IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Tentang Yunhi


__ADS_3

Desir prasangka telah hanyut dalam sebuah kepercayaan. Kini, Aya mencoba untuk meningkatkan ke positifan terhadap segala apa yang terjadi didalam rumah tangganya bersama dua insan lainnya yaitu, Suami dan madunya.


"Eh, mbk Aya sudah selesai kekamar mandinya. Karena mbk Aya sedikit lama, jadi aku belajar sembari melihat youtube," tutur Yunhi yang telah menyadari jika Aya sudah berada dibelakangnya.


"Ah, iya. Wah, kamu memang hebat Yunhi. Maaf ya, kamu harus menunggu lama," jawab Aya sembari mencoba mencerna semua apa yang telah ia prasangka kan .


Aya mendekati Yunhi dan kembali ketempat singgahnya. Ia menatap Yunhi dengan lekat-lekat, sekedar ingin memastikan yang apa yang mengganjal pada dalam dirinya.


"Astaghfirullah halazim, ya Allah maafkan hamba yang selalu berprasangka buruk kepada wanita baik dan pintar seperti Yunhi. Astaghfirullah, apa yang telah terjadi denganku," gumam Aya mengelus dadanya yang telah diselimuti rasa sesal.


"Mbk Aya kenapa, kenapa diam saja. Bagaimana menurut mbk Aya? Apakah ngaji aku sudah bagus?" tanya Yunhi yang selalu dengan senyumnya.


"Ah, iya Yunhi. Alhamdulillah, kamu benar-benar wanita yang sangat pintar," puji Aya.


"Alhamdulillah, makasih ya mbk. Emm, belajarnya sampai sini dulu ya mbk. Bukankah kita masih harus menghampiri pak penghulu?"


"Iya Yunhi. Kita sholat Dzuhur, ya?"


"Iya, mbk."


*****


Disebuah restoran terbuka, seorang pria terlihat sedang mengaduk-aduk minuman yang telah ia pesan. Sampai dirasa telah merata, ia menyeruput dengan perlahan sampai akhirnya rasa dahaga yang mendalam kini terasa terpuaskan.


Wisnu meluruskan pandangannya dan menatap orang-orang yang berlalu-lalang dengan gaya mereka. Ada yang berjalan sangat cepat, ada yang sangat lambat, ada juga yang terlihat santai, sampai akhirnya mata Wisnu menangkap bayangan seseorang yang sedang ia tunggu.


Rey dengan gesit melepaskan dasi, jas dan juga kemejanya, kini hanya meninggalkan kaos putih bermerk Oxprey yang membalut badan bidangnya.


Sebuah senyum mereka lemparkan dengan melambaikan tangan.


"Assalamualaikum, Hay bro. Apa kabar!?" sapa Rey sembari memeluk sahabatnya.


"Walaikum salam, alhamdulillah sehat bro. Bagaimana denganmu?" balas Wisnu.


"Baik-baik gemas, hahaha," jawab Rey bergurau.


"Sepertinya ada yang lagi berbahagia nih? Ku perhatikan, makin muda saja wajah kau," ucap Wisnu menggoda Rey.


"Apa kau pernah mendengar sebuah pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang," ucap Rey membuat Wisnu terbengong.


"Eh, dasar Lu gak nyambung! Apa hubungannya,,!!?" tukas Wisnu.


"Tapi ini yang sedang gua alami, bro," jawab Rey sembari meminum minuman Wisnu.


"****, itu punya gua Bambang!" pekik Wisnu.


"Pesan lagi, gih!" jawab Rey cuek.


"Rusuh lu,,!" pekik Wisnu kembali, Rey hanya membalasnya dengan senyum tampannya.


"Lu kenapa sih! Senyam-senyum gak jelas dari tadi. Meriding gua liatnya," lanjutnya sembari menatap heran kearah Rey.

__ADS_1


"Nanti sore gua bakalan nikah," jawab Rey singkat.


"What, serius lo.!?"


"Yo'i bro. Eh, temani gua yuk. Gua mau cari hadiah buat istri-istri gua," ucap Rey sembari mengambil gerakan siap beranjak.


"Tunggu,, tunggu,, tunggu,, apa, istri-istri elo!? Loe punya berapa istri, bro!?" tanya Wisnu yang sangat terkejut.


"Gua jelasin di mobil, yuk?" ucap Rey dengan santai.


...


"Bro, sekarang loe jelasin ke gua. Bagaimana ceritanya elu bisa memiliki dua istri!?"


