
Kaki melangkah dengan sangat cepat. Aya dan Wisnu bergegas menuju ruangan dimana Vino dirawat.
"Assalamualaikum, mah,,," sapa Aya sembari mencium tangan Mama Salamah.
"Walaikum salam, sayang."
"Apa yang terjadi, Tante?" tanya Wisnu.
"Abi, kok manggilnya masih Tante sih?" tegur Aya.
"Iya Wisnu, panggil mama juga ya. Aya sudah aku anggap anak sendiri. Jangan sungkan," sahut mama Salamah.
"Ah, iya mah, maaf. Bagaimana keadaan anak itu?" tanyanya lagi.
"Demam biasa kata dokter. Ini mama sedang menunggu resep dokter, habis itu kita sudah bisa pulang," ujar Mama Salamah.
"Alhamdulillah ,,,"ucap Wisnu dan Aya bersama.
"Oya mah, dimana Rey?" tanya Wisnu.
Mama Salamah tertunduk dan bersandar kursi panjang. Ia meneteskan air mata, rasa pilu jika mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Mah, mama kenapa?" tanya Aya.
Mama Salamah menceritakan kondisi Rey saat ini kepada Aya dan Wisnu. Mama Salamah juga menceritakan jika Rey bukanlah anak kandung mereka.
"Astaghfirullah,, ini adalah musibah. Semoga a'ak Rey dapat sabar dan tabah menghadapi masalah dan cobaan ini," ucap Aya.
"Emm,, mah. Jika boleh tahu, siapa sebenarnya kedua orang tua, Rey?"tanya Wisnu.
"Pada saat itu sudah larut malam. Kami melihat seorang pria yang sedang mabuk berlari sembari menggendong bayi, dia melambaikan tangan kepada kami, jadi kami memutuskan untuk berhenti. Mama membuka kaca mobil untuk bertanya, namun tiba-tiba pria langsung memberikan anak yang ia bawa ke mamah. Sontak mama sangat terkejut tapi mama tidak dapat menolak karena bayi itu terus menangis. Orang itu hanya mengatakan 'Saya orang baik, tolong jaga anak saya.' Habis itu datang sekolompok orang yang mengejar pria itu. Karena takut menjadi sasaran, akhirnya kami memutuskan untuk pergi dan mama bawa Rey bersama kami. Malam itu tubuh Rey sangat panas, sehingga kami membawanya kerumah sakit terlebih dahulu. Syukur, Rey hanya demam biasa. Dari kejadian itu, kami tidak pernah menemukan pria itu sampai saat ini," jelas Mama Salamah.
Mama Salamah terlihat sangat lemas ketika menceritakan tentang asal-usul Rey.
"Tapi sungguh, kami sangat mencintai Rey. Dia sudah kami anggap seperti anak kami sendiri. Selamanya akan begitu. Aku merawatnya dari dia saat masih merah. Hiks...hiks..." lanjutnya.
"Mah, yang sabar ya mah.. Aya yakin suatu saat nanti a'ak Rey dapat mengerti segalanya. Mungkin saat ini dia sedang syok ketika mengetahui kenyataannya. Jika dia bukanlah anak dari mama dan papah," ujar Aya.
"Iya Aya,,, terima kasih banyak ya nak. Mama sangat bersyukur kamu ada disaat semua ini terjadi. Mama jadi tidak akan merasa kesepian jika suatu hari nanti Rey memilih untuk pergi."
Aya memeluk mama Salamah dengan sangat erat. Aya sangat mengerti apa yang sedang dirasakan oleh mama Salamah saat ini.
"Aku akan menebus obat dulu," ujar Wisnu Setelah mendapatkan resepnya.
Walaupun itu adalah rumah sakit milik keluarga Maherndra. Tetapi tuan Maher memberi peringatan untuk semua kalangan mengikuti prosedur. Walaupun itu adalah si empunya rumah sakit. Jadi tidak seenaknya datang dan pergi tanpa membayar.
Setelah menebus obat, kini mereka bersiap untuk pulang kerumah utama.
