
Semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga untuk mendengarkan jawaban dari Aya. Hanya tinggal menunggu Wisnu dan Rey yang belum juga kunjung datang.
Mama Salamah terus berada disisi Aya untuk merangkulnya supaya tegar dan kuat.
Ketika dalam hening menunggu. Terdengar suara tertawa dari seberang jalan.
"Hahaha....hahahahahaa...." suara tawa Rey dan Wisnu yang saling bergurau.
Aya melirik suaminya yang dapat tertawa lepas seperti itu padahal dia tahu istrinya sedang merasa berduka karena ulahnya.
Ketika sampai depan rumah, Rey dan Wisnu langsung terdiam karena ternyata di ruang tamu semua orang sudah berkumpul, bahkan Aya juga ada disana.
Kedua sahabat yang awalnya tertawa kini langsung menciut dan terdiam.
"Kalian masih tertawa ya?" sindir Paman Ujang.
"Disini istrinya sedang berduka, sedang sakit hati, tapi suaminya malah tertawa merasa tak berdosa," lanjut Bibik Neneng.
"Rey !! Duduk !!" perintah Mama Salamah.
"Wisnu, kamu benar-benar membuat Abah malu. Bagaimana kamu bisa tertawa di atas kesedihan istri kamu !! Bukannya merenungi kesalahan, kalian malah asyik bercanda," tegur Abah.
"Maaf pak. Kami tadi hanya saling menghibur," jawab Rey membela Wisnu.
"Maaf Aya, bukannya aku tidak merenungi kesalahan aku. Sungguh aku sangat menyesal sampai tidak tahu lagi bagaimana caranya aku meminta maaf. Aku juga sebenarnya sedang menghibur Rey, karena ternyata ibu kandungnya adalah Bibik Gia, yang telah di bunuh oleh Yunhi, dan ternyata kini Yunhi dan Kiana telah mati, membuat kita tidak dapat memberi mereka pelajaran," jelas Wisnu membela diri dan juga Rey.
"Mora, maafkan atas sikap kasar aku. Sungguh, aku tak pernah menyangka jika kita adalah saudara kandung. Tidak tahu harus senang atau marah. Tapi aku sedang mencoba untuk memikirkannya," ucap Rey.
"Tidak papa Rey. Kamu dapat menerima aku dan Ayah, itu sudah cukup bagi kami. Tidak perlu kamu mencintai atau menyayangi kami, kamu mau mengakui kami sebagai bagian dari keluarga kamu, kami sungguh sangat senang," jawab Mora.
Aya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tak menghiraukan pembicaraan semua orang. Dia hanya memikirkan apa yang harus dia katakan. Sungguh ini hal yang berat baginya.
"Aku ingin memberinya kesempatan. Tapi, Apakah aku sanggup harus bersanding dengan maduku. Aku harus mengurangkan niat untuk kembali serumah dengannya," batin Aya.
__ADS_1
"Ehm.. kita akan kembali ke masalah yang sesungguhnya.
Aya Humaira, kamu adalah menantu sekaligus anak dirumah ini. Dengan berat hati saya mengatakan bahwa saya telah gagal menjadi seorang ayah yang baik untuk anak saya Wisnu sehingga dia dapat dengan mudah berperilaku tidak baik kepadamu. Disini kita semua mengetahui jika anak saya Wisnu telah menodai janji cinta suci kalian dengan menikahi wanita yang bernama Mora dengan alasan yang ada. Semua sudah dijelaskan semua sudah di jabarkan, sekarang kami kembalikan semua keputusan ini kepada anak saya, Aya. Apakah anda bersedia di madu atau ada jalan lain yang ingin Aya sampaikan kepada kami semua yang ada disini?"
Aya meremas kuat gamisnya, sedangkan Wisnu berdebar-debar menanti jawaban apa yang akan diberikan oleh Aya.
Wisnu ingin berbicara, namun ditahan oleh Rey.
"Diamlah kalo kamu gak mau hal buruk terjadi," bisik Rey.
"Ini masih sangat sulit untuk saya. Sungguh saya tidak siap di madu, tapi saya juga belum dapat mengambil keputusan.
