
Aya tercengang tidak percaya melihat polisi yang dengan tiba-tiba memborgol tangannya.
"Pak, mengapa saya di tangkap. Saya tidak bersalah pak! Axelin, coba kamu jelaskan kepada mereka!?" ucap Aya panik.
"Buk, silahkan ikut kami kekantor polisi. Anda bisa jelaskan disana nanti," ucap Pak polisi.
"Hiks..hiks.. pak, aku melihatnya sendiri, dia telah menikam kak Rey!" ucap Axelin memberikan pengakuan palsu.
Aya ternganga tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Aya ingin sekali mencakar-cakar wajah Axelin yang begitu sangat jahat.
Ketika Aya akan diseret oleh polisi.
5 bodyguard datang dengan badan mereka yang tegap.
Salah satu bodyguard meminta Polisi untuk melepaskan Aya.
Dan sebagian dari mereka mencoba untuk menahan Axelin.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Bodyguard, akhirnya polisi pergi tanpa mengatakan apapun dan melepaskan Aya begitu saja.
"Loh, Hay! kalian mau kemana! Mengapa penjahatnya tidak di tangkap!" teriak Axelin yang kini ikut panik.
Axelin, dia telah menghapus beberapa bukti CCTV Yang ada di apartemennya. Lalu, dia dengan percaya diri melapor polisi jika pelakunya adalah Aya. Tetapi, sepertinya Axelin tidak benar-benar tahu dengan siapa dia berurusan.
Setelah kejadian di pesta. Rey menduga jika pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan Axelin. Lalu, Rey meminta Sekertarisnya Lucita untuk memantau Axelin.
Alasan Rey datang ke apartemen Aya adalah. Dia mendapatkan laporan jika Aya telah di labrak oleh Axelin.
Ketika sedang memberontak, bodyguard menyuntikan obat penenang untuk Axelin.
4 diantara bodyguard langsung membawa Axelin keluar rumah sakit dan satu lagi, dia mencoba untuk menjelaskan kepada Aya apa yang sebenarnya terjadi.
"Dari pantauan kami, Axelin-lah yang telah menikam Tuan kami. Sekarang, kami akan mengurus sisanya," jelas bodyguard yang langsung pergi meninggalkan Aya sendirian.
Aya masih terpaku terdiam tak percaya. Aya benar-benar tidak menyangka, jika Axelin adalah dalang dari semuanya.
Perasaan tak menentu kini menyelimuti hati Aya.
Setelah Rey selesai di obati. Aya dengan tidak sabar masuk untuk melihat keadaan Rey secara langsung.
Menatap mata yang terpejam. sungguh Aya dihantui rasa ketakutan yang luar biasa, entah mengapa Aya sangat takut jika Rey akan pergi juga meninggalkan dirinya sendiri.
"Hiks...hiks.., A'ak bangunlah. Aku mohon jangan tinggalkan aku sendirian. Huu..uuu.. sepertinya, apa yang di katakan a'ak Wisnu benar. Aku mencintai kalian berdua. Hiks..hiks... A'ak Wisnu sudah pergi meninggalkan aku! Aku mohon, a'ak jangan juga tinggalkan aku juga seperti ini. Aku mohon, bertahanlah!" Aya tunduk meratapi nasibnya bagaimana jika Rey juga pergi meninggalkan dirinya. Selamanya, Aya tidak akan memaafkan dirinya sendiri"pikirnya"
Tanpa Aya sadari. Sebenarnya Rey sudah sadar sedari tadi. Tetapi, karena Aya berbicara sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak sadar jika Rey telah mendengar semuanya..
Rey tersenyum senang mendengar pernyataan Aya. Jika dia juga mencintai dirinya. Rey tidak masalah jika dirinya adalah cinta kedua Aya. Yang terpenting, cintanya kini terbalas.
__ADS_1
Ketika Aya menaikan tatapannya. Rey kembali untuk pura-pura tertidur.
Pukul 4 pagi.
Aya merasa dirinya sangat merasa lelah. Akhirnya, Aya tertidur di samping Rey.
Semalaman, Aya telah banyak kehilangan energi untuk meratapi nasibnya dan juga untuk menangisi Rey yang sangat ia takuti jika Rey akan meninggalkan dirinya juga.
Ketika Aya benar-benar terlelap. Rey bangun dan memindahkan Aya ketempat tidurnya. Sedangkan Rey sendiri, dia berjalan keluar untuk menemui bodyguardnya.
"Bagaimana?" tanya Rey.
"Pagi ini kami akan mengirim dia ketempat kedua orang tuanya," jelas Bodyguard.
"Bagus. Segera kirim dan jangan ditunda-tunda!" ucap Rey yang menahan geram dalam dirinya. Karena, jika saat itu dia terlambat sedikit saja. Bisa di pastikan Aya-lah yang menjadi korban kegilaan Axelin.
"Baik, Tuan!"
