
Wisnu berlari sangat kencang untuk sampai ke apartemennya.
Sedangkan Mora yang akan ikut masuk tidak sengaja melihat seorang pemulung yang sedang istirahat disebuah pohon yang ada disekitar apartemen.
Mora adalah gadis yang baik. Dia mencoba untuk memberi meski tidak banyak.
...
Wisnu yang sudah sampai apartemen langsung masuk dan mencari Aya.
"Umi.....!!! Sayaaaaang... !! Aya .... Kamu dimana !!?" panggil Wisnu yang terus mencari istrinya. Namun tidak ada.
"Ya Allaaaaahh... Kenapa bisa seperti ini.. hikssss..... ampuni hamba ya Allaaah, hamba tidak ingin kehilangan istri hamba. Engkau sungguh tahu apa niatan hamba menikahi Mora. Hiks...." Wisnu nampak putus asa. Namun ia akan berusaha untuk mencari Aya dan menjelaskan segalanya.
Wisnu menyeka air matanya dan mencoba untuk mencari Aya kerumah utama.
..
Disisi lain. Mora berjalan dengan cepat untuk memberikan pemulung itu sedikit uang.
"Permisi pak. Maaf, saya ada sedikit rezeki untuk bapak," sapa Mora yang langsung menyodorkan uang lembar 3 merah.
Pemulung itu perlahan menaikan wajahnya untuk melihat siapa yang sudah memberinya uang.
Seketika wajah Mora menegang ketika melihat wajah pria itu.
"Ayah !!" ucap Mora terkejut.
Bapak itu terlihat sangat bingung dengan apa yang di ucapkan Mora. Bapak itu membuka topinya untuk mencoba mendengar lebih jelas.
Kita diperlihatkan, jika bapak-bapak itu sangat mirip dengan seorang pria mabuk yang dulu pernah menitipkan anaknya kepada mama Salamah dan Tuan Maher.
Untuk menjelaskan apa maksud Mora. Mora mencoba mengajak bapak-bapak itu kesebuah rumah makan Yang ada di apartemen.
..
Wisnu keluar apartemen, dia celingukan mencari Mora untuk diajaknya kerumah utama untuk menjelaskan apa yang terjadi. Namun beberapa kali ia mencari tidak juga ketemu.
Wisnu tidak tahu jika Mora sudah berada di kantin bersama dengan seorang pemulung.
Akhirnya Wisnu memberanikan diri datang kerumah utama seorang diri.
..
Disisi lain, Aya berlari sesegukan disekitar kuburan. Aya mencari makan ayah dan ibunya, lebih tepatnya makan keluarganya. Karena ayah, ibu dan semua kakek nenek ada disana.
"Abah... Ibu.... Assalamualaikum.. hiks..hiks.. Abah, ibu, boleh gak Aya menangis. Huaa aaaa aaaa aaaa, abaaaaaah,,, ibuuuuuu,,, Aya gak kuaaat aaaa aaaa... Haaaa aaaa aaa, a'ak Wisnu jahaaat abaaaahh... Huuu uuu uuu... Aya harus bagaimana, rasanya sakit sekaliiii.. Aya ingin bersama dengan Abah dan ibu sajaaa.. hiks.. Aya sudah gak sangguuuup...uuu..uuuu" Tangis pilu Aya di atas makam ibu dan ayahnya.
"Hiks.. maafkan Aya, Abah ibu? Bukanya Aya datang hanya mau untuk mengeluh. Tapi kemana lagi Aya harus pergi? Aya rindu Abah dan ibu.. Aya rindu kalian semua aaa aaa.."
Aya meratapi nasibnya diatas kuburan ayah dan ibunya. Sampai rasa sakit di perutnya ia rasakan sangat. Semakin lama semakin membuatnya tidak tahan. Aya berharap malaikat datang mencabut nyawanya. Namun Tuhan masih berbaik hati. Aya hanya pingsan.
Sore hari, kebetulan ada warga yang meninggal, jadi para warga yang bertugas menggali berbondong-bondong gotong royong.
Beberapa di antara mereka sangat terkejut ketika melihat seorang wanita tidur diatas makan kuburan.
"Sep, siapa itu?" ucap si Bambang.
"Ntah mbang. Lihat yuk?" Ajak si Asep.
__ADS_1
Ketika mereka lebih dekat.
"Astaghfirullah halazim. Ini si Aya.. putrinya si almarhum ustad Abah!?" ujar si Asep.
"Ho'oh Sep. Kita bawa kerumah pak lurah saja. Katanya si Aya udah nikah sama Wisnu.?"
"Ho'oh mbang. Woy!! Bantuin!!?" teriak Asep meminta bantuan rekan yang lain.
Singkat cerita Aya sudah sampai didepan rumah pak lurah.
"Assalamualaikum !!!!" sapa warga.
"Walaikum salam.. Astaghfirullah halazim.. ini teh Aya !? Kenapa bisa seperti ini?" tanya pak lurah.
"Kami menemukan neng Aya tidur diatas kuburan Abah sama ibunya, pak. Jadi kami bawa kemari."
"Iya iya cepat bawa kekamarnya," ujar pak lurah.
.
"Terima kasih ya para warga sudah menolong menantu saya. Sekali lagi terimakasih banyak."
"Iya pak. Jika begitu, kami pamit."
