IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Kedatangan Tamu


__ADS_3

"Assalamualaikum, pagi sayang," sapa Mama Salamah.


Aya sedang membuat sarapan untuk dirinya sendiri, karena ia ingin memberikan waktu pada suaminya untuk menghabiskan waktu bersama dengan madunya.


"Walaikum salam mah. Masyaallah, pagi ini mama cantik sekali," puji Aya.


"Ah, haha alhamdulillah sayang. Kamu juga cantik kok, meski mama belum pernah melihat wajah kamu," ucap Mama Salamah sembari mendekati Aya yang sedang memotong wortel.


"Ah, maafkan Aya mah. Jika diperbolehkan, Aya akan membuka cadar Aya untuk mama," ucap Aya yang merasa tidak enak.


Mama Salamah tersenyum.


"Tidak perlu sayang, biar ini akan menjadi kejutan nanti. Mama akan membuat acara kecil-kecil untuk merayakan resepsi pernikahan kalian, bagaimana?" tanya mama Salamah antusias.


"Emm, Aya ikut saja bagaimana dengan A'ak Rey mah," jawab Aya sungkan.


"Oh iya, dimana Rey?" tanya mama Salamah.


Aya yang baru sadar jika Rey masih dirumah Yunhi langsung merasa cemas, bagaimana ia harus mengatakan pada mertuanya.


"Ah, emmm ..."


"Apa dia sedang tidur, pulang jam berapa kemarin dia?" tanya mama Salamah sembari berjalan menuju kamar Rey berniat ingin membangunkannya.


Melihat mertuanya telah menjauh, Aya langsung mengambil handphonenya dan untuk menelvon Yunhi.


"Halo, assalamualaikum Yunhi, sampaikan pada A'ak Rey jika mamah ada disini," ucap Aya berbisik-bisik.


"Baik mbk."


Panggilan terputus, Rey yang mendengar kabar jika ibunya datang langsung beranjak dari duduk lehai-lehainya.


"Oh tuhan, kenapa mama pagi-pagi sekali sudah datang kerumah sih. Biasanya juga cuma sebulan sekali berkunjung kerumah," umpat Rey sembari bingung untuk cari alasan.


Melihat kebingungan suaminya, Yunhi memiliki ide.


"Kak, kenapa tidak pakai ini saja," ucap Yunhi memberikan baju olahraga.


"Ah, ide bagus sayang. Terima kasih banyak ya," ucap Rey yang langsung menggunakan baju berwarna biru muda selaras dengan sepatunya. Sedikit kecil, tapi masih layak ditubuh Rey.


"Sayang, aku pergi dulu ya. Nanti aku akan menemui kamu lagi," ucap Rey dengan buru-buru.


Yunhi mencium tangan suaminya.


"Iya kak, aku selalu ada disini," jawab Yunhi lagi-lagi dengan senyum yang sangat manis.


Rey mencium kening istrinya sebelum akhirnya beranjak dan meninggalkannya.


Rey mencoba untuk berlari didepan pagar rumahnya, bolak balik bolak balik untuk mendapatkan keringat.


Dirasa keringat sudah membasahi wajah, Rey dengan siap menemui ibunya.


"Aya, Rey dimana? Dia tidak ada didalam kamarnya!" ucap Mama Salamah kembali menghampiri Aya.


"Aku disini mah," jawab Rey dari kejauhan.


"Sayang, ternyata kamu habis olahraga? Ya sudah, kamu bersihkan diri dulu. Mama ingin bicara denganmu."


"Baik mah," jawab Rey sembari mengedipkan satu matanya kepada Aya. Aya yang sedari tadi hanya melihat drama yang suaminya berikan, merasa canggung ketika menerima kedipan itu.


"Hemm, anak itu. Oya Aya, buatkan mamah teh dua ya, satunya untuk Rey. Mama tunggu ditaman belakang, ya" ucap Mama Salamah meninggalkan Aya.


"Baik, mah."


Aya dengan gesit membuatkan teh hangat dengan ukuran yang sudah ia kira-kira.

__ADS_1


"Dimana Mama?" tanya Rey yang sudah mengganti bajunya.


"Ah, mama ada ditaman Ak. Ini minuman tehnya juga sudah siap, aku akan membawakannya," ucap Aya yang sudah siap dengan nampan ditangannya.


"Ya sudah, ayok," ucap Rey.


"Iya, Ak."


Mama Salamah melihat anak dan menantunya berjalan dengan serasi. Meski tak nampak wajah menantu, namun wajah tampan Rey dipadu dengan ke solehan Aya membuat pemandangan yang begitu sangat indah dimata.


"Assalamualaikum mah, bagaimana kabar mamah," sapa Rey sembari mencium pipi ibunya.


"Walaikum salam sayang, mama baik."


"Aya letakan tehnya disini ya mah. Aya pamit untuk melanjutkan memasaknya," ucap Aya dengan membungkukkan kepalanya.


"Iya sayang, mama akan ikut sarapan jika sudah siap," jawab Mama Salamah tersenyum.


"Baik, mah."


.


"Ada apa mah, sepertinya ada hal yang serius?" tanya Rey sembari meminum teh yang dibutakan oleh Aya.


"Ini soal resepsi pernikahan kamu. Mama tidak enak jika membicarakan ini pada istri kamu mengingat ayahnya baru meninggalkan seminggu yang lalu. Jadi, mama minta sama kamu untuk bicarakan baik-baik soal ini dengan dia, dan juga tolong kamu katakan padanya supaya mau melepaskan cadarnya selama acara berlangsung. Bukan mama mempermasalahkannya, hanya saja supaya lebih pantas dipandang umum," jelas mama Salamah menyampaikan kedatangannya.