Taun Maher menyambut kedatangan mereka.
"Assalamualaikum, pah?" sapa Aya.
"Walaikum salam.. Aya datang juga?"
"Iya pah. Tadi mama menelvon Aya ketika masih dirumah sakit," sahut mama Salamah.
"Owh,,, ayok Aya, Wisnu masuk dulu."
"Iya pah," sahut Aya dan Wisnu.
__ADS_1
"Pah, bagaimana dengan Rey?" tanya mama Salamah.
"Hmm, dia mencoba kabur dari rumah beberapa kali. Papa terpaksa mengurung dia di ruangan bawah tanah," jawab Tuan Maher.
"Astaghfirullah halazim papah...! Kok tega sih mengurung dibawah sana!?" pekik mama Salamah.
"Ya mau bagaimana lagi," jawab Tuan Maher yang juga sebenarnya sangat berat.
"Emm,,, mah, pah. Boleh Wisnu melihat Rey. Siapa tau dia mau mendengarkan Wisnu,?"
"Ah, iya nak Wisnu. Coba kamu ajak dia bicara, siapa tau dia mau mendengarkan kamu," jawab Tuan Maher.
"Bi, bicaralah sewajarnya. Jangan sampai kalian malah ribut," bisik Aya menasehati.
"Insyaallah, umi.."
Wisnu berjalan menuju ruangan bawah tanah. Ia berfikir ruangan bawah tanah akan sangat menyeramkan. Nyatanya tangganya saja seperti tiap hari di elap karena sangat mengkilap.
"Ini bukan penjara bawah tanah, ini lebih seperti istana bawah tanah," celoteh Wisnu.
Menekan beberapa digit angka yang sudah diberi tahu oleh Tuan Maher, akhirnya pintunya terbuka.
Wisnu tidak dapat melihat apa-apa karena semua sangat gelap. Ia mencoba untuk mencari saklar lampu dan akhirnya.
Cekleek.. lampu hidup, namun Wisnu tidak dapat melihat Siapapun.
"ASTAGHFIRULLAH HALAZIM!!!" teriak Wisnu kaget karena ternyata Rey tersandar di bawah kakinya. Rey terlihat seperti zombie hidup yang tinggal menunggu ajal.
"Shiiiitt.. loe ngapain dibawah kaki gua.. kaget tau gak gua.!!" ujar Wisnu mengelus dadanya.
"Elo yang ngapain kesini, dari tadi juga gua ada disini. Gara-gara loe dateng, malaikatnya jadi kabur," racau Rey dengan pandangan kosong lurus kedepan tanpa menoleh ke Wisnu.
Cekrek.. cekrek..
"Woy.. bangs****t...!! Hapus gak!!" teriak Rey tiba-tiba membuat Wisnu kaget.
"Iisshshtt loe bisa gak kalo ngomong gak usah teriak-teriak!! Di kira gua budek kali ya,," cetus Wisnu.
"Loe ngapain kesini!?" tanya Rey yang terlihat sudah sadar.
"Loe udah sadar?" tanya Wisnu.
"Bangk*k lu.. emang dari tadi gua ngapain, mati!!?"
"Ya kirain .."
"Keluar sanalah, males gua ngomong sama elu. Asal loe tau, tadi malaikat udah ada didepan gua, gara-gara loe dateng dia jadi pergi."
Mendengar celotehan judes sahabatnya membuat hati Wisnu tersentuh. Sudah lama mereka tidak bergurau bersama seperti ini.
Wisnu mencoba untuk mendekati Rey. Tatapannya sangat intens, membuat Rey merasa risih. Semakin lama semakin dekat, Rey mencoba untuk mundur. Entah mengapa ia merasa jijik dengan tatapan Wisnu.
Hap !! Wisnu memeluk Rey dengan sangat erat. Rey yang kaget dengan respon Wisnu langsung mendorongnya.
"Iissshhttt ,,,, homo lu ya!!? Jangan deket-deket,, jijik gua. Gini-gini gua masih normal," ucap Rey sembari ekspresi begidik.