Setelah para warga pamit. Ibu mertua dengan telaten mengganti baju Aya yang sudah kotor. Ia juga mengopres Aya karena tubuhnya sepertinya demam.
Setelah semua tugas selesai, ibu mertua keluar untuk membiarkan Aya beristirahat.
"Aya kenapa?"
"Tidak tahu Abah. Coba Abah telfon Wisnu untuk datang kemari. Bisa jadi mereka sedang bertengkar."
..
BUUUGH... BUUUGGHH... dengan semangat 45 Rey menghajar Wisnu.
"Dasaaar pria baj*ngaaaaaann !!! BUGH !!!"
"Aaahkk.. Bro, gua bisa jelasin!!!" pekik Wisnu yang sudah babak belur.
"Rey sayang, jangan emosi dulu nak. Kita dengarkan dulu penjelasan Wisnu. !?" Mama Salamah mencoba melarai Rey yang sudah emosi tingkat dewa. Bagaimana tidak, mendengar Wisnu memadu Aya, membuat semua gunung Merapi dalam diri Rey langsung meledak.
"Apa!! Apa yang mau dia jelaskan, Mah !!! Dia ini hanya pria baj*ngan yang berkedok pria Soleh. CUIH !!! Loe, gua jijik sama loe Wisnu!! Loe lebih sadis dari pada gua.!!"
"Sayang, jangan berkata seperti itu nak. Tenangkan dirimu, kita dengarkan dulu. Pasti ada alasannya kenapa dia berbuat seperti itu. Walaupun alasan apapun tidak baik, setidaknya kita jangan menyakiti dia seperti ini," ucap Mama Salamah sangat takut jika Wisnu mati karena di hajar habis habisan oleh Rey.
Wisnu mencoba untuk berdiri. Seluruh tubuhnya remuk tak tersisa. Wisnu terus mengeluarkan darah dari hidungnya.
Ketika akan berbicara, handphone Wisnu yang retak berbunyi.
Wisnu melihat jika itu adalah panggilan dari abahnya.
"Apa, Aya disana. Baik, Wisnu akan segera kesana. Jaga Aya jangan sampai pergi ya Abah. Wisnu mohon," ucap Wisnu.
"Mah, Aya ada di kampung. Wisnu akan menjemput Aya. Assalamualaikum.."
Wisnu dengan tertatih-tatih berjalan menuju motornya.
Rey yang melihat Wisnu kesusahan untuk membawa motor, mereka kasihan. Selain kasihan, Rey juga ingin melihat bagaimana respon Aya.
__ADS_1
Rey sangat berharap, jika Aya mundur dan pergi dari Wisnu.
"Hay, naik mobil. Gua akan antar," ucap Rey menyuruh Wisnu naik ke mobilnya.
Wisnu tersenyum.
"Thanks bro.."
"Jangan GR dulu. Gua cuma mau mastiin jika Aya tidak kenapa-napa."
Wisnu hanya mangguk mengerti.
"Sama siapa loe nikah?" tanya Rey tiba-tiba.
Wisnu ragu untuk menjawab.
"Cepat katakan atau aku akan menggantung wanita itu !!" ancam Rey.
"Mo...Mora," jawab Wisnu sambil memejamkan matanya.
Shiiiiiiiiiiittttt..!!!! Rey mengerem mendadak.
"Mora !?. Mora teman kita SMP!?" tanya Rey terkejut.
Wisnu hanya mengangguk.
"Set**n Lo ya Wis !!!" Bentak Rey.
"Gua harus bagaimana !!!?? Dia hamil dan mau bunuh diri didepan mata gua !!? Dia ingin aku menikahinya !! Jika tidak dia akan bunuh diri !!, Gua bingung pada saat itu Rey. Jika gua bilang TIDAK maka dia akan bunuh diri."
"Apa !!! Jadi loe udah bikin Mora hamil !!?" tanya Rey salah faham.
"Bukan gua yang ngehamili Mora. Tapi si bule kurang ajar itu Rey. Ceritanya, dia mau bunuh diri tapi ketahuan sama gua. Pas mau gua selamatin, dia malah minta gua untuk nikahi dia biar dia gak jadi bunuh diri. Gua bingung pada saat itu Rey. Jadi gua cuma bilang iya aja. Kalo gua ingat loe, gua bakalan ngejodohi loe sama dia."
"**** !! PLAAK!!!
"Enak aja tu mulut asal main jodohin."
"Ah, setop pukul gua Rey. Tubuh gua rasanya udah remuk ini !!" keluh Wisnu.
"Ayo cepat jalan lagi, gua sabar pingin jelasin semua ke Aya. Gua gak mau dia berfikir macam-macam dan mengira anak yang dikandung Mora adalah gua. Gua sungguh gak sanggup kehilangan dia Rey. Hiks...."
"Cih, gua berharap Aya meminta cerai dari loe Wis..!!"
"jangan dong bro. Gua sungguh sangat mencintai Aya. Gua bakal ceraikan Mora jika Aya memang tidak dapat menerima jika Gua menolong Mora."
Rey hanya bisa mengumpat dalam hati sambil melajukan mobilnya.
sedangkan Wisnu mencoba membersihkan lukanya dan mengobatinya. beruntung mobil Rey selalu siap kotak P3K. Wisnu tidak ingin terlihat menyedihkan didepan Aya.
..
..
...
JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR π
LIKE, KOMEN DAN VOTE π₯ΊπβΊοΈ
__ADS_1