IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Milikku 2


__ADS_3

Pukul 5:30, akhirnya mobil siap melaju ke villa Leluhur milik keluarga Maherndra.


Villa yang berada didalam hutan Cemara dengan danau buatan yang cukup besar, sangat pas untuk beberapa keluarga berkumpul dan menikmati udara segar alami. Jauh dari polusi dan juga kebisingan.


Di pertigaan. Kini 4 mobil keluarga berjalan bersamaan. Yaitu mobil Rey, tuan Maher, Mora dan juga mobil keluarga Wisnu.


Dengan kecepatan yang sedang. 4 mobil beriringan-iringan.


Sampai akhirnya, 3 jam perjalanan. Mobil mereka memasuki kawasan villa pribadi bernuansa tradisional. Villa ini dibangun oleh kayu jati yang kokoh. Ukiran tradisional sangat pas dengan perpaduan alam.


Semua orang turun dari mobil. Abah dan Ibu Wisnu langsung berjalan untuk menemui anak mereka.


"Wisnu!?" sapa Abah.


"Abah! Assalamualaikum, bah? Abah dan ibu sehat?" sahut Wisnu sambil mencium tangan kedua orang tuanya disusul dengan Aya.


"Alhamdulillah, kami sehat nak. Bagaimana dengan kamu?" tanya Abah.


"Alhamdulillah, Abah. Wisnu sudah sangat membaik," jawab Wisnu yang mendapatkan tatapan tajam dari dokter yang datang bersama dengan Tuan Maher.


Sungguh dokter sangat ingin menjelaskan bagaimana keadaan Wisnu saat ini. Dokter sangat tahu, jika Wisnu hanya sedang berpura-pura kuat. Seharusnya, Wisnu kini berada di rumah sakit untuk melakukan perawatan intensif. Bukan malah jalan-jalan dan melepaskan Infus ditangannya.


....


Mora yang baru masuk terkahir, sangat terkejut ketika melihat keadaan Wisnu yang memprihatinkan. Sungguh, dua tahun selama Mora di Jepang. Dia sama sekali tidak tahu jika Wisnu sakit parah.


"Wisnu!" teriak Mora yang langsung berlari kearah Wisnu.


Tubuh kurus dan mata yang mencolok. Membuat aura Wisnu sangat menyedihkan Dimata Mora.


Hap!

__ADS_1


Mora dengan tiba-tiba memeluk Wisnu dengan sangat erat. Tidak dapat dipungkiri. Keberadaan Wisnu sangatlah berarti bagi Mora. Selain pria yang pernah menyelamatkan hidupnya. Wisnu adalah sahabat kecil yang pernah ia cintai.


Aya yang melihat sikap Mora yang berlebihan. Dengan perlahan memegang pundak Mora supaya melepaskan pelukannya kepada Suaminya.


Mora yang tersadar, langsung melepaskan pelukannya dan menatap canggung orang-orang yang melihatnya.


"Ah, maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud," ucap Mora.


"Iya teh tidak papa. Tetapi maaf, kalian sekarang bukan muhrim!" ucap Aya mampu membuat Hati Mora terkoyak-koyak.


Situasi kini semakin canggung. Aya menatap Mora dengan mata ketegasan bahwa Wisnu adalah miliknya.


"Maaf, aku hanya ingin tahu. Apa sebenarnya terjadi kepada Wisnu?" tanya Mora yang langsung menatap Wisnu dengan tatapan iba.


"Aku tidak papa Mora. Aku baik-baik saja," jawab Wisnu.


"Tetapi wajah kamu!" ucap Mora yang ingin menyentuh pipi Wisnu. Namun terhenti ketika suara Mico terdengar sangat keras.


"Aaaaaaahhhkkk!" teriak Mico.


Semu orang bernafas lega karena anak-anak berada di pinggir Danau buatan yang berada dibelakang villa.


"Mico! Kamu kenapa sayang?" tanya Mora panik.


"Hehehe, mom aku tidak papa. Tadi ada kelinci yang mengejar aku," jawab mico sambil menunjuk kelinci yang sedang digendong oleh Hani.


"Ah, ya tuhan! Sayang, kamu sudah membuat mommy cemas tahu tidak!" ucap Mora yang akhirnya dapat bernafas dengan lega.


*****


Anak-anak akhirnya bermain dengan leluasa mengejar gelembung yang dibuat oleh kakek mereka Maherndra. Abah dan Paman Yonoto pun asyik mengobrol.

__ADS_1


Rey, Wisnu dan Aya juga sangat bersemangat memancing. Mereka bertiga sangat menikmati kebersamaan mereka.


Sedangkan mama Salamah, Mora dan juga ibunya Wisnu disibukkan membakar ikan untuk makan siang mereka. Membakar mereka menggunakan kompor sehingga tidak menyulitkan.


Sang dokter akhirnya menjadi fotografer mereka. Dia memfoto semua aktivitas keluarga besar itu.


Dokter benar-benar merasa salut dengan Wisnu. Dia rela menahan sakit hanya supaya orang-orang disekitarnya tidak khawatir dan tetap menikmati liburan mereka.


Mereka tidak tahu. Ketika tangan Wisnu menarik pancing, disana ia merasa keram otot pada tangannya. Namun Wisnu hanya diam dan tersenyum.


Mereka tidak tahu. Ketika Wisnu menjeburkan kaki di air danau. Dia seperti memasukkan kakinya didalam bongkahan es.


Mereka tidak tahu. Ketika Wisnu berlari mengejar anak-anak. Dia mengelap mukanya yang berkeringat. Padahal, Wisnu sedang mengelap darah yang keluar dari hidungnya.


Namun, semua Wisnu samarkan dengan tawa keras yang ia keluarkan. Tidak ada yang tahu, jika tawa keras Wisnu adalah raungan betapa sakitnya dia menahan semua kesakitan ia rasakan.


Hanya sang dokter yang tahu. Bahkan, diam-diam dokter pun meneteskan air matanya setiap melihat urat dileher Wisnu mengeras. Itu tandanya, betapa Wisnu sedang menahan sakit yang luar biasa. Dokter sudah memberi kode kepada Wisnu supaya beristirahat, namun Wisnu malah hanya tersenyum.


Kanker pada otak Wisnu membuat beberapa sarafnya tidak bekerja dengan baik. Namun, dengan tekat yang kuat, Wisnu yang selalu ingin tertawa dan tak ingin membuat semua orang cemas. Dia tidak gentar.


Jelas kondisi ini tidak baik. Jika Wisnu selalu memaksa otaknya untuk bekerja sangat keras. Maka, kemungkinan besar pembuluh darah akan pecah dan bisa saja membuatnya kehilangan nyawanya.


Dan benar saja.


Ketika Wisnu sedang mengejar Hani. Tiba-tiba dia terdiam. Darah keluar sangat banyak dari hidung dan telinganya.


Wisnu mencoba untuk mengelapnya, tetapi karena terlalu banyak dan mengalir sangat deras, dia tidak dapat menyembunyikannya lagi.


Semua orang berteriak, tetapi Wisnu tidak dapat mendengar apapun.


Semua orang berlari kearahnya. Namun dimata Wisnu semua tidak jelas. Semua nampak sunyi didalam jiwa Wisnu.

__ADS_1


Sampai tubuhnya terjatuh diatas rumput. Samar-samar Wisnu melihat istrinya yang berteriak namun Wisnu tak mendengar apapun.


Wisnu mencoba untuk mempertahankan kesadarannya dengan memejamkan matanya. Namun, ketika ia membuka mata, nyatanya kini Wisnu berada ditempat yang begitu sangat asing untuknya.


__ADS_2