IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Terkejut ( Aya)


__ADS_3

Suara angin nan ombak dan aroma khas rumput yang bergoyang, Aya hanyutkan perasaan dalam sejuta kerinduan. Seolah telah terhipnotis, Aya serasa enggan untuk berpaling, ia semakin mendalamkan hayatannya sampai kedasar alam bawah sadarnya.


Sampai akhirnya.


"Tiiiiiinnnn........" Suara bising tlakson menganggetkannya dan hampir membuatnya kehilangan keseimbangan.


"Aaaaaahhkkh !!! Astaghfirullah halazim ya Allah ...!!!" ucap Aya sembari mencoba menyeimbangi tubuhnya agar tak terjatuh kedasar jurang. Setelah memejamkan mata yang begitu cukup lama, jelas keseimbangan Aya tidak setabil ketika membuka mata dalam keadaan terkejut.


Aya melihat kesamping untuk memastikan keadaan Yunhi, namun bayangan pun tak nampak. Aya sangat terkejut ketika mengetahui Yunhi tidak berada disampingnya. Lalu, tak lama Aya mendengar suara keras dari balik tubuhnya.


"Mbk Aya !!!! Mbk Aya !!?" panggil Yunhi sembari berlari. Aya masih menatap heran kearah Yunhi yang berlari kearahnya. Ada rasa syukur karena akhirnya Yunhi masih berada disisinya.


"Yunhi, syukurlah kamu baik-baik saja. Aku pikir tadi kamu terjatuh," ucap Aya menyambut Yunhi sembari memeluknya erat.


"Aku tidak akan kemana-mana mbk. Maaf sudah membuat Aya cemas, aku tadi hanya mengambil air minum ini untuk mbk Aya. Aku juga tadi tidak sengaja menekan telakson mobil, apakah mbk Aya terganggu dengan suaranya?" tanya Yunhi yang terlihat sangat merasa bersalah. Ini untuk pertama kalinya, Aya melihat senyum manis Yunhi menghilang, hilang karena telah mencemaskan dirinya.


"Terima kasih saudariku, aku tidak papa kok. Alhamdulillah, Allah masih melindungi aku," jawab Aya sembari mengelus rambut indah Yunhi.


"Kita pulang sekarang yuk mbk, ini sudah jam 3. Aku sudah mengabari kak Rey jika acara ijabnya nanti jam 7 malam," ucap Yunhi yang kembali dengan senyumnya.


"Ayuk.."


"Mbk Aya yang menyetir, ya?" ucap Yunhi.


"Aku tidak bisa, Yunhi. Maaf."


"Aku akan mengajari mbk Aya."


"Tapi ..."


"Sudah tidak papa, mbk Aya pasti bisa. Bukankah kak Rey memberikan fasilitas mobil ke mbk Aya, sangat disayangkan jika tidak digunakan."


"Aku ...."


"Mbk tidak perlu takut, jalan disini sepi. Mobil aku juga canggih kok mbk, sudah dilengkapi dengan sistem sonar. Jadi, jika mobil mendekati sesuatu yang berbahaya, maka mobil akan berhenti otomatis meski mbk Aya masih menginjak gasnya," jelas Yunhi.


"Emm, baiklah. Aku akan mencobanya."


Yunhi tersenyum mendengar jika Aya bersedia untuk belajar mobil bersamanya.


Langka demi langkah. Dengan ucap bismillah, kini Aya melajukan mobil mewah itu dengan perlahan.


Perlahan tapi pasti, mobil itu berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang sangat sepi di dalam hutan.



Dengan penuh konsentrasi, Aya terus memfokuskan matanya lurus memandang kearah depan.


"Dibawa santai saja mbk. Tidak perlu tegang," gurau Yunhi.


"Aku sedang fokus mengingat apa yang kamu ajarkan. Ini sungguh menegangkan Yunhi. Jantungku rasanya berdetak sangat cepat," tutur Aya yang enggan untuk memalingkan matanya untuk melirik Yunhi yang sedang menatapnya.


"Hahaha, jika dibawa tegang nanti malah bahaya loh," ucap Yunhi yang terus menggoda Aya.


