
"Lagi apa sayang?"
Ting .. satu pesan dari Rey untuk Yunhi.
Yunhi yang senang mendapatkan pesan dari suaminya langsung melakukan panggilan video call.
"Hay sayang. Aku sedang duduk santai nih diatas balkon? Sayang, jam berapa kamu pulang!?" ucap Yunhi dengan manjanya.
"Kenapa, kangen ya!?" goda Rey.
"Iya sayang. Miss you .."
"Miss you to, sayang," jawab Rey yang semakin lekat menatap wajah sang kekasih. Namun, semakin diperhatikan. Didepan gerbang rumahnya terlihat jika Aya sedang kedatangan tamu.
"Sayang, kamu lihat apa? Jangan mesum deh," ejek Yunhi yang mengira jika Rey menatap si gunung kembar.
"Tidak sayang, bukan itu. Coba kamu arahkan kamera kamu kearah gerbang. Sepertinya Aya kedatangan tamu," ucap Rey yang semakin penasaran.
Yunhi membalikan tubuhnya dan mengarahkan pandangannya ke sekelompok wanita bercadar yang berdiri di depan gerbang Rey.
"Iya sayang. Siapa mereka?" tanya Yunhi yang penasaran.
"Apakah mereka teman-teman, Aya?" tanya Rey kembali.
"Entahlah, tapi mereka terlihat akrab," jawab Yunhi.
Tidak lama, sekelompok wanita bercadar itu pergi menggunakan mobil berwarna hitam pekat terdapat simbol yang Rey tidak tahu.
"Mereka tidak masuk ya, hanya diluar gerbang?" tanya Rey.
"Iya sayang, mereka hanya diluar gerbang saja. Emm, mungkin mereka orang yang meminta sumbangan," ucap Yunhi.
"Apakah komplek kita sekarang mengizinkan orang meminta minta?" tanya Rey yang semakin heran.
"Berbagikan baik sayang. Tidak papa," jawab Yunhi yang tidak ingin ambil pusing.
Kini, Yunhi sudah mengarahkan kamera kewajahnya kembali.
"Ya sudah. Aku tutup dulu ya sayang. Sebentar lagi tugasku sudah selesai, dan aku akan segera pulang," ucap Rey dengan senyum tampannya.
"Baik sayang. Love you.."
"Love you to, darling."
..
Setelah panggil berakhir, Yunhi kembali memperhatikan Aya yang sedang membeli rujak yang baru lewat didepan komplek mereka.
Dengan batang rokok ditangannya, Yunhi terus menatap tajam Aya seperti ingin mengisap darahnya.
Entah mengapa, Aya yang sedang menunggu mamang meracik rujak buah untuk dirinya, merasakan seperti ada sesuatu yang memperhatikannya.
Perlahan, Aya mencoba untuk melirik balkon milik tetangganya yang bukan lain adalah milik madunya.
Benar saja, ternyata Yunhi sedang menatapnya dengan manis.
"Hay, mbak Aya !!! Sedang beli rujak buah ya!!!?" teriak Yunhi menyapa Aya.
__ADS_1
"Iya Yunhi !!! Kamu mau tidak !!?" tanya Aya.
"Mau mbaakk!!!" teriak Yunhi kembali.
Aya melambaikan tangannya menjawab jika ia mendengarnya.
"Mang, buatkan satu lagi ya untuk saudariku," ucap Aya.
"Iya neng."
...
Aya memasuki rumah Yunhi yang tidak kalah besar dengan rumah suaminya. Lagi dan lagi, entah mengapa perasaan Aya merasa tidak enak jika memasuki rumah madunya. Seperti ada aura negatif yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Eh, mbk Aya. Masuk mbk, non Yunhi sedang ada diatas balkon," jawab si bibik.
"Makasih, teh. Tolong berikan saja ini pada Yunhi. Saya mau langsung pamit," ucap Aya dengan ramah.
"Emm, begitu. Ya sudah, terima kasih banyak ya rujaknya. Oya, habis berapa tadi ini?"
"Tidak usah, teh. Tidak usah diganti," jawab Aya.
"Oh begitu, terima kasih banyak ya mbk Aya," ucap si bibik.
"Sama-sama, teh. Saya permisi dulu ya. Assalamualaikum."
"Walaikum salam .."
Akhirnya setelah keluar dari gerbang, Aya dapat bernafas dengan lega.
"Mbak Aya !!!!" teriak Yunhi dari atas balkon, mampu membuat jantung Aya seperti ingin copot.
Aya dengan perlahan menatap keatas balkon dan melihat Yunhi yang sedang memakan rujak yang ia berikan.
