IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Kenyataan dua bersaudara


__ADS_3

Didalam Lift. Mama Salamah terus meromet-romet.


"Dasar wanita siluman. Dia dulu sudah membuat putraku mogok sekolah, mogok makan, mogok bermain hanya karena memikirkan cinta monyetnya pergi. Sekarang! Dia mau merebut suami dari putriku!!? Akan aku beri dia pelajaran terlebih dahulu sebelum ku seret untuk dihadapkan kesemua orang," gerutu Mama Salamah dengan geram.


Tak..tak..tak...


Suara sepatu mama Salamah menggelegar di koridor apartemen yang sepi sunyi.


Sampai akhirnya kakinya terhenti didepan antara dua pintu. Kanan pintu apartemen Aya dan kiri adalah pintu apartemen Mora.


"Seharusnya aku membelikan Aya apartemen yang lebih mewah dari ini. Aku sangat menyesal telah memilih apartemen yang salah," umpat Mama Salamah dengan kesal.


Ting tong.. Ting tong... Ting tong..


Dengan tidak sabar mama Salamah terus memencet tombol bel membuat Mora yang sedang menyiapkan baju untuk ayahnya merasa terganggu.


"Ayah, baju Ayah sudah Mora siapkan dik asur ya. Ada tamu, Mora mau menyapanya dulu," teriak Mora kepada ayahnya yang sedang mandi.


"Iya nak, terima kasih.."


Ting Tong.. Ting Tong..


Bel terus berbunyi..


Ceklek.. "iya, siapa ya !?" sapa Mora yang belum melihat siapa tamu yang datang.


Tante...


"Saya.. ini saya !!"


"Ah, Tante. Apa kabar!?" sapa Mora ramah.


"Tidak perlu basa-basi.. kamu !! Kamu adalah pelakor yang sudah merusak rumah tangga anak saya !!" teriak mama Salamah.


Mora mengerutkan keningnya. Setau Mora, anak mama Salamah hanyalah Rey. Mora tidak tahu jika Aya ada hubungan erat dengan keluarga Maherndra.


"Maaf Tante, maksud Tante apa ya.? Emm, sebaiknya asuk dulu Tante, kita bicarakan didalam?" tanya Mora yang benar-benar tidak mengerti.


PLAAAK!!


Mama Salamah menampar Mora karena merasa sangat kesal. Bagaimana bisa setelah melakukan hal menjijikkan Mora masih bisa berkata manis padanya.

__ADS_1


Mora terbelalak tidak percaya dengan sikap mama Salamah.


"Aya Humaira adalah anak saya. Dia adalah putri saya !!" tukas mama Salamah dengan tegas.


"Apa !!! Bukanya anak Tante hanyalah, Rey?"


"Apa sekarang kamu mau mengintimidasi keluarga saya !! Kamu, sekarang ikut saya!!" Ucap mama Salamah yang langsung menyeret Mora untuk ikut dengannya.


"Tante, tunggu dulu Tante.. kita mau kemana..!?" tanya Mora yang mencoba melepaskan cengkraman mama Salamah yang sangat kuat.


"Kita akan menuju keadilan untuk putri saya.!"


"Tapi tante.. sebentar tante.. Tante... Ayaaah, toloooong moraaaaa !!!" teriak Mora yang tidak dapat lepas dari cengkraman mama Salamah yang menyeretnya.


Paman Yonoto yang mendengar teriakan putrinya langsung berlari sembari memakai celana kolornya.


"Hay !!! Lepaskan putri sayaaa !!!" teriak Ayah.


Mama Salamah yang mendengar teriakan ayah dari Mora langsung berhenti untuk sekalian ingin memakinya.


Namun, ketika ia membalikan tubuhnya, mama Salamah terperangah tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Begitu pun dengan paman Yonoto, ia terbelalak kaku melihat wanita yang sedang mencengkram tangan putri dengan sangat kuat.


"Dia ..." batin Mama Salamah.


Mora yang melihat tatapan kedua insan yang ada didepannya ikut terheran-heran dengan sikap mereka yang saling memandang dan terdiam.


Singkat cerita. Kini Mora, mama Salamah dan paman Yonoto berada di apartemen Mora untuk berbicara dengan kepala dingin. Mora masih belum menyadari jika sebentar lagi akan ada berita badai yang akan dia dengar.


"Ehm, Tante ini tehnya. Di minum dulu," ujar Mora yang menyodorkan teh ke mama Salamah.


Mama Salamah terdiam. Mora memanggil pria yang ada didepannya adalah ayah. "Jadi, apakah dia adik kakak dengan Rey?" batin Mama Salamah.


Paman Yonoto mencoba untuk berbicara dan menggali masa lalu.


"Nona, apa kabar?" sapa Paman Yonoto ragu.