"Apakah mama dan papahku tahu soal ini?" tanya Rey.
"Kami tidak dapat melabui tuan Maher. Dia tahu sebelum kami memberi tahu," jelas bodyguard.
"Hmm, ya sudah. Selesaikan tugas kalian!" perintah Rey.
"Baik, Tuan!"
Setelah bodyguard pergi. Rey kembali melihat Aya yang tertidur sangat pulas. Rey hanya bisa menatap tanpa ingin menyentuhnya.
****
Pagi itu, mama Salamah yang mendengar jika anaknya dirawat di rumah sakit. Langsung bergegas menuju ruangan Rey.
Tetapi pandangan mama Salamah tertahan, karena pasien tidur di sofa sedangkan Aya tidur di ranjang VVIP.
Ketika mama Salamah ingin membangunkan Aya untuk menanyakan mengapa bisa terbalik. Tiba-tiba Rey menghentikan tangan mama Salamah
"Huuusstt!" ucap Rey.
"Biarkan dia istirahat. Tadi malam adalah malam yang cukup berat dan melelahkan untuknya!" lanjutnya.
"Tapi bagaimana dengan lukamu sayang! Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya mama Salamah cemas.
"Ini hanya luka kecil mah. Oya, dimana papah?" tanya Rey.
"Papah sedang akan ada meeting penting. Hmm, bagaimana kamu tidak memberi tahu kami, Sayang! Siapa yang melakukan ini kepadamu!?" tanya mama Salamah.
"Axelin, mah!"
"Apa! Axelin? Anak itu benar-benar tidak tahu diuntung! ya tuhan, mama sangat bersyukur karena kamu tidak jadi menikah dengan dia dulu. Dia benar-benar anak tidak tahu diri!" umpat mama Salamah kesal.
__ADS_1
Mora yang juga awalnya ingin menjenguk Rey, tidak sengaja mendengar obrolan Rey dengan mama Salamah jika Axelin adalah orang yang telah mencelakai Kakaknya.
Mora tertunduk karena awalnya dia mendukung Axelin dari pada Aya.
Dari rumah. Mora sudah menyiapkan segala sumpah serapah untuk Aya karena dia, Rey celaka dan hampir kehilangan nyawanya.
Tetapi, setelah mendengarkan penjelasan Rey. Kini Mora telah tersadar dengan segala prasangka buruknya kepada Aya.
..
Merasa sudah cukup terlalap, kini Aya samar-samar membuka matanya.
Aya terkejut ketika dia melihat dirinya sudah ada di ranjang milik Rey.
"Astaghfirullah halazim! Kenapa aku ada disini? Dimana a'ak Rey?" ujar Aya.
Aya melihat sekeliling tidak ada siapa-siapa. Jam menunjukan sudah pukul 9 pagi.
"Astaghfirullah halazim ya Allah. Aku telah melewatkan sholat subuh!" batin Aya yang terlihat seperti orang bingung.
Ketika akan turun dari ranjang dan mencari Rey. Tiba-tiba mama Salamah dan Mora masuk.
"Kamu sudah bangun?" sapa Mora.
"Mora, mamah! Kalian disini?"
"Iya sayang?" sahut mama Salamah.
"Dimana A'ak Rey? Dia baik-baik saja bukan?" tanya Aya terlihat sangat panik. Aya sangat takut jika Rey kenapa-kenapa dan dia telah melewatkan semua itu.
"Memang apa yang akan terjadi dengan Rey, Aya?" tanya Mora tersenyum di susul dengan Mama Salamah.
"Aku, aku tidak tahu harus berfikir apa! Tadi malam darah sangat banyak keluar dari tubuh A'ak Rey. Wajahnya juga sangat pucat dan kini dia tidak ada di disini. Apa sebenarnya yang sudah terjadi?" tanya Aya dengan perasaan gusar.
"Rey tidak papa sayang. Dia kini sedang melakukan tugasnya," sahut mama Salamah tersenyum.
"Apa! Tugas? Bagaimana dia masih bekerja disaat keadaan masih belum setabil? A'ak terkena tusuk mah di badannya! Mengapa kalian tidak mencegah dia supaya tidak bekerja dulu!" ucap Aya dengan nada sedikit tinggi.
Mama Salamah dan Mora hanya tersenyum.
"Apa kamu sangat menghawatirkan Rey?" tanya Mora yang mampu membuat Aya terdiam.
Aya, kini di terlihat sangat canggung.
"Aya, Rey sedang memberi pelajaran kepada orang yang telah mencoba untuk menyakiti kamu," jelas mama Salamah.
"Apa! Jadi, maksudnya!?"
"Iya Aya. Rey sedang akan memberi Axelin pelajaran," ucap Mora..
__ADS_1
Aya terdiam lagi. Aya hanya berharap jika, Rey tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan dirinya sendiri. Aya berharap, Rey membiarkan Axelin mendekam di penjara.