
Pukul 3 dini hari, akhirnya Aya dapat beranjak dari mimpi buruknya.
Karena hal itu, semalaman Aya tidak dapat tidur dengan nyenyak. Ia selalu menunggu waktu yang tepat untuk lepas dari cengkraman suana yang memanas.
Aya melirik kearah suami dan madunya yang sedang saling memberikan kehangatan. Mereka dengan pulas tertidur sembari berpelukan.
Aya memasang alarm supaya suami dan madunya dapat bangun pagi dan sholat bersama. Sedangkan ia sendiri memilih pergi kekamar sebelah untuk melakukan sholat sunah sembari nunggu adzan subuh.
Setelah menunaikan sholat sunah. Kini aya mencoba mengamalkan surat al-ma'tsurat. AL-MA'TSURAT, adalah.
Berdasarkan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Turmudzi dijelaskan bahwa barang siapa yang membaca bacaan surat Al- Ma’tsurat yaitu surat Al-Falaq dan An-Nass di pagi dan sore hari sebanyak tiga kali maka Allah Swt, akan mencukupkan segala kebutuhannya di dunia dan beberapa keutamaan lain, seperti. Terhindar dari sihir dan juga menambah rasa syukur kita terhadap Rahmat Hidayat-Nya.
Tanda kurung
( Al-ma'tsurat ini juga dapat diamalkan sebagai pembersih diri dari gangguan jin dan syetan, tanda kutip" al-ma'tsurat juga dapat digunakan untuk meruqiyah diri sendiri". Untuk para saudara muslim yang ada di manapun, jika ingin mengamalkan surah ini, dapat mendownloadnya diaplikasi play store.)
Beberapa menit berlalu, akhirnya adzan subuh berkumandang. Aya memutuskan untuk sholat seorang diri.
Setelah sholat subuh. Aya memutuskan untuk membersihkan rumah dan memasak.
Aya sebisa mungkin mencoba untuk melupakan apa yang telah terjadi semalam. Karena jika semakin ia ingat, rasanya akan semakin sakit.
..
Pukul 5: 10 dini hari, alarm dikamar utama berbunyi membuat Rey dan Yunhi menggeliat.
"Sayang, jam berapa ini?" tanya Yunhi.
Rey yang mencoba mengumpulkan nyawanya, dengan perlahan meraih jam untuk melihatnya.
"Jam 5 lewat sayang," jawab Rey sembari bangkit dari rebahannya.
"Loh, dimana mbk Aya?" tanya Yunhi yang melihat jika Aya tidak ada disamping Rey.
"Mungkin ia sudah bangun," jawab Rey sembari menuju kamar mandi.
"Kakak mau kemana?" tanya Yunhi.
"Mau mandi, setelah itu sholat," jawab Rey.
"Masih dingin kak, wudhu saja," ucap Yunhi yang belum tahu tata caranya.
Rey mendekati istrinya dan memberinya pengertian.
"Sayang, setelah suami istri melakukan itu, kita diwajibkan untuk mandi besar," jawab Rey sembari membelai rambut Yunhi dengan lembut.
"Oh, begitu ya kak. Ya sudah, ayok!?" ucap Yunhi yang langsung beranjak dari kasur dan menarik Rey.
"Emm, sayang. Kita mandi sendiri-sendiri ya. Aku akan mandi dikamar sebelah," ucap Rey. Entah mengapa, kejadian semalam membuat Rey sangat merasa sangat bersalah kepada Aya.
"Tapi kak-..?"
"Kamu sudah tau tata caranyakan? Caranya sama seperti saat Aya mengajari kamu pada waktu itu," ucap Rey sembari membuka pintu.
"Ah, iya kak," jawab Yunhi dengan senyum manisnya.
"Aku akan kembali, dan kita akan Sholat berjamaah," ucap Rey kembali.
__ADS_1
"Iya, kak," jawab Yunhi masih dengan senyum manisnya. Namun setelah Rey menghilang dari balik pintu, senyum manis Aya berganti dengan senyuman aneh dengan mata yang sangat tajam. Hanya sesaat, dan akhirnya kembali ke senyum manisnya seperti semula.