"Yunhi, ayolah. Aku benar-benar sedang fokus ini, jangan bercandaan dong," jawab Aya yang mulai merasa terganggu.


"Hahaha, oke. Baiklah, aku akan diam," jawab Yunhi tersenyum sembari menyalakan musik klasik yang dapat menenangkan fikiran.


Hanyut dalam kesunyian dan ketegangan, tiba-tiba Aya di kejutan dengan teriakan Yunhi.


"Mbak ada kelinci .... !!!!" teriak Yunhi membuat Aya terkejut dan asal membantingkan setir.


"Astaghfirullah, aaahhhkk !!!!" teriak Aya yang sangat khawatir jika mobil akan menabrak pohon besar yang ada didepan mereka.


"Shiit ....!!" Sistem sonar pada mobil Yunhi akhirnya bekerja dengan baik, sehingga mobil itu berhenti otomatis ketika mendekati pohon besar yang ada didepan mereka.


Sesaat Aya masih setia dengan keterkejutannya, sampai akhirnya ia mendengar suara Yunhi yang tertawa terbahak-bahak.


"Ahahahhaaa, hahahaa...!!" Suara tawa Yunhi terdengar sangat mengerikan ditelinga Aya.


"Astaghfirullah, ya Allah, apakah maduku sedang kesurupan?" batin Aya.


"Yu-yunhi ...?" panggil Aya lirih.


Mendengar Aya memanggilnya, Yunhi mencoba untuk mengendalikan dirinya.


"Iya, mbk?" tanya Yunhi sembari tersenyum.


"Bukankah tadi tidak ada apapun yang melintas?" tanya Aya memastikan.


"Iya !" jawab Yunhi masih dengan senyumnya. Entah mengapa, senyuman manis Yunhi kini terasa penuh banyak arti di benak Aya.


"Lalu, kenapa kamu berteriak jika ada kelinci menyebrang?" tanya Aya yang masih tidak dapat mencerna sesuatu.


"Hahaha, aku tidak mengatakan jika ada kelinci menyebrang," jawab Yunhi dengan senyum polosnya.

__ADS_1


"Lalu tadi!?" tanya Aya dengan nada sedikit terkejut.


"Mbk, bukankah tadi aku hanya mengatakan "ada kelinci". Aku tadi melihat kelinci di pinggir jalan. Mbk Aya saja yang terlalu serius," jawab Yunhi menjelaskan.


Mendengar tuturan Yunhi, Aya menutup wajahnya yang sudah tertutup cadar dengan kedua tangannya. Aya merasa sangat menyesal, karena ketidak fokusannya, atau karena dirinya terlalu hati-hati, sehingga hampir saja membahayakan nyawa orang lain.


"Yunhi, maafkan aku, hik.. hik..hik.., maafkan aku yang hampir saja membahayakan nyawa kita," ucap Aya yang tak bisa menahan rasa sesalnya.


Yunhi tersenyum dan memeluknya Aya.


"Sudah mbk Aya, tidak papa. Yang terpenting sekarang kita baik-baik saja bukan?" ucap Yunhi mencoba menenangkan Aya.


"Ya sudah, ini sudah jam 4 lewat. Karena mbk Aya terlalu pelan membawa mobil, jadi kita tidak lekas keluar dari hutan ini. Aku yang akan membawa mobilnya, ya?" ucap Yunhi.


"Memang seharusnya begitu, Yunhi," ucap Aya yang merasa sudah kapok.


"Baiklah, kita tukar tempat," ucap Yunhi yang langsung bergerak keluar mobil.


Kini mereka telah bertukar posisi.


"Mbk, pegangan ya. Aku akan membawanya sedikit cepat untuk mengejar waktu," ucap Yunhi.


"Iya Yunhi. Kamu hati-hati ya, disini jalannya-...."


"Iya mbk, kamu tenang saja. Percaya padaku," jawab Yunhi memotong ucapan Aya.


Sepanjang jalan, tidak henti-hentinya Aya terus melafalkan ayat-ayat Al-Qur'an untuk meminta keselamatan.


Sembari terus mengembangkan senyumnya, Yunhi seperti menggila ketika membawa mobil mewahnya.


