujar Wisnu mengembalikan kunci mobil Tuan Maher.
"Sama-sama nak Wisnu. Nak Wisnu gak masuk dulu?" tanya Tuan Maher.
"Ah, tidak om. Sebentar lagi menjelang magrib. Wisnu langsung pulang ke kontrakan saja," jawab Wisnu sopan.
"Oya begitu, ya sudah hati-hati ya dijalan," ujar Mama Salamah.
"Iya Tante, Om, Aya saya pamit ya, assalamualaikum.."
"Walaikum salam ..."
Wisnu akhirnya dengan motornya pergi dari rumah Tuan Maher.
"Aya, masuk yuk?" ujar Mama Salamah.
"Iya mah .."
"Bagaimana?" tanya mama Salamah.
"Emm, kata a'ak seminggu lagi dia akan membawa kedua orang tuanya datang kemari untuk melamar Aya," jawab Aya malu-malu.
"Alhamdulillah, semakin cepat lebih baik, Aya," suhut Taun Maher.
"Iya pah.."
"Aya, kamu mandi dulu nanti mama panggil untuk makan malam," ujar Mama Salamah.
"Baik mah, Aya kekamar dulu ya,?"
"Iya sayang ..."
..
Tuan Maher dan mama Salamah tersenyum melihat kebahagiaan Aya. Namun, mereka juga sebenarnya sedih karena mereka harus kehilangan anak satu-satuny. Rey sama sekali tidak pernah menampakkan wajahnya didepan kedua orang tuanya. Meskipun Tuan Maher telah berkata, namun jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin melihat putranya datang untuk membujuknya. Namun sayang, harapan itu sepertinya sia-sia.
...
..
..
..
..
__ADS_1
FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN DAN VOTE 💞