IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Perasaan yang rumit(Rey)


__ADS_3

Rey melihat segala persiapan acara peringatan berdirinya perusahaan yang dia dirikan. Dibantu dengan tuan Maher, akhirnya Rey berhasil menjadi pembisnis sukses nan tajir.


Rey mendominasi hiasan dengan warna putih. Mawar putih bertebaran dimana-mana. Entah mengapa, pilihan itu tiba-tiba ada dalam pikirannya.


Aya, semua karena masih tentang Aya. Meski setelah meninggalnya Wisnu, Rey tidak pernah bertemu dengan Aya. Tetapi tetap saja yang ada dipikiran Rey adalah Aya.


Rey sengaja. Dia sangat sengaja menyibukkan diri supaya tidak bertemu dengan Aya. Jika vino ingin main kerumah Hani, maka mama Salamah ataupun pengawal yang akan dimengantarkan Vino.


Rey tidak ingin dicap sebagai sahabat yang mengambil keuntungan diatas kuburan.


Rey tidak ingin mengambil kesempatan diatas kematian sahabatnya.


Rey berusaha sangat keras untuk melupakan Aya dan melupakan semua perasaannya kepada Aya. Tetapi, semakin ia menjauh, maka semakin ia menyiksa dirinya sendiri.


Sekuat tenaga Rey mencoba untuk menahannya. Menahan semua perasaannya. Rey sangat sadar, jika cintanya hanyalah bertepuk sebelah tangan.


****


Sebuah telfon tiba-tiba membuyarkan lamunan Rey.


"Hallo, mah?"


"Sayang, coba kamu pergi ke butik Aya sebentar. Dia mau mengukur baju untuk kamu supaya pas! Kemarin mamah hanya mengirim baju yang ukurannya sama. Tetapi mama takutnya nanti bajunya kurang pas, sayang!" ucap mama Salamah.


"Tidak papa mah! Biarkan saja, tidak perlu di ukur badan. Rey yakin bajunya pasti pas!" jawab Rey yang sebenarnya enggan untuk berhadapan dengan Aya.


"Jangan begitu sayang! Baju kita nanti dilihat banyak orang! Jika jahitan kurang pas, pasti nanti reputasi butik Aya juga akan berpengaruh!" jelas Mama Salamah.


Rey menghela nafas kasar.


"Baik, Rey akan kesana!" jawab Rey.


Rey menutup telfonnya dan bergegas untuk pergi ke butik Aya.


Setelah 6 bulan terkahir. Setelah kepergian Wisnu. Ini adalah pertama kali Rey akan bertemu dengan Aya. Semua orang pasti tidak akan curiga ketika Rey beralasan perkerjaan. Tetapi memang Rey sangat sibuk dengan proyek barunya yang bekerjasama dengan Tuan Qodir dan beberapa klien lainnya.


Setelah beberapa menit, akhirnya Rey sampai di butik Aya.


Rey masuk dan mencari sosok yang ia cari.


"Selamat pagi tuan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya pelayan.


"Dimana Aya!?" tanya Rey tanpa basa-basi.


"Ada dilantai dua. Akan kami panggilkan sebentar ya tuan," ucap pelayan.


"Tidak perlu! Biar saya yang keatas!" ucap Rey yang langsung bergegas.


Tetapi, bos mereka Aya telah berpesan. Jika pelayan lelaki, dilarang untuk masuk kelantai atas yang bukan lain adalah ruangan pribadinya.


"Ah, maaf Tuan! Anda dilarang naik keatas!" kata Pelayan menghentikan Rey.


Rey terhenti dan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Apakah Aya sangat membenci Aku sehingga aku tak diperbolehkan menemuinya?" batin Rey.


"Mengapa!?" tanya Rey.


"Ya memang mbk Aya mengatakan jika anda tidak boleh naik keatas!" jawab Pelayan yang tidak menjelaskan jika semua lelaki tidak diperbolehkan masuk keruangan Aya. Pelayan adalah anak baru, sehingga dia tidak tahu jika Rey ada ikatan dengan Aya.


"Lalu mengapa saya disuruh datang kesini jika pemiliknya saja tidak ingin menemui saya!" ucap Rey dengan menekankan suaranya. Sungguh Rey sangat tersinggung dan merasa dipermainkan.


"Jika memang sudah ada janji, saya akan panggilkan mbak Aya untuk menemui anda, Tuan!" jawab Pelayan.


"Silahkan Tuan duduk dulu disana!" Lanjutnya dengan menunjukan kursi ruang tunggu.


"Tidak perlu! saya akan pulang saja!" cetus Rey yang bersiap-siap akan keluar dari Butik.


"Loh! loh, tuan mau kemana!?" tanya si pelayan yang takut jika dirinya melakukan kesalahan.


"Kamu mengatakan jika pemilik butik ini tidak mau bertemu dengan saya! Jadi untuk apa saya menunggunya!" ucap Rey yang terlihat sangat kesal.


"Ah, hehehe. Maaf Tuan, maksud saya bukan seperti itu. Maksud saya adalah, jika pelayan lelaki tidak diperbolehkan naik ke lantai dua. Karena itu adalah ruangan pribadi bos kami. Ini berlaku untuk semua laki-laki. Tidak hanya untuk anda Tuan! Maaf, jika saya tadi salah bicara," jelas Pelayan.