Bahkan Aya sendiri tak berani untuk sekedar melirik Yunhi. Didalam mobil saat ini, Yunhi seperti bukanlah Yunhi yang Aya kenal.


Senyumnya semakin lebar sampai ke sudut pipi. Tatapannya menajam 130 derajat dari semula. Gayanya yang anggun kini terlihat sangat angkuh.


Aya hanya berfikir, mungkin ia sedang fokus mengemudi supaya mereka lekas sampai.


****


"Bro, makasih ya. Loe udah mau nemenin gua cari-cari hadiah buat istri istri gua. Oya, malam ini ikut kerumah yuk? Itung-itung jadi saksi di pernikahan gua dan Yunhi." Ajak Rey.


"Boleh, mumpung gua masih disini," jawab Wisnu.


"Acara jam berapa bro?" tanya Wisnu.


"Oke ..."


....


Pukul 6 sore, Rey dan Wisnu lebih dulu sampai ke kompleks.


"Wah, gak ada yang berubah bro," ucap Wisnu yang merasa rindu dengan rumah milik sahabatnya itu.


"Emang mau dirubah seperti apa?"


"Ya, gua fikir. Loe kan sekarang sudah punya istri."


"Lalu? Istri juga baru berapa hari, Wis."


"Hahahaa ... Oya, ngomong-ngomong dimana semua istri loe?" tanya Wisnu sembari berlehai di kursi.


"Mereka sedang di salon. Mungkin baru datang saat acara dimulai," jawab Rey sembari menata beberapa kue basah di atas piring. Untuk makanan utama akan datang saat acara telah selesai.


"Oya, om dan tante kapan datangnya?" tanya Wisnu yang belum tahu jika Rey menyembunyikan pernikahannya dengan Yunhi.


"Mereka tidak akan datang."


"Kenapa?"


"Mereka tidak tahu soal Yunhi. Kami menyembunyikan pernikahan ini dari mereka. Yang tahu jika Yunhi istriku hanya kamu dan istri pertamaku," jawab Rey terlihat tak ada beban ketika mengucapkan itu.


"Apa !! Loe benar-benar udah gilak, bro!! Gak habis pikir gua sama jalan pikiran loe!!"


"Yunhi yang tidak ingin jika orang-orang tau jika dia sudah menikah. Dia baru berusia 18 tahun bro, katanya masih ingin lanjut kuliah," jawab Rey sembari meletakan kue itu didepan Wisnu.


"Terserah kalian sajalah. Hidup gua lagi berat, gak mau mikirin urusan rumah tangga orang," sahut Wisnu sambil memasukan kue berisi coklat kedalam mulutnya.


"Memang lebih begitu baik bro. Gua aja males mikirin, apalagi loe.!"


"Oya, magriban dulu yuk. Loe yang jadi imam ya?" ucap Wisnu sembari melihat jam yang sudah menunjukan waktunya sholat magrib.


"Kan elu ustadnya, kenapa jadi gua yang jadi imamnya!"


"Gak papa, belajar, hehe."


"Rusuh lu!!" umpat Rey.

__ADS_1


"Hahaha ..."


Setelah salam akhir, suara bel rumah Rey berbunyi. Menunjukan ada seseorang yang akan bertamu, karena jika Yunhi atau Aya yang datang pasti tidak akan membunyikan bel.


"Siapa itu, bro?"


"Pak penghulu, mungkin."


Kaki Rey berjalan menuju pintu untuk melihat siapa tamu yang datang.


"Assalamualaikum,," sapa pak penghulu.


"Walaikum salam. Silahkan masuk pak," jawab Rey ramah.


Setelah duduk. Rey menjelaskan segalanya kepada pak penghulu tentang wanita yang akan dia nikahi, dan pak penghulu pun tidak memberatkan karena beberapa syarat yang sudah dipenuhi supaya layak untuk menjadi pasangan pengantin seorang muslim.


...


Beberapa menit, akhirnya yang ditunggu-tunggu telah datang. Seorang pengantin wanita, dengan berbalut kebaya putih dan hijab senada, Rey hampir tidak mengenali calon istrinya. Tatapannya tidak berpaling dari zona lurus menghadap Yunhi.