Saya berfikir, semua cobaan ini karena kurangnya hati dan jasad ini dekat dengan sang pencipta.
Maka dari itu, tidak saya kurangi rasa hormat saya kepada suami saya, izinkan saya berfikir dan meresapi semua yang terjadi kepada diri saya disebuah pesantren.
Selama saya hamil sampai melahirkan, saya tidak akan mengizinkan kaki pulang kerumah dan menampakkan wajah saya secara terang-terangan dan juga bertemu kontak fisik kepada suami saya sampai keputusan mutlak saya ambil. Ataukah saya menerima atau tidaknya rujuk kembali kepada suami saya. Semua keputusan itu saya berikan setelah anak saya lahir," ucap Aya dengan penuh ketegaran.
Wisnu yang mendengar ucapan istrinya langsung merasakan seribu belati menusuk jantungnya. Bagaimana bisa selama itu dia tidak diizinkan bertemu dan menatap wajah istrinya sendiri.
Namun Aya malah bangkit dan berkata.
"Jika A'ak tidak bersedia menungguku, lupakan aku dan hiduplah bahagia bersama dengan istrimu yang lain," ucap Aya lalu pergi masuk kedalam kamarnya.
"Tidak Aya.. tidaaakk... Ayaaaaa aku mohooon Aya .. Ayaaaaaaaaa !!!!?" teriak Wisnu memohon. Bahkan tidak hanya Wisnu yang menangis, semua orang disana pun ikut menangis.
"HAAAAAAAAA..... !!!!!!" teriak Wisnu histeris.
Rey melihat sahabatnya menggantikan posisi kesedihannya, langsung merangkul dan memeluknya.
"Bro, sabar bro.. loe harus buktiin ke Aya bahwa loe bisa. Loe pasti bisa," ucap Rey mencoba menegarkan Wisnu.
...
__ADS_1
BRAK !!!
Aya membanting pintu dengan kasar. Sungguh ini juga sangat menyakitkan baginya. Namun hanya dengan cara ini, dia dapat melihat apakah suaminya memang mencintainya atau tidak.
"Hiks... Hiks... Ya allaaaahh, kuatkan hamba, ampuni hamba ya Allah... Sungguh hamba tidak bermaksud durhaka terhadap suami hamba, namun mungkin ini adalah jalan terbaik untuk kami sementara ini. Mohon bimbingan-Mu ya Rab.. hiks... Hiks..."
..
Di ruang tamu, semua orang masih dalam duka yang besar. Menatap raungan Wisnu membuat semua orang hanyut dalam kesedihan yang terjadi diantara rumah tangga Aya dan Wisnu.
Miras bergerak hati untuk menyelamatkan rumah tangga Wisnu dan Aya.
"Saya akan ikut dengan Aya di pesantren," ucap Mora membuat semua orang menatapnya.
"Mora ..?" ucap Ayah lirih. Namun Mora memegang tangan ayahnya dan memejamkan mata untuk meyakinkannya bahwa tindakannya adalah benar.
"Aku akan ikut bersama dengan Aya ke pesantren. Saya juga akan melahirkan anak bersama dengan Aya. Saya juga tidak akan bertemu dan berbicara kepada Wisnu sampai anak saya lahir. Setelah anak saya lahir, saya mohon kepada Wisnu, mohon talak saya," ucap Mora dengan yakin dan penuh ketegasan.
Semua orang kini semakin menundukkan kepala mereka. Bahkan Wisnu sudah tidak sanggup lagi harus berkata. Dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepada Mora. Sungguh Wisnu sangat berterima kasih karena Mora bersedia melepaskan Wisnu dari tanggung jawabnya.
Keputusan sudah bulat. Kini Wisnu harus menerima kenyataan jika dirinya akan di asing kan oleh istrinya sendiri. Ia juga harus menerima jika dia tidak dapat melihat langsung berkembang si buah hati mereka.
Wisnu hanya berharap. Semoga selama penantian panjang itu. Aya akan kembali menerima dirinya kembali.
..
..
...
..
π JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR π
__ADS_1
LIKE, KOMEN DAN VOTE π₯Ίπ