
SEOSAN DUA.
AUTHOR AKAN MELANJUTKAN CERITA TENTANG AYA, WISNU, REY DAN AXELIN.
BAGAIMANA CERITANYA, YUK SIMAK..
......
Vino dengan tidak sabar didalam lift. Ingin segera sampai ke apartemen Hanifa, anak dari Aya.
Dengan sebuah paper bag kecil ditangannya. Vino dengan senyum samar-samar tak sabar menantikan apa yang dia nantikan.
Ting.. Tong..
Rey menakan bel.
Seorang anak perempuan dengan kaki gembulnya berlari untuk membuka pintu.
"Wah, kak Vino sudah datang. Umi! Kak Vino dan Daddy sudah datang!" teriak Hanifa anak yang baru berusia 5tahun.
"Iya! Suruh masuk sayang!" teriak Aya menjawab.
"Nih !" Vino melemparkan hadiah yang dia bawa kepada Hanifa. Dengan cepat, Hani menangkapnya.
"Hap! Aku dapat! Apa ini, kak?" tanya Hani.
"Buka saja," jawab Vino tersenyum penuh makna.
Rey menggendong Hani untuk masuk kedalam.
"Uh, gembulnya Daddy makin berat saja. Habis makan apa ini?" tanya Rey.
"Makan bakso, Daddy!" jawab Hani antusias.
"Apa masih ada!?" tanya Vino yang mengikuti dari belakang.
"Emm, masih sih, kak! Tetapi tinggal satu porsi buat aku nanti," jawab Hani dengan polosnya.
"Aku makan ya?" tanya Vino yang langsung menuju kedapur.
"Jangaaan!" teriak Hani.
"Dad, lepaskan aku! Aku mau menghentikan kak vino nakal!" lanjutnya.
"Baiklah. Cubit saja hidungnya untuk mengalahkan dia," bisik Rey.
"Ah, siap Daddy!" jawab Hani dengan semangat demi mempertahankan baksonya.
Rey hanya menggelengkan kepalanya melihat vino yang selalu menjahili adiknya. Namun semua orang tahu. Vino sangat mencintai Hani seperti adiknya sendiri.
Rey berjalan menuju kamar. Dia melihat Aya yang sedang menyelimuti Wisnu yang nampak sangat pucat.
Ternyata, kejadian kecelakaan besar yang telah melukai kepala Wisnu sebanyak dua kali. Berdampak sangat buruk untuk Wisnu sendiri.
Sudah 2 tahun terkahir Wisnu didiagnosa bahwa dia telah mengidap tumor ganas yang yang sekarang menjadi kanker di otaknya.
__ADS_1
Bahkan, sudah 2 bulan terkahir penglihatannya mulai memudar meski dapat melihat dengan jarak yang dekat.
"Assalamualaikum, Aya?" sapa Rey.
"Ah, walaikum salam, Ak. Sampai kapan?"tanya Aya.
"Barusan."
"Alhamdulillah."
"Bagaimana keadaannya, Wisnu?" tanya Rey yang mengikuti Aya bergerak berjalan menuju keruang tengah.
Terlihat anak-anak sedang kejar-kejaran.
"Yah, begitu Ak. Semua berharap dia baik-baik saja," jawab Aya mencoba menguatkan dirinya sendiri.
"Kita bawa ke Singapura saja?" tanya Rey menawarkan.
"Aku sudah mengajaknya, Ak. Aku juga sudah membujuknya. Namun dia selalu menolak," jawab Aya terlihat putus asa.
"Mengapa? Apa alasan dia?" tanya Rey menekankan suaranya.
"Dia selalu berkata, jika. Hiks..hiks.." Aya tak tahan untuk tidak menangis. Tapi dia segera menghapus air matanya, takut jika anak-anak melihat.
"Berkata apa, Aya?"
"Entahlah! Dia selalu mengatakan jika waktunya sudah tidak lama lagi. Akan buang-buang uang untuk pengobatan. Katanya, uangnya lebih baik ditabung untuk Hanifah," jelas Aya.
"Cih! anak itu. Kita akan tetap membawa dia. Mau tidak mau!" tekan Rey.
"Jangan, Ak. Aku tidak mau, jika dia tertekan, itu akan menjadikannya lebih parah. Kata dokter, kita harus membuat pikirannya setabil dan tidak setres," ungkap Aya.
Sampai suara tangisan membuyarkan lamunan, Rey.
"Ahahaaaa... aaaa...aaa...!" teriak Hani menangis.
Rey dan Aya bergegas menuju kamar Hanifah.
"Ada apa sayang?" tanya Aya terlihat sangat cemas.
"Hiks..hiks.. Kak vino jahat, umi!" ucap Haji sesegukan.
"Vino!?" ucap Rey meminta penjelasan dengan sorot matanya yang tajam.
"Ayolah, Hani. Itu hanya mainan," ucap Vino mencoba untuk menenangkan Hani.