(gambar hanya ilusi, baju yang digunakan Yunhi. sumber google)


Sedangkan disisi lain. Dibelakang Rey, Wisnu mematung melihat wanita yang bersebalahan dengan calon istri Rey.


Tidak perlu Aya membuka cadarnya, Wisnu langsung dapat mengenali milik siapa mata indah itu.


Aya yang melihat seorang pria yang pernah ada dalam doanya, terkejut sampai rasanya kakinya tak sanggup melangkah.


Namun, Aya sadar siapa dirinya saat ini. Sebagai status yang menyandang istri orang, Aya tidak boleh berlarut-larut dalam perasangka terhadap pria lain. Dengan cepat, Aya menundukkan pandangannya.


Wisnu, ia masih terdiam dengan seribu pernyataan, dan juga seribu penjelasan yang ingin ia sampaikan, mengapa dirinya tidak kembali pada malam itu.


Sampai akhirnya ijab kabul Selesai. Kini Yunhi mencium tangan suaminya yang benar benar sah. Sah secara agama dan hukum. Bergilir, kini Aya juga ikut mencium tangan suaminya dan memeluk madunya.


Dari jarak yang begitu dekat. Wisnu merasa sangat sakit melihat keikhlasan Aya yang telah rela dimadu oleh suaminya.


Suasana senang malam ini hanyalah milik Rey dan Yunhi. Sedangkan Aya, ia bukanlah tidak senang dengan kebahagiaan suami dan madunya. Hanya saja, ia merasa sulit mengekspresikan perasaan saat ini karena kehadiran Wisnu di tengah-tengah mereka.


Aya tidak pernah menyangka jika Wisnu adalah sahabat dekat suaminya.


Di meja makan. Di balik sikap santai dan senyum Yunhi, diam-diam ia juga memperhatikan tatapan Wisnu kepada Aya. Sedangkan Aya selalu melakukan gerak-gerik yang sepertinya kurang nyaman.


"Kak Wisnu ini sudah menikah?" tanya Yunhi tiba-tiba di tengah keheningan ketika sedang makan.


"Dia baru saja ditinggal calon istrinya sayang, jadi dia sedang melajang," jawab Rey.


"Wah, kasihan sekali. Ternyata nasib kak Wisnu tak seberuntung nasib kak Rey," ucap Yunhi bergurau.


"Insyaallah, jika sudah waktunya saya akan mendapatkan wanita yang tepat," jawab Wisnu sembari tersenyum. Demi hubungannya dengan sahabatnya baik-baik saja, Wisnu memilih untuk diam.


"Amiin," sahut Aya.


"Oya, emang tipe wanita seperti apa yang kak Wisnu cari? Apakah, seperti mbk Aya?" tanya Yunhi yang sepertinya memancing sesuatu.


"Iya, seperti dia. Jika didunia masih ada, aku ingin satu," ucap Wisnu sembari menatap lekat Aya yang berada tepat didepannya.


"Insyaallah, masih banyak wanita seperti saya diluar sana. Bahkan sangat-sangat lebih baik daripada saya," jawab Aya semakin mendalam tundukannya.


Dari sini, entah mengapa filing Rey merasakan jika ada sesuatu diantara Istrinya dan juga sahabatnya.


"Semoga saja," jawab Wisnu terlihat tegar.


"Oya Rey, sudah malam, aku pamit ya. Besok mau langsung otw gua," ucap Wisnu yang langsung memalingkan matanya dari wajah Aya membuat Aya kini bernafas dengan lega.


"Oh, iya bro. Thanks ya, Lo udah mau datang dan menyaksikan pernikahan gua yang sederhana ini. Sukses buat loe, semoga loe bisa jadi polisi yang taat dan amanah."


"Amiin, sama-sama bro. Makasih juga untuk jamuanya. Ya sudah, gua pamit ya. Assalamualaikum."


"Walaikum salam ..."


...


...


...


....


Cerita ini hanyalah fiksi belakang. Tidak untuk menyingung siapapun dan agama apapun. Mohon maaf jika terdapat beberapa kata yang kurang berkenan. 🙏🙏


..


Jangan lupa dukungnya dan menangkan hadiahnya 💓💓

__ADS_1


__ADS_2