
Wisnu nampak senang melihat dirinya yang sekarang. Terlihat sangat tampan, gagah dan lebih bersih. Ia tak pernah melihat didunia nyata orang yang tampan seperti dirinya. Bahkan, ustadz Abah yang meninggal ketika sudah tua, kini terlihat sangat muda sama seperti dirinya.
"Abah, Wisnu akan ikut dengan Abah!" ucap Wisnu merasa sangat senang. Bahkan, kini Wisnu tak terfikirkan oleh anak dan istrinya ada di dimana.
Ustadz Abah tersenyum.
"Wisnu, kamu akan menjadi bagaian dari kita. Tetapi tuntaskan dulu urusanmu didunia. Aku akan menunggumu disini," ucap Ustadz Abah membuat Wisnu tersadar.
"Aya, Hani? Apakah bisa saya kembali ustad?", tanya Wisnu yang kini teringat anak istrinya.
Ustadz Abah menuntun Wisnu untuk mendekati sebuah pintu cahaya.
"Masuklah. Aku akan menunggumu disini," ucap Ustadz Abah.
Wisnu tersenyum dan memeluk ustad Abah. Setelah itu, dia kembali.
****
Dokter nampak melakukan kejut jantung kepada Wisnu.
Setelah beberapa kejutan. Terlihat detak jantung Wisnu kembali berdetak. Namun sepertinya dokter sangat tahu jika itu tidak akan bertahan lama, sehingga Dokter langsung memanggil keluarganya.
"Dok! Bagaimana dengan suami saya?" tanya Aya yang melihat dokter keluar.
"Silahkan masuk, buk. Sepertinya ada yang ingin di ucapkan oleh pasien!" jawab dokter.
Aya dan Rey langsung bergegas masuk kedalam. Kedua orang tua Wisnu pun ikut masuk kedalam.
Nampak Wisnu yang terlihat bingung dengan semua keadaan yang sedang ia alami. Tetapi Wisnu sadar, waktunya tidak banyak. Wisnu sendiri merasakan jika tubuhnya mulai kehilangan otot-ototnya. Untuk menelan Saliva pun rasanya sangat sulit dan terasa sangat sakit.
"Abi! Abi.. bertahanlah Abi, kita akan membawa Abi ke Singapura untuk berobat. Hiks...hiks... bertahanlah!" ucap Aya yang menatap suaminya dengan perasaan sakit yang luar biasa.
"Dok! Cepat lakukan persiapan!" tegas Rey. Namun semua dokter hanya bisa menundukkan kepala mereka.
__ADS_1
"Kenapa kalian diam saja! Cepat lakukan!" teriak lagi.
"Rey..." panggil Wisnu dengan sangat lirih.
Rey langsung mendekat dan memegang tangan Wisnu dengan sangat erat.
"Iya bro! Bertahanlah, aku mohon!" ucap Rey yang berderai air mata.
"Abah, ibu!" panggil Wisnu.
Kedua orang Wisnu pun mendekat sambil berderai air mata.
"Ma..maafkan Wisnu.." ucap Wisnu dengan sangat lemas.
"Hiks...hiks... Kami sudah memaafkan mu nak. Bertahanlah sayang. Hiks...hiks..." ucap Kedua orang Wisnu dengan perasaan yang tak dapat dikatakan. Orang tua yang melihat anak tersayang yang mereka rawat sepenuh hati, kini harus terbaring sekarat.
Wisnu tersenyum.
"Hhhhkk!" tiba-tiba nafas Wisnu tersengal.
"Wisnu !" teriak Rey
"Haaaa... aaaaaa ....aaaaa!" ibu Wisnu hanya bisa menangis sambil memeluk suaminya. Sungguh sang ibu tak kuasa melihat anaknya yang sedang mengalami sakaratul maut.
Wisnu tersenyum lemas dan meraih kedua tangan Rey dan Aya. Wisnu menyatukan tangan mereka. Aya dan Rey sungguh sangat terkejut, tetapi mereka tak dapat berfikir" Apa!"
"A..aku mohon, kalian jadilah kedua orang tua yang baik untuk anak-anak. Aku mohon, bahagia lah bersama," ucap Wisnu yang langsung tersengal-sengal.
Aya sangat tahu jika ini memang sudah waktunya.
Dengan derai air mata. Aya mencoba untuk menuntun suaminya untuk bersyahadat.
"Hiks...hiks... Abiii ... iiii.. hiks.. hiks.. ikuti umi ya sayang. Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah".
__ADS_1
Wisnu mengikuti lafal syahadat dengan sangat lancar. Bahkan ia tersenyum sebelum akhirnya ia memejamkan matanya untuk selama-lamanya.
"Aaaaabiiiiiii........! Hahahaa aaaa aaaa... Abi!" pecah sudah tangis Aya yang sangat memilukan.
Kedua orang Wisnu hanya bisa saling berpelukan untuk menguatkan satu sama lain.
Rey bahkan menjauh menatap jendela sambil menunju tembok. Sungguh Rey tak sanggup untuk melihatnya.
Aya masih terus menangisi sang suami sambil memeluk dan mencium keningnya. Tak rela, mungkin inilah yang masih Aya rasakan.
"Umi! Abi!" teriak Hani yang tiba-tiba datang.
Hani dan vino merengek ingin melihat Wisnu dirumah sakit. Mama Salamah dan tuan Maher yang kasihan, akhirnya mengizinkan mereka untuk ikut kerumah sakit.
Tetapi hal tak terduga mereka temui.
"Umii! Apa yang terjadi dengan Abi?" tanya Hani yang terlihat bingung karena semua orang menangis.
Bahkan Daddy mereka yang terlihat sangat kuat, juga menangis bak anak kecil yang berderai air mata.
"Abi! Dia telah pergi kerumah Allah sayang. Hiks..hiks..!" jawab Aya sambil memeluk Hani.
Jantung Hani tiba-tiba merasa sangat sakit mendengar itu. Tetapi dia sendiri sangat bingung dengan perasaan yang sedang ia rasakan.
Hani tidak tahu harus berbuat apa. Melihat Aya yang memeluknya erat dan menangis tidak henti, membuat Hani berfikir jika dia tidak boleh nangis.
Vino datang dan ikut memeluk Aya.
"Umi, yang sabar ya umi. Vino janji, vino akan melindungi kalian," ucap vino terdengar sangat dewasa membuat semua orang tersenyum haru.
Bahkan Aya pun sangat tersentuh dengan tuturan Vino.
"Iya umi. Hani juga janji, Hani juga akan selalu menemani umi. Kita doakan Abi supaya dia menjadi bintang terang di langit sana," ucap Hani dengan polosnya.
__ADS_1
Aya sungguh tak dapat berkata-kata. Ia memeluk kedua anaknya dengan sangat erat. Ini memang berat baginya. Tetapi demi Hani dan Vino, Aya harus kuat.