Hadiah yang vino bawa ternyata kota kecil yang berisi kodok melompat. Membuat Hani sangat kaget ketika membukanya.
Aya menggelengkan kepalanya.
"Sayang, itu tidak papa, nak. Hanya mainan saja," jelasnya.
"Hiks..hiks.. Iya, umi. Hani hanya kaget saja."
"Anak pintar. Sini Daddy Gendong. Uh," ucap Rey sambil menggendong Hani. Hani yang berbobot membuat Rey harus mengeluarkan sedikit tenaganya.
__ADS_1
"Kita beli mainan saja yuk. Mainan yang gembulnya Daddy suka," ucap Rey menghibur.
Aya membelalakkan matanya dan menggelengkan kepalanya. Meminta supaya Rey tidak terlalu memanjakannya Hani. Namun Rey hanya berkedip dan menganggukkan kepalanya. Seolah-olah berkata" tidak papa"
"Dad, Hani ingin hewan peliharaan seperti kucing milik teman, Hani. Dia sangat gemuk dan menggemaskan. Bulunya sangat lebat dan matanya hijau," jelasnya dengan antusias.
"Wah, Dad! Vino juga mau dong!" sahut Vino antusias.
"Baiklah. Pamitan dan salaman dulu dengan umi. Setelah itu kita akan cari hewan peliharaan."
"Umi, Hani pergi dulu ya mau cari kucing untuk dijadikan teman Hani."
"Umi, vino akan menjaga Hani!"
Aya tersenyum melihat kedua anak yang sangat menggemaskan.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama, oke!"
"Oke!umi. Assalamualaikum, umii!" ucap Hani dan vino.
"Walaikum salam!"
"Aya, aku keluar dulu ya?"
"Iya Ak. Terimakasih banyak karena a'ak Rey mau menyayangi Hani."
"Dia adalah anak kamu dan Wisnu. Tentu aku menyayanginya seperti putriku sendiri," jawab Rey membuat hati Aya merasa terharu dibuatnya.
"Ya sudah. Aku pergi dulu, ya? Assalamualaikum."
"Iya, Ak. Walaikum salam. Hati-hati dijalan."
Aya kembali ke kamarnya dan melihat suaminya yang semakin kurus, pucat dan tak bertenaga.
Aya melihat foto mereka ketika piknik disebuah danau.
2 tahun yang lalu, danau itu adalah saksi segala kepanikan yang Aya rasakan.
Suaminya yang sehat dan terlihat segar seperti tak memiliki penyakit apapun ternyata didiagnosa tumor ganas dan berujung kanker.
Yang membuat Aya semakin sakit adalah, ternyata selama ini Wisnu sering merasa kesakitan dan menahan semuanya sendiri. Wisnu tak mau mengatakan kepada Aya karena takut membuat Aya khawatir.
Wisnu juga pada saat itu merasa kasihan ketika melihat Aya kelelahan ketika pulang dari butiknya. Usaha butik Aya memang mengambang sangat pesat. Untuk Wisnu sendiri, dia telah membuka sebuah konter yang cukup besar. Konter itu telah Wisnu percayakan oleh salah satu anak buahnya. Jadi, Wisnu dapat membantu Aya untuk mengasuh Hani. Bahkan, selama ini Hani lebih dekat dengan Wisnu dari pada ibunya.
Aya memang lebih sering di butik karena dia juga telah membanting setir untuk mendisaein sebuah gaun pengantin dan segala gaun mewah lainnya. Setiap hari selalu ada orang yang meminta dibuatkan baju. Kepiawaian Aya membuat para konsumen sangat puas dan selalu kembali.
Aya bangkit dan mengelus kepala suaminya yang sudah tak ada rambut yang singgah.
Aya tersenyum dan berkata dalam hati." Abi, aku selalu berusaha untuk supaya kamu lekas sembuh. Bertahanlah Abi, aku dan Hanifah sangat membutuhkan mu." Aya mencium sangat dalam kening suaminya.
Rey yang kembali karena kunci mobilnya ketinggalan, tidak sengaja melihat bagaimana kekhawatiran Aya kepada kesehatan Wisnu.
Rey mengeratkan kepalan tangannya dan bertekad.
"Apapun, aku akan berusaha mencari yang terbaik untuk kamu. Jika kamu menolak untuk dirawat, maka aku akan membawa alat-alatnya kerumah ini. Kamu bisa membuat aya bersedih, tetapi aku tidak bisa!" batin Rey lalu pergi meninggalkan Apartemen itu.
__ADS_1
Begitulah Rey. Sampai detik ini cintanya tetap untuk Aya. Bahkan, semakin lama semakin besar. Tetapi, Rey sadar jika dia tidak mungkin untuk bersatu dengan Aya. Biarlah rasa itu dia sendiri yang merasakannya.
Rey tidak ingin melihat Aya bersedih karena meratapi suaminya yang seperti tak berusaha untuk sembuh. Jadi, Rey akan membawa perawat dan alat-alat medis untuk dipindahkan ke apartemen Wisnu dan Aya.