"Terima kasih ya !!!" teriaknya lagi dengan senyum manisnya.
Aya hanya menyatukan kedua tangannya, menunjukan jika ia menerima ucapan terima kasih dari Yunhi.
Dengan gerak cepat, Aya mencoba untuk masuk kedalam rumahnya.
Setelah masuk kedalam rumah, akhirnya Aya benar-benar bisa bernafas dengan lega.
"Astaghfirullah, ya Allah. Kenapa perasaanku bisa tidak enak seperti ini. Ya Allah, ampuni hamba yang selalu berburuk sangka pada Saudariku, Yunhi. Sesungguhnya dia adalah wanita yang baik. Apa yang salah denganku," gumam Aya sembari mengelus dadanya.
...
Waktu sudah menunjukkan pukul 5:00 sore hari.
Diparkiran kantor Rey sudah sepi karena para pegawai sudah pulang dari jam 4 sore.
Di samping mobil Rey, terdapat mobil yang yang sangat familiar dimatanya.
Dari jarak sedikit dekat, Rey seperti mendengar suara perdetik yang terus berjalan.
Tit,, tit,, tit,, tit ... Suara itu terdengar jelas di telinga Rey. Seolah-olah menyadari sesuatu, Rey langsung mengambil langkah untuk menjauhi mobilnya.
Dan..
__ADS_1
"DHOOOOMMM !!!!" Mobil hitam itu meledak dan hancur berkeping-keping. Bahkan, mobil Rey yang terparkir disebelahnya ikut terbakar karena ledakan itu.
Rey bernafas dengan memburu tanda tidak percaya dengan apa yang barusan ia lihat.
Rey masih terbengong tidak menyangka. Tiba-tiba, pikiranya tertuju pada istrinya yang bercadar.
Entah mengapa, semua tuduhan Rey arahkan kepada istrinya.
Ledekan itu membuat orang-orang berkumpul ingin melihat. Namun penjaga setempat, melarang para warga yang ingin melihat dengan jarak dekat, dikhawatirkan akan ada ledekan susulan.
"Bapak, apakah bapak tidak papa?" tanya salah satu penjaga.
"Ah, saya tidak papa. Siapa pemilik mobil itu!?" tanya Rey dengan mata yang mulai memerah.
Namun para penjaga hanya menundukkan kepalanya. Mereka tidak mengetahui, siapa pemilik mobil itu.
"Kami akan mencari tahu, pak," jawab ketua pengamanan.
"Cari tahu secepatnya."
"Baik pak.!"
Rey, berjalan dengan aura berapi-api dalam dirinya. Ia memakai mobil salah satu bawahannya untuk pulang.
Untuk masalah seperti ini. Jelas Rey menghindar untuk diwawancarai. Ia tidak ingin wajahnya terekspos oleh media.
..
Didalam kamarnya. Aya masih berbalut mukena sembari membaca Al-Qur'an.
Aya mendapatkan kabar, jika suaminya malam ini akan tidur dirumah madunya. Jadi dia sedikit bersantai dan bahkan tidak menyiapkan makan malam.
BRRUAAAKKK !!!! Rey menendang pintu kamarnya dengan sangat kuat.
Jelas, Aya yang sedang khusyuk mengaji terjingkat mendengar suara dobrakan pintu.
"ASTAGHFIRULLAH !!! A'ak, ada apa ini !!!?" tanya Aya membelalakan matanya.
Dengan aura yang berapi-api. Rey meraih remote dan menyalakan TV yang ada dikamar mereka.
Sebuah siaran TV memberitakan ledekan yang baru saja terjadi di parkiran kantor Rey.
Siaran berita juga, menyiarkan kronologi kejadian.
Dari rekemanan CCTV, terlihat beberapa kelompok bercadar keluar dari mobil itu dan meninggalkannya begitu saja.
Sampai akhirnya, adegan dramatis dimana Rey berusaha untuk berlari sejauh mungkin menghindari mobil yang akan meledak itu.
Siaran memberitahu, tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Namun, mobil mahal pemilik perusahaan itu hangus terbakar.
..
Aya yang melihat berita itu, merasa tubuhnya bergetar hebat. Ia menatap suaminya dengan matanya yang mulai memerah.
Kini, dua mata memerah saling menatap. Bahkan, remote yang Rey pegang harus menerima kehancurannya karena rasa amarah yang sedang Rey pendam.
Aya masih berdiri mematung, melihat remote yang hancur ditangan Rey. Membuat Aya memundurkan kakinya. Perasaan Aya mengatakan, ini bukanlah hal baik untuk nasibnya.
__ADS_1