"Mah, tidak perlu ada resepsi," jawab Rey dengan nafas beratnya.


"Apa kamu ingin terlihat seperti menikah diam-diam. Apa kata orang sayang!?"


Rey berfikir sejenak. Ia memejamkan mata untuk mengambil keputusan.


"Paman Tri bagaimana, mah?" tanya Rey yang tiba-tiba menanyakan kabar pamannya yang seorang tentara.


"Dia akan kembali dari tugasnya dua hari lagi. Ini waktu yang tepat."


"Ini bukan kepentingan pribadi, Rey. Ini kepentingan bersama. Pokoknya, mama tidak mau tahu, kamu harus berhasil membujuk istri kamu. Wanita Solehah akan menuruti apa kata suaminya, ketika itu tidak diluar batas," ucap Mama Salamah memberikan tekanan pada anaknya.


"Baik mah, Rey akan coba untuk bicara dengannya," jawab Rey yang mencoba untuk menghindari sebuah perdebatan dengan ibunya.


..


Yunhi dibuat bingung dengan handphone Rey yang ketinggalan, terus menerus menunjukan suara panggilan.


"Apa aku antarkan saja ya. Sepertinya, ini penting," gumam Yunhi.


Ting .. Ting ...


Aya mengehentikan aktivitasnya dan berjalan menuju pintu.


"Yunhi ..!?"pekik Aya terkejut.


"Assalamualaikum, mbk," ucap Yunhi dengan senyumnya.


"Ah, walaikum salam Yunhi. Maaf, aku tadi sedikit terkejut. Ada apa?"


"Aku kesini untuk memberikan ini. Handphone kak Rey tertinggal dan tidak henti-hentinya suara panggilan masuk, aku fikir jika ini sangat penting," jawab Yunhi tersenyum sembari memberikan handphone itu pada Aya.


"Siapa, Aya!?" Suara mama Salamah menganggetkan Aya.


Aya membalikan tubuhnya, ia bingung harus menjawab apa.


"Halo, Tante. Saya adalah tetangga disebelah," jawab Yunhi ramah masih dengan senyumnya.


"Oh, jadi kamu tetangga baru yang menepati rumah sebelah?"

__ADS_1


"Iya, Tante."


"Sudah sarapan? Ikut sarapan dengan kami yuk? Menantu saya sudah masak makanan yang sangat lezat," ucap Mama Salamah ramah.


"Ah, tidak usah Tante ..."


"Tidak papa Yunhi, kita makan bersama-sama yuk?" bujuk Aya.


"Baiklah, jika kalian memaksa," ucap Yunhi tersenyum.


Rey yang melihat percakapan para wanita dari jauh, terlihat sangat santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.


.


Dimeja makan. Semua orang sedang menunggu Aya untuk duduk bersama mereka.


Aya meletakan mangkuk kecil terakhir yang berisi sambal.


"Wah, ini sambal petai ya? Aku sangat menyukainya," ucap Yunhi yang selalu melemparkan senyuman ketika berbicara.


"Benarkah, Tante juga suka loh!" sahut mama Salamah.


"Aku pikir hanya aku yang suka makanan ini, sehingga aku hanya membuatnya sedikit," ucap Aya.


"Ini juga cukup kok mbk, asalkan kita saling berbagi," jawab Yunhi membuat Mama Salamah merasa kagum.


"Usia kamu berapa, nak?" tanya mama Salamah.


"Usia aku baru 18 tahun, Tante."


"Wah, masih muda ya. Sudah menikah?" tanya mama Salamah bergurau.


"Aku sudah menikah, Tante," jawab Yunhi tersenyum.


Mendengar jawaban Yunhi, Aya sangat terkejut. Ia terlihat sangat gugup.


Aya mencoba untuk menatap suaminya. Namun Rey hanya menjawab dengan memejamkan matanya, seolah-olah berkata jika semua akan baik-baik saja.


"Benarkah!?" tanya mama Salamah terkejut.


"Hehe, apakah wajahku ini terlihat seperti wanita yang sudah bersuami?" gurau Yunhi.


Mendengar tuturan Yunhi, kini Aya dapat bernafas lega. Entah mengapa, permainan Yunhi dan Rey benar-benar membuat Aya merasa tidak nyaman.


"Aahhahaa, kamu ini ada-ada saja Yunhi. Tante harap, kamu jangan dulu menikah dan bersekolah lah yang tinggi untuk menggapai sebuah cita-cita," ucap Mama Salamah memberi saran.


"Baik Tante," jawab Yunhi.


"Bisa kita mulai sarapannya?" tanya Rey.


"Sudah sayang," jawab Mama Salamah.


Rey langsung memimpin doa makan. Setelah berdoa, kini akhirnya mereka bisa makan dengan nikmat. Tak ada yang bersuara, Aya sesekali menatap suami dan madunya, namun semua terlihat biasa saja, seperti tidak ada yang harus dikhawatirkan.


Aya mengambil nafas dalam-dalam sebelum akhirnya benar-benar menikmati makanan yang ia masak.


....


....


....


...


Cerita ini hanyalah fiksi belakang. Tidak untuk menyingung siapapun dan agama apapun. Mohon maaf jika terdapat beberapa kata yang kurang berkenan. 🙏🙏

__ADS_1


..


Jangan lupa dukungnya dan menangkan hadiahnya 💓💓


__ADS_2