"Semua terjadi begitu saja bro. Aku juga sebenarnya tidak dapat mengerti, apa sebenarnya yang telah terjadi. Istri pertama gua, kami menikah karena di jodohkan. Aku akui, dia wanita yang sangat Solehah," jawab Rey tentang Aya.


"Jadi, istri pertama loe itu hasil perjodohan? Lalu, istri kedua loe?" tanya Wisnu Kemabli.


"Hemm,, ini lebih rumit bro. Dia adalah seorang atheis. Berawal dari dua bulan yang lalu, dia adalah tetangga baru gua di kompleks. Senyumannya, keramahannya, kebaikannya, semua gua sukai darinya. Namun, semuanya harus gugur karena tiba-tiba papah gua menjodohkan gua dengan seorang wanita yang tidak gua kenal sama sekali. Gua merasa iba dengan ayah wanita itu yang sudah sekarat, akhirnya dengan terpaksa gua menerima perjodohan itu dan menikahi wanita itu. Loe tau bro, gua benar-benar hancur saat itu karena gua harus merelakan wanita yang telah menaklukkan hati gua selama dua bulan itu. Puncaknya, malam dimana aku sudah merelakan untuk melepaskan pujaan hatiku, tiba-tiba malam itu terjadi badai petir, lampu dirumah dia padam dan meminta tolong padaku. Dengan ragu, aku mencoba mendatangi rumahnya dan membantunya. Loe benar bro, jika wanita dan pria berdua, yang ketiga adalah syetan. Gua udah coba menahan mati-matian supaya gak tergoda dengan kecantikan Yunhi, namun apa daya bro. Dia benar-benar wanita yang sangat cantik, daya tariknya kena banget dihati gua, dan gua gak pernah nyangka jika dia akan mengatakan itu padaku," ucap Rey.


"Mengucapkan apa?" tanya Wisnu yang penasaran dengan kelanjutkannya.


"Dia mengatakan, mau menjadi istri kedua gua. Keren gak bro," ucap Rey sembari menaiki kedua alisnya.


"Gila habis Lo, Rey. Loe menikah dengan wanita yang gak punya keyakinan!?"


"Awalnya gua tidak mempersalahkan apapun yang menjadi keyakinan dia. Namun, lagi-lagi keberuntungan ada ditangan gua, bro. Istri pertama gua benar-benar wanita Solehah yang tangguh, selain dia menerima gua madu, dia juga yang telah membuat Yunhi menjadi seorang mualaf. Dia juga yang akan mengatur ulang pernikahan kami," jawab Rey merasa telah menjadi pria paling beruntung didunia.


"Bro, sejak kapan Lo jadi pria bejat seperti ini!? Tidak ada seorang wanita-Pun yang rela dan ikhlas dimadu. Meskipun bibir mereka mengatakan ikhlas, tapi tidak dengan hatinya," ucap Wisnu menceramahi Rey.


"Bro, diantara gua dan istri pertama gua itu tidak ada sebuah ikatan cinta. Jadi gua sangat yakin jika dia tidak akan pernah keberatankan meskipun gua madu seribu kali," ucap Rey dengan yakin.


"Apa loe yakin? Apa loe tidak dapat melihat ekspresi wajahnya ketika loe mengatakan akan menikah dengan wanita lain?"


"Dia pakai cadar, bahkan sampai saat ini gua belum tahu bagaimana bentuk wajahnya."


"Astaghfirullah, Rey. Loe benar-benar sedang menguji kesabaran hati seorang bidadari. Sekarang gua tanya, apa loe tidak bisa melihat matanya? Jawaban dari segalanya, dari wanita bercadar adalah matanya. Apa loe tidak dapat merasakan sesuatu dari matanya?"


Rey tiba-tiba terdiam. Sebuah ingatan mulai tergambar dalam imajinasinya. Malam dimana ia menatap lekat mata Aya yang membengkak. "Apakah, apakah malam itu, dia?" batin Rey mulai menyadari sesuatu.


"Entah lah bro. Kini aku hanya akan menjalani apa yang seharusnya kujalani. Mungkin ini sudah rezeki ku, mendapatkan istri dua sekaligus. Haha, ini adalah hadiah ulang tahun yang sangat langka," ucap Rey yang masih menyempatkan diri untuk bergurau.


"Dasar lu.!"


"Oya, ngomong-ngomong thanks ya bro. Berkat ilmu agama yang loe ajari ke gua, kini gua tidak terlihat menyedihkan didepan istri pertamaku."


"Sama-sama bro. Gua doain semoga loe bisa menjadi suami yang adil buat istri-istri loe."