"Huuuu.... PAK !!" Wisnu memukul kepala Rey dengan koran yang ada di atas meja.
"Auuuww... !!" pekik Rey.
__ADS_1
"Bro, gua kangen masa-masa kita dulu. Sudah lama kita gak kayak gini," ucap Wisnu yang langsung membuat Rey terdiam.
Apa yang dikatakan Wisnu ada benarnya.
Kini Rey mengambil posisi merebahkan diri ke kasur empuk yang ada disana.
Ruang bawah tanah itu ternyata adalah sebuah ruangan pribadi tuan Maher. Lengkap kasur, TV dan juga perpustakaan. Ruang bawah tanah adalah tempat paling nyaman untuk beristirahat karena jauh dari kebisingan. Hanya saja tidak ada jalan keluar selain pintu utama.
"Haaaaaah..." Rey membuang nafas dengan kasar dari mulut.
"Loe benar bro. Sudah sangat lama sejak saat itu. Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda. Gua udah gak pantes menyandang status sahabat loe. Gua adalah orang yang paling menyedihkan didunia. Miris sekali hidup gua," ucap Rey memejamkan matanya.
"Bro, gua harap loe harus bisa mengendalikan emosi dan keegoisan loe. Keluarga ini udah baik banget sama loe. Apa loe tau, mereka telah menyelamatkan hidup loe," jelas Wisnu.
Mendengar itu, Rey langsung duduk dan menghadap Wisnu.
"Loe tau kisah gua kenapa bisa gua dibesarkan oleh keluarga ini!?" tanya Rey bersemangat.
Wisnu menceritakan apa yang sudah mama Salamah ceritakan. Wisnu tidak mengurangi dan juga tidak menambahkan cerita yang sudah ia dengar.
Rey menyimak dengan seksama. Air mata mengalir dengan haru, sungguh kini Rey merasa sangat bersalah karena telah bersikap kasar dengan mama Salamah. Wanita yang telah sudi menimang dan merawatnya dengan setulus hati.
Melihat jika Rey sudah tenang, Wisnu memutuskan untuk keluar dan membiarkan Rey merenungi kesalahannya.
"Bro, gua keluar dulu. Loe tenangin diri loe baru setelah itu telfon kami jika mau keluar," ucap Wisnu.
Wisnu akhirnya keluar, baru tiga langkah, telfonnya berdering.
"Apa,!! sudah mau keluar?" tanya Wisnu mengangkat telfon Rey.
"Buka," jawab Rey.
Wisnu akhirnya putar kembali dan membuka pintu.
"Bagaimana?"
"Suruh Bibik untuk mengantar makanan. Aku akan mati jika tidak segera diberi makan. Oya, kasih aku makan hanya kecap dan nasi. Aku lagi malas makan apa-apa. Oya, bawakan aku buah duren, karena hanya buah itu yang belum aku makan sama wanita itu," ucap Rey.
"Sssstttt....." Wisnu menaikan salah satu sudut bibirnya. Sungguh ia sangat kesal karena telah dikerjai oleh Rey.
"Kenapa gak ngomong aja ditelpon tadi!!" Lanjutnya.
"Suka-suka gua," jawab Rey sembari tersenyum ngejek. Lalu ia mengambil posisi untuk merebahkan tubuhnya kembali.
Melihat senyum sahabatnya membuat hati Wisnu merasa lega. Ia sangat bersyukur karena Rey masih mau menerima dirinya dan mau mendengarkan dirinya.
Wisnu keluar dan menyampaikan kepada yang lain jika kondisi Rey sudah membaik. Tapi ternyata sebenarnya Wisnu tidak perlu menjelaskannya, karena mereka sudah melihat dari rekaman CCTV.
Aya sangat memuji suaminya. Kesabaran dan kedewasaannya membuat hati siapa wanita akan ter..ter...goda olehnya..
..
..
..
πJANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR
LIKE, KOMENAN DAN VOTE π₯π
__ADS_1
πππππππππππ