Mendengar penjelasan pelayanan, tiba-tiba senyum tipis mengembang dari sudut bibir Rey.


"Dia sangat pandai menjaga dirinya," batin Rey merasa sangat senang dengan kepribadian Aya.


"Em, begitu. Baiklah, saya akan menunggu disini," jawab Rey yang langsung mengambil langkah untuk duduk.


Sanga pelayan mengelus dada lega. Dia membungkuk dan berlari kecil untuk memanggil Aya.


"Mbak Aya!?"


"Iya, masuk?"


"Ada, apa?"


"Itu mbk, ada seorang pelanggan laki-laki yang ingin bertemu dengan mbk Aya. Katanya sudah buat janji," ucap Pelayan.


Janji? Sepertinya aku tidak membuat janji dengan siapapun" batin Aya.


"Ya sudah, tunggu sebentar ya," ucap Aya.


"Iya, mbak!"


....


Selang beberapa menit Aya menuruni anak tangga. Ketika bekerja, Aya memang membuka cadarnya untuk menghargai pelayannya.


Rey termenung sesaat. Melihat Aya yang nampak lebih tirus.


"Apa dia kekurangan asupan makan?" batin Rey.


"Ah, A'ak Rey! Assalamualaikum. Sehat Ak!" sapa Aya yang senang melihat Rey.


"Alhamdulillah, sehat Aya" jawab Rey.

__ADS_1


"Kenapa tidak naik saja keatas?" tanya Aya.


Rey melirik Pelayan yang nampak ketakutan. Pelayan itu menggigit bibirnya bawahnya karena merasa takut jika dirinya telah melakukan kesalahan.


"Ah, tidak papa Aya. Aku tunggu disini saja. Oya, kata mamah aku harus mengukur bajunya?" tanya Rey.


"Oh, iya. Sebentar aku ambilkan dulu ya," jawab Aya antusias.


Melihat Aya tersenyum kepadanya. Membuat rasa kesal yang rasakan karena pelayan akhirnya pudar.


Rey melirik Pelayan itu sambil tersenyum tipis seolah-olah mengejek si pelayan. Si pelayan hanya bisa menundukkan kepalanya semakin dalam karena merasa bersalah.


"Ak, ini bajunya. Coba dipakai dulu pas atau tidak?" ucap Aya yang reflek memakaikan jas berwarna merah tua kepada Rey.


Aya tak nampak menunjukan kecanggungannya. Mungkin karena dia memang sudah menganggap Rey sebagai kakaknya sendiri. Tetapi, bagi Rey ini adalah sebuah badai yang mampu memporak-porandakan hatinya.


"Ah tuh kan! bagian dada sedikit kebesaran! Hmm, apakah a'ak kurusan?" tanya Aya sambil memanyunkan bibirnya karena merasa kecewa.


"Tidak papa Aya. Hanya kebesaran dikit saja. Ini sudah pas," ucap Rey yang benar-benar salah tingkah sendiri melihat Aya yang berdiri sangat dekat didepannya.


"Tidak Ak! Aku akan membenarkannya. Ya tuhan, aku lupa jika harus membuat baju untuk Axelin!" gerutu Aya merasa kesal karena diburu waktu.


"Apa! Axelin? Apa dia membuat masalah?" tanya Rey.


"Ah, tidak Ak! Dia katanya ingin dibuatkan baju yang sama coraknya dengan pakaian yang akan Keluarga kita pakai. Dia memintanya sangat mendadak sekali," jawab Aya sambil membantu Rey melepaskan Jas Rey.


Rey benar-benar tidak bisa bernafas dengan sikap Aya yang sangat dekat dengannya.


"Ak, kamu kenapa? Apa aak sakit?" tanya Aya yang melihat wajah Rey yang memucat.


"Tidak Aya. Mungkin hanya kelelahan saja," jawab Rey.


"Iya, saking sibuknya sampai 6 bulan a'ak tidak pernah menjenguk Hani! Dia selalu bertanya,"Kapan Daddy kesini. Kapan Daddy ngajak jalan-jalan!" ucap Aya sambil meniru gaya bicara Hani yang manis.


Rey hanya tersenyum melihat Aya yang sudah nampak bisa terlepas dari bayang-bayang Wisnu.


"Insyaallah, setelah acara ini. Kita akan mengajak anak-anak jalan-jalan," ucap Rey membuat Aya meliriknya tajam.


Rey yang mendapatkan lirikan dari Aya merasa sangat serba salah. Rey mengira jika dirinya sudah lancang.


"Apa kata-kata a'ak dapat dipegang?" tanya Aya tiba-tiba.


Huft.." Rey bernafas lega.


"Ah, tentu Aya!" jawab Rey.


"Hmm, anak-anak pasti akan sangat senang mendengar ini," ucap Aya yang ikut antusias.


Aya juga ingin supaya dirinya dapat membawa Hana untuk sejenak melupakan bayang-bayang Abinya.


Aya tahu. Rey, seorang pria yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri adalah sosok yang sangat dibutuhkan oleh Hani.


Dalam benak Aya tak pernah terfikirkan untuk memiliki hubungan yang lebih dengan Rey. Ia hanya menganggap, Rey adalah sosok kakak yang sangat bertanggung jawab kepada keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2