"Amiin .."


"Oya, setelah ini gua pamit. Kemungkinan gua gak bisa maen selama beberapa waktu. Gua sudah mendapatkan panggilan pelatihan."

__ADS_1


"Pelatihan apa?" tanya Rey.


"Jadi polisi."


"Loe mau jadi polisi!? Gua kira loe bakalan jadi pak ustadz," gurau Rey.


"Ilmu perlu untuk bekal dunia akhirat, bro. Tapi cita-cita gua ingin jadi polisi," jelasnya.


"Em, gitu. Gua doain, semoga apa yang ingin menjadi cita-cita loe terkabul."


"Amiin, tapi mungkin tidak untuk satu hal."


"Maksud loe?"


"Calon istri idaman gua, wanita yang gua idam-idamkan kini telah menjadi suami seseorang," ucap Wisnu sendu. Wisnu masih belum mengetahui jika Aya telah menikah dengan Rey.


"Gua turut berduka, bro. Maaf, jika aku telah bahagia diatas penderitaanmu. Hahahha!"


"Sial lu. !!" umpat Wisnu.


Kini akhirnya mobil Rey terpakir di sebuah toko perhiasan. Rey ingin membelikan sesuatu yang indah nan cantik untuk kedua istrinya.


*****


Sebuah pantai bertebing. Kini Aya dan Yunhi mendekati bibir tebing yang sangat juram. Keindahan lautan biru dan alam yang hijau berbunga kuning, membuat Aya sangat sulit untuk melepaskan pandangannya.


"Subhanallah, ini sungguh sangat indah Yunhi. Dari mana kamu bisa mengetahui tempat seperti ini?" tutur Aya merasa takjub.


"Ini adalah tempat aku, dimana aku menyerahkan segala keluh-kesahku. Suara angin, suara ombak, suara burung berkicau, aroma tumbuhan, benar-benar merasuk dalam jiwaku. Mereka adalah saksi antara pernikahanku dengan kak Rey," jawab Yunhi sembari tersenyum dan menatap Aya dengan lekat lekat.


"Yunhi, semua ini adalah ciptaan Allah SWT. Jelas kita dapat merasakan, karena ini adalah surga dunia yang Allah berikan untuk kita selama dibumi. Jangan salah artikan, alam ini bukanlah Tuhan," tutur Aya.


"Aku tidak menganggap mereka tuhan," jawab Yunhi sembari berjalan lebih dekat kearah tebing.


"Aku menganggap mereka adalah menengah jiwa yang abadi. Tak pernah ku sebutkan tuhan manapun dalam hatiku. Namun, ketika melihat semua ini, aku memiliki pandanganku pada saat itu," lanjutnya sembari memejamkan mata dan merentangkan tangan.


"Yunhi, jangan terlalu dekat jurang. Disini saja," ucap Aya yang merasa ngeri melihat Yunhi berada di ujung jurang.


"Tidak papa mbk. Mbak Aya juga harus merasakannya, berdirilah di sampingku dan pejamkan mata mbk Aya. Mbk Aya juga akan merasakan kehadiran almarhum ayah mbk Aya jika mbk Aya dapat meresapinya," ucap Yunhi mencoba membujuk Aya.


"Ayok sini, tidak papa mbk. Mbk Aya bisa pegang tanganku. Percayalah," lanjutnya.


Dengan mengumpulkan seribu keberanian, kini Aya sudah berada di samping Yunhi.


"Sekarang, rentangan tangan mbk Aya dan pejamkan mata. Titipkan salam rindu mbk Aya pada angin, pada gemuruh air ombak, semua akan menjawab mbk Aya," ucap Yunhi memberikan arahan.


Perlahan tapi pasti, kini Aya benar-benar melakukan apa dikatakan oleh Yunhi. Aya memejamkan matanya dan merentangkan kedua tangannya. Ia meresapi setiap dersik angin yang menyapa kedatangannya.


Semakin jauh dan semakin dalam, tak terasa air mata Aya kini mengalir dalam sebuah hayutan kerinduan.


Yunhi tersenyum sembari terus menatap lekat kearah Aya yang sedang meresapi jiwanya bersatu dengan alam. Sebuah langkah Yunhi jangkah kearah memutarkan, ia meninggal Aya sendiri dengan perlahan. Entah karena tak ingin menganggu atau alasan lain, kini tinggal Aya sendirian di pinggir tebing yang sedang terhipnotis oleh hembusan angin.

__ADS_1


__ADS_2