..
Disisi lain, Aya yang sedang bersih-bersih tidak sengaja melihat pisau dan darah Yunhi yang masih berada ditempatnya.
Aya menatap tajam pisau itu dan mencoba memegangnya. Terbesit rasa curiga dalam benaknya.
"Aneh, jika memang Yunhi tidak sengaja terkena pisau, seharusnya lukanya begini, bukan ditengah tengah telapak tangannya dan lukanya juga rapi," gumam Aya sembari mempraktekan pisau ditangannya.
Disisi lain, Rey yang akan menuju kamar sebelah tidak sengaja melihat bayangan Aya yang berada diruang tamu.
Rey menatap tajam ketika melihat Aya memainkan pisau dan mengarahkannya ke tangannya. Rey berfikir jika Aya akan bunuh diri karena dirinya telah melakukan hal tidak terpuji itu didepannya.
"Ya tuhan, apakah sedalam itu dia cemburu," gumam Rey sembari berlari dengan kencang. Tanpa basa-basi, Rey langsung merebut pisau itu dari tangan Aya dan membuangnya jauh-jauh.
Aya sangat terkejut dengan respon Rey yang tiba-tiba.
Rey menatap tajam kearah Aya dengan ekspresi tidak percaya.
"A'ak-,?" ucap Aya masih tidak mengerti apa dengan maksud Rey bersikap demikian.
"Apa yang kamu lakukan,hah!? Apa kamu sangat cemburu? Apa kamu ingin bunuh diri hanya karena aku telah melakukan itu!? Jika iya, maafkan aku. Aku sama sekali tidak tahu jika ternyata kamu telah bangun, aku kira kamu diam saja karena kamu masih tertidur. Maaf," ucap Rey dengan nada naik turun sembari memeluk Aya dengan sangat erat. Entah mengapa rasa sesal itu sangat dalam bagi Rey. Jika ada alat pengukur penyesalan, pastilah rasa bersalah Rey lebih besar dari pada besarnya gunung.
"Ak, aku tidak sedang bunuh diri. Aku hanya ingin membereskan pisau itu," jawab Aya membuat Rey tercengang dan melepaskan pelukannya. Rey terlihat sangat canggung setelah mengetahui kebenarannya. Rasa malu kini menyelimuti dirinya.
"Oh, membersihkan ya!? Emm, ya sudah lanjutkan saja. Aku ingin mandi dulu," jawab Rey dengan mengambil langkah cepat untuk menjauhi Aya.
Dibalik cadarnya. Aya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Rey yang berubah-rubah. Kadang manis, kadang cuek, kadang perhatian, kadang juga masa bodo'an.
\*\*\*\*
"Aya, setelah ini kita akan kerumah mamah dan papah. Mereka menginginkan kita datang hari ini untuk membahas resepsi pernikahan kita," ucap Rey sembari menatap piringnya tanpa melirik kearah wanita yang ia ajak bicara.
"Aku ikut A'ak saja," jawab Aya singkat.
"Boleh aku ikut?" tanya Yunhi antusias.
"Boleh, tapi kamu harus tetap bersikap seperti tetangga kita," jawab Rey sembari menatap Yunhi.
Karena senang, Yunhi beranjak dan mengambil tindakan mencium pipi Rey.
"Makasih ya sayang. Aku janji tidak akan berbuat aneh-aneh," ucap Yunhi dengan senyum manis di pagi hari.
Lagi dan lagi, Aya hanya menghela nafas berat melihat suami dan madunya. Kini, Aya menyadari sesuatu. Jika dirinya memanglah istri yang tidak dicintai suaminya. Sikap manis Rey hanyalah bentuk perhatian dan penyesalannya saja karena tidak dapat berlaku adil.
***
Ketika akan masuk mobil, Aya berniat untuk membuka pintu bagian depan. Namun dengan cepat dihalangi oleh Yunhi.
