
Kini acara pesta tidak lagi Aya nikmati. Dengan perasaan yang dapat dia jelaskan. Aya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu tanpa sepengetahuan Rey dan yang lain. Bahkan, Aya memutuskan untuk membiarkan Hani menginap di rumah mama Salamah.
Kini, Aya menaiki taksi untuk pulang ke apartemennya. Aya akhirnya dapat bernafas lega.
Dia terus memikirkan apa yang barusan terjadi.
"Mengapa! Mengapa bisa seperti ini?" batin Aya.
Rasanya. Aya ingin marah. Tetapi ia tak dapat kemestri untuk marah.
"Ada apa denganku?" batin Aya lagi.
Aya mengambil nafas berat dan mencoba untuk melupakan semuanya.
"Apakah aku harus melupakan semua ini? Atau mencari jalan keluarnya?" batin Aya kembali.
Kini mobil taksi sudah ada didepan apartemennya. Setelah membayar, Aya langsung bergegas berjalan cepat.
Aya berjalan sambil memijat kepalanya yang terasa berat dan pusing.
Didalam lift. Aya memberikan pesan pada mama Salamah jika dia telah pulang duluan.
"Assalamualaikum, mah. Maaf Aya harus pulang terlebih dahulu. Aya titip Hani ya, mah."
Setelah mengirim pesan. Aya langsung bergegas berjalan menuju rumahnya.
Tetapi, langkahnya berangsur pelan ketika dia melihat Axelin yang sudah berdiri di antara dua pintu.
Aya tahu, ini pasti ada hubungannya dengan sandiwara di acara pesta. Aya masih ingat Bagaimana Axelin mengatakan jika dirinya sangat mencintai Rey.
"Hay Axelin. Assalamualaikum?" Aya mencoba untuk marah.
PLAK!
Axelin tanpa basa-basi langsung menampar Aya.
"Tidak usah basa-basi lagi kak, Aya! Aku benar-benar tidak pernah menyangka. Guru yang dulu sangat saya hormati dan saya segani. Kini, dia telah berubah menjadi rubah yang sangat menjijikan! Apa kamu tidak malu telah membohongi publik! Cih, aku rasa orang seperti kamu memang tidak memiliki rasa malu!" raung Axelin menatap Aya dengan geram.
"Apa..apa yang kamu katakan Axelin?" tanya Aya yang sebenarnya tidak menyangka jika Axelin dapat berkata seperti itu.
"Bukankah sudah aku katakan jika Aku sangat mencintai kak Rey! Lalu mengapa kamu merebutnya dariku!" teriak Axelin.
Aya masih terdiam. Sungguh ia tidak dapat membela dirinya sendiri. Enggan untuk berurusan dengan Axelin. Aya mencoba untuk masuk kedalam rumahnya tanpa ingin menghiraukan Axelin.
__ADS_1
Jebret!
Axelin menarik hijab dari belakang dengan kasar.
"Aahhkk!" pekik Aya terkejut.
Axelin menatap Aya dengan rasa ingin melenyapkannya.
PLAK!"
kini Aya menampar Axelin dengan sangat geram. Sikap kurang ajar Axelin benar-benar tidak dapat Aya tahan lagi.
"Kamu!" teriak Axelin memegangi pipinya yang terasa sangat panas.
"Kenapa? Apa kamu pikir saya tidak berani denganmu!?" ucap Aya.
"Hmm.... Axelin, maafkan aku. Bukanya aku tidak mengerti perasaanmu. Tetapi beginilah jalan takdir kami. Aku harap, kamu dapat mencari pria yang dapat menerima kamu apa adanya," ucap Aya yang langsung pergi meninggalkan Axelin yang masih tertegun.
Aya menutup dengan kasar. Ia merasakan jantungnya sendiri berdetak sangat kencang.
"Apa! Apa yang sudah aku katakan? Bagaimana jika aku mengatakan jika aku dan Rey adalah sebuah takdir? Astaghfirullah halazim. Huft!" Aya berjalan masuk kedalam kamarnya.
Ia mengambil sebuah album lama milik dia dan Wisnu.
Lembaran pertama adalah foto pernikahan dirinya dengan Wisnu.