Mendengar percakapan antara Tante Salamah dan ayahnya terlihat akrab. Membuat Mora mengerutkan keningnya dan mencoba untuk menyimak.


"Saya baik," jawab Mama Salamah singkat. Sungguh ia sangat dilema. Disisi lain ia senang karena pria yang selama ini ia cari ketemu. Namun ia ragu karena takut akan kehilangan Rey untuk selama-lamanya.


"Nona, Bagaimana dengan anak saya yang saya titipkan dahulu?" tanya Paman Yonoto dengan nada yang sangat rendah. Jelas Paman Yonoto sangatlah tahu diri.

__ADS_1


Mata Mora tidak dapat ia kendalikan. Sungguh ia sangat terkejut dengan apa yang ayahnya ucapakan.


"Tunggu !!! Apa maksud Ayah berkata seperti itu kepada Tante Salamah!? Apakah, apakah Tante Salamah ini adalah orang yang telah menyelamatkan saudaraku, Max !!?" tanya Mora dengan nada terkejut.


Ayah hanya menganggukkan kepalanya sembari meneteskan air mata haru.


"Oh ya tuhaaaann!!! Jadi selama ini max adalah saudara kandung aku!!? Tante, kenapa Tante tidak mengatakannya sejak dulu!?" tanya Mora


"Mana aku tahu jika kamu adalah saudara kandung Rey!! Aku juga baru tahu kenyataan ini sekarang. Semua ini adalah kesalahan ayah kamu. Kenapa dia meninggal saudara kamu begitu saja !!" teriak mama Salamah.


Paman Yonoto mencoba untuk melarai Mora dan mama Salamah. Paman Yonoto mencoba untuk menceritakan masa lalunya kenapa dia harus meninggalkan Rey bersama dengan mama Salamah dan Tuan Maherndra.


Setelah mendengarkan ulasan dari paman Yonoto. Mama Salamah merasa sangat iba. Ia sangat bersyukur karena dapat menolong Rey dan membesarkannya dengan baik.


"Tuan, saya turut berduka atas musibah yang sudah menimpa keluarga anda. Sungguh, selama ini saya juga telah merawat dan menyayangi Rey seperti anak saya sendiri. Oya, tapi sekarang kita harus bergegas. Mora, sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Wisnu? Bagaimana ceritanya?"


Mora mengambil nafas dalam-dalam.


"Ceritanya..." Mora Akhirnya mulai menceritakan bagaimana dirinya yang hamil dan ditinggalkan oleh pria dari anak yang ia kandung. Sampai akhirnya Mora ingin bunuh diri karena ia merasa didunia ini dia tidak memiliki siapa-siapa lagi. Namun Wisnu datang untuk menyelamatkan dirinya. Dengan susah payah Wisnu membujuk Mora supaya tidak bunuh diri. Sampai akhirnya sebuah perjanjian di antara mereka membuat Mora memutuskan untuk tetap hidup. Mora juga menceritakan jika Wisnu sudah jujur jika dia sudah menikah.


"Namun, karena keadaan saya waktu sangat tidak setabil. Saya tetap memaksa Wisnu untuk menikahi saya. Semua ini adalah salah saya Tante, saya yang akan bertanggung jawab. Saya akan pergi dari kehidupan Wisnu.


Saya yang salah karena sudah memaksa Wisnu.


Saat ini, sudah ada ayah saya disamping saya. Jadi saya akan dengan suka rela mundur dari kehidupan Wisnu.


Saya hanya butuh seseorang untuk mendampingi saya dimasa-masa sulit saya, dan saat ini sudah ada Ayah saya dan saudara saya Rey. Sungguh, aku akan sangat berterima kasih kepada Wisnu. Karena dia, kini aku dapat melihat Kembali ayah dan menemukan kenyataan jika Rey adalah saudara saya, sungguh tanpa Wisnu mungkin saya tidak akan pernah tahu jika ternyata Rey adalah saudara kandung saya.


Hiks...hiks... Maafkan aku yang sudah lancang merusak rumah tangga orang. Namun aku janji, aku akan meluruskan segalanya. Sungguh Wisnu tidak bersalah. Dia hanya ingin menolong aku, dan selamanya aku tidak akan pernah melupakan jasa dan pengorbanannya."


Mendengar ulasan Mora. Hati mama Salamah menjadi tersentuh. Sungguh ini tidak akan mudah untuk Aya. Namum mama Salamah berharap yang terbaik untuk semuanya.


Kini, mereka bersiap-siap untuk datang ke kampung halaman Aya dan Wisnu. Mora tidak pernah lepas dari pelukan ayahnya yang kini ada disampingnya untuk mendukungnya.


...


...


...


πŸ’ž JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR πŸ’“

__ADS_1


LIKE, KOMEN DAN VOTE πŸ₯ΊπŸ™πŸ’žπŸ’ž


__ADS_2