"Mbk, aku duduk depan ya? Aku gak biasa duduk dibelakang," ucap Yunhi masih dengan senyum manis sembari memohon.
"Baiklah," jawab Aya tersenyum dan hati yang pasrah.
..
Didalam mobil, Yunhi selalu menempel pada lengan Rey membuat Rey harus melajukan mobilnya dengan perlahan.
__ADS_1
"Oya kak, konsep seperti apa yang akan kita ambil?" tanya Yunhi antusias seolah-olah dialah yang akan melakukan resepsi itu.
"Apapun pilihan kalian," jawab Rey.
"Mbk, Aya. Bolehkah gak jika aku yang memilih konsepnya?" tanya Yunhi terlihat memelas.
"Yang penting sederhana saja, Yunhi," jawab Aya singkat.
"Baiklah," ucap Yunhi yang merasa sangat senang.
...
Kedatangan Rey dan Aya ternyata sudah dinantikan oleh mama Salamah dan juga Tuan Maherndra.
"Assalamualaikum.. mah, pah," sapa Rey.
"Walaikum salam ...."
"selamat datang menantuku. Oh, nak Yunhi juga ikut ya?" ucap Mama Salamah.
"Iya, mah. Eh, Tante deng," jawab Yunhi bergurau.
"Uuuh, manisnya. Panggil mamah juga tidak papa kok. Sama seperti Rey dan Aya," jawab Mama Salamah ramah.
"Emm.. baiklah, mah," ucap Yunhi antusias.
"Mari masuk ..."
"Rey, kita bicara disamping. Ada yang ingin papa katakan," ucap Tuan Maher mengajak Rey berpisah dari kedua istrinya.
"Baik, pah. Aya, kamu sama mamah dulu ya?"
"Iya, Ak."
..
"Waahh.. mah, yang ini bagus banget," ucap Yunhi antusias memilih konsep resepsi yang akan dipakai oleh Aya dan Rey.
"Kamu benar Yunhi, yang ini bagus. Terlihat manis dan elegan," jawab Mama Salamah yang juga sangat antusias.
"Benar mah. Warna gold sangat mewah dan elegan. Konsepnya sangat mewah, pasti banyak tamu undangan akan merasa takjub."
"kamu memang pintar memilih konsep Yunhi. Mama setuju dengan pilihan kamu."
Aya hanya diam membisu melihat madu dan mertuanya terlihat sangat akrab. Bahkan iya tidak memiliki kesempatan untuk berpendapat, apa yang ia suka dan tidak ia suka.
...
"Rey, ada penyeludupan obat terlarang dalam vaksin yang baru sampai dirumah sakit. Sudah ada beberapa warga yang mendapatkan vaksin itu. Kami tidak memberi tahu para warga ditakutkan jika warga akan merasa cemas dan melakukan pemberontakan, jadi kami melakukan tindakan vaksin kedua untuk menetralisir narkotika yang sudah masuk kedalam tubuh mereka. Papa sangat percaya kepadamu untuk mencari tahu siapa dalang dari semua ini," ucap Tuan Maher terlihat sangat serius.
"Kok bisa sih pah. Lalu bagaimana kalian bisa terlambat mengetahui hal itu!?" pekik Rey merasa tidak percaya.
"Ada salah warga yang langsung terkena dampak dari efek samping obat itu. Setelah kami melakukan pemeriksaan, ternyata vaksin yang kami berikan terdapat obat terlarang. Kami sudah mencoba untuk mencari kebenarannya, namun hasilnya nihil."
"Kita harus segera mencari orang yang mencoba-coba bermain dengan kita, pah. Ini tidak dapat dibiarkan," ucap Rey dengan sangat geram.
"Besok paman kamu pulang dari tugasnya. Papa harap kalian bisa bekerja sama. Kita harus menyelidiki ini secara diam-diam. Papa sangat yakin jika ada orang dalam dirumah sakit yang telah berhianat!"
__ADS_1
"Baik pah. Serahkan semua pada Rey!"
..