"Bagaimana, bagaimana dirinya dan Rey bisa seakrab itu selama ini. Lebih tepatnya sebelum akhirnya Wisnu pergi.
Di gambar. Ada tawa mereka bertiga ketika sedang nonton bareng. Ada ketika mereka membuat kue bersama. Ada ketika mereka bertiga berfoto ketika sedang mengasuh anak-anak.
Aya terdiam. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah surat yang terselip. Itu adalah surat dari Wisnu.
Kita diingatkan ketika Wisnu sedang menatap sebuah album foto. Ternyata dia sedang menyelipkan sebuah surat untuk Aya.
Teruntuk istriku tercinta.
Salam manis dari suami yang paling tampan.
Aya tersenyum haru melihat membaca pembukaan.
Ketika umi membaca ini. Mungkin sekarang aku telah menjadi bintang terang di langit.
Hay.. jangan menangis...
__ADS_1
Aya berhenti dan terisak. Bagaimana Wisnu tahu jika Aya akan menangis ketika membaca surat darinya.
Umi adalah wanita yang kuat. Abi berharap, umi dapat melanjutkan hidup dengan bahagia bersama dengan Rey dan anak-anak.
Aku mohon..
Jangan pernah merasa bersalah. Semua adalah takdir tuhan, yang hidup tetap harus bahagia dan menjalankan hidup.
Aku mohon..
Bahagialah bersama dengan Rey.
Aku sangat yakin, Rey dapat membuat Umi akan merada lebih hidup.
Umi, bukalah hatimu. Abi Sangat yakin, jika umi juga sebenarnya mencintai Rey di dalam lubuk hati umi yang paling dalam.
Hmmm...
Abi dapat melihat dan merasakannya. Jadi abi mohon, umi jangan lagi memendamnya.
Abi sangat yakin. Sebenarnya, selama ini umi telah mencintai kami. Tetapi maaf, Abi hanya bisa membalas cinta umi hanya sampai detik ini. Sisanya, Abi akan mencintai umi di dari langit sana..
Umi, terbukalah dan terimalah Rey. Sungguh, kami berdua juga sangat mencintai umi. Andai di perbolehkan, sungguh Abi akan Rhido jika abi akan umi madu. Hehe, tetapi itu tidak boleh.
Kita bertiga terikat satu sama lain. Tetapi maaf, Abi harus pamit lebih dulu.
Umi, Abi mohon sekali lagi. Bukalah terang-terang perasaan umi untuk Rey. Jangan siksa diri kalian hanya karena Abi. Sungguh, Abi sangat Rhido dan iklhas supaya kalian bersatu dan bersama.
Umi, bahagialah...
Salam manis dari Abi.
I love you...
Wisnu berkata seperti itu. Karena dia telah melihat dengan mata kepala dia sendiri. Aya adalah wanita yang sangat sensitif dengan seorang pria. Tetapi, jika dia adalah pria yang dapat membuat hatinya nyaman, maka Aya akan menerima dan mau berbaur dengan pria itu.
Selama ini. Wisnu selalu memperhatikan bagaimana Aya bisa menerima Rey dengan sangat baik. Bahkan, tanpa Rey, Aya dapat berkata kurang lengkap. Beralasan jika sudah menganggap Rey dan vino saudara, sahabat. Tetapi, Wisnu sangat tahu perasaan Aya tanpa Aya sendiri tahu apa tentang perasaannya sendiri.
***
Aya meremas dan membuang asal surat dari suaminya. Aya sangat marah tetapi tidak jelas apa sebenarnya yang dia rasakan.
"Bagaimana bisa A'ak berkata seperti itu. Hiks...hiks... Bagaimana bisa dia beranggapan jika aku mencintai dua pria sekaligus. Ini sungguh tidak masuk akal.. hiks...hiks...!" Aya meringkuk tak berdaya.
__ADS_1
Bahkan, karena surat itu. Aya kini merasa jijik dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dirinya mencintai dua pria sekaligus. Itu sangat menjijikan!
Tetapi, sebenarnya Aya sendiri sungguh tidak tahu apa sebenarnya yang dia rasakan. Jika bukan karena suaminya yang menyadarkan dirinya. Sampai detik ini, mungkin saja Aya masih tidak akan pernah sadar dengan perasaannya sendiri.